PETAKA HARTA TERLARANG

PETAKA HARTA TERLARANG
Episode 14


__ADS_3

Mbok Inah sudah tidak tahan lagi melihat itu semua.


“Sudah, Nyonya! Kasihan Den Ardy!” seru Mbok Inah menghambur memeluk dan menciumi kaki Nyonya Amanda.


“Kamu mau belain dia?!” Nyonya Amanda hentakan kakinya hingga tubuh Mbok Inah tersungkur ke belakang.


“Ma ... “ seru Ardy.


Beringsut, pembantu tua meringis menahan sakit di tubuh tuanya.


Setelah merasa puas, Nyonya Amanda tinggalkan ruang makan diikuti Nola seraya tersenyum mengejek.


“Rasain! Kasihan, deh, lu!” ucap Nola.


Ardy menatap mama dan adik perempuannya dengan perasaan marah luar biasa.


Sementara Mbok Inah masih tergeletak di lantai, meringis kesakitan akibat hentakan kaki Nyonya Amanda tadi.


Ardy menghampiri perempuan tua itu. Membantunya berdiri dengan susah payah, “Lain kali, Mbok jangan ikut campur. Biar saya sendiri yang menjadi sasaran kemarahan Mama.”


Mbok Inah menatap wajah tuan mudanya yang berlumuran darah.


“Lukanya biar Mbok yang obati, Den,” ucap Mbok Inah sedih.


“Tak usah. Mbok istirahat saja dulu di kamar, ya? Saya biasa urus sendiri,


kok.”


“Tapi lukanya, Den?”


“Tidak apa-apa. Nanti aku berobat ke dokter Santoso.”


Sri yang sedari tadi bersembunyi dan melihat semua kejadian tadi, datang membantu, “Biar saya yang rawat luka Den Ardy ini. Ibu, aku antar dulu ke kamar, ya?”


Sri memapah ibunya berjalan menuju kamar belakang. Setelah itu, dia kembali ke tempat di mana Ardy tadi berada.


“Kita ke kamar Mang Sapri saja, ya, Den?” ujar Sri membantu Ardy yang berjalan limbung.


Ardy menurut tanpa banyak bicara.


Lagipula, jika masuk ke kamarnya sendiri, di ruang tengah pasti akan bertemu dengan mamanya. Kebetulan Mang Sapri sedang mengantar Nola kuliah dan Nyonya Amanda yang pergi entah kemana. Jadi, kamar sopir keluarga itu sedang kosong.


Ardy berbaring di atas tempat tidur yang keras dan bau. Sementara Sri mengambil air hangat di dapur.


“Mbak Sri ... “ panggil Ardy tiba-tiba begitu sudut matanya menangkap sesosok bayangan lewat begitu saja di depan pintu kamar.


Tak ada jawaban. Suasana tetap hening.


“Mbak Sri ... ?”


Tetap hening.


Bukan sekali ini saja, Ardy merasa ada yang aneh di dalam rumahnya. Kerapkali menemukan sesuatu yang janggal. Halusinasi? Ah, tidak mungkin sesering selama ini. Sosoknya mirip seperti ... Rezky, adiknya, yang telah lama meninggal dunia.


Atau ... apakah itu memang Rezky? Tidak mungkin! Mana ada yang telah meninggal bisa kembali ke alam dunia? Tapi ....


“Den ... “ Sri kembali dari dapur sambil membawa air hangat dalam sebuah wadah.


Ardy menoleh terkejut.


“Oh, Mbak Sri ... “


“Ada apa, Den?” tanya Sri begitu melihat ekspresi wajah tuan mudanya yang kebingungan.


“Tak ada apa-apa, Mbak!”


Sri duduk di tepian tempat tidur di samping tubuh Ardy yang terbaring. Dengan hati-hati, dia mulai membersihkan sisa darah yang mulai mengering di wajah serta tubuh anak muda itu.


Ardy memejamkan matanya menahan rasa perih, sampai kemudian perlahan dia tertidur.


Sejenak, Sri pandangi wajah tuan mudanya itu.


Sesaat ada senyum yang mengembang di bibir perempuan itu. Teringat pada sosok suaminya dulu.


Namun, entah syetan dari mana yang merasuki. Melihat Ardy terlentang di hadapannya, hasrat Sri sebagai janda muda yang lama tak terjamah, bangkit.


Lengannya mulai berayun mengusap lembut wajah Ardy. Lalu perlahan mendekatkan wajahnya. Dengan dahaga yang menggelora, Sri ******* bibir anak muda itu. Sementara jemarinya bergerilya ke arah bagian lain.

