PETAKA HARTA TERLARANG

PETAKA HARTA TERLARANG
Episode 18


__ADS_3

“Nyonya ada di rumah, Mang?” tanya Tuan Karyadi pada Mang Kurdi yang baru saja menutup kembali pintu gerbang.


“Nyonya belum pulang, Tuan,” jawab Mang Kurdi tak enak hati.


“Hhmmm ... “ gumam Tuan Karyadi, “perempuan itu selalu saja kelayaban tak jelas!”


Tuan Karyadi langsung menuju kamar tidurnya yang masih kosong tanpa penghuni.


“Tuan, ada yang bisa saya lakukan untuk Tuan?” satu suara lembut menghentakan Tuan Karyadi yang sedang duduk di sisi tempat tidur.


“Oh, kamu ... Sri!” gumam Tuan Karyadi menoleh ke arah pintu kamar yang masih terbuka, “kamu belum tidur juga?”


Sri tersenyum dengan wajah masih menunduk tak berani menatap majikannya di dalam kamar.


“Kebetulan tadi dengar suara mobil Tuan, jadi saya ikut bangun. Mungkin ada yang bisa saya bantu untuk Tuan,” ujar Sri lirih.


“Ooohh ... “ Tuan Karyadi melucuti pakaiannya tanpa merasa malu masih ada Sri yang berdiri di luar kamar, “Mbok Inah sudah tidur?”


Sri tersenyum dan sepertinya paham ke mana arah pembicaraan akan bermuara, “Sudah, Tuan. Kebetulan tadi Ibu tidur agak sorean. Mungkin karena kecapekan.”


Tuan Karyadi tersenyum penuh arti.


“Kalau tidak ada yang bisa saya lakukan, mohon ijin ke belakang lagi, Tuan ... “ Sri bermaksud beranjak dari tempat berdirinya.


Namun ....


“Tunggu, Sri!” seru Tuan Karyadi menahan.


Sri mengurungkan niatnya, “Ya, Tuan! Ada yang bisa saya bantu?”


Sekali lagi, laki-laki setengah baya itu tersenyum, “Masuklah ke sini!”


Sri merasa agak ragu. Apalagi kondisi Tuan Karyadi yang tak sepatutnya dia lihat.


“Tuan ... “ Sri memejamkan matanya begitu melihat sosok Tuan Karyadi yang berjalan menghampirinya.


“Masuklah ... “ ujar Tuan Karyadi sambil menarik lengan Sri ke dalam, lalu segera menutup daun pintu kamar, ”Kenapa, Sri? Takut?”


“Tuan ... saya .... “


“Bukankah kamu sering masuk ke sini dan pernah sekali tidur denganku, Sri? Apa yang kamu takutkan? Ibumu? Dia sudah tidur, kan?”


“Tuan .... “


“Atau kamu takut istriku datang? Ah, mana mungkin dia pulang semalam ini. Paling di luaran sana, dia sedang berada dalam pelukan laki-laki muda peliharaannya,” Tuan Karyadi tertawa, seakan tak lagi memiliki rasa cemburu pada istrinya ada main dengan laki-laki lain.


Perempuan muda yang sudah ama menjanda itu hanya terdiam, saat jemari Tuan Karyadi mulai melucuti pakaiannya satu per satu. Lalu mendorongnya hingga jatuh ke atas pembaringan yang wangi dan empuk.


“Sri.“


“Tuan.“


* * * * *


“Satu gelas lagi, deh, Nola! Tanggung!” ucap Tania memaksa mengisi gelas Nola yang sudah kosong.


“Sorry, Tan! Gue bentar lagi cabut, nih! Mana kudu bawa mobil pula. Kalo banyak minum, entar gue mabok!” jawab Nola dengan mata setengah sayu sambil menggoyangkan kepala mengiringi musik yang menggema.


“Payah lu! Emang si Edward gak bisa nganterin apa?”


“Dia gak bisa dateng hari ini. Ada acara, jemput mamanya di bandara kalo gak salah.”


