
Ardy langsung memburu keluar mencari Mang Kurdi. Kebetulan sosok yang dicari tersebut sedang membersihkan halaman rumah. “Mang, kata Papa siapkan mobil sekarang juga.”
“Mau kemana, Den?”
“Rezky harus segera di bawa ke rumah sakit!”
“Ya, Tuhan!” seru Mang Kurdi seraya melemparkan gagang sapu lalu berlari secepat kilat ke garasi belakang.
Sebentar kemudian, laki-laki tua itu sudah kembali dengan mobil jaguar model terbaru. Terparkir dengan gagah di halaman depan rumah.
Ardy keluar dari dalam rumah sambil menggendong sosok Rezky dipangkuannya. Nyonya Amanda mengikuti langkah kaki suaminya dengan susah payah.
“Mama mau ikut?” tanya Tuan Karyadi memperhatikan istrinya. “Maafkan aku, Pa. Rasanya aku tak bisa ikut mengantar Rezky ke rumah sakit. Aku merasa lemes dan tak kuat lagi berjalan,“ ujar Nyonya Amanda pelan.
“Lho, bukankah sebaiknya Mama diperiksa juga nanti di rumah sakit?” Tuan Karyadi membantu istrinya duduk di sofa ruang tengah.
“Tidak usah, Pa. Aku hanya ingin istirahat. Bawalah Rezky ke rumah sakit, segera, Pa. Jangan pedulikan aku,“ pinta Nyonya Amanda kembali. Tuan Karyadi tidak bisa mengelak. Setelah mengecup kening istrinya, lelaki perlente itu segera keluar dan langsung memasuki badan kendaraan mewahnya.
Nyonya Amanda hanya duduk termenung memandangi laju kendaraan yang membawa anak serta suaminya.
Jarum jam terus berputar mengitari angka. Malam pun berjalan tak terasa. Sementara keadaan di luar kian menggulita. Memaksa lampu-lampu bertahan dalam nyala.
Sejenak Nyonya Amanda melirik jam antik raksasa yang terpajang di ruang tengah, hampir menunjukan pukul setengah sepuluh malam. Namun suami dan anak-anaknya belum kunjung kembali dari rumah sakit.
“Mbok Inah,“ panggil Nyonya Amanda pada pembantu tuanya.
Sebentar kemudian Mbok Inah muncul. “Ada apa, Nya?” tanya Mbok Inah.
“Bantu aku ke kamar, ya?” kata Nyonya Amanda.
Pembantu tua itu segera membantu majikannya berdiri dan berjalan terseok menuju kamar tidurnya.
“Nyonya dari siang tadi belum makan. Saya antarkan makan malam ke kamar, ya, Nya?” ujar Mbok Inah sesampainya di kamar dan membantu Nyonya Amanda duduk di atas tempat tidur.
“Tidak usahlah, Mbok. Aku tak lapar,” jawab Nyonya Amanda seraya membaringkan tubuhnya.
Mbok Inah menghela nafas. Kemudian dia segera keluar dari kamar. Tak lupa menutup rapat pintunya.
Pukul sebelas malam, barulah Tuan Karyadi beserta Ardy dan Nola pulang dari rumah sakit.
Ardy langsung masuk ke dalam kamarnya, disusul Nola dan Tuan Karyadi sendiri. Agaknya mereka merasa sangat lelah sekali setelah seharian menunggui Rezky.
“Bagaimana Rezky, Pa?” tanya Nyonya Amanda begitu suaminya sudah berada di kamar.
“Rezky harus dirawat. Dokter masih menganalisa penyakitnya,” jawab Tuan Karyadi singkat.
“Kira-kira ... sakit apa, ya, Pa?” tanya Nyonya Amanda kembali. Hati wanita ini benar-benar cemas.
“Entahlah, besok Papa akan ke rumah sakit lagi. Mungkin dokter itu sudah dapat mengatasinya,” ujar Tuan Karyadi sambil mengganti pakaiannya dengan baju tidur. Lalu, lelaki setengah tua itu membaringkan tubuh di samping istrinya.
“Oh, iya. Tadi ... Mbok Inah bicara sama Mama, dia ingin anaknya kerja di sini. Menurut Papa, bagaimana?”
“Terserahlah. Kalau dia memang perlu, semua terserah Mama saja,” jawab Tuan Karyadi setengah malas untuk berbicara.
Lelaki itu pandangi raut wajah istrinya yang masih kelihatan cantik. Tidak dipungkiri, semasa mudanya, wanita itu menjadi incaran banyak laki-laki. Tuan Karyadi salah satu di antaranya.
