
“Duduklah dulu. Jangan pergi ke mana-mana. Papa masih belum selesai bicara.”
Ardy menurut.
“Baiklah, Papa akan berkata jujur,” lanjut Tuan Karyadi kemudian, “Papa dan si Sri ... memang pernah melakukan hal terlarang.“
Ardy mengernyitkan keningnya.
“Berapa lama?”
“Ya, lumayan cukup lama. Walaupun sudah agak tua, Papa, kan, masih perkasa, Dy. Apalagi Papa selalu minum obat.“
“Bukan itu maksudnya, Pa. Berapa kali Papa melakukannya?”
Tuan Karyadi mengekeh, “Oh, salah, ya?”
“Seriuslah, Pa!”
“Ya, Papa serius. Sangat serius.”
“Lalu?”
Tuan Karyadi menarik nafas panjang, “Hanya sekali dan itu pun karena Papa kesepian.“
“Kesepian? Mama bilang Papa juga sering main-main dengan perempuan lain di tengah kesibukan Papa di luaran sana, betulkah itu, Pa? Itu yang dinamakan kesepian?” suara Ardy sedikit keras.
Tuan Karyadi menatap mata Ardy dalam-dalam, “Kamu masih muda, Dy. Belum paham tentang kehidupan rumah tangga. Apa yang Papa rasakan selama ini, belum bisa kamu mengerti.“
“Ardy sudah dewasa, Pa. Sedikit banyaknya Ardy paham hakikat hubungan sebuah keluarga.”
Sekali lagi Tuan Karyadi menarik nafas panjang, “Papa akui, memang terlalu banyak waktu yang dihabiskan untuk mengurusi bisnis Papa, sampai melupakan keluarga. Terutama Mama kamu, Dy. Hal ini sudah pernah Papa bicarakan, kan?”
“Ya. Terus?”
“Mungkin karena sering mengabaikan Mamamu, dia mencari hiburan dan kesenangan dengan caranya sendiri. Akhirnya, lama-lama Mamamu pun terbuai dan terjerumus ke dalam kehidupan yang tak semestinya dia tempati. Terus terang, Papa merasa kecewa dan sakit hati. Makanya Papa pun melakukan hal yang sama untuk membalas apa yang Mamamu lakukan.”
“Bukannya Papa terlebih dahulu yang melakukan perselingkuhan?” selidik Ardy agak tidak percaya dengan ucapan Papanya itu.
“Tidak. Sampai saat ini, Papa masih mencintai Mamamu, Dy. Makanya, Papa tetap bertahan walaupun harus merasakan kepedihan di sini ... “ tunjuk Tuan Karyadi pada dadanya, “Papa masih ingat, dulu begitu sulit mendapatkan perhatian dari Mamamu. Dia cantik dan pintar. Semua laki-laki yang mengenalnya pasti berharap bisa memiliki dia seutuhnya. Termasuk Papa. Segala macam cara pernah Papa lakukan, sampai akhirnya dia luluh dan bersedia menikah dengan Papa. Tak lama setelah kami menikah, lahirlah kamu, Dy. Seorang anak laki-laki yang Papa banggakan dan kelak bisa meneruskan kerajaan perusahaan yang Papa miliki. Sebentar lagi, itu akan terwujud. Apalagi kamu sudah dewasa begini, Dy!”
Ardy semakin bingung. Nyonya Amanda sering mengatakan bahwa dia anak haram, namun Tuan Karyadi berucap lain. Ardy terlahir dari hasil pernikahan mereka. Mana yang benar?
“Tadinya berharap, perusahaan-perusahaan yang Papa miliki itu akan dikelola oleh kamu, Nola dan Rezky. Tapi ... takdir berkata lain. Nola dan Rezky terlalu cepat dipanggil Tuhan, hanya menyisakan kamu seorang, Dy. Tak ada siapa-siapa lagi selain kamu.“ lanjut Tuan Karyadi sambil menyeka air matanya.
Ardy merasa terenyuh dan segera memeluk erat tubuh Tuan Karyadi.
“Maafkan kata-kata Ardy tadi, Pa,” ujar Ardy lirih.
“Tak apa-apa, Dy. Papa sangat sayang sama kamu ... “ timpal Tuan Karyadi dengan seringainya di antara peluk erat mereka berdua.
“Bagaimana dengan Mbak Sri? Apakah perlu kita suruh pulang ke kampungnya agar hubungan Papa dan Mama kembali baik?” tanya Ardy setelah melepaskan pelukannya.
Tuan Karyadi menggelengkan kepala, “Tak perlu, Dy. Biarkan saja dia bekerja seperti biasa di rumah. Karena Papa sangat berhutang budi pada ibunya, Mbok Inah, yang telah bertahun-tahun mengabdi pada keluarga Papa.”
“Karena aku membutuhkan kehadiran anak si Sri yang akan melanggengkan kehidupan dan kekayaanku, Dy. Dia akan tetap berada di rumah sampai anak itu lahir, Hahaha!”ujar Tuan Karyadi dalam hati.