Tania menuangkan isi botol langsung ke dalam mulutnya. Lalu diiringi tawa cekikikan digoda teman lelakinya yang duduk di samping.


“Kamu mau ikutan cabut juga kayak si Nola?” tanya teman laki-laki Tania yang bernama Angga.

__ADS_1


Tania tertawa, “Enggaklah, Sayang! Malam ini gue bebas, kok. Bokap nyokap gue lagi ke luar kota.”


“Berapa lama?” tanya Angga tertawa memperlihatkan barisan gigi berkawatnya.


“Sebulan ngkali? Gak tahu, deh!”


“Kok, elo sampe gak tahu ortu elo pergi berapa lama?" tanya Nola dengan kepala yang sudah mulai bergoyang efek minuman keras.


“Ya, mana peduli mereka ama gue. Tahunya cuma ngasih duit aja. Gue masih hidup atau udah mati juga, gak bakalan care, deh, ama gue!” ujar Tania seraya tertawa, “elo sendiri gimana, Nola? Bokap dan nyokap elo masih pada waras, kan?”


Nola tersenyum kecut.


“Emang perlu gue kasih tahu elo? Pentingnya apa?”


“Payah! Kita, kan, friends, Say! Masalah elo, masalah gue juga! Lagian apa susahnya, sih, cerita?”


“Di tempat seperti ini? No!”


“Why not?”


“Terlalu berisik! Entar aja, deh, kalo gue maen ke rumah elo. Tapi tanpa si Angga, ya? Tuh, cowok mulutnya ember kayak emak-emak!”


Nola dan Tania tertawa.


“Eh, Nola. Gue mau ke toilet dulu, ya? Sebentar aja,” kata Tania kemudian.


“Ngapain? Boker?”


“Sialan! Gue mau ganti pembalut!”


“Busyet, deh!” sungut Angga kaget begitu Tania lewat di depannya sambil menggesekan bagian depan pinggul, “Jorok lu, ah!”


Tania dan Nola tertawa terbahak-bahak.


“Kalo iya, emang kenapa? Elo cantik, kok, Nola!” rayu Angga kembali tersenyum memamerkan gigi berkawatnya.


“Jangan coba-coba lu, ya? Gue hajar lu!”


“Galak amat? Cuma bercanda doangan juga ngkali.”


Nola mereguk sisa minumannya yang terakhir, begitu Tania sudah kembali lagi dari toilet.


“Gue cabut sekarang, deh, Tan! Udah malem, nih!” kata Nola seraya bangkit dari tempat duduknya.


“Gue anterin, ya, sampe parkiran!”


“Ya, udah!” Nola melangkah keluar, “hey ... Angga! Gue titip Tania, ya? Awas kalo elo apa-apain.”


“Beres, Bos!” Angga tertawa.


Nola dan Tania meninggalkan tempat tongkrongannya. Meninggalkan Angga sendiri dengan deretan botol minuman yang masih banyak tersisa.


“Nola mana, Ga?” satu suara mengejutkan Angga dari belakang.


Laki-laki culun itu kaget.


“Lho, bukannya ama elo tadi ke luar?” tanya balik Angga heran.


“Keluar apaan? Gue baru balik dari toilet, langsung ke sini! Gimana, sih? Elo mabok?” tanya Tania.


“Beneran! Tadi ama elo berdua ke pakiran! Masa gue lupa?”


“Wah ... parah lu! Beneran mabok rupanya!”


Tania bergegas ke luar ruangan menuju area parkir. Tapi mobil Nola sudah tak ada di sana. Sudah keburu pergi.

__ADS_1


Kalau Tania merasa tidak pernah mengantar Nola, lalu siapa yang saat itu berada satu mobil dengan adik Ardy tersebut?


“Bawa mobil, kok, kayak keong begini, Nola? Gak bisa lebih cepet apa? Ngebut, kek!” Tania memanas-manasi Nola yang sedang mengendarai kendaraannya, “takut, ya, mobil elo rusak?”


