PETAKA HARTA TERLARANG

PETAKA HARTA TERLARANG
Episode 16


__ADS_3

“Manusia diciptakan dalam dua sisi. Yang pertama adalah sisi kebaikan dan sisi lainnya adalah keburukan. Tergantung dari sisi mana hidup manusia itu dipengaruhi dan mau mengendalikannya.”


“Lalu?”


“Kita tidak dapat mengelak bahwa kita selalu berada di antara dua sisi tersebut. Dalam artian, manusia bisa melakukan hal baik dan juga sebaliknya. Namun ... seburuk-buruknya sifat manusia, di dalam relung hatinya pasti masih tersimpan sisi kebaikan.“


Mbah Suko menarik nafas panjang, lalu menoleh pada Sarah.


“Lalu bagaimana menurutmu, apabila ada seorang manusia yang pernah melakukan kesalahan yang sangat fatal dan ingin menebusnya, walaupun harus mengorbankan jiwa raganya sekalipun?” tanya Mbak Suko kembali.


Sarah mengerutkan kening. Ada yang aneh dengan pertanyaan kakeknya itu.


“Apabila ada orang yang hendak melakukan hal demikian, alangkah terpujinya dia. Semoga Tuhan berkenan mengampuni semua kesalahannya itu,” jawab Sarah sambil pandangi wajah kakeknya yang tiba-tiba muram, “apa


maksud Kakek dengan pertanyaan tadi?”


Mbak Suko tampak murung.


“Kalau Kakek pernah melakukan kesalahan yang cukup berat dan memalukan, apakah kamu masih mau menganggapku sebagai kakekmu, Cu?” terasa berat bagi Mbah Suko mengatakan hal tersebut.


“Tentu saja Sarah akan merasa bangga mempunyai seorang kakek yang berani untuk mengakui kesalahan dan berusaha untuk memperbaikinya,” jawab Sarah kemudian, “memangnya apa yang pernah Kakek perbuat?”


Sarah menyelidik.


Mbah Suko menundukan kepala. Kelopak mata tuanya basah dengan genangan air mata.


Di saat itulah, Ibu Sarah datang menghampiri keduanya. Dia duduk disamping bapaknya, Mbah Suko.


“Katakanlah, Pak! Sudah waktunya Sarah tahu ... “ ujar wanita itu memberi kekuatan dan dukungan pada bapaknya.


Mbah Suko menoleh pada anak perempuannya. Ibu Sarah mengangguk pelan.


“Ada apa ini sebenarnya, Kek? Bu?” Sarah mulai bingung.


“Katakanlah ... “ sahut wanita itu sekali lagi sambi tersenyum dan mengelus pundak Mbah Suko.


“Ketahuilah, Cu. Bahwa ... laki-laki yang telah menghamili adiknya Tuan Karyadi itu adalah ... Kakek sendiri ... “ ujar Mbak Suko dengan suara terpatah-patah.


Sarah terkejut. Tubuh gadis itu sampai bergetar hebat. Dia tak kuasa untuk berkata apa pun.


“Benarkah itu, Kek?” suara Sarah hampir setengah berbisik untuk memastikan kenyataan yang ada.


Mbah Suko mengangguk perlahan.


“Apa yang Kakekmu ucapkan itu memang benar adanya, Sarah. Tak ada lagi yang perlu ditutup-tutupi,” Ibu Sarah ikut menimpali, “pada saat kejadian itu, kami sekeluarga tidak bisa menerima. Terutama ... ibuku.”


“Nak ... “ Mbah Suko menatap wajah Ibu Sarah.


“Ibu sangat tertekan sekali menghadapi kenyataan bahwa ... Bapak telah mengkhianati beliau. Apalagi pada saat itu, berbarengan dengan keadaanku yang tengah mengandung anakku, Sarah.”


Sarah meraih jemari ibunya, “Bu ... “


Ibu Sarah tersenyum getir.


“Berat sekali yang kami rasakan saat itu. Bahkan sampai Ibu meninggal dunia ... “


“Nak ... “ Mbah Suko mengusap wajah anaknya, “maafkan bapak, ya, Nak.”


