PETAKA HARTA TERLARANG

PETAKA HARTA TERLARANG
Episode 12


__ADS_3

Tanpa sengaja mata anak muda itu melihat sosok pasien yang terbujur di atas kereta dorong tersebut. Dia terkejut karena mengenali siapa yang terbaring di atas sana.


“Mama!” teriak Ardy sambil mendekat dan memeluk sosok tersebut.


Petugas rumah sakit itu melongo bingung.


Lalu Ardy melihat kereta dorong satunya lagi yang berada persis di belakang mereka.


“Papa! Ada apa ini?” tanya Ardy histeris.


Anak muda ini menangis di hadapan sosok Tuan Karyadi yang terbaring penuh dengan luka bekas cakaran.


“Maaf, Dik! Kedua pasien ini harus segera kami bawa ke ruang unit gawat darurat!” kata salah seorang petugas rumah sakit sambil mendorong kereta dorong tersebut.


Ardy berusaha mengejar namun ditahan seseorang dari arah belakang.


“Lepaskan aku! Aku mau melihat Mama dan Papaku!” teriak Ardy sambil meronta-ronta.


“Tenanglah, Dik!” sahut seseorang yang menahannya.


Ardy berbalik dan melayangkan tinjunya ke wajah orang yang sedang mencekalnya tersebut. Namun gerakannya terhenti begitu mengenali sosok ....


“Dokter Santoso?”


“Syukurlah kamu ada di sini, Dik! Tadi, saya baru mau menelepon ke rumahmu. Mungkin kamu sudah pulang. Tapi kebetulan kita bertemu di sini.”


“Tapi ... justru aku tadinya bermaksud nelpon Papa dan Mama. Untuk memberitahukan kalau ... “


“Kamu semalam tak pulang? Ke mana saja?”


Ardy menundukan kepala.


“Rezky meninggal, dok!” jawab Ardy perlahan.


Dokter Santoso tersentak kaget. Kacamatanya hampir terlepas jatuh.


“Apa?” tanya dokter Santoso tak percaya.


“Rezky telah meninggal dunia malam tadi ... “ sahut Ardy sedih.


Dokter Santoso terkejut luar biasa.


“Kalau begitu, beritahu orang-orang di rumah. Biar Rezky, saya yang urus di sini!”


“Baiklah, dok! Saya juga sedang ditunggu oleh suster perawat itu,” ujar Ardy sambil menunjuk ke arah suster yang berdiri tak jauh dari tempat mereka berada.


Ardy langsung berlari mengikuti langkah suster yang tadi.


Dokter Santoso bingung.


“Suster? Suster mana? Tak ada siapa-siapa di sana!” gumam dokter Santoso melihat-lihat arah tempat yang ditunjuk Ardy tadi, “kasihan sekali anak itu. Mungkin cobaan ini terlalu berat dia rasakan. Sampai berhalusinasi ... ”


Dokter Santoso menggelengkan kepala.


Lalu dokter muda itu segera mengintruksikan pada dokter-dokter lain untuk segera memeriksa keadaan Tuan Karyadi dan Nyonya Amanda.


Setelah itu dia bergegas ke ruangan tempat di mana Rezky masih terbujur kaku.


Ardy tiba di ruangan administrasi bersama suster perawat yang diikutinya.


“Silakan ... “ ujar suster itu sambil memberikan gagang telepon.


“Terima kasih!” jawab Ardy.


Saat hendak memijit tombol nomor, tiba-tiba datang seorang suster lain. Dia melotot memandangi sosok Ardy.


“Eh, kamu siapa? Mau telepon siapa?” tanya suster itu bertubi-tubi.


Ardy mengurungkan niatnya.


“Maaf, Suster! Saya mau telepon keluarga saya. Sebentar saja.”

__ADS_1


“Siapa yang mengijinkan kamu menggunakan telepon di sini?” tanya suster itu ketus.


“Suster yang itu ... “ jawab Ardy sambil menunjuk ke arah suster yang sedang berdiri dekat pintu.


“Suster mana?”


“Itu ... “


“Tak ada siapa pun di sana!”


Ardy merasa heran dan bingung.


“Lho, Suster tak melihatnya? Apa Suster ini buta?”