“Sialan! Ngapain takut? Besok gue pengen ganti mobil juga, langsung nyokap gue beliin!” sanggah Nola sambil menginjak pedal gas kuat-kuat.


Laju kendaraan semakin kencang.


“Percepat lagi, dong, Say! Lebih cepat!” seru Tania memberi semangat.


Nola mengoper porseneling ke tingkat kecepetan yang lebih tinggi, lalu menginjak pedal gas lebih dalam.


“Lebih cepat, Say! Haha!” suara Tania tiba-tiba berubah besar dan berat.


Nola menoleh ke arah temannya, Tania. Dan ... sosok yang semula berwujud manusia itu, perlahan berubah menjadi makhluk mengerikan.


Nola menjerit ketakutan sampai tak sadar kemudi yang dipegangnya ikut berputar ke kiri dan ke kanan. Laju kendaraan menjadi tidak stabil.


“Malam ini ... kau harus ikut denganku, Anak Keturunan Karyadi! Hahaha!”


Jerit ban terdengar memekakan begitu Nola menginjak pedal rem secara mendadak. Kendaraan pun bergerak memutar tak dapat dikendalikan. Lalu berguling di atas aspal beberapa kali hingga akhirnya berhenti setelah


menabrak bahu jalan dengan keras.


Badan kendaraan hancur serta menghimpit ruang kemudi dengan paksa. Benturan keras beberapa kali Menghujam, membuat tubuh pengemudi terlempar dibanting ke depan mengenai dashboard.


Nola menjerit keras merasakan sakit yang luar biasa merobek kulit perutnya akibat hantaman gagang kemudi. Darah kental memuncrat dari mulut, hidung dan lubang telinganya dengan hebat.


Sesaat sebelum kesadarannya menghilang, Nola masih melihat wujud menyeramkan itu tertawa keras memperlihatkan taringnya yang runcing serta sorot mata merah menyala.


Selanjutnya tak ada lagi yang bisa diingat, terkecuali lengking jeritan Nola memenuhi rongga langit dengan suara memilukan.


“Tidaaaakkk!”


“Aarrrgghh!” Tuan Karyadi menggeram laksana seekor singa yang baru menemukan mangsa di saat kelaparan.


Pergumulan yang bermula dilakukan dengan lembut, perlahan berubah kasar. Jemari laki-laki itu mulai merenggut dan menjambak rambut Sri, lalu menariknya hingga perempuan itu meringis kesakitan.


PLAK!


Sri menampar keras wajah Tuan Karyadi. Bukan ringis kesakitan yang tampak di wajahnya, justru seringai mengerikan hadir di antara nafas panas yang menerpa.


“Lakukan lagi, Sri!” tantang Tuan Karyadi mempercepat gerakan erotisnya, “aku ... aku ... “


Tuan Karyadi memejamkan matanya sambil menahan nafas sebentar. Dia merasa ada pergerakan halus di sekitar panggul, berlari dengan cepat menuju bagian kelelakiannya. Dan ....


“Aarrrgghh!”


Laki-laki setengah baya itu meraung hebat dengan tubuh mengejang kaku. Lalu menghempaskan diri ke samping Sri yang bersimbah peluh di sekujur tubuh.


Tampak jelas raut lelah yang tiada tara di wajah Tuan Karyadi. Nafasnya hingga tersengal tak beraturan.


Namun tidak dengan Sri, perempuan muda itu menyeringai menggidikan seraya bangkit dari rebah. Menatap tajam pada sosok yang tergolek lemah di sisinya.


Sri menarik nafas panjang diiringi pejamkan mata. Merasakan seruput gelitik menarik bibit manusia milik sang majikan yang terbuncah di akhir pergumulan.


“Lakukan kembali, Tuan!” bisik Sri dengan suara berat dan parau.


Tuan Karyadi membuka matanya perlahan, “Tunggu beberapa saat lagi, Sri! Saat ini, aku belum bisa melakukannya.”


PLAK!


Tamparan keras Sri telak mendarat di kulit wajah Tuan Karyadi, “Aku bilang lakukan lagi, Karyadi!”


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2