“Maafkan aku, Pak. Jadi teringat kejadian beberapa tahun yang lalu itu.”


Sarah memandangi keduanya, “Lalu bagaimana kelanjutan ceritanya, Kek?”

__ADS_1


Mbak Suko menarik nafas sejenak, “Setelah kejadian tersebut, Kakek pergi jauh dari kampung tempat adik Karyadi tinggal. Pergi ke sebuah tempat dan bersembunyi di sana. Tapi selama itu, hati Kakek tak pernah tenteram. Kakek selalu dibayang-bayangi rasa bersalah dan dosa.“


Setelah mereguk beberapa tetes air minum, Mbah Suko melanjutkan ceritanya, “Suatu hari, Kakek memutuskan untuk kembali ke kampung itu. Namun sesampai di sana, keluarga Karyadi telah tiada. Yang Kakek dengar


hanya berita tentang Karyadi yang telah membawa kabur seorang anak bayi. Kakek tidak pernah tahu ke mana Karyadi pergi. Dan satu lagi, sampai saat ini Kakek masih menyelidiki, apakah Karyadi masih merawat anak itu?”


“Bayi yang dibawa pergi Tuan Karyadi?” tanya Sarah.


“Ya, itu dia.”


“Bukankah bayi itu sosok Ardy, Kek?”


“Kakek juga yakin. Hanya saja belum yakin benar ... “


“Lalu bagaimana Kakek bisa tahu kalau Tuan Karyadi ada di kota ini?”


“Suatu ketika ... Kakek membaca berita dalam sebuah surat kabar tentang keberhasilan Karyadi, yang telah menjadi seorang pengusaha sukses dan kaya raya. Maka Kakek memutuskan datang ke kota ini. Sampai urusan


Kakek selesai ... “ kata Mbah Suko dengan suara isak tangisnya.


Sarah berpikir, “Jadi ... Ardy Wiranata itu adalah ... anak Kakek sendiri?”


Gadis itu masih belum percaya sepenuhnya.


“Kakek yakin bayi itu adalah ... Nak Ardy. Darah daging Kakek.”


“ ... dan itu berarti ... antara Sarah dan Ardy itu masih memiliki hubungan saudara?” ada nada kekecewaan yang tersirat dalam nada suara Sarah, “dia Paman Sarah ... “


“Maafkan kakek, ya, Cu!”


Sarah memeluk kakeknya dengan erat.


Ibu Sarah ikut memeluk bapaknya.


“Sekarang, Kakek memutuskan untuk tinggal untuk sementara waktu bersama kalian di sini, karena ... “ Mbah Suko ragu untuk melanjutkan ucapannya.


“Ada apa lagi, Pak?” tanya Ibu Sarah penasaran.


“Anak itu dalam bahaya ... “


“Bahaya bagaimana, Kek?” Sarah langsung memotong ucapan kakeknya.


“Entahlah, Kakek juga masih berusaha untuk memastikannya. Lagipula, ada sesuatu yang aneh yang Kakek lihat pada anak itu.”


Sarah dan ibunya semakin penasaran.


“Apanya yang aneh, Kek?”


“Anak itu tampaknya sering melihat sesuatu yang tak bisa dilihat oleh orang lain.”


“Maksud Kakek?”


“Apakah Ardy pernah bercerita kalau dia melihat sosok-sosok tertentu, Cu?”


Sarah berpikir dan berusaha mengingat, “Benar. Dulu Sarah sering menyaksikan tingkah Ardy yang aneh. Katanya, sih, dia melihat sosok orang gila. Semula Sarah mengira, Ardy hanya berhalusinasi. Tapi setelah mendengar ucapan Kakek tadi, rasanya benar juga bahwa Ardy ... memang sering melihat sosok yang dimaksud!”


“Memang benar apa yang dilihat oleh anak itu, Cu. Sosok itu tak lain adalah ... kakeknya Ardy sendiri, Ayah Karyadi, sekaligus mertua dari Kakekmu ini ... “ lanjut Mbah Suko merasa yakin sekali kali ini.


“Untuk apa bapaknya Tuan Karyadi sering menampakan diri pada Ardy, Kek?” dalam hal ini Sarah agak kurang faham dan tak masuk logikanya.


