
Sementara jarum jam terus merambat mendekati pukul dua belas malam. Sebagian penghuni rumah sudah terlelap tidur. Terkecuali Nyonya Amanda dan Tuan Karyadi. Mereka berdua masih terjaga.
Nyonya Amanda terbaring di atas tidur, memperhatikan tingkah laku suaminya yang duduk bersila di lantai, sambil menghadapi bunga-bunga dan pedupaan.
Udara terasa dingin menusuk tulang. Berhembus melalui ventilasi jendela hingga menggerakan kain gorden. Melambai-lambai kian cepat seakan tengah memanggil tamu yang sedang ditunggu Tuan Karyadi.
Laki-laki tua itu merapal kalimat-kalimat dengan bahasa yang tak dimengerti. Tak lama kemudian, lantai pun berguncang.
Nyonya Amanda terkejut dan bangkit dari rebahan.
“Gempa bumi?” gumam Nyonya Amanda ketakutan. Dia segera turun dari tempat tidur, “Pa, ada gempa! Kita lari ke luar!”
Tuan Karyadi menoleh sesaat sambil terus merapalkan kalimat-kalimat anehnya.
“Papa, ada gempa!” seru Nyonya Amanda panik.
Tuan Karyadi menyeringai menatap istrinya. Pandangannya tajam menguliti setiap lekuk tubuh, dengan nafas semakin memburu.
“Papa?” Nyonya Amanda bergidik.
Wanita itu beringsut mundur ketakutan melihat tatapan mata suaminya yang mulai aneh.
Seringai mengerikan kembali hadir menyeruak di bibir Tuan Karyadi. Laki-laki itu berdiri dan melucuti pakaiannya satu persatu, sambil terus menatap Nyonya Amanda.
“Papa.“
* * * * * *
Sri Kemuning membuka matanya. Perempuan muda itu bangkit dari tempat tidurnya, sambil membelalakan matanya dengan lebar. Menyapu sesaat ke semua penjuru kamar. Hanya menemukan kegelapan dan sesosok tua Mbok Inah, ibunya, yang sedang tergolek tidur dengan pulas.
Perlahan dia melangkah keluar kamar. Berjalan limbung menuju sebuah tempat. Kamar Ardy.
Pintu kamar anak muda itu tak dikunci. Dengan leluasa, Sri memasukinya perlahan.
Lekat mata Sri memandang sosok Ardy yang sedang terbaring di atas tempat tidur. Senyum menggidikan tersungging di bibirnya sambil leletkan lidah.
“Malam ini, aku akan mengambil anak ini sebagai tumbalku ... “ gumam Sri dengan suara parau dan besar.
Suara itu bukan suara Sri Kemuning. Tetapi suara makhluk berkepala anjing yang merasuk ke dalam tubuh Sri Kemuning.
Jemari lentik Sri bergerak perlahan membuka kancing baju Ardy.
Ardy terbangun di saat Sri tengah berusaha membuka bajunya.
“Sri ... Aaa ... paaa yang ... kaulakukan?” Nafas Ardy terengah.
Sri tersenyum menggoda.
“Tetaplah tenang dan berbaring di tempat tidurmu,” bisik Sri menahan gerak tubuh Ardy yang hendak bangkit dari tidurnya.
Lalu perlahan perempuan muda itu menurunkan wajahnya dan ....
Tiba-tiba sontak dari luar jendela melayang seberkas sinar putih terang, melesat masuk ke dalam kamar Ardy dan menabrak tubuh Sri dengan hebat. Perempuan muda itu terpental ke belakang dan terjerembab di lantai dengan
keras.
Sri bangkit sambil menggeram persis seekor anjing yang marah. Matanya menyala merah membara.
“Keluar kamu dari tubuh perempuan itu, atau aku akan memaksamu kembali ke tempat asalmu!” bentak satu suara yang berasal dari sinar putih menggelegar.
Sri tertawa panjang.
“Hahaha! Keluarkanlah aku kalau kaumampu! Aku tahu kau sudah lama mati! Jangan menyesal jika rohmu itu tak akan bisa kembali ke alammu karena telah berani mencampuri urusanku!” Sri Kemuning balas membentak dengan suara menggidikan.
“Iblis sesat pengecut! Jangan berlindung di balik tubuh perempuan tdak berdaya itu! Keluar!” suara dari sinar putih itu terdengar marah.
__ADS_1
Sri Kemuning kembali tertawa keras.
Kemudian sinar putih itu segera bergerak cepat ke arah tubuh Sri dan membelitnya dengan kuat.