“Kamu jangan meledek, ya? Mata saya masih normal, tahu?” bentak suster tersinggung.


Ardy menggaruk kepalanya yang tak gatal. Benar-benar bingung.


Sesaat setelah anak muda itu mengalihkan pandangannya, sosok suster tadi sudah tidak ada di tempatnya semula. Lenyap begitu saja.


“Lho, ke mana suster tadi?”


“Sudah! Kamu jangan berpura-pura. Keluar dari ruangan ini!” bentak suster yang tadi memarahi Ardy.


“Maaf, Suster! Saya sedang butuh sekali. Sungguh! Tadi ada suster yang mengijinkan saya memakai telepon ini, kok!” Ardy mulai kesal.


“Sudah sana! Keluar!”


Di saat itulah, dokter Santoso datang.


“Ada apa ini?” tanya dokter muda itu heran.


“Ini, dok! Anak muda ini mau memakai telepon di sini tanpa ijin. Katanya, sih, sudah seijin suster lain!”


“Saya tak berbohong, dok! Tadi itu memang saya sudah diberi ijin oleh salah seorang suster. Malah dia sendiri yang nganterin saya ke sini. Tapi ... “


Dokter Santoso mengusap wajah.


Suster perawat itu mengalah.


“Silakan, pakai teleponnya, Dy!” ujar dokter Santoso akhirnya.


Ardy segera menghubungi keluarganya. Yang menerima Mbok Inah.


“Mbok, ini Ardy. Saya lagi ada di rumah sakit. Tolong jangan kasih tahu Nola dulu, ya? Kalau ... Rezky sudah ... meninggal dunia ... “ kata Ardy dengan mata berkaca-kaca.


“Ya Allah! Den Rezky meninggal dunia? Tapi ... Tuan dan Nyonya ... “ sahut Mbok Inah tak meneruskan ucapannya.


“Saya sudah tahu semuanya, Mbok! Kita doakan, semoga semuanya baik-baik saja,” Ardy menutup pembicaraannya.


Dokter Santoso memperhatikan anak muda itu, “Bersabarlah, Dy! Tenangkan dirimu. Kita ambil hikmahnya atas kejadian ini.”


“Terima kasih, dok!”


“Jenazah adikmu sedang diurus. Sekarang siapkan dirimu untuk segera pulang. Saya yang akan urus semuanya di sini.”


Ardy melangkah lemah dibimbing dokter Santoso.


Seisi rumah kediaman Tuan Karyadi sibuk mempersiapkan kedatangan jenazah Rezky dari rumah sakit. Nola yang kemudian mengetahui hal tersebut, langsung tak sadarkan diri.


Beberapa warga di sekitar tempat tinggal rumah kediaman keluarga Tuan Karyadi ikut membantu prosesi pemakaman. Sebagian di antara mereka ada yang merasa was-was dengan keadaan keluarga ini.


Ardy lebih memilih diam ketika ada beberapa sorot mata yang menatapnya aneh.


Sarah terpukul menerima kabar duka tentang keluarga Ardy. Terutama kematian Rezky. Gadis itu turut merasa sedih atas semua kejadian tersebut. Maka Sarah segera memutuskan untuk pulang dari sekolah lebih awal.


“Baiklah, Dy, aku pulang sekarang juga,” ujar Sarah melalui ponselnya.


Saat tiba di rumah, Sarah disambut oleh kakeknya, Mbah Suko, yang baru datang dari kampung.


“Kok, kamu pulang lebih awal, sih? Ada apa?” tanya Ibu Yolanda, ibunda Sarah.

__ADS_1


“Ardy ... teman dekat Sarah sedang berduka dengan kematian adiknya, Rezky,” jawab Sarah sedih.


“Ya, Tuhan! Kasihan sekali anak itu ... “ Ibu Yolanda bergumam.


“Sarah mau ke sana sekarang juga, Mah. Kasihan sekali Ardy. Mana papa dan mamanya sedang dirawat di rumah sakit, lagi?!”


“Masyaa Allah! Sakit apa?” tanya Mbah Suko ikut bicara.


“Entahlah, Sarah sendiri tak tahu, Kek,” jawab Sarah sambil beranjak ke kamarnya berganti pakaian.


Sebentar kemudian, Sarah keluar lagi dengan busana berwarna serba hitam.


