PETAKA HARTA TERLARANG

PETAKA HARTA TERLARANG
Episode 2


__ADS_3

“Bohong, Ma. Kak Ardy gak nyuruh si Mbok nyiapin air. Justru yang masak di dapur tadi pagi itu Kak Ardy, Ma. Terus si Mbok enak-enakan tidur di kamarnya,” ujar Nola mengejutkan Ardy dan si Mbok.


Mama terperanjat. “Bener begitu, Ardy?” tanya Mama semakin keras.


Ardy gelagapan. Tak tahu apa yang harus diucapkan. Sementara wajah si Mbok sudah pucat pasi. Ketakutan. Khawatir jikalau majikannya itu akan berbuat hal yang tak diinginkan. “Enggak, Ma. Sama sekali gak bener," kilah Anak muda tersebut. "Nola, kamu jangan suka bohong!"


Nola malah tertawa mengejek. “Yang berbohong itu siapa? Nola atau Kakak sendiri?”


“Benar-benar memalukan! Tak sepatutnya kamu berbuat seperti itu, Ardy!” sahut Mama galak. Kalau Mama sudah bersikap seperti itu, tak ada seorang pun yang berani angkat bicara.


Nola tersenyum puas melihat kakaknya dimarahi sedemikian rupa.


“Ada apa ini pagi-pagi, kok, sudah ribut?” tanya Papa yang baru datang di antara mereka. “Ini, lho, Pa. Si Ardy sudah berani berbuat hal yang memalukan,” adu Mama sambil menatp tajam Ardy dan si Mbok, “Mulai saat ini, kita harus mengawasi anak ini. Jangan sampe banyak bergaul dengan pembantu bodoh itu!”


Nafsu makan rasanya hilang karena kejadian pagi ini. Sementara si Mbok masih berdiri di tempat semula. Belum berani beranjak sebelum majikannya menyuruh pergi. “Sudahlah. Mbok kembali ke dapur lagi, ya,” titah Ardy pelan.


Si Mbok memandang sorot mata Mama yang masih diselimuti hawa amarah. “Ya, sudah sana! Saya sudah


muak dengan muka tua kamu itu!” sahut Mama ketus. Akhirnya si Mbok segera berlalu dari sana.


“Benar ... kamu berbuat itu, Dy? Jujur saja!” Papa mulai angkat bicara di antara sarapan paginya. Ardy menghela napas. Terasa sesak menggayut di dada. “Ya, Pa,” jawab Ardy perlahan.


“Kenapa kamu bohong tadi?” Mama bertanya dengan nada sinis. Ardy tak menjawab. Merasa tak enak dengan kondisi si Mbok.


“Ma, Pa, Ardy ke dapur dulu, ya?” pamit Ardy seraya beranjak tanpa menjawab pertanyaan Mama tadi.


“Jawab dulu pertanyaan Mama!”


Ardy tak mempedulikan.


“Lihat, Pa! Anak itu sudah berani bersikap seperti itu pada Mama! Dasar anak haram!” ujar Mama ketus.


“Ma, jangan bicara sembarangan. Ingat perjanjian kita dulu,” Papa mengingatkan Mama. “Masa bodoh dengan


perjanjian gila itu, Pa! Aku sudah muak dengan anak itu!” gumam Mama geram.


“Bersabarlah dulu. Nanti juga kalau sudah waktunya, kita bisa menikmati semuanya tanpa anak itu, kan?” suara Papa semakin perlahan. Seakan khawatir terdengar oleh Ardy atau Nola sendiri yang duduk tak seberapa jauh dari mereka berdua.


“Perjanjian apa, sih, Ma? Pa?” tanya Nola tiba-tiba. Mama dan Papa tersentak. Keduanya saling berpandangan.


“Jangan banyak bertanya. Habiskan saja sarapan kamu itu. Kita sudah terlambat, nih,” kata Papa seakan ingin menghindari pertanyaan Nola tadi.


“Terlalu banyak rahasia di rumah ini!” seloroh Nola ketus.

__ADS_1


Mama dan Papa buru-buru menyelesaikan sarapan. Sementara Ardy yang tadi beranjak ke dapur, menemui si Mbok yang sedang duduk termenung sendirian. Wanita tua itu tampak bersedih. Ardy menghampirinya. Dia ikut sedih melihat sosok tua itu. “Aku minta maaf atas kejadian ini, Mbok. Gara-garaku, Mama jadi marah dan Mbok terkena sasaran. Maafkan kedua orangtuaku itu ya, Mbok,“ ucap Ardy sambil mengusap bahu si Mbok. Wanita tua itu menoleh.


