PETUALANGAN CINTA

PETUALANGAN CINTA
Episode 13


__ADS_3

Setelah beberapa saat Ara pun sampai di kediaman Bwana yang langsung disambut ramah dengan para pelayan di sana.


"Halo Bi Inah, mama di mana Bi? tanya Ara yang sudah sampai di ruang tamu tapi tidak kelihatan keberadaan mertuannya itu.


"Nyonya ada di halaman belakang Non, ayo bibi temenin Non sekalian bibi anter minuman ini" jawab Bi Inah


"Tidak usah Bi, sini nampannya biar Ra aja yang anter buat mama, bibi kerjain kerjaan yang lain aja" ujar Ara


"Tapi Non, Non kan baru sampai" jawab bi Inah cepat.


"Sudahlah bi santuy ajah hehe" jawab Ara sambil mengambil nampan minuman di tangan bi Inah.


"Mamaaaahh" teriak Ara dan tiba-tiba langsung memeluk mertuanya itu.


"Astaga Ra kamu ini, mau bikin mama jantungan apa" jawab nyonya Ratih sambil mengelus dadanya


"Hehe jangan dong mah amit-amit, lagian ngapain sih mama bengong aja siang-siang" tanya Ara yang sudah duduk di samping mama mertuanya.


"emm itu Ra, Kerjaan papa di Spore butuh kehadiran papa di sana Ra dan itu lumayan lama, tapi kalian kan baru menikah mama takut" ucap nyonya Ratih yang terlihat ada kecemasan di matanya.


"Mah Ra sama Mas Arslan kan sudah dewasa, mama gak perlu sekhawatir itu, nanti kalau ada apa-apa Ra pasti hubungin mama kok. Lagi pula ada ayah sama bunda juga kan" jawab Ara yang mencoba untuk menenangkan mertuanya.


"Mama tau Ra. emm Ra hubungan kamu sama Arslan gimana?" tanya nyonya Ratih yang ingin tahu


"Baik-baik aja kok mah walaupun mas Arslan masih bersikap dingin tapi menurut Ra mas Arslan udah mulai nerima Ra kok" jawab Ara meyakinkan.

__ADS_1


"Jangan bohong Ra. Mama tuh tahu gimana Arslan" ucap Nyonya Ratih dengan nada sedikit kesal.


"Hahaha Ra gak bohong mah, pas awal Ra nyiapin makanan mas Arslan pasti gak mau, terus pergi gituh aja, tapi sekarang mas Arslan pasti sarapan dan makan malam di rumah mah" jawab Ara santai.


"Bagus kalau yang kamu bilang itu benar. Ra janji yaa sama mama kamu harus bisa bikin Arslan jatuh cinta sama kamu" mohon nyonya Ratih sambil menggenggam tangan Ra.


"Mama perasaan mas Arslan itu cuma mas Arslan yang bisa atur mah, tapi Ra janji Ra akan usaha bikin mas Arslan nerima Ra sebagai istrinya, Ra juga terus berdoa kok biar Ra sama Mas Arslan berjodoh" ujar Ara menenangkan.


"Yaa mama percaya. Kamu pasti bisa, cuma kamu yang bisa jadi menantu mama. Pokoknya kalau ada perempuan di luar sana yang goda Arslan inget Ra kamu istri sahnya jangan mau kalah ya" ucap Nyonya Ratih penuh semangat.


"Hahahahaha, iya mama ku tersayang tenang aja, Ra cantik kayak gini masa iya mas Arslan kuat lama-lama cuekin Ra" jawab Ara sambil menggoda mama mertuanya itu, yang berhasil bikin nyonya Ratih tertawa.


"Waaah ada apa ini kayaknya seru banget" ucap Papa Andhi yang tiba-tiba ikut bergabung


"Papaaa, kok baru kelihatan papa abis dari mana? tanya Ara yang langsung memeluk Papa mertuanya seperti dia Ara yang selalu memeluk dan bersikap manja pada ayahnya, dan hal itu membuat Papa Andhi begitu senang karena merasa memiliki putri bukan menantu.