“Kalau sampai Papa mengusir si Sri, khawatir akan mengecewakan Mbok Inah. Kasihan, dia sudah tak mempunyai suami dan keluarga lain. Hanya kita yang bisa membantu meringankan beban kehidupan mereka berdua,” sambung Tuan Karyadi kemudian.
“Lalu bagaimana dengan Mama?”
“Maksudmu?”
“Kehadiran Mbak Sri di rumah tentunya akan membuat Mama semakin tak nyaman, Pa. Masa Papa tak paham, sih?”
“Oh, tentang itu, ya? Nanti akan Papa bicarakan baik-baik dengan Mama kamu, Dy. Semoga Mama mau memaafkan kekhilafan Papa dan Sri.“
Ardy mengangguk pelan, “Aamiin.“
__ADS_1
Setelah suasana dirasa sudah tenang, Ardy dan Tuan Karyadi memutuskan untuk kembali ke rumah sebelum tengah malam.
“Papa tidur di kamar Ardy saja, ya? Biarkan Mama beristirahat sendiri dulu,” ujar Ardy begitu mereka sudah berada di rumah.
“Kamu tidur di mana, Dy?” tanya Tuan Karyadi heran.
Ardy tersenyum, “Di mana saja bisa, Pa. Ardy, kan, laki-laki. Lagipula bekas kamar Nola dan Rezky juga kosong. Ardy bisa tidur di salah satu kamar mereka, kok.”
“Ya, sudah!”
Sepeninggal Tuan Karyadi, Ardy duduk merenung di sofa ruang tengah. Pikirannya melayang entah kemana. Teringat pada sosok almarhum Rezky dan juga almarhumah Nola, kematian tragis Mang Kurdi dan pertengkaran kedua orangtuanya.
“Ada apa sebenarnya di rumah ini? Kejadian demi kejadian yang tidak wajar datang silih berganti. Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres dalam keluargaku ini,”gumam Ardy.
“Den Ardy ... “ satu suara mengejutkan anak muda itu dari arah belakangnya.
Ardy segera bangkit dan menoleh, “Mbak Sri ... “
“Maaf, saya mengejutkan Den Ardy,” Sri tersenyum-senyum sendiri.
“Ada apa? Kamu belum tidur, Mbak?” Ardy merasa agak jengah melihat baju yang dikenakan Sri di bagian dadanya agak terbuka lebar.
“Tadi habis dari dapur, lalu tak sengaja lihat ada Den Ardy di sini. Makanya saya sengaja ke mari. Mungkin ada yang bisa saya bantu lakukan untuk Den Ardy ... “ kembali senyum simpul Sri menghiasi bibir di setiap ucapannya.
Ardy membuang pandangannya pada arah dada Sri. Belahan dua gundukan dadanya sesaat membuat jantung anak muda itu berdetak kencang.
“Tidak ada, Mbak. Saya lagi ingin sendiri saja. Kalau Mbak mau tidur, silakan,” ucap Ardy tanpa mau berbalik pandang kembali pada pembantu muda itu.
“Mungkin Den Ardy lelah dan mau saya pijitin.“
“Tidak, Mbak! Terima kasih!”
Ardy segera bangkit menjauhi Sri yang hendak menggapai pundaknya. Dia bergegas keluar rumah. Sri terdiam dengan rasa kecewa.
“Sarah ... “ gumam Ardy begitu ada di luar rumah.
Entah mengapa, tiba-tiba anak muda itu teringat pada sosok Sarah, sahabatnya.
Waktu belum begitu malam, Sarah pasti belum tidur, pikir Ardy.
“Bagus! Kamu datang tepat pada waktunya, Dy,” kata Sarah setelah mereka berdua bertemu.
“Ada apa, Sar?” tanya Ardy heran.
“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan kamu, mengenai kakekku,“ sambung Sarah sambil menarik lengan Ardy masuk ke dalam rumah.
“Bicara apa, Sar? Aku datang justru ingin curhat sama kamu,” balas Ardy di antara langkahnya mengikuti Sarah, “eh, kamu bilang tadi ... kakekmu? Ada apa pula ini?”
“Sudahlah, aku baru saja bermaksud untuk datang ke rumahmu, Dy. Tapi karena kamu yang datang ke mari, itu lebih baik,” Sarah menarik kembali lengan Ardy, “Kakek sudah menunggumu!”
“Menungguku?” Ardy menahan laju langkahnya.
“Ya, menunggu kamu, Dy!” ujar Sarah turut berhenti dan berdiri berhadapan dengan Ardy.
Gadis itu memandangi wajah Ardy dengan seksama. Sebentar kemudian, dia memeluk erat tubuh Ardy.
“Sarah ... ? Ada apa ini?” Ardy semakin bingung dibuatnya dengan sikap sahabatnya itu.
Sarah semakin mempererat pelukannya.
“Ya, Tuhan! Mengapa aku dan dia harus ditakdirkan terlahir sebagai saudara? Padahal aku sangat mencintai laki-laki ini ... “gumam Sarah lirih.
