PETAKA HARTA TERLARANG

PETAKA HARTA TERLARANG
Episode 15


__ADS_3

BRET!


Busana Sarah direnggut dengan paksa. Dada gadis itu tampak membusung menampakan bentuk aslinya. Menggunung menantang.


Tuan Karyadi mulai menjamah dada Sarah dengan kasar.


“Diamlah!” bentak Tuan Karyadi, “kamu mungkin sudah merasakannya dengan anak keparat itu, kan?”


Sarah tak bisa mengeluarkan suaranya.


“Bukankah lebih enak kalau bermain dengan papanya sendiri? Hah?!”


Sarah berusaha melepaskan himpitan Tuan Karyadi. Tapi tenaga laki-laki itu jauh lebih besar.


Sambil tertawa menjijikan, dia berusaha merogoh bagian bawah tubuh Sarah.


Namun sebelum niatnya kesampaian, tiba-tiba dari arah belakang Tuan Karyadi ....


BUK!


Ada suara keras mengenai tengkuk laki-laki itu. Telak dan langsung membuatnya jatuh tersungkur, tak sadarkan diri.


Sarah memekik ketakutan. Dia beringsut mundur menjauhi sosok Tuan Karyadi yang tergeletak pingsan.


Perlahan pandangannya tertuju pada sosok yang sedang berdiri persis di depan Sarah. Seorang laki-laki berpakaian kumal seperti orang gila.


“Jangan takut, Anak Manis! Aku tidak akan menyakitimu!” ujar laki-laki kumal itu pelan.


Sarah kembali beringsut menjauh.


“Sssiiiiaaa ... paaa kkkkaau?” tanya Sarah semakin ketakutan.


“Tidak perlu tahu siapa aku. Kenakan kembali pakaianmu dan pulanglah segera! Rumah ini tidak baik untuk seorang gadis sebaikmu, Nak!” tatapan mata laki-laki itu sengaja dialihkan ke arah lain.


Setelah berkata demikian, sosok laki-laki kumal itu perlahan-lahan menghilang dari pandangan Sarah.


Gadis itu sempat terpaku beberapa saat.


Setelah meyadari keadaannya, dia segera membetulkan letak pakaiannya yang terbuka. Lalu bergegas keluar rumah dan pulang.


Setibanya di rumah, Sarah disambut oleh Mbah Suko.


“Kakek ... ?” seru Sarah terkejut melihat Mbah Suko berada di depan rumah Sarah.


“Bagaimana keadaanmu, Cu?” tanya Mbah Suko menyambut peluk Sarah.


“Kapan Kakek datang?” tanya balik Sarah tanpa menjawab sapa Mbah Suko tadi.


Orang tua itu tersenyum.

__ADS_1


“Baru saja, beberapa saat setelah kau keluar rumah tadi sore, Cu!” jawab Mbah Suko.


Sarah memeluk kakeknya sambil menangis.


“Ada apa, Cu? Sepertinya kau ... “


Setelah tangisnya mereda, Sarah segera menceritakan kejadian yang dialaminya di rumah Tuan Karyadi.


Mbah Suko manggut-manggut sambil menarik nafas lega.


“Hampir saja Tuan Karyadi merenggut kesucian Sarah, Kek. Kalau saja tidak ditolong oleh seorang kakek misterius itu ... “ kata Sarah mengakhiri ceritanya.


“Hhhmm ... “ gumam Mbah Suko, “untunglah dia datang tepat pada waktunya. Jikalau tidak, entahlah ... apa yang akan terjadi pada cucuku ini?”


Sarah menatap wajah kakeknya. Heran.


“Siapa yang Kakek maksud? Laki-laki misterius itukah?” tanya Sarah bingung.


Mbah Suko tidak segera menjawab pertanyaan cucunya itu.


“Katakan pada Sarah, Kek! Apa hubungan antara Kakek dengan sosok manusia itu?” Sarah semakin penasaran.


Mbah Suko terdiam untuk beberapa saat. Kemudian menatap mata Sarah dengan tatapan yang sulit untuk dipahami.