__ADS_1


Ardy melenguh pelan.


“Apa yang sedang kamu lakukan, Mbak?” Ardy membuka matanya dan repleks mendorong wajah Sri agar menjauh.


Sri terkejut.


“Maaf, Den! Saya ... saya ... “ perempuan muda itu merasa malu sendiri.


Sri bergegas keluar kamar tanpa mengucapkan sepatahkata pun. Dengan kondisi tubuhnya yang masih lemah, Ardy mengurungkan niatnya untuk mengejar.


Apalagi melihat kondisi pakaian bagian bawahnya sedikit terbuka. Dia segera membetulkan posisi resleting celananya yang tersingkap.


Ardy memutuskan hari itu tidak akan masuk kuliah. Dia memilih beristirahat di kamar Mang Sapri untuk seharian itu.


Sementara Sri merasa malu dengan sikapnya tadi. Tak sepantasnya dia melakukan hal seperti itu.


Kebetulan Tuan Karyadi baru pulang dalam keadaan mabuk berat. Langkahnya sempoyongan dan sesekali hampir terjatuh.


Sri datang membantu memapah Tuan Karyadi masuk ke dalam kamarnya. Bau alkohol tercium menyengat dari mulut tua lelaki itu.


Perlahan Tuan Karyadi dibaringkan di atas tempat tidur. Saat hendak berlalu, Sri ditahan cekalan tangan majikannya dengan kuat.


“Temani saya di sini, Sri,” ujar Tuan Karyadi sambil menarik lengan Sri.


Tubuh perempuan itu tertarik dan terjatuh menimpa Tuan Karyadi.


Sri terdiam dan bingung.


Dengan cepat, Tuan Karyadi membalikan badannya menindih tubuh Sri.


“Kamu cantik sekali, Sri ... “


Lelaki tua itu mulai menciumi wajah serta leher Sri dengan buas. Semula Sri hendak menolak, namun hasratnya yang sempat padam saat bersama Ardy tadi, kini bangkit kembali.


Perlakuan Tuan Karyadi dibalasnya.


Satu per satu busana yang dikenakan Sri dilucuti paksa. Sampai kemudian penutup dada dan bagian bawahnya ikut terlepas.


Sri menikmati setiap sentuhan yang dilakukan Tuan Karyadi pada area sensitifnya.


Sri ikut meliukan tubuhnya mengikuti gerakan majikannya. Laki-laki itu masih begitu perkasa diusianya yang sudah mulai mendekati senja.


“Aaarrrgghh ... !!!”


Tuan Karyadi melenguh sambil pejamkan mata. Sebentar kemudian, tubuh tuanya terbanting ke samping dengan penuh rasa puas.


Sementara Sri masih tergolek dengan nafas memburu dan peluh yang membanjiri.


Masih didera rasa lelah, perlahan Sri turun dari atas tempat tidur. Dilihatnya Tuan Karyadi sudah terlelap. Sri menutupi tubuh majikannya dengan selimut tebal, lalu segera mengenakan kembali busananya yang berserakan.


Dengan langkah lemah, perempuan itu meninggalkan kamar majikannya. Di saat itulah, secara tidak sengaja, dia berpapasan dengan sosok Mang Kurdi.


Laki-laki itu menatap Sri dengan sorot mata penuh kecurigaan.


“Apa yang kamu lakukan dengan Tuan Karyadi, Sri?” tanya Mang Kurdi


menyelidik.


Sri tak menjawab, dia lebih memilih menuju dapur sambil merapihkan kembali pakaiannya yang masih berantakan, diikuti oleh Mang Kurdi.


“Ngapain, sih, Mang Kurdi ngikutin aku?” agak risih Sri diikuti Mang Kurdi seperti itu.


“Kamu belum menjawab pertanyaanku, Sri?” Mang Kurdi tersenyum sinis, “apa yang kamu lakukan di kamar Tuan tadi?”


“Kau kira aku sudah melakukan apa, Mang?” jawab Sri tanpa berani menatap mata Mang Kurdi yang terus menyelidik, “aku membereskan kamar Tuan. Tak ada yang lain ... “


Mang Kurdi kembali tersenyum sinis.


“Jangan dikira aku bodoh, Sri! aku bisa menduga apa yang telah kamu lakukan dengan Tuan di kamar tadi ... “ Mang Kurdi memancing.


Sri terkejut tapi tak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya terdiam sambil menyibukan diri.