“Aku sangat mengkhawatirkanmu, Dy!” ujar Sarah setelah melepaskan pelukannya dan lekat memandangi kedua mata Ardy.
Perlahan tangan gadis itu terangkat menuju wajah Ardy dan membelai lembut pipi anak muda itu perlahan. Lalu, segera mendekatkan wajahnya untuk mengecup bibir Ardy.
“Sarah ... “ Ardy bingung namun membiarkan gadis itu menarik turun pelan kepalanya agar bisa sejajar.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara mendehem dari dalam rumah.
“Ehemmm ... “
Ardy segera menarik lepas tarikan jemari tangan Sarah dan sedikit menjauhkan jaraknya dengan jantung masih berdetak kencang.
Sarah terdiam. Mungkin kecewa atau entahlah.
“Sarah, bawa masuk Nak Ardy ke dalam rumah,” seru Mbah Suko dari arah dalam.
Sarah menurut. Kembali gadis itu menggandeng dan menarik lengan Ardy untuk segera masuk.
“Mbah ... “ sapa Ardy begitu melihat sosok tua itu tengah duduk di atas kursi ruang tamu.
“Duduklah, Nak! Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu,” Mbah Suko menatap lekat wajah Ardy.
“Kamu benar-benar mirip ibumu, Nak!”
Ingin rasanya orang tua itu memeluk sosok Ardy. Namun masih terhalang oleh keraguan yang timbul dalam hatinya. Apakah Ardy akan menerima kenyataan bahwa Mbah Suko adalah ayah kandung sebenarnya? Tidak. Belum saatnya.
Hanya bisa memendam rasa rindu yang sekian lama tersimpan, untuk bisa selalu bertemu dengan anak kandungnya. Kini kesempatan itu ada dan tinggal membulatkan tekad untuk berkata jujur, seperti yang sering dia pikirkan.
“Mbah ingin berbicara apa? Sepertinya ada sesuatu hal yang sangat penting?” tanya Ardy setelah mereka saling terdiam beberapa saat.
Mbah Suko melirik ke arah cucunya, Sarah.
“Benar, Anak Muda!” jawab Mbah Suko pendek.
“Apa itu, Mbah?” Ardy bersiap untuk mendengarkannya dengan seksama.
“Begini ... “ Mbah Suko mulai mengatur suaranya, “namaku ... Matsuko Hardjo. Panggil saja aku dengan sebutan ... Ayah! Eh, maksudku ... Mbah!”
Ardy mengerutkan keningnya, “Ayah ... ?”
“Mbah ... “ Mbah Suko cepat-cepat meralatnya.
“Bukankah memang selama ini aku memanggilmu dengan sebutan Mbah?”
Mbah Suko menganggukan kepala, “Ya, kamu benar, Anak Muda. Anggap saja aku ini ... kakekmu!”
Ardy menatap Sarah, masih belum mengerti ke mana arah pembicaraan ini akan bermuara.
“Kamu dengarkan saja, Dy!” ujar Sarah begitu Ardy terus-terusan menatapnya dengan aneh.
“Ini ada apaan, sih, sebenarnya? Aku masih belum paham,” tanya Ardy bingung.
Sarah menatap kembali kakeknya, “Ayolah, Kek! Bicaralah terus terang. Jangan basa-basi begitu!”
“Terus terang? Seperti Mbah dan kamu, Sarah, sedang merahasiakan sesuatu dariku. Ini ada apa, sih?”
“Tenang, Anak Muda!” Mbah Suko menengahi, “aku akan berbicara perlahan mulai dari awal, agar kamu bisa memahaminya.”
“Iya ... tentang apa?” Ardy semakin penasaran.
Orang tua itu menoleh sebentar pada Sarah, lalu mulai angkat bicara ....
“Jangan potong ceritaku, sebelum aku selesai berbicara, ya, Nak? Dengarkanlah ... Nak Ardy,” Mbah Suko mulai mengawali cerita tentang semua yang pernah diceritakan pada Sarah beberapa waktu yang lalu. Perihal kehidupannya dulu hingga silsilah Ardy yang sebenarnya.
Mulanya anak muda itu tak begitu tertarik, namun setelah ada nama-nama tertentu yang disebutkan, dia mendengarkannya dengan seksama.
Selama bercerita, air mata Mbah Suko tak henti mengalir membasahi pipi tuanya.
“Begitulah ceritanya, Nak,” ujar Mbah Suko mengakhiri rangkaian kalimat-kalimat yang mampu membuat jantung Ardy semakin kencang berdetak.
Anak muda itu menatap tajam mata Mbah Suko, seakan ingin menyakinkan bahwa orang tua itu tidak sedang berdusta.
“Tidak mungkin! Semua itu bohong, kan, Mbah?” Ardy menggelengkan kepalanya berulang-ulang.
__ADS_1
Mbah Suko tak menjawab, namun dari isaknya yang sendu terdengar, seakan dia telah memberikan jawaban, bahwa semua yang telah diceritakannya adalah benar.
BERSAMBUNG