PETUALANGAN CINTA

PETUALANGAN CINTA
Episode 18


__ADS_3

Pagi itu dilewati dengan hati penuh bunga dan kehangatan bagi Ara maupun Arslan. Kecanggungan dan jarak di antara mereka berdua juga semakin terkikis. Canda tawa sudah mulai mencairkan hati yang dingin dan harapan yang suram. Meskipun Arslan belum sepenuhnya mencintai istri kecilnya itu, tapi dengan seiring sejalan mereka lalui berdua, Arslan mulai sadar kalau dia sudah menerima keberadaan istrinya itu.


Berbeda dengan Ara yang sejak awal pernikahan sudah menerima kehadiran suaminya dengan tulus, bahkan Ara sudah mencintai suaminya itu diam-diam. yaa, saat berada di dekat suaminya Ara sering merasakan detak jantungnya berpacu lebih cepat, selalu ingin berdekatan dengan suami tampannya itu, dalam pandangan Ara sebenarnya suaminya adalah laki-laki yang baik, dia hanya sedang melindungi cintanya yang salah secara posesif dan alasan itulah yang membuat Ara hadir dalam kehidupan suaminya, untuk menunjukan cinta yang sebenarnya itu seperti apa.


"Bos apa ada kabar baik?" tanya Leon pada Arslan yang sejak memasuki mobil hingga selesai rapat senyum manisnya masih menetap di wajah tampannya. Hal ini tentu saja membuat heran sekretarisnya.


"Hemm.. menggoda bocah itu menyenangkan juga" gumam Arslan sambil memainkan pulpen di jarinya dengan senyum yang tak kunjung pudar.


"Bocah? bocah siapa bos?" tanya Leon.


"Jangan kepo, terlalu penasaran bisa memperpendek usiamu!" balas Arslan dengan tatapan mengejek, yang hanya dibalas dengan helaan napas kasar dari Leon.


"Baiklah, ini laporan triwulan semua cabang bos" ujar Leon sembari memberikan berkas ke Arslan lalu melirik jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan waktu istirahat.


"Bagaimana dengan kabar Veve?" tanya Arslan tiba-tiba saat Leon baru mendudukkan dirinya di sofa empuk.


"Apa lo masih berharap balikan sama Veve Arslan?" tanya Leon, dia sedikit heran karena setahu dia Arslan dan Ara sudah semakin dekat, bahkan Leon bisa melihat kalau Ara mencintai Arslan dan Arslan sudah mulai membuka hatinya, kenapa malah bertanya masa lalu.


"Gue hanya ingin memastikan dia baik-baik saja, lo kan tau dia sudah tidak punya siapa-siapa." balas Arslan jengah


"Iya gue tau, tapi lo juga harus ingat saat dia ninggalin lo dan milih karirnya, dan ninggalin lo begitu aja, lo juga harus ingat sekarang sudah ada Ara jangan sampai lo nyesel ketika tiba saatnya nanti Ara juga ninggalin lo!" ujar Leon geram pada Arslan


"Dia gak akan ninggalin gue, lo lupa alasan dia nikah sama gue dan perjanjian itu" sergah Arslan.


"Terserah lo deh ya, gue cuma bisa kasih saran sebagai sahabat lo merangkap juga sekretaris lo, masalah perjanjian itu hanya berlaku satu tahunkan setelah itu kalian berpisah, Ara bisa ngedapetin laki-laki yang 1000 kali lebih baik dari lo tapi lo belum tentu bisa nemuin wanita sebaik Ara, gue yakin di luar sana pasti banyak yang ngincer istri lo itu buat dijadikan milik mereka" balas Leon dengan malas, yang sejurus kemudian memilih keluar untuk menikmati waktu istirahatnya, daripada kesal menangani masalah percintaan bosnya itu.


Arslan yang melihat sahabat merangkap sekretarisnya itu berlalu pergi begitu saja juga merasa kesal, sahabatnya itu tidak pernah suka dengan mantan kekasihnya itu, padahal dia hanya ingin tahu kabar Veve saja bukan balikan pada mantan kekasihnya itu pikir Arslan. Sedetik kemudia Arslan justru bertambah kesal saat mengingat ucapan sekretarisnya itu mengenai laki-laki yang menginginkan Ara.

__ADS_1


Tak lama berselang ponselnya pun berdering dan tertera nama kontak Istri.