“Jangan khawatir, Sri! Aku bersedia merahasiakan semua, asalkan ... kamu juga mau berbagi denganku!” ujar Mang Kurdi penuh kelicikan.


Lagi-lagi Sri terkejut.


“Tidak sekarang! Aku masih capek!” jawab Sri ketus.

__ADS_1


Mang Kurdi mendekati Sri, “Sekarang atau nanti sama saja, Sri! Beri aku sekarang atau kamu akan menanggung malu di depan ibumu!”


Sri tak kuasa menolak ketika Mang Kurdi mulai mendekap tubuhnya dari belakang. Laki-laki tua itu menciumi leher serta pundaknya dengan kasar.


Terpaksa Sri mengalah, daripada Mang Kurdi menceritakan perihal yang dilakukannya dengan Tuan Karyadi tadi pada Mbok Inah, ibunya.


Jemari tua Mang Kurdi bermain sebentar di dada Sri.


“Remas punyaku, Sri!” bisik Mang Kurdi di telinga Sri.


Tangan Sri turun ke bawah menuruni perut Mang Kurdi. Lalu mulai melakukan gerakan-gerakan yang membuat laki-laki itu mendesah.


Hanya sesaat ....


“Aauugghh ... “ Mang Kurdi meraung sambil pejamkan mata.


Sorot mata laki-laki tua itu tampak kecewa. Dia lepaskan dekapannya dan


mundur menjauh.


“Kali ini aku kalah, Sri! Tapi aku belum puas! Nanti ... aku akan meminta jatah penuhku! Tunggu saja!” ujar Mang Kurdi dengan perasaan malu tinggalkan Sri yang tersenyum mengejek.


“Sudah bau tanah masih saja sok perkasa!” sahut Sri seraya membersihkan jemarinya yang lengket dan licin.


Setelah membenahi bajunya yang terbuka di bagian dada, Sri melanjutkan pekerjaannya di dapur.


Tuan Karyadi tengah asyik membaca koran di ruang keluarga. Nyonya Amanda belum pulang dengan urusannya. Sementara Ardy dan Nola pun sedang tidak berada di rumah.


Jarum jam sudah menunjukan angka tujuh petang. Para pembantu sudah berada di kamarnya masing-masing. Sehingga yang ada di ruangan itu hanya Tuan Karyadi seorang.


Tiba-tiba bel rumah berbunyi. Tuan Karyadi bergegas membuka pintu.


Tampak seorang gadis cantik sedang berdiri di depan pintu.


“Selamat malam, Om.”


“Iya, selamat malam.”


“Saya Sarah, temannya Ardy, Om.”


Tuan Karyadi tersenyum, “Iya, saya ingat. Yang waktu ketemu di ... “


“Depan rumah ini, dulu ... Om.”


“Ya, itu maksud saya.”


“Ardynya ada, Om?”


Kembali laki-laki tua itu tersenyum. Kali ini aromanya berbeda.


“Ardy ... ?” sempat berpikir sebentar, “Oohh ... ada. Di kamarnya. Mungkin sedang belajar.”


Entah apa maksud Tuan Karyadi berbohong. Padahal jelas Ardy sedang tidak ada di rumah.


“Aku mau ketemu Ardy, sekarang, Om. Mungkin ... “


“Masuk saja dulu. Nanti saya panggilkan,” Tuan Karyadi mempersilakan Sarah masuk ke dalam rumah.


Gadis itu masuk dan menunggu di ruang tamu diikuti Tuan Karyadi. Laki-laki itu turut duduk di sana sambil membaca koran. Sesekali matanya melirik pada Sarah yang duduk tak begitu jauh.


“Ardynya mana, Om?” tanya Sarah merasa tak enak menyadari gerak-geriknya diperhatikan sedari tadi.


Tuan Karyadi meletakan surat kabar di atas meja.


“Tunggu saja. Sebentar lagi juga pasti keluar dari kamar. Dia tadi berpesan, kalau ada temannya disuruh tunggu dulu di sini,” jawab Tuan Karyadi beringsut mendekati Sarah.


Gadis itu menggeser menjauh.


“Om mau apa?” Sarah mulai ketakutan dengan sikap papanya Ardy ini.


Tiba-tiba Tuan Karyadi mencekal lengan Sarah. Sarah meronta. Sementara mulutnya dibekap.


“Temani saya di sini, ya? Saya lagi kesepian. Di sini tak ada siapa-siapa, kok!” ujar Tuan Karyadi sambil menindih tubuh Sarah dengan kuat.


Sarah meronta sekuat tenaga. Namun jeritannya tertahan di kerongkongan.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2