PETAKA HARTA TERLARANG

PETAKA HARTA TERLARANG
Episode 25


__ADS_3

“Khodam itu sejenis jin yang mendekati manusia sejak lahir hingga meninggal. Makanya makhluk yang satu itu mengenal betul sosok yang selalu dia dampingi seumur hidupnya.”


Ardy berpikir kembali, “Maksud Ayah, setiap manusia memiliki jin pendamping?”


“Betul. Kau, aku, Kakekmu, Karyadi dan semua manusia pada umumnya.”


“Apakah jin khodam itu baik?”


“Sebagai makhluk Tuhan, sebagaimana manusia pada umumnya, kaum mereka juga ada yang baik dan ada pula yang buruk. Tergantung bagaimana perilaku kita semasa hidup, tentu jin yang mendampingi juga akan meniru hal yang sama.”


“Lalu bagaimana dengan sosok mahkluk yang tadi merasuki tubuh Mbak Sri?”


“Itu makhluk jin juga, tapi dari golongan yang jahat. Tugasnya sama seperti syethan, yaitu untuk menyesatkan umat manusia. Kuntilanak, pocong, genderuwo, wewe gombel dan lain-lainnya adalah sama-sama makhluk jin dari bangsa yang berbeda. Tidak ada istilah hantu dalam agama, yang ada adalah jin.”


“Lalu bagaimana dengan cerita tentang orang yang sudah meninggal dunia, lalu hidup kembali dalam rupa hantu bergentayangan, Yah?”


“Itu kerjaan jin Qarin. Tugasnya sama-sama membuat manusia tersesat dalam hidupnya. Jauh dari Tuhan dan agama. Tak ada manusia yang sudah meninggal bisa hidup kembali, semua sudah berada di alamnya sendiri. Tak akan mungkin bisa berinteraksi dengan manusia. Namun jikalau ada yang mengaku-ngaku sebagai perwujudan dari orang yang telah meninggal, sudah dipastikan dia hanya bermaksud membuat umat manusia takut terhadap kaum mereka, bukan terhadap Tuhan.”


Ardy menganggukan kepala, “Lalu Mbak Sri?"


Ardy tidak meneruskan ucapannya begitu melihat dan menyadari sosok Sri masih tergeletak di lantai dengan kondisinya yang tak sepatutnya dilihat.


Mbah Suko segera menutup tubuh polos Sri dengan selembar selimut. Lalu orang tua itu segera merapal kalimat-kalimat suci di samping tubuh perempuan itu.


Tak berapa lama, Sri membuka matanya.


“Di mana aku?” tanya Sri bangkit dan berusaha menutupi sekujur tubuhnya dengan kain selimut.


“Pergilah ke kamarmu dan kenakan kembali pakaianmu, Nak,” ujar Mbah Suko seraya membuang arah pandangannya dari tubuh Sri.


“Mengapa aku ada di sini, Den?” tanya Sri heran sambil memandang Ardy dengan rasa malu yang tiba-tiba menggayuti hati.


“Saya tak tahu, Mbak!” jawab Ardy sama-sama memandang arah lain, namun kepalanya masih teringat dengan jelas bagaimana awalnya dia terbangun dan mendapati perempuan itu tengah berusaha membuka semua pakaiannya. Hingga ....


“Pergilah ... “ perintah Mbah Suko meminta Sri segera keluar dari kamar anaknya.


Sri menurut.


Sementara itu kita lihat apa yang terjadi saat iblis berkepala anjing itu pergi, setelah kalah bertarung dengan Kakek Ardy dan Mbah Suko. Makhluk itu tidak benar-benar pergi, dia menyelinap masuk ke dalam kamar Tuan Karyadi dan Nyonya Amanda.


Dengan kedua bola mata menyala merah, mahkluk itu menatap Tuan Karyadi yang sedang bergumul hebat dengan istrinya.


“Apa maumu? Mengapa datang menggangguku, ******?” tanya Tuan Karyadi menghentikan kegiatannya dan menoleh garang ke arah makhluk tadi, “apakah kau berhasil mengambil anak muda itu?”


Makhluk berkepala anjing itu menggeram sambil menggelengkan kepala.


“Bodoh! Apa saja yang kau kerjakan?” Tuan Karyadi bangkit dari atas tubuh istrinya.


