
Dokter Santoso manggut-manggut. Kepalanya dipenuhi berbagai pertanyaan. Namun yang membuat dokter ini bingung adalah kondisi Tuan Karyadi dan Nyonya Amanda yang belum diketahui penyebabnya.
“Begini saja, kedua majikanmu ini akan saya bawa ke rumah sakit. Nanti kalau anak sulung majikanmu datang, bilang saja bahwa kedua orangtuanya di bawa ke rumah sakit. Bagaimana?” tanya dokter Santoso pada Mbok
Inah yang masih diliputi perasaan bingung.
Setelah beberapa saat berpikir, barulah pembantu tua itu menyanggupi.
Dokter Santoso segera membenahi peralatan kerjanya dan bergegas keluar kamar. Lalu duduk di ruang tamu menunggu mobil ambulance datang.
“Dokter mau minum apa?” tanya Mbok Inah.
“Tidak, terima kasih. Tapi ... hhmmm ... air putih saja,” jawa dokter Santoso akhirnya.
Mbok Inah bergegas menuju dapur. Di sana ada Sri yang sedang mencuci alat masak. Begitu melihat ibunya datang, Sri menghentikan pekerjaannya.
“Bagaimana, Mak? Apakah Tuan dan Nyonya sudah sadar?” tanya Sri heran melihat wajah ibunya murung.
Mbok Inah menatap anaknya.
“Entahlah, Sri. Dokter tidak bilang apa-apa. Dia sendiri tampaknya bingung dengan yang terjadi pada Tuan dan Nyonya ... “ jawab Mbok Inah sambil menuang air ke dalam gelas.
Sri penasaran.
“Dokter tanya apa sama Emak?”
Mbok Inah melirik.
“Dia hanya tanya ... mungkin selama ini kita pernah melihat Tuan dan Nyonya ribut atau apalah ... ! Sampai mereka mempunyai luka-luka seperti itu. Tahu, deh, Emak bingung,” Mbok Inah mengangkat gelas berisi air minum untuk dokter Santoso, namun tiba-tiba ditahan Sri.
“Biar sama Sri saja, deh, Mak! Sini, Sri bawain,” ujar Sri mengambil alih gelas yang sudah siap dibawa Mbok Inah menuju ruang depan.
Mbok Inah memberikannya dengan heran.
Kemudian Sri membawa gelas tersebut ke ruang tamu. Di sana dokter Santoso sedang duduk sambil mencatat sesuatu di atas selembar kertas.
Sri memperhatikannya sejenak.
Janda tanpa anak itu memandangi dokter muda itu dari kejauhan.
Begitu melihat kedatangan Sri, dokter Santoso tersenyum ramah.
“Ini airnya, dok,” kata Sri pelan namun matanya tak lepas menatap wajah dokter Santoso.
“Terima kasih,” jawab dokter itu kembali tersenyum.
Sri tidak langsung pergi dari ruang tamu. Dia malah mendekati sosok dokter itu.
“Kira-kira menurut dokter, penyakit Tuan dan Nyonya itu apa ya, dok?” tanya Sri sekedar alasan untuk tetap bertahan berada di tempat.
Dokter Santoso menarik nafas sebentar sebelum menjawab pertanyaan pembantu muda itu.
“Saya belum bisa menyimpulkan apapun. Mungkin di rumah sakit nanti kami akan memeriksanya dengan lebih teliti dan berusaha mencari tahu penyebabnya.”
Sri tampak akan mengatakan sesuatu namun agak bingung bercampur rasa malu.
“Ada apa? Tampaknya kamu hendak mengatakan sesuatu ... ?” tanya dokter Santoso memperhatikan raut wajah Sri yang lumayan menarik.
“Tapi ... janji ya, dok? Apa yang akan saya katakan ini tidak akan dibicarakan dengan oranglain. Cukup hanya dokter dan saya yang tahu,” ujar Sri ragu-ragu.
