
“Lihatlah sekarang sama kamu! Semua anak-anakku mati dengan cara yang tidak wajar. Tinggal kamu sendiri yang masih hidup!” ujar Nyonya Amanda suatu ketika, “semua ini karena kesalahanku, membiarkan kamu hidup bersama kami. Anak haram yang selalu membawa sial!”
Ardy terkejut.
“Mama selalu mengatakan kalau Ardy ini anak haram. Sebenarnya siapa, sih, Ardy ini sebenarnya bagi Mama?” sakit sekali merasakan perih yang mulai menusuk di bagian terdalam hati Ardy, “bukankah selama ini Papa dan Mama selalu menganggap Ardy ini anak kandung Mama dan Papa?”
Nyonya Amanda tersenyum sinis.
“Jangan panggil aku Mamamu! Aku ini bukan ibu kandungmu, tahu?! Kamu itu anak .... “ ucapan Nyonya Amanda keburu terpotong seiring dengan kemunculan Tuan Karyadi di antara mereka.
“Ma, hentikan semua omong kosongmu itu! Mengapa Mama bersikap seperti itu pada anakmu sendiri?” tanya Tuan Karyadi dengan nada suara keras.
Nyonya Amanda berpaling memandangi suaminya.
“Anak sendiri? Aku tak pernah melahirkan dia, Pa! Dia itu anak .... “ lagi-lagi ucapan Nyonya Amanda tidak berlanjut karena sebuah tamparan keras yang mengenai pipi, menghentikan lengking emosi suaranya.
PLAK!
“Pa .... !!! “ seru Ardy kaget.
Nyonya Amanda meraung kesakitan dan kembali menatap suaminya dengan sorot mata marah, “Kamu sudah berani menyakiti aku!?”
Tuan Karyadi memandangi telapak tangannya yang baru saja dia gunakan untuk menampar sang istri. Ada rasa sesal yang tiba-tiba menggayuti dada.
“Maafkan Papa, Ma! Papa tak sengaja!” lirih suara laki-laki itu sambil mendekati sosok istrinya.
Nyonya Amanda menepis uluran tangan Tuan Karyadi yang hendak memeluknya.
“Jangan sentuh aku!” teriak Nyonya Amanda sambil beringsut menjauh.
“Papa khilaf, Ma!”
Nyonya Amanda meraba kulit pipinya yang berangsur memerah disertai rasa perih luar biasa.
“Selama kita menikah dan menjalani hidup berumah tangga, ini kali pertama kamu mulai berani menyakitiku,” Nyonya Amanda masih enggan melihat wajah suaminya.
“Bukankah kamu juga sudah berkali-kali menyakiti dan mengkhianati Papa, Ma?” suara Tuan Karyadi mulai naik kembali.
“Maksud kamu apa?” kali ini Nyonya Amanda berbalik menatap mata Tuan Karyadi dengan penuh kemarahan.
Tuan Karyadi mengangkat tangannya sambil tersenyum kecut, “Kamu pikir selama ini aku tidak tahu kehidupan kamu di luaran sana, Ma? Kamu, kan, sering ..... “
“Itu karena kamu yang terlebih dahulu mengkhianati aku! Jangan pikir aku juga tidak tahu kelakuan kamu bersama dengan perempuan-perempuan murahan itu selama tak ada di rumah. Lalu kamu beralasan ... sibuk ngurusi pekerjaan, rapat, dan segala macam alasan klasik yang sudah basi!”
“Aku memang sibuk dengan bisnisku! Itu aku lakukan semuanya demi kamu dan anak-anak!” Tuan Karyadi beralasan.
“Bohong!”
“Aku mengatakan yang sebenarnya, Ma!”
Tiba-tiba Nyonya Amanda tertawa keras, “Jangan coba-coba kamu menyangkal juga dengan kelakuanmu bersama si Sri, pembantu kita itu!”
“Kelakuan apa?” Tuan Karyadi masih mencoba mempertahankan diri.
Ardy terkejut seraya memandangi keduanya.
“Masih mencoba menyangkal, ya, Tuan Karyadi? Hahaha! Kamu pikir aku tidak tahu, berapa kali kamu meniduri janda gatal yang haus akan belaian laki-laki itu?”
“Ma .... !!!”
Ardy semakin terkejut mendengar penuturan mamanya tersebut.
“Aku sudah tahu semuanya, Tuan Karyadi yang terhormat!” Nyonya Amanda tertawa lepas.
“Fitnah! Kamu telah memfitnahku, Ma!”
Sekali lagi, Nyonya Amanda tertawa.
“Fitnah? Hahaha! Mana mungkin itu sebuah fitnah, jika aku mendengarnya langsung dari sumber yang terpercaya!”
“Sumber apa maksudmu, Ma? Siapa?” jantung Tuan Karyadi berdetak semakin kencang.
__ADS_1
“Kamu kira aku diam selama ini karena tak tahu, Tuan Karyadi? Kamu salah besar!”
“Aku tanya siapa orang yang telah memfitnahku itu, Ma?” laki-laki paruh baya itu merasa semakin tersudut karena kelakuannya selama ini dengan Sri sudah tercium oleh sang istri.