“Ada seseorang yang datang menyelamatkan anak itu, Tuan!” ujar makhluk itu dengan cucuran darah yang masih menetes dari moncongnya yang bertaring.


“Seseorang? Maksudmu manusia?”


“Bukan, dia dari sebangsa kita juga namun dengan kemampuan ilmu di atas kita, Tuan.”


Tuan Karyadi menggeram.


“Dia mengaku sebagai bapaknya budak kita, Karyadi,” sambung makhluk itu dengan nafas tersengal akibat luka dalam yang dialaminya.


“Hhhmm ... orang tua itu! Dari dulu aku berusaha ingin membunuhnya tapi kesaktiannya tak mampu kutandingi!”

__ADS_1


“Paaahh ... “ panggil Nyonya Amanda pada Tuan Karyadi yang sedang dirasuki makhluk berkepala anjing lainnya, “kemarilah, Pah! Kita lanjutkan lagi permainan kita, Sayang!”


Nyonya Amanda hanya bisa melihat wujud suaminya seorang.


“Bagaimana dengan dia, Tuan?” tanya makhluk itu menunjuk pada sosok Nyonya Amanda.


Tuan Karyadi menyeringai, “Jadikan saja dia pengganti tumbal yang kuminta.”


“Maksud Tuan, dia kita ambil juga?”


“Lumayan, kan? Lagipula istri si Karyadi itu masih terlihat semok juga. Anak buahku yang lain pasti suka menjadikan dia sebagai budak mereka. Atau kamu juga ingin?” goda Tuan Karyadi sambil menatap makhluk


yang ada di hadapannya itu.


“Yeee ... emangnya aku lekong, Tuan?” makhluk itu bergidik geli, “lagipula aku masih penasaran dengan anak muda tadi. Seandainya tak ada gangguan, pasti akan kulahap habis sampai kejang-kejang!”


Tuan Karyadi tertawa keras


“Ya, sudah. Kita bawa kedua manusia ini ke alam kita. Lagipula, urusanku dengan si semok itu beres. Bisa prostat aku kalau sampai tak tuntas!” gerutu Tuan Karyadi.


Setelah itu tubuh Tuan Karyadi melengking keras dan ambruk ke atas lantai.


“Mbah ... “ Tuan Karyadi tersadar dari kuasa makhluk berkepala anjing yang sedari tadi merasukinya, “apa yang telah terjadi?”


Makhluk yang baru saja keluar dari tubuh Tuan Karyadi tertawa keras.


“Malam ini juga kau harus ikut denganku, Karyadi!”


“Mengapa, Mbah? Bukankah aku telah mempersembahkan anakku sendiri untuk kau bawa?” Tuan Karyadi ketakutan.


Tubuh bayanya beringsut menjauh.


Tuan Karyadi semakin ketakutan.


“Tidak, Mbah! Jangan bawa aku!” jerit Tuan Karyadi, “aku masih ingin hidup! Biarkan aku hidup lebih lama dan menikmati semua kekayaan yang telah kau berikan, Mbah!”


“Sudah cukup, Karyadi! Bertahun-tahun aku memberimu modal kemewahan dan gemerlap dunia. Jika sampai lebih lama membiarkanmu di sini, aku bisa rugi bandar, tahu?!” Mbah Jerangkong membentak.


“Jangan, Mbah! Jangaaannn ... !!!“


“Diam! Berisik, tahu!” bentak Mbah Jerangkong kembali, “aku telah gagal mengambil tumbalku. Itu semua karena salahmu, Karyadi! Kini ... kau sendiri yang akan kujadikan tumbal. Akan kujadikan kau budakku sampai ajalmu yang sebenarnya menjemputmu!”


Setelah berkata demikian, tiba-tiba Mbah Jerangkong bergerak melesat dan mencengkeram leher Tuan Karyadi. Lalu secepat kilat menarik tubuh paruh baya itu ke atas.


“Jangan bawa aku, Mbah! Jangan!”


“Diam! Mulutmu seperti perempuan yang tersiksa di tanggal tua, bawelnya minta maaf!” Mbah Jerangkong menusukan dua jarinya ke bagian bahu Tuan Karyadi, menyebabkan lelaki itu tiba-tiba terdiam dan kaku.


“Minta ampun ... mungkin maksudnya, Tuan!”