“Dengan cara seperti ini, kau akan membunuh tubuh perempuan ini, bodoh!” teriak Sri kesakitan.
Perempuan yang dikuasai iblis berkepala anjing itu tidak berdaya melawan belitan sinar putih tersebut.
Darah segar mengalir dari mulut dan hidung Sri. Tubuhnya bergetar dan perlahan memucat.
“Jangan bunuh Mbak Sri!” teriak Ardy melihat wajah Sri semakin membiru.
Anak muda itu berusaha bangkit namun mendadak sekujur tubuhnya terasa kaku dan tak bertenaga. Dia hanya bisa berteriak meminta menghentikan semua itu.
“Tubuh dan akal manusia dipengaruhi oleh hati manusianya itu sendiri. Maka sudah tentu kau berlindung di sana, kan?” suara yang berasal dari sinar putih itu memekakan telinga.
Ardy sampai menutup telinganya. Suara hentakan itu seperti akan memecah
seisi kepala.
Kemudian sinar putih menyilaukan itu melepaskan belitannya di tubuh Sri Kemuning, lalu bergerak melesat ke dalam rongga mulut Sri yang terbuka. Berlari di dalam tenggorokan.
Sri menjerit kesakitan. Darah segar kembali memuncrat melalui mulut dan hidungnya.
“Ampuuunn ... !!! Panas ... !!!” teriak Sri memilukan dan bergerak limbung, lalu jatuh bergulingan ke sana ke mari, “hentikan! Hentikan! Panaaasss ... !!!”
Darah dari mulut dn hidungnya semakin banyak keluar membasahi lantai. Anehnya, darah tersebut mengepulkan uap.
Diakhiri lolongan keras menyakitkan, sinar putih itu melesat ke luar dari mulut Sri sambil menarik sesosok tubuh makhluk berkepala anjing.
BRAK! BRAK!
Sosok makhluk mengerikan itu jatuh menabrak daun pintu kamar hingga tanggal dari tempatnya. Tubuhnya menggelepar kesakitan, menatap tajam ke arah sinar putih yang perlahan berubah wujud menjadi sosok seorang manusia. Laki-laki tua berpakaian kumal.
Ardy menatap lekat sosok tersebut tanpa mau berkedip.
Iblis berkepala anjing itu terkapar di lantai sambil mengerang kesakitan. Sementara Sri masih tergeletak tak sadarkan diri.
“Ampunilah aku, wahai manusia sakti!” ujar iblis berkepala anjing itu menghiba sambil menyembah sosok laki-laki berpakaian kumal tadi.
“Iblis sesat! Tempatmu bukan di sini! Tuhan menghukummu dan semua keturunanmu untuk tidak pernah memiliki tempat di muka bumi ini! Sudah sepantasnya aku pun tak akan mengampunimu sampai kapan pun!” seru laki-laki itu, “sekarang aku akan bakar muka anjingmu itu dengan ayat-ayat suci! Agar mukamu yang buruk itu semakin tak berbentuk!”
“Jangan! Jangan lakukan itu!” sergah makhluk berkepala anjing itu kembali menghiba, “aku akan pergi dari sekarang juga! Aku tidak akan mengganggu keluargamu lagi!”
Sosok laki-laki berpakaian kumal itu berpikir sejenak.
“Pergilah! Jangan pernah kembali lagi!” kata laki-laki itu akhirnya, “sekali lagi kau ganggu cucuku, maka kau tak akan pernah kuampuni!”
“Baiklah! Aku tidak akan mengganggu keturunanmu lagi. Aku pergi,“ kata iblis berkepala anjing itu sambil melayang menembus dinding kamar.
Setelah makhluk itu lenyap, laki-laki berpakaian kumal itu segera mendekati Ardy yang masih terbaring tak berdaya. Dia tersenyum dan membelai rambut Ardy penuh kasih.
“Alhamdulillah, kau selamat, Cucuku. Aku tidak datang terlambat, kan?” tanya laki-laki itu ramah.
Ardy tercekat, “Kau sering menemuiku, siapakah sebenarnya kau ini? Sekarang kau memanggilku dengan sebutan cucu, apakah ... ”
“Aku adalah kakekmu. Ayahnya Karyadi yang telah kau anggap sebagai ayahmu sendiri, Nak,” laki-laki itu kembali tersenyum, “mungkin kau pernah mendengar cerita tentangku dari seseorang, kan? Orang itu tak lain adalah ... ayahmu sendiri. Namanya Matsuko Hardjo, atau biasa dipanggil Mbah Suko.”
“Mbah Suko?”
