
"Kamu mau makan yang mana mas, apakah segini nasinya cukup?" tanya Ara.
"Apa saja" jawab Arslan, yang dibalas senyum lembut oleh Ara.
Suasana di meja makan pun begitu hening, Ara yang ingin memecah keheningan oun bertanya tentang hal yang sedikit mengganggu pikirnya. Pekerjaan dan kuliah.
"Mas, apakah aku masih bisa urus toko bungaku dan melanjutkan kuliahku?" tanya Ara yang sedang menatap Arslan.
"Ya, Asal kau bisa menjaga sikapmu" jawab Arslan singkat.
."Baiklah, terima kasih ya mas" jawab Ara kemudian.
Setelah makan malam usai, Ara yang hendak kembali ke kamar pun mengurungkan niat saat Arslan memanggilnya.
"Buatkan aku kopi" ujar Arslan yang masih sibuk dengan laptopnya tanpa melihat orang yang dia suruh. Ara pun langsung membuatkan kopinya.
"Apa ada lmyang kamu butuhin lagi mas?" tanya Ara setelah meletakan kopinya,
"Tidak" jawab Arslan.
"Kalau gitu aku akan ke kamar ya mas, ada tugas kuliah yang harus aku selesaikan" ujar Ara. Saat Ara sudah membalikan badan, Arslan pun memanggilnya.
"Hei bocah!" ujar Arslan.
"Kenapa mas?" jawan Ara sambil menahan kesal.
"Kemarilah!" perintah Arslan. saat Ara sudah di hadapannya, Arslan pun memberikan kartu tanpa limit kepada Ara. "Gunakan ini untuk kebutuhanmu" ujar Arslan.
"Makasih mas" jawab Ara setelah mengambil kartu tersebut dan langsung ke kamarnya, kalau enggak bisa jadi tuh kutub es nyuruh yang lain lagi. Pikir Ara
"Ternyata dia bisa bikin kopi juga, kopinya sangat enak." gumam Arslan yang sedang meneguk kopi buatan Ara sambil tersenyum.
__ADS_1
Waktu tidak akan mau berbelas kasih, meski separah apa pun luka yang kamu terima, segila apa pun kamu memohon agar ia mau berhenti sejenak, waktu akan tetap berlari tanpa pernah peduli tentang perasaanmu. Namun, waktu akan selalu menjadi bukti betapa hebatnya kamu menjalani hari, yang pada akhirnya menjadi obat dari segala rasa sakit.
Hari ini adalah pagi kedua aku setelah menikah. Bunda selalu menasihatiku jika aku sudah menikah rumah haruslah menjadi tempat pulang paling nyaman untuk suami.
"Ahh tapi bagaimana cara membuatnya nyaman kalau dia selalu membuatku jengkel" gumam Ara yang sekarang sedang bersiap untuk membuatkan sarapan.
Saat Ara akan mengetuk pintu kamar suaminya untuk mengajak sarapan bersama, tiba-tiba pintu itu sudah terbuka dan muncullah sosok tampan dari sana.
"Ahh mas aku baru mau ajak kamu sarapan. Sarapan dulu yuk, aku cuma bikin nasi goreng sih tapi aku yakin kamu pasti suka" ajak Ara dengan wajah ceria.
"Tidak. Aku buru-buru nanti sarapan di kantor saja" balas Arslan yang langsung pergi begitu saja.
"Ya sudah kalau tidak mau, aku kasih buat Sisil aja deh" ucap Ara sambil merapihkan meja makan.
"loh Ra kok lo ngampus sih? emang gak ada acara honeymoon gtuh? bukannya lu ngajuin cuti ya kemarin?" cerocos Sisil yang tiba-tiba melihat sahabatnya sudah duduk di sebelahnya.
"ssssttt.. lihat sudah ada dosen jangan ngomong keras-keras." ujar Ara.
"sweet banget sih lu Ra, tau aja gue gak sempat sarapan tadi" jawab Sisil dengan nada senang dan mulai memakan bekalnya dengan curi-curi pandang ke arah dosen.