“Endak, Aden sama sekali ndak bersalah dan ndak perlu meminta maaf sama si Mbok. Ini semua salah si Mbok sampai Aden ikut dimarahi Nyonya,” jawab si Mbok mengusap air matanya. “Aku yang bersalah, Mbok. Aku harap, Mbok gak terlalu mempedulikan ucapan Mama tadi, ya? Bersabarlah,aku janji, selama masih ada aku di rumah ini, aku akan selalu berusaha melindungi si Mbok,” ujar Ardy kemudian.


“Jangan, Den. Jangan lakukan itu. Nanti Tuan dan Nyonya akan lebih marah lagi sama Aden. Biarlah penderitaan ini, si Mbok sendiri yang merasakan, Den.” Si Mbok tiba-tiba merasa khawatir. “Enggak, Mbok. Aku bersungguh-sungguh, kok, dengan ucapanku ini.”


“Jangan lakukan itu, Den.”


“Mbok jangan khawatir. Aku bisa jaga diri, kok,” ujar Ardy mantap. “Entahlah, aku merasa bahwa antara aku dan si Mbok, seperti terjalin satu ikatan yang erat sekali. Tapi, aku gak tahu rasa seperti apa yang kurasakan ini? Bukan hanya sekedar kasihan atau apalah gitu. Tapi--“


“Jangan, Den. Aden jangan punya rasa seperti itu. Aden dan Mbok ndak ada hubungan keluarga atau pertalian apa pun. Ndak sepantasnya Aden berlaku seperti itu pada si Mbok. Aden adalah keturunan keluarga terhormat dan sangat disegani. Sementara si Mbok, hanya seorang pembantu tua yang ndak punya apa-apa. Mbok berusaha untuk tetap bersabar dan bertahan dalam keluarga ini, karena si Mbok ndak punya tempat menitipkan badan ini. Keluarga Mbok semuanya sudah tiada,“ kata si Mbok lirih.


Ardy kembali memegang bahu wanita tua itu. Mengangkatnya agar bisa berdiri berhadapan. “Walaupun antara aku dan si Mbok enggak ada hubungan darah, tapi mulai hari ini, anggaplah aku sebagai anak atau cucu Mbok sendiri, ya? Begitupun sebaliknya, aku akan menganggap Mbok ini sebagai ibu atau nenekku sendiri. Bagaimana, Mbok?” tanya Ardy tulus dan bersungguh-sungguh.


Si Mbok menatap bola mata anak majikannya itu. Setetes air mata mengalir membasahi pipi. Merasa terharu dan bahagia sekali mendengar ucapan Ardy barusan.


“Ardy adalah pengganti keluarga si Mbok yang telah tiada itu,“ ujar Ardy menegaskan.


Tak kuasa menahan rasa haru, wanita tua itu segera memeluk Ardy dengan erat. Isak tangis yang parau terdengar di antara haru birunya suasana pagi itu. “Tuhan Mahabesar. Selalu saja ada jalan lain untuk menggapai kebahagiaan. Engkau telah mengirimkan sesosok malaikat penolong hari ini pada hamba, ya Tuhan,” gumam si Mbok.


“Marilah kita bersyukur atas karunia yang telah Dia berikan ini, Mbok.”


Si Mbok mengangguk perlahan. Di saat mereka berdua tengah berpelukan, Mama dan Nola muncul di pintu


dapur.


itu?”


Ardy dan si Mbok serentak melepaskan pelukannya.


“Maafkan saya, Nyonya. Saya .... “ si Mbok ketakutan.


“Kamu sudah gila, ya, Ardy? Pagi-pagi berpelukan dengan si Tua Bangka itu? Apa kamu sudah tak waras?” tanya Mama dengan nada sinis dan mengejek. “Jangan menghina si Mbok, Ma,” jawab Ardy pelan berusaha bersabar.


“Diam kamu! Heh, wanita busuk! Apa kamu juga sudah tidak waras lagi, hah? Sudah tua bangka tapi masih doyan daun muda!”


