
“Aneh, tadi aku benar-benar melihat orang aneh itu menyeberangi jalan secara tiba-tiba, lalu tertabrak. Tapi ... ya Tuhan! Kejadian apalagi yang sedang kualami ini? Apakah aku sudah gila?” tanya Ardy kebingungan.
Mang Sapri menghela nafas melihat anak majikannya itu.
“Mungkin tadi Aden melamun,” ujar Mang Sapri sambil menepuk-tepuk pundak Ardy.
“Sumpah, Mang! Saya tadi melihat ada ... ya Allah!” tiba-tiba Ardy teringat sesuatu, “laki-laki yang menyeberang jalan itu tadi ... laki-laki kumal dan gila itu, Mang!”
Sarah ikut keluar dari dalam kendaraan dan terkejut mendengar ucapan Ardy barusan. Terlebih lagi Mang Sapri.
“Mungkin kamu perlu istirahat, Dy! Kamu terlalu banyak tertekan. Sehingga kembali berhalusinasi ... “ ujar Sarah.
Ardy balik menatap Sarah.
“Berhalusinasi? Kamu tidak percaya sama aku, Sarah! Tadi aku benar-benar melihatnya dengan mata kepalaku sendiri!” seru Ardy keras, “aku yakin ini bukan halusinasi, Sarah! Ini sebuah peringatan!”
Sarah tersenyum dan berusaha menenangkan sahabatnya itu.
“Peringatan? Peringatan apa, Den?” tanya Mang Sapri semakin heran dengan kata-kata anak majikannya itu.
Ardy membalikan badan. Menatap Mang Sapri dengan sorot mata tajam.
“Saya yakin! Benar-benar yakin! Laki-laki kumal yang dianggap gila itu, pasti sedang berusaha memperingatkan kita. Atau setidaknya dia ingin memberitahu sesuatu pada kita. Khususnya ... saya! Bukti dari keyakinan saya itu adalah ... ternyata hanya saya yang bisa melihat wujud laki-laki itu!”
“Iya, tapi peringatan tentang apa, Ardy?” tanya Sarah kembali.
“Itulah yang tidak aku mengerti, Sarah. Tapi ... apa kalian ingat, ucapan laki-laki itu saat kejadian di lampu merah beberapa hari yang lalu?”
Sarah dan Mang Sapri menggelengkan kepala.
“Dia mengatakan kalau kita harus menjaga Rezky dari iblis sesat itu!” ujar Ardy mengingat-ingat.
Sarah dan Mang Sapri memang pernah mendengar kata-kata itu. Itu pun dari mulut Ardy sendiri, bukan orang lain atau bahkan laki-laki yang dimaksud Ardy tersbut.
“Oke, aku percaya sama kamu, Dy!” ujar Sarah menengahi, “begini saja, deh. Aku mempunyai seorang kakek yang tinggal di sebuah kampung. Beliau memiliki keahlian khusus dalam hal-hal semacam ini. Dan, kebetulan sekali ... kakekku itu akan datang besok ke rumahku!”
“Sekarang kita pulang dan istirahat. Besok kita sama-sama menjenguk Rezky bersama kakekku. Bagaimana?” lanjut Sarah membuat Ardy agak sedikit tenang.
Tapi dia bingung untuk segera memutuskan. Hatinya merasa tidak tenang dan selalu teringat pada Rezku, adik bungsunya.
Mang Kadir membimbing Ardy untuk segera masuk ke dalam kendaraan.
Kini Mang Sapri yang gantian mengendarai mobil. Ardy dan Sarah duduk di kursi belakang. Sementara Nola berpindah di bagian depan. Anak perempuan yang masih belia itu juga diliputi perasaan aneh dengan berbagai kejadian yang dialami kakaknya. Namun dia lebih memilih diam daripada harus ikut berbicara. Entahlah, mengapa juga hatinya teringat pada sosok adiknya, Rezky.
Kendaraan yang sempat terhenti beberapa saat lamanya itu, kini mulai bergerak menuju rumah Sarah.
“Jangan lupa besok sepulang sekolah, kamu jemput dulu kakekku ya?” kata Sarah begitu sampai di depan rumahnya.
Ardy hanya menganggukan kepala.
Sepanjang perjalanan, Ardy lebih banyak diam. Pertanyaan Mang Sapri tidak dijawab. Bahkan begitu tiba di rumah, anak itu langsung masuk ke dalam kamar. Berbaring di atas tempat tidur sambil menerawang memikirkan Rezky yang sedang tak berdaya di rumah sakit.
__ADS_1
Nyonya Amanda dan Tuan Karyadi yang belum tertidur, bermaksud untuk menemui Ardy, namun ditahan Nola.
“Mama dan Papa sebaiknya jangan ganggu Kak Ardy dulu. Soalnya dia perlu istirahat ... “ kata Nola polos.
Tuan Karyadi dan Nyonya Amanda mengurungkan niat mereka untuk menemui Ardy.