"Halo Ra, ada apa?" tanya Arslan.


"Mas, maaf ya ganggu. Ra mau minta izin, Ra mau ke rumah bunda mas, hari ini ulang tahun pernikahan ayah dan bunda, walaupun gak dirayain, cuma Ra pengen makan malam di sana mas, boleh gak?" tanya Ara, sebenarnya Ara ingin mengajak Arslan hanya saja dia tidak enak kalau menganggu kesibukan suaminya.


"Hem.. boleh. Jam berapa kamu ke sana?" tanya balik Arslan


"pukul 4 sore mungkin mas, Ra baru selesai kuliah jam segitu" jawabnya


"Mas jemput nanti" jawab Arslan yang langsung mematikan sambungan telepon, yang berhasil membuat Ara berdecak kesal.


"Kalau bukan suami sendiri udah gue jual lo ke pasar loak!" umpat Ara. Sisil yang menatapnya pun hanya menggelengkan kepala.


"Kenapa sih Ra? lo masih belum akur sama suami lo?" tanya Sisil sambil menikmati makan siangnya.


"Akur kok Sil, cuma emang suka iseng bikin gue darting aja dia" jawab Ara sambil tersenyum


"Oiya Ra, kayaknya Pak Erwin tuh ada rasa deh sama lo" ujar Sisil yang sudah beralih topik.


"Mana ada Sil, jangan ngawur lo, didenger orang repot nanti" jawab Ara sambil melototkan matanya.


"Santuy beb sayang, gue kan cuma menyampaikan pendapat aja, soalnya dia kalau lihat lo tuh beda tatapannya Ra" ujar Sisil


"Sebenarnya juga ngerasa sih gue Sil, cuma karena sikap tuh dosen sopan dan bikin nyaman jadi ya gue santuy aja kalau dia ajak ngobrol" jawab Ara santai.


"Tapi lo kudu jaga jarak Ra, gimana pun juga lo kan udah nikah sama orang berkuasa pula" nasehat Sisil

__ADS_1


"Ya Sil, gue juga paham, selain harus jaga perasaan suami gue, gue juga gak mau bikin tuh dosen salah paham yang malah menimbulkan sakit hati gara-gara gue, sebenarnya gue tuh mau ngasih tau dia kalau gue udah nikah, tapi tiap mau ngasih tau ada aja halangan" jawab Ara sambil nyengir kuda dan mengangkat bahunya.


Perbincangan Sisil dan Ara pun berakhir dengan waktu yang menunjukan mereka harus segera melanjutkan jam kuliah.


Sore yang dinanti pun tiba, Arslan dengan santainya sudah berada di parkiran kampus menunggu istri kecilnya, kehadirannya tentu saja menjadi angin segar bagi para mahasiswi di sana, melihat laki-laki tampan dengan pakaian branded yang melekat di tubuhnya dan mobil mewah yang hanya dimiliki oleh segelintir orang terkaya saja.


"hha tampangnya yang sok cool itu benar-benar pengen gue masukin ke karung beras!" gumam Ara yang kesal melihat banyak wanita yang mengagumi ketampanan suaminya.


"Mas, kamu sudah lama nunggu?" tanya Ra basa basi yang beneran basi karena dia sudah tau suaminya baru tiba.


"belum, cepat masuk ke mobil!" perintah Arslan. Ara pun hanya mematuhi perintah suaminya itu.


"Oiya, mobil Ra gimana mas?" tanya Ara saat sudah memasang seat belt dan baru ingat dengan mobil kesayangannya.


"Biarin aja, lagi pula gak akan hilangkan ditinggal di kampus" jawab Arslan sekenanya, dan Ara hanya mengangguk saja.


"Mas kita mampir ke toko bungaku dulu ya, buat bunda" minta Ara yang dibalas anggukan oleh Arslan.


Suasana di dalam mobil pun hening seketika, Ara bingung ingin bertanya apa dan Arslan juga bukan tipe orang yang membuka suara duluan.


Merah jingga membawa kenangan.


Abu-abu meluruhkan pilu.


Katanya, di sana kau menatap langit dengan lekuk sabit di bibirmu.


Duduk tenang di bawah jendela,

__ADS_1


menyesap kopi hitam pahitmu,


menghirup dalam aroma tanah basah sembari menyenandungkan lagu perpisahan.


__ADS_2