
Cup... satu kecupan tiba-tiba mendarat di pipi Ara.
Arslan yang telah selesai mandi dan melihat Ara masih merapihkan pakaiannya, niat iseng pun muncul di kepala Arslan, entah kenapa ia sangat ingin mencium Ara.
"Ahh mas apa yang kau lakukan!" ujar Ara yang kaget dengan perlakuan Arslan padanya.
"Haha kenapa kau begitu kaget, aku baru mencium pipimu belum seluruh tubuhmu, sayang." jawab Arslan dengan tatapan mesumnya, entah mengapa dia sangat ingin menggoda Ara.
Ara yang mendengar ucapan Arslan pun menjadi semakin kaget dan malu.
"Kenapa mas jadi mesum sih.!" balas Ara dengan wajah yang merona malu lalu keluar dari kamar Arslan buru-buru, yang membuat Arslan tidak sanggup menahan tawanya lagi saat melihat pipi Ara yang merona.
"Makanlah Mas, ini sudah mau lewat jam sarapan" ucap Ara saat mereka sudah berada di meja makan, dan Ara sudah menyodorkan sepiring nasi dengan sop daging dan sambal yang menggugah selera serta segelas orange jus.
"Emm. rasanya enak dan segar, apa dulu kamu juga sering masak Ra? tanya Arslan sambil menikmati makanannya dengan lahap.
"Enggak sering juga sih mas, tapi tiap aku di rumah dan enggak ngapa-ngapain aku selalu bantu bunda masak, lagian sejak kecil aku juga banyak ikut kursus mas salah satunya masak, ya walaupun belum enak banget sih hehe" jawab Ara
"Siapa bilang enggak enak, ini enak loh Ra, dan hampir semua masakan kamu sesuai sama lidahku." jawab Arslan memuji masakan Ara yang begitu cocok di lidahnya.
Ara yang merasakan bahwa ucapan dari suaminya itu tulus pun sangat merasa senang.
"Bagus mas kalau kamu cocok dengan masakanku jadi kamu bisa makan yang lebih sehat lagi" balas Ara dengan senyum menawan.
Setelah sarapan bersama dan asyik dengan berbincang-bincang dua sejoli itu pun kini berkutat dengan kesibukan masing-masing. Meskipun hari libur, tapi ada saja pekerjaan yang harus di urus Arslan, sedangkan Ara sedang menyelesaikan tugas kampusnya yang menumpuk karena sebentar lagi akan ujian akhir.
"Mas, temenin Ra yuk belanja ke Supermarket" ajak Ara
"Memang bahan makanan habis Ra?" jawab Arslan.
__ADS_1
"Ada sih mas tapi buat besok gak ada, Ra lupa mau ngajakin tadi pagi hehe" jawab Ara yang sudah duduk di sebelah Arslan.
Biasnya Ara akan membeli bahan makanan atau semua keperluan rumah sendiri, dia sangat amat jarang minta ditemani, hal itu yang membuat Arslan sedikit tertegun, karena semenjak kebersamaan mereka kemarin Ara jadi lebih bergantung padanya, yaa walaupun Arslan juga merasa nyaman dan senang dengan perubahan di antara mereka.
"Yasudah ayuk aku temani" jawab Arslan yang sudah berdiri mengambil jaket dan kunci mobil.
"lets gooo Mas!" ujar Ara sambil tertawa yang membuat Arslan hanya menggelengkan kepala.
"Hanya ke Supermarket apa serunya sih, kenapa dia bisa sesenang itu?" pikir Arslan dalam hati
Akhirnya mereka berdua pun menikmati hari minggu dengan suka cita, Ara yang asik memilih bahan makanan lalu Arslan yang mendorong troli belanjaan dengan diselingi canda tawa mereka berdua, jika orang-orang melihatnya akan menyangka mereka adalah pasangan romantis dan saling mencintai setiap hari.