Dokter Santoso mengernyitkan alisnya, “Apa yang kamu ketahui tentang kedua majikanmu itu?”
“Dokter harus janji dulu!” Sri menegaskan.
Dokter Santoso menganggukan kepala pelan, “Baik, saya berjanji!”
Sri tersenyum.
__ADS_1
Sebelum bicara, dia memperhatikan keadaan sekeliling ruangan untuk memastikan bahwa tak ada oranglain di tempat itu terkecuali mereka berdua.
“Begini, dok!” Sri mulai bercerita, “semalam, tanpa sengaja, saya melihat Tuan dan Nyonya ... melakukan hubungan intim di sini. Di ruangan ini.”
“Oh ya?”
“Ya, persis ... di tempat yang saat ini sedang di duduki sama dokter ... “
Dokter Santoso menggeser duduknya. Lalu sejenak memperhatikan sofa dan karpet.
“Saya melihat ... mereka melakukannya dengan cara yang tidak wajar!” sambung Sri seraya membuka sedikit belahan pakaian di bagian dada.
“Maksudmu?” tanya dokter Santoso penasaran.
“Saya melihat ... Tuan mengigit payudara Nyonya hingga berdarah. Begitu juga dengan Nyonya, dia mencakari sekujur tubuh Tuan. Pokoknya ... sangat tidak wajar, saya pikir!”
Sri menggeser tubuhnya lebih dekat ke posisi dokter Santoso.
“Namun, saya perhatikan tampaknya mereka berdua tidak merasa kesakitan. Justru, sangat menikmatinya. Saya kira ... mereka semalam sedang kerasukan ... “ Sri menghentikan ucapannya.
“Kerasukan?” dokter Santoso tertegun mendengar cerita Sri tadi.
Sri tidak turut menceritakan apa yang dia lakukan semalam.
“Apakah kamu mengetahui perihal kehidupan majikanmu sehari-hari?” tanya dokter Santoso kembali.
“Tidak, saya baru beberapa hari bekerja di sini ... “ jawab Sri sambil kembali menggeser tubuhnya mendekati sosok laki-laki muda itu.
“Bukan. Maksud saya ... kehidupan seksual mereka ... “ dokter Santoso semakin dibuat penasaran.
Sri tampak bingung.
“Seksual? Apa itu, dok?”
“Maksudnya ... kehidupan dalam melakukan hubungan suami istri. Apakah mereka sering menggunakan suplemen tertentu untuk menambah stamina hubungan intim? Mungkin mereka pernah menyuruhmu membelikan obat-obatan
Mata dokter ini nanar memperhatikan belahan dada Sri yang sengaja terbuka separuh.
Sri tertunduk dengan wajah merona merah.
“Saya janda, dok!” jawab Sri malu.
“Oh, maaf. Saya tak bermaksud lancang untuk ... “
“Tak apa-apa, dok.”
Dokter Santoso minum air yang tadi dibawakan Sri. Duduknya mulai tak nyaman. Sesekali laki-laki itu membetulkan posisi celananya.
“Oh ya, tadi kamu belum menjawab pertanyaan saya tentang obat-obatan itu.”
“Saya tak tahu, dok. Bukankah itu sangat pribadi, dok?” tanya Sri polos.
“Memang. Namun diusia seperti mereka, kadang sangat membutuhkan obat-obatan sejenis itu,” kata dokter Santoso berpikir.
Sri terdiam.
“Oh iya, siapa namamu?” tanya dokter Santoso pandangi wajah Sri, terutama bagian dadanya yang turun naik seiring helaan nafas.
“Sri. Sri Kemuning,” jawab perempuan muda itu singkat.
“Nama yang bagus. Sesuai dengan orangnya ... “ puji dokter Santoso tanpa sadar.
“Dokter bisa saja,” jawab Sri tersipu.
Wajah perempuan muda itu memerah kembali.