“Tidak ada salahnya jika Kakek bercerita sekarang padamu, Cu!” ucap Mbah Suko mengawali kisahnya, “setelah sholat maghrib tadi, Kakek berhasil menemui sosok lelaki yang sering dilihat oleh Ardy itu dulu. Dia adalah jelmaan seseorang yang telah lama meninggal dunia. Namun karena ada sesuatu hal, dia merasa tak tenang di alamnya. Maka dia datang kembali untuk melindungi seseorang yang sangat dicintai dan dikasihinya.“


* * * * * *


Beberapa puluh tahun yang lalu, di perkampungan terpencil, hiduplah sebuah keluarga yang hidup dalam keadaan miskin. Untuk bisa makan sehari saja, sungguh teramat sulit bagi mereka.


Walaupun kondisinya seperti itu, mereka selalu terlihat hidup damai dan rukun. Keluarga itu mempunyai dua orang anak. Laki-laki dan perempuan.


Setelah dewasa, anak sulung laki-laki yang bernama Karyadi Karta Sasmitha pun menikah. Namun dari sekian lama usia pernikahan itu, mereka belum juga dikaruniai keturunan. Sayangnya, kondisi itu dilengkapi dengan kehidupan mereka yang sama miskinnya dengan keluarga bapaknya Karyadi.


Pekerjaan mereka sehari-hari adalah menggarap lahan pesawahan. Itu pun milik orang lain. Karena mereka tidak mempunyai harta benda terkecuali sebuah gubuk reot yang telah lama mereka huni tersebut.


Hasil dari tanah yang mereka garap, dibagi dua dengan pemilik lahan. Itulah satu-satunya hasil yang mampu membuat mereka bertahan hidup.


Mungkin karena sudah merasa bosan hidup seperti itu, ditambah dengan tuntutan materi dari istrinya, Karyadi bertekad untuk mencari kekayaan dengan cara yang mudah dan cepat. Tidak peduli walau harus bertentangan dengan hukum agama yang dianut.


Berdalih hendak mencari penghidupan lain, suatu hari Karyadi pamit pada kedua orang tua serta istrinya untuk pergi ke kota. Padahal sebenarnya dia pergi ke sebuah tempat pemujaan yang jarang diketahui warga setempat. Tempat yang sarat dengan aroma pesugihan untuk mencari kekayaan dengan cata yang tidak halal.


Karyadi nekad mengadakan persekutuan dengan iblis. Makhluk terkutuk itu pun bersedia memberikan kekayaan yang melimpah ruah, dengan syarat; apabila Karyadi mempunyai keturunan, maka dalam jangka waktu tertentu, keturunannya itu harus rela menjadi tumbal atas kekayaan yang telah didapatkan.


Bodohnya seorang Karyadi, dia menyetujui syarat yang diajukan oleh iblis tersebut. Matanya benar-benar sudah gelap oleh kilauan duniawi.


Dalam jangka waktu yang singkat, kehidupan Karyadi pun berubah total. Hidup yang semula selalu dalam keadaan kekurangan, tiba-tiba berubah menjadi orang yang paling kaya di kampung itu. Melebihi kekayaan yang selama ini dimiliki oleh kepala kampung setempat.


Korban pertama yang jatuh atas kekayaan yang telah didapatkan Karyadi adalah istrinya sendiri. Karena setelah sekian lama menikah, anak yang mereka harapkan belum kunjung hadir juga. Disusul kemudian dengan ibu

__ADS_1


kandung Karyadi, turut pula menjadi tumbal atas kekayaan yang semakin melimpah ruah. Karyadi rela mengorbankan mereka demi kelangsungan hidup dan kekayaannya itu.


Semula bapaknya Karyadi tidak mengetahui bahwa anaknya telah melakukan pesugihan. Dia percaya begitu saja bahwa Karyadi telah menjadi orang kaya karena sukses bekerja di kota. Namun memperhatikan kejadian demi


kejadian yang menimpa menantu serta istrinya, bapak Karyadi akhirnya mengetahui bahwa anaknya telah memilih jalan sesat.