Arslan yang baru pertama kali belanja seperti ini pun merasa hangat di dalam hatinya, ia mengingat saat Ara memilih makanan dengan senyum cerah, saat Ara menanyakan Arslan ingin dibuatkan makan apa, saat mereka berdebat agar membeli atau tidak membeli sebuah barang, lalu saat Arslan mengejek Ara yang tidak bisa mengambil barang di rak atas, lalu saat mereka mengantre di kasir, dan Arslan yang harus membayarnya lalu membawa belanjaan dengan tangannya.
Ini pengalaman pertama Arslan, bahkan untuk menemani mantan kekasihnya saja Arslan sangat jarang dia lebih sering menyuruh anak buahnya atau mentransfer uang ke akun rekening mantan kekasihnya.
Hari libur telah berlalu, kini semua orang mulai disibukan dengan rutinitas di hari kerja. Hal ini juga berlaku untuk dua pasangan yang akhir-akhir ini semakin dekat.
Ara sedang asyik menata sarapan di meja, dan menunggu suaminya selesai berpakaian.
"Raaaa!" teriak Arslan dari dalam kamar.
"Iya mas, kenapa sih harus teriak-teriak" ujar Ara yang sudah berada di dalam kamar.
"Ra, mulai sekarang kamu harus memasangkan dasi dan jasku" ujar Arslan yang menyodorkan dasi ke Ara
Ara pun merasa senang, karena dulu suaminya enggan sekali bersentuhan atau hanya sekedar memberikan perhatian.
"Menunduk sedikit mas!" ujar Ara
__ADS_1
"Ups aku lupa kalau kamu pendek Ra" jawab Arslan yang tertawa sambil menundukkan dirinya.
"Aku enggak pendek mas, aku tuh mungil, dan pertumbuhanku sedang berjalan" balas Ara sambil memasangkan dasi suaminya.
"Hahaha umurmu sudah mau 20 tahun Ra gak mungkin tambah tinggi kalau melar mungkin" goda Arslan.
"Terserah kau saja mas, oke sudah nih. Ayo kita sarapan" ucap Ara sambil menepuk jas yang telah melekat di tubuh gagah suaminya.
"Terima kasih" balas Arslan sambil mengecup bibir Ara sekilas, dan hal itu membuat Ara terdiam dan hanya menatap Arslan kaget.
"Kenapa kamu kaget? apa kamu ingin lebih lama?" bisik Arslan dengan menggoda yang membuat Ara tersadar dan tertunduk malu.
Arslan yang melihat Ara menunduk malu dengan pipi merah merona pun sangat menggemaskan.
tiba-tiba Arslan mengangkat dagu Ara lalu mencium bibirnya, Ara hanya mematung ia bingung harus bereaksi seperti apa, bagaimana pun juga ini ciuman pertamanya, dan Arslan pertama kali menciumnya, karena sebelumnya Arslan hanya mencium pipinya.
Arslan yang merasa Ara hanya mematung dan tidak menolak pun mengambil kesempatan, ia sedikit menggigit bibir Ara sehingga otomatis Ara membuka bibirnya dan Arslan langsung ******* dan menyesap bibir itu hingga Ara kesulitan bernapas baru Arslan menghentikannya.
"Rasanya sangat manis" ujar Arslan sambil menyentuh bibir Ara. Ara yang masih susah mengatur napas hanya bersemu merah, ia benar-benar bingung harus melakukan apa.
"Apa itu ciuman pertamamu?" tanya Arslan yang masih menatap haus ke bibir Ara. Ara yang ditanya hanya menganggukkan kepala dengan pipi merah merona.
"Pantas saja, aku akan mengajarkanmu membalas ciumanku, tapi bernapaslah ketika aku menciummu" bisik Arslan dengan nada menggoda.
Ara yang sadar sedang digoda pun merasa malu dan kesal. "Kau menyebalkan mas!" umpat Ara yang langsung meninggalkan kamar Arslan, dan membuat Arslan tertawa.
"Ahh, rasanya benar-benar manis. Aku benar-benar ingin mencicipinya lagi" gumam Arslan.
Dalam kenangan yang telah aku lewati, aku menangis sendirian. Musim yang terus berganti belum pernah berhasil menyingkirkan senyumanmu dan kebodohanku.
__ADS_1