“Lalu, kalian dari mana saja? Jam segini baru pulang sekolah?” tanya Tuan Karyadi.
“Kami tadi dari rumah sakit, jengukin adik Rezky, Pa!” jawab Nola tanpa mau menceritakan kejadian yang dialami kakaknya sepanjang hari ini.
Nola takut kalau Mama dan Papa akan ikut merasa khawatir. Makanya dia buru-buru masuk ke dalam kamarnya.
Tuan Karyadi dan Nyonya Amanda duduk berdua di ruang tengah, menikmati sajian layar televisi. Sampai kemudian malam pun semakin merangkak larut.
Entah mengapa dan siapa yang memulai, kedua suami istri itu perlahan saling bertatapan mata. Dengan sorot mata yang penuh dengan nafsu membara.
Keduanya saling mendekat dan merapat. Lalu perlahan laki-laki itu menghujamkan bibirnya, ******* dengan nikmat ranum bibir istrinya. Disambut panas oleh Nyonya Amanda dengan pagutan yang tak kalah sengit. Bergumul di atas sofa sambil melucuti busana masing-masing.
Dengus nafas hangat saling menerpa. Menghujam setiap detak jantung dan menuntun syahwat yang kian tak terkendali.
Beberapa kali riak bulu-bulu halus di tubuh Nyonya Amanda bergerak menggelikan, saat kuncup payudaranya menjadi sasaran ujung lidah Tuan Karyadi yang meruncing dan menari-nari dengan erotis.
Nyonya Amanda menjerit lirih ketika area sensitifnya ditembus kuat kelelakian suaminya. Lalu bergerak secara estafet menimbulkan rasa yang sulit untuk diungkapkan. Pertarungan yang sungguh berbeda dari yang seringkali mereka lakukan sebelumnya.
Erangan buas Tuan Karyadi semakin membahana. Dibalas dengan lenguhan kuat Nyonya Amanda yang mencabik-cabik gairah menggelora.
Di saat yang bersamaan, Ardy menggelinjang gelisah di atas tempat tidurnya. Bergerak ke kiri dan ke kanan dengan mata terpejam.
“Aku sudah memperingatkan kamu untuk menjaga adikmu! Tapi kamu tidak peduli! Sekarang ... lihatlah semuanya! Adikmu akan menjadi tumbal atas keserakahan orangtuamu sendiri!” seru sesosok laki-laki kumal berpakaian gembel sambil menunjuk-unjuk muka Ardy.
“Jangan tanya siapa aku? Sekarang aku beritahu, terlambat bagimu untuk menyelamatkan adikmu itu! Kalau ingin melihat adikmu untuk yang terakhir kalinya, datangi dia sekarang juga!” ujar laki-laki gembel itu sambil berlalu.
“Tunggu! Jangan pergi! Ada apa dengan adikku?” tanya Ardy berteriak sambil mengejar sosok laki-laki kumal itu.
Namun, dia sudah menghilang. Lenyap tak berbekas.
“Tidaaaaakkkk ... !!!”
Ardy terbangun dari mimpinya. Peluh basah membanjiri sekujur tubuh anak muda itu.
“Rezky ... anak itu!” seru Ardy sambil bangkit dari tempat tidurnya dan berlari ke luar kamar.
Setelah meraih kunci mobil, anak itu bergegas menuju garasi. Mengeluarkan kendaraan dan selanjutnya membawanya dengan cepat menuju rumah sakit.
Mobil dipacu dengan kecepatan tinggi. Keheningan malam dan jalanan yang sepi dari lalu-lalang penghuni jalanan, membantu Ardy melaju secepat kilat menembus kegelapan.
Sementara Tuan Karyadi dan Nyonya Amanda bertarung kian seru. Tiada rasa lelah yang mendera keduanya. Justru semakin lama semakin dirasakan nafsu mereka membakar dada. Panas dan buas mengimbangi setiap hentakan yang menghujam di bagian titik tubuh.
Liuk tubuh erotis Nyonya Amanda semakin menjadi. Melahap habis kelelakian suaminya setiap inci. Erangan kuat melolong memecah langit-langit sampai tak kuasa menahan laju ujung kukunya yang menggaruk kuat sekujur tubuh Tuan Karyadi. Darah segar mengalir bercampur peluh yang sedari tadi membanjiri.
Tuan Karyadi membalas dengan pagutan bibirnya, ******* dengan nikmat setiap inci titik payudara sang istri. Lalu menjepit kuat kuncup yang masih mengeras itu. Bukan dengan belahan bibir, tapi dengan gigitan kuat. Bukan rasa sakit yang dirasa, justru nikmat yang semakin mendera.
__ADS_1
Tuan Karyadi menggeram laksana seekor macan yang tengah kelaparan, menghujam anggota kelelakiannya dengan kasar. Menimbulkan pekik dan gemericik dari setiap gesekan di dalam lorong persalinan.