Perlahan, Tuan Karyadi merapatkan diri ke tubuh istrinya. Lalu menyusul jemari tangannya bergerak menjalar ke dada sang istri yang masih tampak membusung indah. Meremas dengan lembut dengan ujung kelima jemari. Empuk terasa membangkitkan hasrat kelelakiannya.
Nyonya Amanda masih terdiam. Tidak memberikan reaksi apapun.
Dengan desis nafas yang mulai memanas, Tuan Karyadi bangkit mendaratkan cium di sekitar leher putih berjenjang istrinya. Kemudian beranjak menaiki bibir merah pucat dan ranum dengan lidah yang terjulur. Menari-nari sesaat sambil mempermainkan ujung lidah, membasahi permukaan bibir Nyonya Amanda yang kering.
Di saat yang sama, laki-laki itu bergerak lincah menarik lepas gaun istrinya di bagian dada.
“Maafkan Mama, Pa. Mama merasa sangat lemas hari ini,” ujar Nyonya Amanda seraya mendorong tubuh suaminya ke samping. Tuan Karyadi mendengkus kecewa. Hasrat yang semula menggebu, sirna seketika.
__ADS_1
“Maafkan Mama, ya, Pa?” Nyonya Amanda menyesali diri.
Tuan Karyadi tak menjawab. Lelaki itu membalikan badan, membelakangi istrinya.
Suasana pun hening ditelan malam. Kedua suami istri itu belum juga bisa memejamkan matanya. Masing-masing sibuk dengan isi kepalanya sendiri. Nyonya Amanda teringat Rezky yang kini terbaring di rumah sakit. Sementara dirinya pun kini didera penyakit yang belum diketahui penyebabnya.
Lain halnya dengan Tuan Karyadi, otak laki-laki itu malah teringat pada sosok gadis cantik yang tadi siang dia temui di depan rumah.
Sarah ....
Entahlah, dia merasa ada perasaan lain saat bertemu dengan teman anaknya tersebut. Atau mungkin saja pikiran itu timbul akibat rasa kecewa pada istrinya barusan?
Bukan itu ....
Seandainya saja di rumah itu ada wanita lain yang masih muda selain istrinya, mungkin Tuan Karyadi ....
“Persetan!” maki laki-laki itu dalam hati.
Menjelang dini hari, barulah keduanya dapat memejamkan mata dalam kelelapan.
Seminggu sudah Rezky dirawat di rumah sakit, selama itu pula dokter yang menanganinya belum bisa menyimpulkan sakit apa yang diderita anak itu. Hasil pemeriksaan menyatakan bahwa Rezky dalam keadaan sehat dan normal. Namun kenyataannya, dari hari ke hari, kondisinya semakin lemah tak berdaya. Wajahnya memucat seperti tak ada asupan darah yang mengalir dalam tubuh.
Di saat kesehatan Rezky semakin memburuk, keadaan Nyonya Amanda justru makin membaik. Tubuhnya berangsur-angsur pulih seperti sedia kala.
“Mungkin dokter salah mendiagnosa,” kata Tuan Karyadi pada dokter yang menangani anaknya.
“Maaf, Pak. Kami sudah berusaha seteliti mungkin memeriksa keadaan putra Bapak. Sejauh dari yang kami lakukan selama ini, hasilnya tetap sama,” jawab dokter menjelaskan.
Tuan Karyadi merasa tidak puas.
“Bisakah dokter lebih memperketat proses pemeriksaannya? Karena tidak mungkin anak saya jatuh sakit jika tidak ada faktor penyebabnya, kan?”
“Secara teori itu benar sekali, Pak. Tapi Bapak tidak usah khawatir, kami akan meningkatkan frekuensi emeriksaan. Lebih baik kita bantu dengan doa agar semuanya lekas diberi kelancaran dan kemudahan ... “ kata dokter iplomatis
mengakhiri perbincangan.
Siangnya, sebuah taksi berhenti di depan pintu gerbang kediaman keluarga Tuan Karyadi. Seorang wanita yang masih terlihat muda, turun dari dalam kendaraan. Sebelum masuk, wanita itu melihat-lihat sebentar ke dalam pekarangan rumah besar dan mewah itu.
Lalu dia pijit bel yang terdapat di sisi kanan pintu gerbang. Tidak berapa lama Mang Kurdi keluar.
“Cari siapa, Neng?” tanya Mang Kurdi.
“Saya dari desa, Pak. Mau ketemu ibu saya,” jawab wanita itu.