“Kakek, kan, bilang ... sosok itu hanya jelmaan makhluk yang menyerupai kakeknya Ardy. Lagipula, dulu, bapaknya Karyadi bukanlah orang sembarangan.”

__ADS_1


Sarah dan ibunya tak bertanya kembali. Mereka tahu bahwa Mbah Suko memang memiliki ilmu kanuragan yang membuatnya mampu berkomunikasi dengan penghuni dimensi lain.


“Sebaiknya kita berdoa saja, semoga korban Tuan Karyadi tidak bertambah dan dia segera bertobat pada Tuhan,” ujar Mbah Suko sambil memejamkan matanya dalam-dalam.


Sementara itu Ardy rupanya tengah berada di tempat kost Trio Cs; David, Jocky dan Boma. Anak muda itu sengaja berkunjung ke tempat mereka, sekedar untuk meringankan beban hatinya yang diliputi berbagai masalah di rumah akibat perlakuan Nyonya Amanda.


“Udah malam, Dy. Elo kagak takut kalo nanti pulang kemaleman bakalan diomelin nyokap elo?” tanya Jocky pada Ardy.


“Gak ada bedanya, Jok! Pulang atau kagak juga, bagi gue sama aja. Setiap hari Mama selalu saja mencari-cari kesalahan gue,” jawab Ardy pelan.


“Ya, udah. Kalo gitu elo nginep aja di sini sama kita-kita. Noh, kandang ayam masih kosong. Pas buat elo!” timpal Boma.


David menyodok perut Boma dengan sikutnya. Tentu saja anak itu meringis kesakitan.


“Kenapa, sih, elo? Sakit tahu!” seru Boma sambil pegangi perut gendutnya.


David melotot galak.


“Kira-kira, dong, kalo ngomong! Temen kita ini lagi sedih, tahu! Masa selo ngomong asal goblek aja, sih?” seru David pura-pura marah.


Padahal anak ini sekedar cari muka di depan Ardy. Supaya terkesan dengan harapan akan dibelikan makan untuk malam itu.


“Tahu nih si Gendut! Hati-hati elo kalo ngomong! Kalo elo mau, elo aja yang tidur di kandang ayam sono, gih! Sekalian kawinin tuh ayam-ayam Tante yang masih perawan! Dijamin telur-telur ayam itu bakalan gede-gede kayak elo sebagai bokapnya telur!” timpal Jocky mengejek.


“Sialan elu pada! Emangnya gue doyan kawin ama ayam? Jangan-jangan elo berdua yang suka kawin ama ayam?! Buktinya belakangan ini ayam Tante sering banget bertelur. Kurus-kurus lagi kayak elo berdua!” balas Boma tidak mau kalah.


Mendengar ejekan Boma ini, David dan Jocky kompak menjitaki kepalanya. Anak gendut itu kembali meringis kesakitan.


Ardy hanya tersenyum melihat kelakuan ketiga temannya tersebut.


“Sudah, ah! Jangan pada bercanda mulu. Nanti ribut beneran lagi,” Ardy menengahi, “gue mau cabut aja, deh! Udah malem, nih!”


“Kagak nginep lo, Dy?” tanya David sok banget.


“Terima kasih, deh! Gue ngerasa gak enak hati aja. Takut ada apa-apa di rumah. Yuk, ah, gue pulang dulu!” Ardy bangkit dari tempat duduknya dan melangkah ke luar kamar.


“Jok ... “ panggil David setengah berbisik.


“Apa?” tanya Jocky belum paham.


Ujung mata David menunjuk-nunjuk sosok Ardy yang sudah mulai menjauh.


“Apaan, sih? Kagak ngarti gue!” Jocky menyerah setelah berkali-kali berusaha menebak arti lirikan ujung mata David.


“Payah lu, ah!”


“Iya, apaan, dong?”


“Buruan makan malem kita kabur!”


Jocky terkekeh dan baru memahami.


“Sotoy lu, ah!”


“Lagian elo gak bilang!”


“Ya, elonya ****!”


“Elo juga!”


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2