“Dia sudah mati dengan kondisi yang mengerikan!”
“Kurdi maksud kamu?”
Nyonya Amanda tertawa, “Siapa lagi? Atau jangan-jangan ... dia mati dibunuh karena telah banyak mengetahui kelakuan bejadmu itu, Tuan Karyadi?”
PLAK!
Tuan Karyadi sudah tak bisa menahan lagi emosi yang bergemuruh di dalam dada. Tamparan kedua dia layangkan kembali ke wajah Nyonya Amanda. Lebih keras dari sebelumnya.
“Pa! Tahan!” seru Ardy sambil menghambur peluk ke arah papanya.
“Berani sekali kamu menyakiti aku lagi, Karyadi!” sorot mata Nyonya Amanda semakin memarah, bahkan mungkin benci seketika hadir memenuhi ruang hatinya yang sudah lama tergores.
“Itu karena sikap kamu sendiri yang tidak mau berhenti bicara yang tidak-tidak!” bentak Tuan Karyadi sambil menudingkan telunjuknya ke arah Nyonya Amanda, “ingat! Itu hanya sebagai peringatan pertama saja dariku! Jangan salahkan jika aku memperlakukanmu lebih menyakitkan, Amanda!”
“Pa, sudahlah! Hentikan dan bersabar!” Ardy mendekap Tuan Karyadi agar tak mendekati Nyonya Amanda.
Dengus nafas laki-laki itu semakin memburu sambil kepalkan tangannya.
“Ma, pergilah ke kamar. Biar Ardy yang menenangkan Papa di sini,” Ardy berusaha melerai kedua orangtua itu agar tak berlanjut saling menyakiti.
“Kamu pikir siapa kamu berani-beraninya menyuruh aku?” Nyonya Amanda balik membentak Ardy, “dasar anak ... “
“Ma, Ardy mohon sekali ini saja. Menjauhlah dulu dari sini sampai Papa bisa tenang kembali!” seru Ardy dengan keras.
“Biarkan saja perempuan ini Papa hajar sampai ******, Dy!” geram Tuan Karyadi.
“Pa ... ! Tenanglah!”
“Ayo, hajar dan bunuhlah aku seperti yang kamu lakukan pada si Kurdi itu, Karyadi!” tantang Nyonya Amanda.
“Ma ... !” seru Ardy kembali.
“Pergilah dulu ke kamar dan kunci! Kita selesaikan masalah ini lain waktu! Ini bukan saat yang tepat untuk saling berbicara!” Ardy menuntun papanya agar duduk dan menjauh dari tempat Nyonya Amanda berdiri.
Wanita paruh baya itu sedikit melunak. Dia bergegas meninggalkan suaminya dan Ardy di ruang tengah dengan isak tangis yang pecah setelah sekian lama ditahan.
“Awas kamu!” ancam Tuan Karyadi tak henti-hentinya menatap murka sosok Nyonya Amanda sampai hilang di balik daun pintu kamar yang tertutup dengan keras.
“Sudahlah, Pa! Tenangkan dulu diri Papa!” Ardy masih memegangi bahu Tuan Karyadi agar tak bangkit dan berlari mengejar Nyonya Amanda.
Laki-laki setengah tua itu menurut sambil pejamkan mata.
“Papa mau minum?” tanya Ardy beberapa saat setelah tarikan nafas papanya mulai teratur.
Tuan Karyadi mengangguk pelan.
Ardy menyapu pandangannya ke arah dapur dan ruang belakang, tempat tidur Mbok Inah dan Mbak Sri berada.
“Mbok ... ! Mbok Inah ... !” panggil Ardy tanpa mau beranjak meninggalkan sosok Tuan Karyadi. Khawatir dia akan kembali menghampiri Nyonya Amanda di kamar.
Tak berapa lama muncul sosok Sri berjalan tergopoh-gopoh dengan wajah menunduk.
“Ada yang bisa saya bantu, Den?” tanya Sri tak berani menatap Ardy dan Tuan Karyadi.
“Aku memanggil Mbok Inah, bukan kamu, Mbak,” ujar Ardy heran.
Sri mengangkat wajahnya sesaat, “Ibu sudah tidur di kamar. Kalau ada yang bisa dilakukan, biar saya saja yang kerjakan, Den!”
Tuan Karyadi menatap pembantu mudanya itu dengan seksama.
“Ya, sudah. Tolong ambilkan air putih untuk Papa, ya, Mbak,” Ardy merasa ada gelagat yang tak wajar melihat tatapan mata Tuan Karyadi terhadap Sri, “cepetan, Mbak!”
“Baik, Den!” jawab Sri bergegas pergi ke dapur dan tak lama kembali lagi dengan segelas air putih di dalam gelas.
Ardy segera mengambil gelas yang disodorkan Sri lalu memberikannya pada Tuan Karyadi, “Minumlah, Pa! Biar lebih tenang.”
__ADS_1
“Terima kasih, Nak,” balas Tuan Karyadi seraya mereguk habis isi gelas dengan cepat.