“Kakek mau ikut, ya?” Mbah Suko mengikuti langkah cucunya.


Sarah tersenyum hambar.


“Boleh, Kek. Lagian Sarah juga bermaksud mengajak Kakek, kok,” kata Sarah manja, “Tapi ... Kakek, kan, baru datang, apa tidak capek?”


“Walaupun Kakek sudah tua begini, tapi Kakek masih kuat, kok, Cu,” canda Mbah Suko kemudian.


Sarah tertawa kecil.


Lalu gadis itu menggandeng tangan kakeknya. Mereka berdua berangkat menuju kediaman keluarga Tuan Karyadi.


Singkat cerita, mereka berdua kini sudah berada di tempat tujuan. Sudah banyak orang berkumpul di sana.


Saat turun dari kendaraan dan melewati sepanjang kerumunan warga sekitar, samar-samar terdengar suara-suara sumbang yang membicarakan perihal keluarga Tuan Karyadi.


“Anaknya mati, pasti sengaja dijadikan korban untuk kekayaan yang telah diperoleh. Amit-amit!” ujar salah seorang warga.


“Lihat saja nanti. Setelah kematian anak bungsunya, pasti akan disusul dengan kematian anak keduanya ... “ timpal warga lainnya.


“Dan yang pasti, harta kekayaannya akan semakin bertambah!” yang lain ikut berbicara.


Sarah hanya menggelengkan kepala saat mendengar pembicaraan tersebut. Sementara diam-diam Mbah Suko mendengarkannya sambil memperlambat jalannya.


“Ayolah, Kek, jangan dengarkan mereka!” seru Sarah sambil menarik lengan kakeknya.


Di dalam rumah, Sarah dan Mbah Suko disambut Ardy. Anak muda itu kelihatan pucat pasi. Seperti tiada gairah hidup. Sarah mencoba menenangkannya.


Mbah Suko dan Sarah melihat jenazah Rezky yang terbaring kaku. Jasadnya ditutupi dengan selembar kain berwarna putih. Sarah tak kuasa melihat wajah Rezky yang pucat seakan tak berdarah.


Ketika Mbah Suko membuka kain penutup wajah jenazah Rezky, Sarah menangis pilu sambil menutup muka. Namun lain halnya dengan ekspresi Mbah Suko, kakek Sarah ini justru terkejut.


Bagi orang yang memiliki ilmu kebathinan seperti Mbah Suko ini, dia mampu melihat hal-hal yang tidak dapat dilakukan dengan mata biasa.


Bagi orang awam, jenazah Rezky tak ubahnya seperti jasad manusia yang sudah tak bernyawa lainnya. Akan tetapi, di mata Mbah Suko, sosok yang ada di depan matanya adalah berupa batang pohon pisang yang panjangnya serupa dengan tinggi badan Rezky.


“Astaghfirullah!” gumam Mbah Suko.


Sambil berkomat-kamit, Mbah Suko membacakan ayat-ayat suci mendoakan Rezky. Setelah selesai, kain penutup wajah Rezky ditutup kembali.


Sebentar kemudian, Mbah Suko memandang ke segala penjuru rumah. Lalu matanya tertuju pada sebuah sudut ruangan. Di sana terlihat ada sesosok bayangan anak kecil menyerupai Rezky.


Anak itu sedang menangis dan menjerit-jerit memanggil Ardy meminta tolong.


Tentu saja Ardy tak bisa melihat ataupun mendengar.


Hal yang membuat amarah Mbah Suko bangkit adalah ada satu sosok lain yang menyeramkan di samping bayangan Rezky. Sosok makhluk menyeramkan dan sedang memegang Rezky sambil tertawa terbahak-bahak.


Mata makhluk itu tiba-tiba melotot ke arah Mbah Suko.


“Tua bangka, aku tahu kaubisa melihat wujudku! Jangan coba-coba berbuat macam-macam, kalau tak ingin orang-orang di rumah ini mati ketakutan melihat wujudku yang asli!” ujar makhluk itu mengancam.


Rezky menjerit memilukan.


Mbah Suko hanya bisa diam dengan dada bergemuruh menahan amarah.


“Iblis jahanam!” rutuk Mbah Suko tak sadar.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2