
Sudah tiga bulan Ayyara menyandang status sebagai istri dari seorang Arslan Kalandra Bwana. Tiga bulan ini mereka melalui hari bersama dengan keceriaan, keusilan, pertengkaran hingga tanpa disadari laki-laki dingin itu mulai terbiasa dengan kehadiran Ara, ia masih belum menyadari perasaan cemburunya, perasaan nyaman saat bersama, atau rindu saat berjauhan. Pelan-pelan saja tidak ada yang instan, bahkan mie instan pun butuh di rebus dulukan.
"Mas, sepulang Ra kuliah Ra mau jalan-jalan ya sama Sisil mau nemenin Sisil cari Gaun buat acara pernikahan ka Nathan, jadi Ra mungkin pulang agak telat" Ujar Ara yang sedang memasangkan dasi suaminya.
"hem, hanya berdua?" tanya Arslan.
"Iya mas, tadinya mau sama ka Nathan dan ka Manda, tapi mereka ada acara sendiri. okeh sudah rapi bos, ayuk kita sarapan" ucap Ara yang sudah memakaikan dasi dan jas suaminya, serta mamastikan penampilan suaminya sudah tampan paripurna.
Arslan hanya mengikuti langkah istri kecilnya itu ke ruang makan untuk menikmati sarapan bersama. Sudah satu bulan lebih mereka selalu sarapan dan makan malam bersama, Ara yang menyadari perubahan suaminya yang sudah mulai menerima kehadirannya pun mulai semangat dan percaya suatu hari nanti dia akan benar-benar menjadi istri sesungguhnya.
"Mas berangkat kerja Ra, ingat jaga sikap kamu saat di luar!" ucap Arslan sambil mengulurkan tangan kanannya.
"Iya mas, lagi pula kapan aku pernah tidak menjaga sikapku sih" jawab Ara sambil mencium punggung tangan suami tampannya.
"Sering!" jawab Arslan sambil mencium kening istri kecilnya lalu berlalu begitu saja.
"Dasar kutub es! kapan sih dia bisa bicara lemah lembut penuh keromantisan sama istri sendiri, gitu tuh kalau hati penuh kenangan kelam bersama mantan terindah, cuih susah banget dibersihin hati dan pikirannya itu!" umpat Ara setelah melihat kepergiaan suaminya.
"Padahal kalau tidur udah dusel-dusel, kalau lihat gue sama temen laki uring-uringan, gak diperhatiin dikit ngambek, tapi kok masih belum sadar sama perasaannya sendiri. Duh gusti sampai kapan digantung gini kayak jemuran, jemuran aja kalau udah kering diangkat ini mah boro-boro, dasar suami labil" lanjut Ara dengan gerutuannya.
Ya, kini hubungan Ara dan Arslan naik setingkat, yang mana mereka berdua sudah mulai tidur sekamar meskipun belum ada kegiatan lebih di atas ranjang, tapi kemajuan itu tetap harus dirayakan, entah akan berakhir baik atau buruk, nikmati saja setiap kejadian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bos, Nona Veve sedang dalam mempersiapkan perjalanan menuju Indonesia." pesan itu dikirimkan oleh bawahan Arslan yang mengawasi mantan kekasihnya itu.
__ADS_1
"Baik, biarkan saja. sudah tidak perlu mengikutinya lagi" balas Arslan.
"Baik bos" balas pesan dari seberang negara lain.
Setelah mendapatkan pesan itu, Arslan menjadi uring-uringan berkas yang menumpuk di mejanya pun hanya ditatap tidak kuasa untuk digarap.
"Ah bagaimana ini!" gumam Arslan. ia masih ragu dengan hatinya, apakah ia mencintai Ara atau hanya pelampiasan saja karena keterbiasaan bersama, jadi dia merasa nyaman.
Arslan yang masih terpaku dengan lamunannya sendiri pun masih tidak menyadari kehadiran sekretarisnya itu, bahkan berulang kali ia mengetuk pintu dan tidak ada jawaban.
"Bos, apa ada masalah? tanya Leon yang sudah berada di hadapan Arslan.
"Woiii bos!" teriak Leon sambil menggebrak meja dengan sedikit keras.