Percakapan terhenti, begitu terdengar jeritan sirine di depan rumah. Dokter Santoso bergegas keluar. Dua orang petugas rumah sakit menyalami dokter itu.
__ADS_1
“Selamat pagi, dok!” sahut keduanya begitu melihat dokter Santoso berdiri menyambut.
“Ya, pagi! Bawa pasien yang ada di kamar itu ke unit gawat darurat!”
“Baik, dok!”
Kedua petugas itu segera masuk ke dalam kamar. Memindahkan tubuh mereka ke atas tandu lalu membawanya ke dalam mobil ambulance.
Sebentar kemudian mobil ambulance itu pun melaju sambil meraung-raung di sepanjang perjalanan.
Mang Sapri, Mang Kurdi, Mbok Inah, Sri dan Nola hanya bisa memandangi dengan pilu.
“Ya Tuhan, ke mana Den Ardy pergi? Sudah siang begini masih belum kembali?”kata Mbok Inah dalam hati.
“Non Nola tidak sekolah?” tanya Mbok Inah melihat anak gadis itu termenung.
Nola mengangkat bahunya, “Entahlah, Mbok. Sepertinya Nola tidak sekolah hari ini. Kak Ardy, kan, belum pulang.”
“Ya sudah. Tak apa-apa. Nanti Mbok minta Mang Sapri yang telepon pihak sekolah ya?”
“Terima kasih, Mbok. Nola bingung sekali ... ”
“Jangan terlalu banyak pikiran, Non. Nanti Mang Sapri juga yang akan mencari Den Ardy. Mungkin saja kakak Non Nola itu sedang berada di rumah sakit. Buktinya mobil yang biasa dipakai Den Ardy, tak ada di garasi.”
Nola memeluk erat pembantu tuanya itu.
Sementara itu, Ardy yang masih berada di rumah sakit, masih menunggui jenazah Rezky. Semalaman, anak itu belum bisa tidur dan tidak berhenti menangisi adiknya. Bahkan sampai lupa mengabari keluarga.
Sudah tentu Ardy belum mengetahui kejadian yang menimpa papa dan mamanya. Begitu juga dengan kematian Rezky semalam, pihak keluarga belum mengetahuinya.
Semua serba kacau.
Di saat itulah, seorang perawat datang ke ruangan tempat di mana Ardy jenazah Rezky berada.
“Maaf, Dik! Mengganggu!”
Ardy terkejut, lalu menoleh ke arah perawat itu.
“Ya, Suster! Ada apa?” tanya Ardy dengan mata memerah.
Perawat itu memandangi sosok Rezky sesaat.
“Kami turut berduka cita atas meninggalnya keluarga Adik ini. Apakah keluarga Adik sudah dibertahu?” tanya perawat itu.
“Belum ... ” jawab Ardy sambil mengusap wajahnya, bingung.
“Bisa pinjam telepon di rumah sakit ini, Suster?”
“Tentu saja. Mari ikuti saya!” ujar perawat tersebut sambil melangkah ke luar ruangan.
Ardy mengikutinya dari belakang.
“Cepatlah, Suster!”
Perawat itu mempercepat langkahnya. Ardy berjalan setengah berlari. Tak peduli walau sempat menabrak seseorang di tengah jalan.
“Kurang ajar! Dasar anak tidak tahu sopan santun!” maki orang tersebut.
Ardy tidak peduli. Dia terus mengejar perawat yang berjalan sangat cepat, seolah tak pernah menjejakan kakinya di lantai koridor rumah sakit.
Di sebuah kelokan ujung lorong, tanpa sengaja Ardy menabrak sebuah kereta dorong pasien.
Ardy jatuh terpental.
“Kamu tidak apa-apa, Dik?” tanya seorang petugas rumah sakit membantu Ardy bangkit.
“Tidak, aku tak apa-apa,” sahut Ardy sambil berdiri.
__ADS_1
BERSAMBUNG