“Ya, semua apa yang telah dia katakan itu benar adanya. Kau dan aku telah mengalami hidup seperti ini karena ulah Karyadi yang telah bersekutu dengan iblis sesat itu,” ujar laki-laki berpakaian kumal yang mengaku sebagai kakek Ardy ini sambil mencubit hidung cucunya.
“Kakek ... “ sahut Ardy sambil memeluk kakeknya dengan perasaan bahagia dan rindu teramat dalam.
Orang tua itu menyambutnya dengan hangat.
__ADS_1
“Kakek, kan, sudah lama meninggal. Mengapa Ardy masih bisa merasakan kalau Kakek ini masih hidup dan bisa bersentuhan?” tanya Ardy heran.
Orang tua itu kembali tersenyum.
“Ketahuilah, Cu, sebenarnya jasad kakekmu itu telah lama membusuk. Aku hanyalah sama-sama makhluk Tuhan yang sudah lama mengenal dan bersemayam di dalam tubuh kakekmu semasa hidup dulu. Aku bukanlah kakekmu yang sebenarnya, tapi rasa yang pernah kakekmu rasakan dulu, sama juga seperti yang aku rasakan saat ini. Kau bagai cucuku sendiri.”
“Aku tak paham, Kek.”
“Tanyalah nanti sama ayahmu sendiri. Dia lebih tahu tentang ayahmu dulu semasa hidup.”
“Ayahku?”
“Ya, Mbah Suko! Aku hanya meminjam jasadnya sementara ... ”
“Maksud Kakek?” Ardy semakin tak mengerti.
Kakek Ardy tersenyum.
Perlahan terjadi perubahan pada sosok tua berpakaian kumal itu. Wajah yang semula kelihatan tua kumal, kemudian berubah menjadi satu sosok laki-laki yang sudah dikenal Ardy sebelumnya, yaitu ... wajah Mbah Suko.
Sementara dari tubuh Mbah Suko keluar asap putih dan perlahan membentuk sesosok tubuh manusia berbentuk laki-laki berpakaian kumal tadi.
“Ayah ... “ seru Ardy hendak memeluk kembali tubuh Mbah Suko penuh rasa bahagia.
“Eits ... “ Mbah Suko menahan tubuh Ardy yang akan memeluknya.
“Kenapa, Yah?”
Orang tua itu tertawa kecut, “Aku tak mau berpelukan dengan laki-laki yang tak menggunakan apa pun di tubuhnya.”
Kakek Ardy tergelak di belakang mereka.
Ardy terkejut dan baru menyadari kondisi tubuhnya yang masih polos setelah semua pakaiannya direnggut Sri tadi.
“Maafkan aku, Anakku. Maafkanlah ... “ Mbah Suko akhirnya memeluk Ardy setelah kembali mengenakan pakaiannya.
Kakek Ardy tersenyum bahagia melihat cucu dan menantunya telah bertemu dalam kebahagiaan dan kedamaian.
Ardy melepaskan pelukannya dan balik menatap sang kakek. Tangan anak muda itu bermaksud menggapai sosok orang tua berpakaian kumal itu.
“Percuma saja, Cu. Dalam wujud Kakek yang sekarang ini, kamu tidak akan bisa menyentuh Kakek,” kata Kakek Ardy membuat anak muda itu mengurungkan niatnya.
“Kenapa, Kek?”
“Karena aku harus meraga sukma terlebih dahulu dengan tubuh manusia. Wujud Kakek tidak seperti manusia seperti kalian.”
“Ardy semakin tak mengerti.“
Sang Kakek tersenyum, “Belajarlah pada Ayahmu. Dia nanti yang akan mengajarimu ... “
Mbah Suko tersenyum.
“Sekarang aku harus pergi. Dan kau ... “ Kakek Ardy menunjuk Mbah Suko, “jaga cucuku dengan taruhan nyawamu sendiri. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan dia, aku akan datang kembali membuat perhitungan denganmu, Suko!”
“Saya akan menjaganya dengan baik, Pak,” jawab Mbah Suko.
Kakek Ardy melambaikan tangan pada mereka berdua, kemudian perlahan menghilang tak berbekas.
“Ardy masih belum mengerti tentang apa yang tadi Kakek bicarakan, Yah,” Ardy berpikir keras.
“Yang mana?” tanya Mbah Suko ikut berpikir.
“Sosok Kakek tapi beliau bukan Kakekku yang sebenarnya. Maksudnya bagaimana, sih, Yah?”
“Ooohh ... itu!” Mbah Suko tersenyum, “dia khodam Kakekmu dulu.”
__ADS_1
“Khodam? Apa pula itu, Yah?”
BERSAMBUNG