"Sial! lo mau gue pecat, bisa mati gue kalau punya penyakit jantung!" umpat Arslan yang terkejut.
"Lu ada masalah apa? apa ini tentang istri lo?" tanya Leon yang sudah duduk nyaman di sofa
"Veve udah balik ke Indo" jawab Arslan
"Ya terus hubungannya apa Arslan? lo mau balik lagi sama Veve?" tanya Leon
"Gue belum tau, gue masih cinta sama Veve tapi gue juga merasa nyaman sama Ara" ucap Arslan sambil membuang napas secara kasar.
"Otak lo di mana sih Arslan, lo jago ngurusin bisnis tapi menyadari keinginan hati lo sendiri aja gak bisa" umpat Leon yang sedikit kesal dengan ucapan Arslan.
__ADS_1
"Sial lo, lo aja jomblo seumur hidup!" sergah Arslan sambil melemparkan pulpen di tangannya ke Leon.
"Gue sudah sering bilang ke lo, jangan sampai menyesal saat lo kehilangan istri lo nanti. Veve itu udah jadi masa lalu lo, dia yang ninggalin lo, dia di sana juga pacaran ke sembarang orang lo gak usah pura-pura nutupin ke gue, satu lagi om dan tante gak akan pernah setuju lo balikan ke perempuan itu, lagi pula perempuan yang kayak gitu yang lo mau?" ujar Leon mencoba menjernihkan otak sahabatnya itu.
"Gue.. gue masih bingung, lihat nanti saja" jawab Arslan dengan nada frustrasi
"Hah. gue berharap lo gak salah ambil sikap, ingat kalau lo salah ambil sikap dan berakhir penyesalan, penyesalan itu juga gak akan ada artinya lagi kalau Nona Ayyara akhirnya pergi dan jadi milik orang lain, mungkin gue salah satunya." ujar Leon sambil berlalu pergi meninggalkan bos sekaligus sahabat baiknya.
Arslan hanya menarik napas dengan kasar sembari menahan jengkel mendengar niatan dari sahabatnya itu, dan mulai memejamkan matanya dengan menyandarkan tubuhnya, berharap ia bisa memahami kemauan hatinya dengan cepat.
"Gue pengen bantu lo lebih jauh Arslan, tapi gue gak punya hak, itu masalah lo, gue cuma bisa nasehatin aja, gue harap lo sadar sama perasaan lo, tapi kalau lo sampai bener-bener nyakitin istri lo, gue pastikan lo akan menyesal Arslan" ujar Leon dalam hati, selain karena Leon tahu bahwa Ara memang gadis yang baik, Nyonya Bwana juga menyuruh Leon untuk menjaga Ara jika tiba-tiba mantan Arslan kembali lagi, dan ternyata benar dugaan Nyonya besar itu.
Jika Arslan dirundung rasa bimbang dan juga rindu pada mantannya itu, Ara justru sedang bersenang-senang dengan sahabatnya, berbelanja kebutuhan wanita, pergi ke toko buku, dan tentu saja makan-makan.
"Rasanya capek banget sumpah" ujar Ara yang sedang menyeruput minumannya yang sudah gelas ke dua.
"Capek sih capek Ra, tapi lo mesen minum tiga gelas buat lo sendiri, gak kembung Ra?" tanya Sisil sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya itu.
"Hehe Sil lo kayak baru kenal gue kemarin aja, lagian gue emang beneran haus banget, pegel kaki gue" jawab Ara
"Suka-suka lo deh Ra, kalau lo mau nambah juga boleh kok cuma ati-ati aja ya entar lo kayak ikan buntal takutnya, haha" jawab Sisil sambil tertawa.
Ara hanya mendengus kesal dengan ledekan sahabatnya itu, memangnya kenapa sama ikan buntal, ikan itu lucu kok saat menjadi bulat dalam benak Ara.
Setelah mereka berdua puas dengan kegiatan hura-hura hari ini, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing dengan membawa tubuh lelah, tapi hati bahagia.
__ADS_1
Jarak antara kebahagian dan kesedihan hanya setipis caramu menikmatinya. Luka hari ini esok lusa akan sembuh, tawa hari ini esok lusa bisa saja hilang.