PETUALANGAN CINTA

PETUALANGAN CINTA
Episode 22


__ADS_3

"Enggak ada apa-apa Ra, maaf ya kemarin Mas ada perlu di dekat rumah mama jadi mas pulang ke sana dan lupa juga taruh hape di mana." ujar Arslan yang sedang berkilah.


"Mas aku harap kamu gak bohong, kalau ada yang mengganggu pikiranmu ayo kita duduk dan bicarakan, aku bisa jadi tempat kamu mengutarakan segala masalahmu mas, kita ini suami istri mas, suka dan duka kita bagi bersama." ujar Ara yang kini sudah ada di hadapan Arslan dengan tatapan mata sendu. Ara bisa merasakan adanya kebohongan dari ucapan suaminya.


"Sudahlah Ra, Mas lagi banyak kerjaan. Kamu lebih baik pulang saja atau ke toko bungamu. Jangan mengganggu waktuku bekerja, Ra!" kilah Arslan sambil melangkah ke kursi kebanggaannya.


Ara yang melihat suaminya enggan dengan kehadirannya saat ini pun semakin menatap sendu ke punggung suaminya yang memutuskan ke meja kerjanya. Helaan napas berat terdengar saat Ara mencoba menguasai kekecewaannya. Ia pun melangkahkan kakinya mendekati meja kerja suaminya.


"Mas. Sebentar saja, aku tahu ada yang mengganggu pikiranmu. Kita bertukar cerita yaa sambil sarapan bersama gimana? Aku akan pesan makanan untukmu." bujuk Ara kembali.


"Kamu tidak bisa menuruti perintah suami Ra? pergi dari sini sekarang!" bentak Arslan tanpa sengaja.


Ara yang pertama kali merasakan rasanya dibentak hanya menatap nanar suaminya, akhirnya Ara memutuskan untuk keluar dari ruangan suaminya, dengan hati yang penuh sesak ia melangkahkan kakinya, saat ia akan membuka pintu, sejenak ia memutarkan tubuhnya ke arah suaminya.


"Jika hari penyesalan itu datang, aku harap kamu masih punya kesempatan. Jika aku ada salah aku minta maaf, jika kamu ingin menenangkan pikiranmu, silakan Mas, kamu bisa pergunakan sebanyak waktu yang kamu mau. Aku tidak akan mengganggu kesibukanmu lagi. Aku permisi" Ucap Ara, lantas pergi meninggalkan ruangan yang penuh sesak dengan menahan lelehan air mata yang hampir menyeruak jatuh ke pipi indahnya.

__ADS_1


Leon yang menatap kepergian istri bosnya dengan raut kekecewaan hanya bisa menghela napas kasar. Meskipun Arslan adalah sahabatnya dia tidak bisa ikut campur masalah rumah tangga mereka.


"Tuan, ini berkas kerjasama dengan perusahaan Axlres Group, dan anda juga ada jadwal rapat pukul 4 sore nanti di Nats Cafe" ucap Leon.


"Ah ya, letakan saja di sini, jika sudah selesai kembali saja ke ruanganmu" ucap Arslan malas, entah mengapa Arslan masih terbayang wajah sendu sang istri saat akan meninggalkan ruangannya tadi.


"Baik, Tuan. Saya permisi" ujar Leon.


Saat Leon sudah akan meninggalkan ruangan tiba-tiba Arslan memanggilnya.


"Istri lo pagi-pagi udah dateng ke kantor, nyariin keberadaan suaminya yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Istri lo itu datang dengan wajah khawatir, yang udah nungguin lo sepanjang malam, tapi pas dia bangun batang hidung lo juga gak kelihatan. Sebenarnya ada masalah apa? bukannya hubungan lo sama Ara udah lebih baik?" tanya Leon.