Sri, anak Mbok Inah, yang tertidur di ruangan belakang, terbangun mendengar suara-suara pekikan Nyonya Amanda. Diliputi rasa penasaran, perempuan muda yang telah lama menjanda itu, turun dari tempat tidurnya. Sementara ibunya masih terlelap dengan pulas, seakan gendang telinganya tertutup rapat dari suara-suara erotis tersebut.
Perlahan Sri keluar dari kamarnya. Melangkah perlahan menuju ruang tengah. Di sana, perempuan muda itu melihat kedua majikannya sedang bergumul dengan hebat di atas sofa. Sehingga lambat laun mampu membangkitkan birahi yang sekian lama tertahan dalam kodratnya.
Matanya terus memperhatikan kedua manusia yang sama-sama bertubuh polos itu, sambil meraba dadanya dengan gerakan memutar. Kemudian turun perlahan menyusup diantara lipatan kain yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Mata Sri mulai terpejam dan mengigit bibirnya disertai aliran nafas yang mulai tersendat.
Bersamaan dengan itu, di rumah sakit tempat di mana Rezky terbaring, sesosok wanita masuk ke dalam ruangan. Mengenakan gaun putih memanjang hingga menutupi kedua kaki. Rambutnya yang panjang hitam terurai menutupi sebagian lobang menganga di belakang tubuhnya, penuh darah dan belatung yang menjijikan.
Sosok itu mendekati Rezky. Anak itu terbangun dalam kejut. Matanya sontak melotot memandangi sosok tersebut dengan mulut menganga memohon pekik, namun tak ada suara yang mampu keluar dari kerongkongannya.
Sosok itu tertawa. Memperlihatkan taringnya yang runcing dan penuh lelehan darah busuk. Kemudian mengangkat tubuh Rezky dengan cepat dan membawanya keluar.
Rezky berusaha meronta, namun tubuhnya mendadak kaku tak bisa digerakan.
Anehnya, walaupun tubuh Rezky telah dibawa oleh sosok wanita menyeramkan itu, di atas tempat tidur semula masih terbaring tubuh anak kecil itu. Tergeletak diam dalam kaku. Mulutnya terbuka disertai mata melotot seakan
sedang memperlihatkan rasa takut yang teramat sangat.
Ardy baru tiba di halaman rumah sakit. Anak muda itu segera keluar dari dalam kendaraan dan langsung berlari tanpa menghiraukan pintu kendaraan masih terbuka.
Sosok wanita yang membawa Rezky berpapasan dengan Ardy. Anehnya, Ardy sama sekali tidak melihat mereka.
Lain pula dengan Rezky, anak itu melihat kakaknya yang sedang berlari dan berpapasan dengannya. Segera Rezky berteriak, “Kak Ardy! Toloooonngg ... !!! Kak Ardy ... !!!”
Ardy tidak melihat maupun mendengarnya. Anak muda itu tetap berlari menuju ruang perawatan adiknya.
Tiba-tiba sosok menyeramkan itu berhenti dan menengadah ke atas langit. Lalu tubuhnya melesat naik dan terbang membawa tubuh Rezky. Jeritan anak kecil itu mengalun memilukan. Sesaat kemudian lenyap ditelan kegelapan malam.
“Rezky ... !” teriak Ardy begitu melihat adiknya tergeletak kaku dengankondisi menyedihkan.
Ardy memburu tubuh adiknya.
“Rezky! Bangunlah, Dik! Bangun! Ini Kakak datang, Sayang!” teriak Ardy sambil mengguncang-guncangkan tubuh Rezky yang sudah tak bergerak.
Ardy merapatkan telinganya ke dada Rezky. Tak ada tanda-tanda kehidupan di sana, “Tidaaaaaakkk ... !!! Tidaaaakkk ... !!! Rezky ... !!!”
Dengan tubuh lemas, Ardy memeluk tubuh adiknya sambil menangis pilu, “Jangan mati adikku! Jangan mati! Jangan tinggalkan Kakak!”
Jeritan keras Ardy terdengar oleh penjaga rumah sakit yang sedang bertugas. Serentak tiga orang petugas keamanan berlari ke arah ruang perawatan Rezky. Mereka melihat sosok Ardy sedang meratapi adiknya.
"Ada apa, Dik?" tanya salah seorang petugas keamanan itu pada Ardy.
Sementara dua petugas lainnya memeriksa keadaan Rezky. Keduanya menggelengkan kepala pada rekannya yang bertanya pada Ardy tadi. Memberi isyarat bahwa Rezky telah ....
"Adikku meninggal!" teriak Ardy kembali.
"Sabar ya, Dik. Sabar," ujar petugas keamanan itu menenangkan dan membimbing tubuh lemah anak muda itu duduk di atas kursi.
"Iblis itu telah membunuh adikku!" seru Ardy sambil menangis.
__ADS_1
Ketiga petugas keamanan saling berpandangan mata mendengar ucapan Ardy barusan.
BERSAMBUNG