"Loh jadi berangkatnya besok Pah? Mama juga? Ra kira mah masih lama" jawab Ara dengan nada sedih


"Iya besok Ra, tentu mamamu harus ikut Ra, Papa mana bisa jauh-jauh Ra dari mamamu itu, rasanya hidup papa hampa kalau mama jauh dari papa Ra" ucap Papa Andhi sambil mengedipkan mata kirinya ke arah Nyonya Ratih.


"Dasar tua-tua keladi!" celetuk Nyonya Ratih yang dibalas dengan dengan suara tawa dari Ara dan Papa Andhi.


Kita tidak bisa mengontrol perasaan orang lain terhadap kita, tapi kita punya kuasa untuk menentukan akan seperti apa sikap yang akan kita ambil.


Malam telah datang dengan nyanyian hujan sebagai pengiring. Bagi sepasang pengantin baru tidak ada rasa dingin meski hujan bergemuruh hebat di luar sana, sebab ada dekapan hangat sang kekasih hati, tapi bagi Ara malam-malamnya setelah menikah justru lebih dingin dari malam-malam yang ia habiskan di panti asuhan.

__ADS_1


Laki-laki yang sudah berhasil mengusik ketenangan hatinya itu masih kokoh pada perasaan masa lalunya, dia tidak bisa memaksa agar bisa menerobos masuk dengan cepat lalu menempatkan namanya di sana. Tidak bisa. Ara hanya bisa pelan-pelan menunjukan keseriusannya tentang pernikahan mereka, tentang ketulusannya, ia hanya berharap usahanya akan terlihat di hadapan suaminya itu.


Ara yang baru keluar dari kamar mandi tanpa sengaja terpeleset saat Arslan juga akan bergantian masuk. Arslan yang melihatnya pun refleks menangkap tubuh Ara yang tanpa sengaja malah menjatuhkan handuk yang melekat di tubuh Ara.


"Ahhh Mas kamu tutup mata!" teriak Ara malu." Arslan pun yang awalnya terpesona pun tiba-tiba memalingkan wajahnya menahan malu, bisa-bisanya dia tergoda dengan tubuh yang masih dia anggap bocah itu.


"enn.. kamu mandi aja mas, udah Ra siapkan kok Airnya" ujar Ara mengatasi rasa malunya. ini pertama kalinya tubuhnya dilihat oleh laki-laki dalam keadaan polos meskipun itu suaminya sendiri.


"hemm" jawab Arslan yang langsung bergegas ke kamar mandi.


"Sial kenapa gue masih ngebayangin tubuh polos tuh bocah ya!, arrghhh." umpat Arslan kesal yang sedang berada di kamar mandi, padahal sudah cukup lama dia di dalam sana.


"Mas kamu masih lama mandinya? Mama sama papa udah nungguin tuh buat makan malam" ujar Ara mengingatkan. Dia bingung tumben-tumbenan Arslan mandi selama ini karena sudah lebih dari setengah jam padahal biasanya juga hanya 15 menitan.


Arslan pun bergegas ke luar kamar mandi dan mengganti bajunya.


Di meja makan semua tampak bahagia, suasana hangat akhirnya bertandang di meja makan kediaman Bwana, apa lagi penyebabnya kalau bukan Ara yang terus menerus mengoceh asyik dengan mertuanya.


"Mas kamu masih mau nambah makanan lagi gak? atau mau Ra buatin kopi nanti sebelum kita ke kamar?" tanya Ara pada Arslan yang hanya diam saja menikmati makanannya tanpa ikut berceloteh ria.


"Enggak usah Ra, biar Bi Inah aja yang buatin, cuma kopi Bi Inah yang cocok di lidah Arslan bahkan kopi buatan mama aja gak disentuh sama dia" Sela Nyonya Ratih dengan nada kesal.


"Aku mau kopi buatan kamu aja Ra" jawab Arslan pada Ara yang membuat Ara tertegun sejenak karena ini pertama kalinya Arslan mau bicara lembut padanya.


"Iya mas nanti Ara bawain ke kamar ya" balas Ara yang dijawab anggukan Arslan dan senyum tipis di bibirnya, yang membuat Nyonya Ratih dan Papa Andhi mengulum senyum penuh arti.

__ADS_1


"Arslan udah selesai, Mama sama papa istirahat ya, Arslan duluan ke kamar" pamitnya.


__ADS_2