“Mau tambah lagi, Pa?”
“Sudah cukup!”
Mata laki-laki itu terus menatap sosok Sri yang masih berada dekat mereka.
“Kamu pergilah tidur, Mbak. Sekalian, tolong panggilkan Mang Sapri ke sini, segera, ya!” Ardy tak menginginkan lebih lama keberadaan Sri di ruangan itu, melihat arah tatapan mata Tuan Karyadi tak bergeming padanya.
“Baik, Den!” jawab Sri singkat dan langsung berlalu dari sana tanpa berani berucap apapun.
“Untuk apa kamu panggil si Sapri, Dy?” tanya Tuan Karyadi setelah Sri pergi.
“Lebih baik kita keluar mencari sedikit udara segar, Pa,” jawab Ardy sambil berpikir bahwa antara papanya dengan Sri memang sudah lama terjalin sebuah hubungan khusus, begitu menurut mamanya tadi.
Entah sudah sampai sejauh mana dan berapa lama. Untuk sementara, dia hanya fokus ingin membawa Tuan Karyadi keluar. Sangat riskan sekali membiarkan papanya tinggal sendiri di rumah dalam kondisi yang sedang panas seperti itu. Bisa saja pertengkaran papa dengan mamanya berlanjut atau bahkan ... sesuatu akan terjadi kembali dengan Sri, pembantu muda yang masih sintal itu.
Terus terang saja, Ardy merasa perih sekali mendengar kata-kata mamanya tadi. Bukan yang pertama kali, mama berbicara seperti itu. Menyebutnya sebagai seorang anak haram. Ditambah pula dengan sikap papa yang seakan-akan tengah menyembunyikan sesuatu di balik ucapannya tadi.
Entahlah ....
“Maafkan Mamamu, Dy. Papa pikir, dia tak bermaksud berkata seperti itu,” Tuan Karyadi memulai pembicaraan saat sudah berada di sebuah cafe, “mungkin karena terlalu banyak memikirkan Rezky dan Nola.”
Ardy mereguk minumannya sebelum merespon, “Benarkah apa yang dikatakan Mama itu, Pa? Ardy ini bukan anak kandung Papa dan Mana?”
Tuan Karyadi menelan ludah yang terasa pahit di tenggorokan.
“Tidak benar, Dy! Kamu ini anak kandung Papa dan Mama. Jangan pedulikan ucapan dia tadi, ya?”
Padahal dalam hati orang tua itu tersimpan akal bulus, agar jangan Ardy meninggalkan rumah, sampai iblis berkepala anjing itu datang untuk mengambilnya sebagai tumbal.
“Tapi ... kata-kata Mama itu keingetan terus, Pa,” gumam Ardy, “Ardy yakin, Mama berkata seperti itu pasti tidak tanpa alasan, kan? Apalagi itu terjadi bukan pertama kali.”
“Sudahlah! Abaikan saja dia, Dy! Sekarang fokus saja sama kehidupan dan kuliahmu. Sebentar lagi kamu wisuda, kan?” Tuan Karyadi mencoba mengalihkan pembicaraan.
Tiba-tiba Ardy menatap wajah papanya, “Kehidupan?”
“Ya, kehidupan kamu kelak. Masa depanmu!”
“Bukan itu maksudnya, Pa.”
“Lalu?”
Semakin tajam tatapan Ardy menelusuri setiap kedip mata papanya.
“Kehidupan Papa ... “
“Yang mana maksudnya? Bisnis, keluarga, atau ... “
“Hubungan Papa dengan Mbak Sri!”
Tuan Karyadi tertegun. Laki-laki setengah tua pura-pura mengambil gelas minum dan memainkannya beberapa saat.
“Kenapa Papa diam? Benarkah apa yang diucapkan Mama tadi bahwa Papa punya hubungan khusus dengan Mbak Sri?” tanya Ardy kembali.
Tuan Karyadi menggigiti bibir, “Tidak! Itu sama sekali tidak benar, Dy! Mamamu bohong! Mungkin dia ... “
“Semakin banyak Papa berbohong, semakin kelihatan keanehan sikap yang Papa perlihatkan.”
“Ummhh ... beneran! Papa tidak bohong. Coba saja kamu tanya sama si Sri atau yang lainnya, mungkin?” Tuan Karyadi masih mempermainkan gelas di tangannya.
Ardy menggelengkan kepala.
“Terserah ... kalau Papa tidak mau berterus terang sama Ardy, mungkin suatu saat nanti akan tahu dengan cara lain.“
“Sudahlah, Dy! Kita datang ke sini untuk mencari ketenangan, kan? Ngapain disibukan dengan hal-hal semacam itu? Ayolah, Nak!”
Kembali Ardy menggelengkan kepala.
“Selama Papa tak mau berkata jujur, Ardy tak akan bisa tenang, Pa. Itu artinya, janji Papa untuk memperbaiki keluarga masih belum bisa dipenuhi ... “ Ardy bermaksud beranjak dari tempat duduknya, tapi keburu ditahan Tuan Karyadi.
__ADS_1
BERSAMBUNG