“Hentikan, Ma.”


“Mama bilang kamu diam, Ardy! Guna-guna apa, sih, yang sudah diberikan pembantu brengsek itu sama kamu?  Sampai kamu jatuh hati sama dia?” Mama menghampiri Ardy dan si Mbok.


“Jangan sakiti si Mbok, Ma. Kasihan.” Ardy berusaha menghalangi.


“Benar, ya, dugaanku. Ternyata kamu memang sudah terkena guna-guna wanita tua dukun cabul ini?”

__ADS_1


“Tidak, Ma. Si Mbok bukan orang seperti itu.“


“Minggir kamu, Ardy! Biar Mama hajar tua bangka ini!” Mama mendorong Ardy yang menghalangi si Mbok, tapi anak itu tetap berusaha melindunginya. “Jangan, Ma. Kalau ingin menyakiti si Mbok, lebih baik Mama pukul Ardy saja. Atau bila perlu bunuh saja Ardy, Ma!” teriak Ardy membuat Mama tercengang dengan ucapan anak itu.


“Sadar tidak kamu, hah? Apa yang membuat kamu berani membela dia dan menentang Mama?” tanya Mama geram seraya mencengkeram kerah baju Ardy.


Nola menghambur menarik baju Mama yang sudah mulai kalap. “Jangan sakiti Kak Ardy, Ma!”


Mama melepaskan cengkeramannya. “Bagus! Kalau kamu memang inginnya begitu. Sudah lama sekali aku ingin segera melenyapkan kamu dari rumah ini, Anak Haram!” bentak Mama di depan muka Ardy. Anak muda itu terperanjat mendengar ucapan mamanya barusan. Terlebih lagi si Mbok.


“Jangan, Nyonya. Jangan sakiti Den Ardy. Saya mohon, lakukan sama saya saja, Nyonya. Semua ini salah saya!” teriak si Mbok sambil bersimpuh menciumi kaki majikannya.


Sungguh biadab!


Dengan tak mengenal rasa belas kasihan, Mama menendang muka si Mbok hingga jatuh tersungkur ke belakang. Dari hidung wanita tua mengucur darah segar.


“Ya, Tuhan! Apa yang telah Mama lakukan?” Ardy memburu tubuh si Mbok.


“Mama!“ jerit Nola tak sadar, melihat kejadian itu sambil menutup mulutnya yang terbuka dengan telapak tangan.


Mama mencibirkan mulutnya. “Bagus! Guna-guna dukun cabul ini rupanya telah merasuki anak haram ini! Dengan


begitu, kini aku punya alasan kuat untuk menghabisi kalian berdua, Manusia Pendosa!” sahut Mama sambil tertawa aneh.


Nola menjerit ketakutan dan segera berlari memanggil Papa.


Mama mengambil sebilah pisau dapur. Lalu diacung-acungkan diiringi tawa keras menggidikan. Seperti sedang kerasukan syetan. Ardy dan si Mbok mundur ketakutan. “Jangan lakukan itu, Ma! Sadarlah!“ teriak Ardy mengingatkan.


Tawa Mama semakin keras.


Bersamaan dengan itu, Papa muncul bersama Nola. “Tahan, Ma! Hentikan perbuatan bodohmu itu!” seru Papa lantang. Nola berlindung di belakang tubuh Papa. ketakutan.


“Biarkan aku menghabisi manusia-manusia pendosa ini! Jangan biarkan mereka hidup di atas muka bumi ini! Ha ... ha ... ha .... “


“Hentikan!”


Mama berbalik ke arah Papa. Pisau dapur yang hendak digunakan untuk menghabisi Ardy dan si Mbok, kini beralih berayun dengan cepat menancap di perut Papa. Darah memuncrat keluar dengan hebat. “Mama! Jangan!” teriak Ardy memburu tubuh mamanya.


Di saat bersamaan, tangan Mama terlebih dahulu menghantam wajah Ardy dengan keras. Tubuh anak muda itu terhempas menghantam ujung dinding dapur. Darah pun membasahi sekujur tubuh dari luka menganga di batok kepala.


“Den Ardy!” teriak si Mbok parau.


“Tidak! Tidak!”

__ADS_1


Ardy berusaha menggapai tangan Mama, memohon untuk segera menghentikan perbuatannya.


BERSAMBUNG


__ADS_2