“Apa maksudmu, ******?”


“Itu tadi Tuan bilang ... bawelnya minta maaf.“


“Terserah aku, dong! Aku, kan, pemimpin di sini. Benar milikku dan kalau salah, kau yang harus bertanggung jawab!” ujar Mbah Jerangkong egois.


“Cuka-cuka lodeh!” jawab makhluk berkepala anjing itu di dalam hati.


“Wanita itu bagaimana, Tuan?”

__ADS_1


“Wanita yang mana?”


“Itu yang kata Tuan bilang ... masih semok.”


“Bawa sama kamu, ******! Kau tak lihat aku sedang repot seperti ini?”


“Baiklah, Tuan!”


Dengan terpaksa, makhluk berkepala anjing berjenis perempuan itu membawa tubuh Nyonya Amanda. Lalu keduanya segera melesat ke atas langit dan hilang dalam kegelapan malam.


Setelah disusul dengan kejadian berikutnya. Rumah besar dan mewah milik Tuan Karyadi tiba-tiba bergetar hebat. Seakan sedang digerakan oleh kekuatan yang maha dahsyat.


Seisi rumah pun langsung terjaga dan segera berlari ke luar rumah dengan panik. Mereka mengira ada gempa bumi hebat yang sedang melanda kota Jakarta.


“Papa! Mama!” teriak Ardy sambil berlari menuju kamar Tuan Karyadi dan Nyonya Amanda, diikuti oleh Mbah Suko.


Begitu masuk ke dalam kamar, hawa panas dan bau amis tercium menyengat menyesakan dada. Ardy dan Mbah Suko melihat tubuh Tuan Karyadi dan Nyonya Amanda terkapar dalam keadaan tak bernyawa.


Mbah Suko segera menarik tubuh Ardy untuk segera keluar menjauhi bangunan rumah yang mulai retak dan sebagian dinding langitnya berjatuhan.


“Papa dan Mamamu telah meninggal, Ardy! Kita keluar sekarang juga sebelum tertimbun reruntuhan bangunan!” teriak Mbah Suko menarik paksa Ardy yang meronta hendak menggapai kedua orang yang telah membesarkannya


itu.


“Mama! Papa!”


Terpaksa Ardy mengikuti tarikan Mbah Suko dan ikut berlari menyelamatkan diri.


“Ada gempa, Den?” tanya Mang Sapri kaget begitu berada di luar rumah bersama Mbok Inah dan Sri Kemuning.


Tanah di sekitar bangunan megah itu terus bergetar hebat dan terbelah, seakan hendak menelan bulat-bulat semua yang ada di atas permukaannya.


Perlahan rumah besar dan mewah itu hancur. Ambruk dengan suara menggelegar menghantam bumi.


Kejadian tersebut benar-benar di luar nalar manusia. Yang lebih mengheran, tidak ada seorang warga sekitar pun yang mendengar suara-suara gaduh dan melihat kejadian itu.


Malam kembali sunyi begitu seluruh bangunan amblas ditelan retakan bumi. Ardy, Mbah Suko, Mbok Inah, Sri dan Mang Sapri terpana. Hanya mampu melihat tanpa bisa berkata-kata.


“Apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Yah?” tanya Ardy begitu semuanya telah usai terjadi.


“Kita ke rumah anakku saja. Tanah ini sudah tidak bisa ditempati lagi, karena sudah mengandung kutukan yang mengerikan!” jawab Mbah Suko.


Mbok Inah yang sedari tadi hanya diam, tiba-tiba menoleh heran ke arah Mbah Suko.


“Ada apa, Mbok?” tanya Ardy begitu melihat tatapan mata tua wanita itu ke arah Mbah Suko, ayahnya.


“Apa hubungan Den Ardy dengan orang tua itu?” tanya Mbok Inah.


Ardy dan Mbah Suko saling berpandangan sesaat, “Ceritanya panjang, Mbok. Nanti, deh, kapan-kapan saya ceritakan sama Mbok.”


“Kau ayah kandungnya Den Ardy, kan?” tanya Mbok Inah pada Mbah Suko kembali.


Sri dan Mang Sapri ikut terheran-heran.


Ardy tersenyum, “Ya, beliau memang Ayah saya, Mbok.”


“Ya, Tuhan ... “ seru Mang Sapri mengejutkan semuanya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2