Ketika dinasehati, Karyadi malah marah. Perselisihan antara bapak dan anak itu pun tak dapat dihindari. Orang tua tersebut telah dibuat malu dan susah dengan ulah anaknya itu. Semua warga telah mengetahui perihal harta yang diperoleh Karyadi dengan cara yang tidak halal.


Penderitaan bapak Karyadi semakin bertambah berat, ketika mengetahui kalau anak perempuannya hamil oleh seorang laki-laki yang tak bertanggung jawab.


Laki-laki yang telah menghamili adik Karyadi itu kabur dan tak pernah kembali. Sementara bayi yang ada dalam kandungannya dirawat oleh bapak kandung Karyadi. Sayang sekali, setelah beberapa saat menjalani proses


persalinan, adik Karyadi meninggal dunia.


Melihat kondisi bayi tersebut, Karyadi meminta pada bapaknya untuk merawat dan membesar bayi itu. Akan tetapi sang bapak tidak mengijinkan. Khawatir kalau cucunya itu akan dijadikan tumbal atas harta yang diperoleh dari iblis sesat.


Karyadi nekad mengambil bayi yang merupakan keponakannya itu dari tangan sang bapak, tanpa sepengetahuan dan ijin, tentunya. Karyadi pergi membawa bayi tersebut menjauh dari tempat tinggal semula.


Tinggallah bapak Karyadi yang bersedih dan merana karena memikirkan nasib si cucu yang dibawa anaknya itu.


Segala cara telah ditempuh demi mendapatkan kembali sang cucu, namun hasilnya tetap nihil. Sampai suatu ketika, karena tak kuat dengan penderitaannya, bapak Karyadi meninggal dunia.


Karyadi menetap di sebuah kota besar serta menikahi seorang perempuan cantik jelita bernama Amanda Yuanita. Sementara bayi mungil yang diberi nama Ardy Wiranata itu, tumbuh besar dalam asuhan keluarga baru Karyadi.


Menginjak usia Ardy tiga tahun, lahirlah anak hasil pernikahan Karyadi dengan Amanda, yang diberi nama Nola Ananta. Disusul beberapa tahun berikutnya hadir adik mereka yang baru, Rezky Agustiawan.


Kehidupan Karyadi yang kaya raya dan mempunyai banyak perusahaan, membuat keluarga ini cukup disegani dan dihormati masyarakat luas.


Sementara bagi Ardy sendiri, anak itu tak pernah mengetahui kalau dirinya bukanlah anak kandung Karyadi. Namun kalau melihat dari silsilah keturunan, Karyadi adalah uwaknya Ardy. Mengenai hal tersebut, hanya Karyadi dan Amanda yang mengetahuinya.


Petaka pun datang. Iblis itu menagih janji Karyadi untuk memberikan salah satu keturunannya sebagai tumbal. Rezky-lah yang pertam kali menjadi korban. Karyadi tak kuasa menolak dan tentu saja tak peduli dengan semua itu. Yang ada dalam benak laki-laki itu hanya harta kekayaan. Masalah anak, dia bisa mendapatkannya lagi dari istrinya atau pun perempuan-perempuan yang bisa diajaknya tidur bersama.


Amanda tidak pernah mengetahui asal-muasal harta kekayaan yang diperoleh Karyadi. Setahunya, sang suami adalah seorang pengusaha terkenal yang paling kaya di kota itu.


* * * * * *


Mbah Suko berhenti sejenak, pandangannya menerawang jauh ke depan. Seperti ada hal yang sedang dipikirkan.


Sarah memperhatikan raut muka orang yang sangat dikasihinya itu.


“Ada apa, Kek?” tanya Sarah.


Mbah Suko tersenyum.


“Kakek ingin bertanya padamu, Cu. Sebagai seorang manusia, wajarkah kita pernah melakukan suatu kekhilafan?”


Sarah berpikir sejenak.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2