"Dasar gila, sudah tahu ada dosen bisa-bisanya dia tetep makan dengan santuy pura-pura baca buku yang diberdiriin di depan muka" gerutu Ara sambil geleng-geleng.
Jam perkuliahan Ara pun selesai pukul 2 siang, Saat Sisil dan Ara sedang bersiap untuk keluar ruang tiba-tiba saja langkah mereka terhenti.
"Ra kamu sibuk gak hari ini" tanya Pak Erwin.
"Ehh kenapa ya Pak?" jawab Ara bingung.
"enm, saya mau ajak kamu ngopi sambil ngobrol-ngobrol sebentar di Nats Cafe" jawab. Pak Erwin.
Sisil yang ada di sebelah Ara pun hanya bengong saat mendengar tawaran dosen yang dikenal paling tegas dan dingin itu.
__ADS_1
"Ehem. Ahh kebetulan Pak saya sama Ara emang mau ke sana" jawab Sisil cepat karena melihat Ara yang diam. "Ah kalian ternyata sudah ada janji ya, kalau begitu mungkin lain waktu saja" jawab Pak Erwin yang tidak enak.
"Oh kalau bapak mau datang ke cafe datang saja, itu milik kakak saya dan Ara sering nyanyi di sana" ucap Sisil yang entah kenapa malah nyerocos mulu padahal Ara sudah sedikit menarik baju Sisil agar diam.
"Hehe Sisil cuma bercanda Pak saya cuma main saja di sana, kalau gitu kami pamit duluan ya pak" ucap Ara yang langsung menarik tangan Sisil.
Erwin pun hanya memandangi punggung wanita yang sedang ia incar, wanita yang mampu menghangatkan hatinya yang teramat dingin.
"Hais, Susah-susah buka hati pas berhasil malah perempuannya yang susah didapat" ujar Pak Erwin sambil tersenyum.
Suasana Nats Cafe cukup ramai saat Ara dan Sisil sampai.
"Kalian sudah sampai ternyata" ucap Nathan tiba-tiba. "heem" jawab kompak duo S. yang di respons geleng-geleng oleh Nathan.
"Haloooo cantik-cantiknya aku, apa kalian merindukan aku? apa kalian ingin hadiah dariku" ujar suara wanita yang lembut, tapi agak cempreng. dengan kompak Sisil dan Ara pun berbalik ke arah suara yang mereka kenal.
"Wooah Kak Manda!!" teriak mereka berdua sambil langsung memeluk wanita itu. Amanda adalah kekasih Nathan mereka sudah berpacaran selama lima tahun dan akan menikah sebentar lagi.
"Kakak kapan balik dari NY?" ucap Ara
"Tadi pagi Ra. Kakak dengar dari Nath kamu udah nikah? jahat banget sih ngeduluin kakak!" ujar Amanda sambil melepaskan pelukan yang seperti teletubbies.
"Hehhe mungkin sudah ketemu jodohnya kak" jawab Ara sekenanya.
"Kakak bawain kita oleh-oleh apa?" ujar Sisil dengan penuh semangat yang dijawab tawa tiga orang, yaa bagi Sisil yang paling penting adalah oleh-oleh.
"Baiklah ini sudah waktunya aku bertugas, ucap Ara" yang segera bergegas ke panggung.
"Hari ini semoga menjadi sore yang menyenangkan bagi teman-teman semua, saya akan menyanyikan sebuah lagu istimewa untuk menyambut kepulangan calon kakak ipar saya." ucap Ara yang sedang memegang mic sambil menatap ke arah Amanda dan Nathan dengan senyuman manisnya.
"Kak Manda, ini lagu dari kak Nathan untukmu, Ara hanya mewakilkan saja soalnya kalau kak Nathan yang nyanyi telinga kita bisa rusak nanti." ucap Ara sambil tertawa pelan dan mengedipkan mata ke arah mereka bertiga, yang membuat gelak tawa, tapi tanpa Ara tahu ada dua pasang mata yang menatapnya intens dari meja yang berbeda.
__ADS_1