Mang Kurdi memperhatikan penampilan wanita yang sedang berdiri di balik pintu gerbang. Dari penampilannya, sepertinya benar wanita itu datang dari daerah perkampungan. Terlihat masih muda dan wajahnya pun lumayan menarik.
“Siapa nama ibu Neng itu?” tanya Mang Kurdi sambil leletkan lidah.
“Ibu Suhartinah.“
“Ooohh ... Mbok Inah? Mari masuk,” ujar Mang Kurdi seraya membukakan pintu gerbang.
Wanita itu segera masuk.
“Neng tunggu saja dulu di sini ya? Biar saya yang akan panggilkan Mbok Inah,” lanjut Mang Kurdi antusias.
“Matur nuwun, Pak.”
Mang Kurdi masuk ke dalam rumah.
Tidak berapa lama kemudian lelaki itu muncul kembali diikuti oleh Mbok Inah.
“Sri?“
Mbok Inah mengenali sosok wanita yang sedang duduk di teras rumah.
__ADS_1
“Emak!“seru wanita yang dipanggil Sri itu menghampiri Mbok Inah, ibunya. Mereka berpelukan erat dengan gembira.
“Bagaimana keadaanmu?”
“Baik, Mak.”
“Sudah lama tiba di Jakarta?”
“Baru saja datang, Mak. Bapak ini yang suruh Sri menunggu di sini,” ujar Sri sambil menunjuk sosok Mang Kurdi dengan menggunakan jari jempolnya.
Mbok Inah mendelik pada Mang Kurdi.
“Keterlaluan kamu, Kur! Masa anakku disuruh tunggu di sini? Dasar kamu ini.“
Mang Kurdi tertawa memperlihatkan barisan giginya yang kuning kehitaman, “Lho, aku, kan, gak tahu kalo itu anak kamu, Mbok! Maaf.“
Sri ikut tertawa renyah.
“Masuk, yuk! Nanti Emak kenalkan kamu sama Nyonya Amanda,” kata Mbok Inah sambil menarik lengan anaknya.
Sri berdecak kagum melihat keadaan rumah yang serba mewah. Semua perabotan yang ada di dalamnya pasti dibeli dengan harga yang tidak murah. Baginya, untuk bisa mendapatkan salah satu dari barang-barang yang ada tersebut, perlu belasan hingga puluhan tahun mengumpulkan rupiah.
Nyonya Amanda kebetulan sedang berada di belakang rumah. Merawat bunga-bunga kesayangannya.
“Nyonya ... “ panggil Mbok Inah pelan.
Nyonya Amanda menengok.
“Ini ... anak saya sudah datang,” lanjut Mbok Inah memperkenalkan Sri pada majikannya.
“Oh iya, siapa namamu?” tanya Nyonya Amanda memperhatikan Sri dengan seksama.
“Sri Kemuning, Nyonya.”
“Nama yang bagus, sesuai dengan orangnya,” kata Nyonya Amanda memuji.
Sri tertunduk malu, “Nyonya bisa saja.”
Mbok Inah tersenyum mendengar majikannya memuji Sri, anaknya.
“Kamu mau kerja di sini?” tanya Nyonya Amanda kemudian.
“Tentu saja mau, Nyonya.”
“Nanti Mbok Inah yang akan memberitahukan jenis pekerjaan yang harus kamu lakukan di sini ya?”
“Baik, Nya.”
Setelah dirasa tak ada lagi yang harus diperbincangkan, Mbok Inah meminta ijin untuk kembali ke tempat aktivitasnya, “Saya mau ke dapur dulu, Nyonya. Masih ada pekerjaan yang harus dibereskan.”
Nyonya Amanda mempersilakan.
Lalu Mbok Inah segera berlalu meninggalkan Nyonya Amanda yang meneruskan kembali merawat bunga-bunga, diikuti oleh Sri.
Sementara itu di sekolah pada jam istirahat, Ardy dan Sarah duduk berdua di dalam kantin.
Banyak murid-murid lain yang ikut berkumpul di sana sambil menikmati hidangan yang mereka pesan. Termasuk Trio Ngocol; David, Jocky dan Boma. Ditambah Imenk dan satu lagi murid berkacamata minus bintang kelas,
Aditya.
(Mengenai sosok-sosok itu, silakan baca serial David Cs yang tersedia dalam format tersendiri)
“Entar malam kemana lu, Dit?” tanya Boma pada Aditya.
Yang ditanya hanya mengangkat bahu.
__ADS_1
BERSAMBUNG 6