"Kemarin gue dapet kabar kalau Veve sebentar lagi bakalan balik ke Indonesia. Setelah dapat kabar itu sepanjang hari gue kepikiran Veve dan Ara bersamaan. Gue belum bisa ngelupain Veve Leon, tapi gue juga udah ngerasa nyaman dengan kehadiran Ara selama ini. Itu alasan gue gak pulang, gue bimbang, menurut lo gue harus gimana?" ungkap Arslan dengan diakhiri helaan napas beratnya.


"Kalau gue tentu saja dukung istri lo lah. Ara itu perempuan baik-baik, dari awal dia sudah menerima pernikahannya dan bersungguh-sungguh untuk jadi istri terbaik buat lo. Dari sikapnya gue bisa lihat kalau istri lo itu udah jatuh cinta ke suaminya yang labil. lo aja yang bego!" umpat Leon dengan nada malas.

__ADS_1


"Sial, ngapa lu ngatain gue!" balas Arslan sambil melemparkan berkas di tangannya ke arah Leon.


"Lah gue bener. Lo aja yang bego dikasih istri masih muda, cantik, perhatian, yaa tipe istri idaman lah yang susah didapat. Malah lo sia-siain, apa namanya kalau bukan bego!" balas Leon lagi dengan santainya.


"Sial! mana ada gue sia-siain!" balas Arslan yang mulai jengkel dengan perkataan sahabatnya itu.


"Lo gak pulang ke rumah, gak kasih kabar, pas istri lo nyariin dengan segudang kekhawatiran di kepalanya lalu setelah akhirnya bisa ketemu sama suaminya eh malah dicuekin, dan jangan lupa lo sempat bentak Ara walaupun gue tau lo gak sengaja, tapi gue yakin istri lo sedang merasakan kekecewaan yang teramat, padahal dia gak salah, yang salah itu otak lo Arslan. Astaga! Kalau Tante Ratih tahu abis lo dihajar sama nyokap lo." sergah Leon dengan nada Jengkel. Semenjak Leon tahu hubungan pernikahan sahabatnya sudah ada kemajuan, dan dia melihat sikap Arslan yang sebenarnya sudah menaruh hati pada istrinya itu, hanya saja dia masih tidak sadar, Leon sudah yakin kalau Veve pulang, sahabatnya itu sudah bisa tegas pada hatinya, eh malah masih labil.


"Arslan, kita tumbuh besar bersama, gue udah anggap lo saudara gue sendiri, gue amat berharap kehidupan asmara lo sebaik lo menjalankan bisnis. Gini aja, sebelum masalah ini meluas ke mana-mana, mending lo jujur aja sama Ara. Lo jujur tentang apa yang lo rasain sekarang, lo lihat sendiri nanti gimana tanggapan istri yang udah lo sia-sia kemarin. Gue tahu lo berantem kan sama Ara tadi. Jangan sampai lo salah ambil keputusan Arslan, Lo juga harus mastiin Ara di hidup loh seberapa berartinya, kalau akhirnya lo emang mau balik sama Veve yaa silakan toh itu yang bikin lo bahagia, tapi tolong kasih kepastian ke Ara, dia juga berhak dicintai Arslan. Kalau gue di posisi lo, gue akan tegas untuk mempertahankan apa yang udah gue miliki hari ini, bukan mengejar apa yang seharusnya gak gue miliki." ucap Leon yang mencoba untuk memberi saran pada sahabatnya. Bagaimana pun juga, bundanya Arslan meminta bantuan untuk memantau Arslan dan Veve kalau pada akhirnya perempuan itu balik ke negara ini.


Arslan yang mendengar nasihat panjang dari sahabatnya pun, hanya menghela napas berat. Arslan tidak bisa memungkiri apa yang dikatakan Leon itu memang benar, dia pun sadar sikapnya yang tidak tegas pasti akan membawa masalah, tapi di sebagian hatinya dia masih merindukan mantannya, dan sebagian lagi dia tidak ingin kehilangan istri kecilnya.


Ikhlaskan saja, bila ia ingin menjadi alasan kebahagian perempuan lain.


Jika ia takdirmu biarkan Tuhan yang menuntunnya pulang; padamu.

__ADS_1


__ADS_2