
If our love was a fairy tale
I would charge in and rescue you
On a yacht baby we would sail
To an island where we'd say I do
And if we had babies they would look like you
It'd be so beautiful if that came true
You don't even know how very special you are
If our love was a fairy tale
I would charge in and rescue you
On a yacht baby we would sail
To an island where we'd say I do
And if we had babies they would look like you
It'd be so beautiful if that came true
You don't even know how very special you are
You leave me breathless
You're everything good in my life
You leave me breathless
I still can't believe that you're mine
You just walked out of one of my dreams
So beautiful you're leaving me
Breathless
And if our love was a story book
We would meet on the very first page
__ADS_1
The last chapter would be about
How I'm thankful for the life we've made
And if we had babies they would have your eyes
I would fall deeper watching you give life
You don't even know how very special you are
You must have been sent from heaven to earth to change me
You're like an angel
The thing that I feel is stronger than love believe me
You're something special
I only hope that I'll one day deserve what you've given me
But all I can do is try
Every day of my life
Shayne Ward, Breathless
"Manda, Aku tahu aku tidak sempurna kamu pun begitu, tapi jika kita bersama-sama kita bisa saling menyempurnakan. Aku tidak bisa berjanji kalau aku tidak akan membuatmu menangis, tapi aku bisa berjanji dengan seluruh hidupku, aku akan selalu mencintaimu dan berusaha membuat hidup kita bahagia. Amanda maukah kau menikah denganku?" Ucap Nathan dengan tatapan hangat dan penuh pengharapan.
"Ya, ya tentu saja aku mau!" jawab Manda cepat dan langsung memeluk Nathan.
Kau tahu hal yang paling indah di bumi adalah ketika dua hati yang saling mencintai akhirnya menjadi satu. Dalam doa dan perjalanan hidup yang panjang mereka tidak menyerah, terus bersama hingga akhir usia.
Acara lamaran dadakan pun berjalan lancar. Waktu sudah menunjukan pukul 7 malam, Ara baru tiba di depan pintu Apartemennya.
"Semoga Mas Arslan belum pulang. Duh Ra bisa-bisanya gue keasyikan ngobrol sampai lupa suami" gerutu Ara sambil menepuk jidatnya resah.
"Dari mana kamu?" tanya Arslan pada Ara yang sedang menata bahan makanan.
"Ehh itu mas maaf ya Ara pulang telat, tadi Ra dari cafe Sisil terus Ra kelupaan kalau mau beli bahan makanan juga, jadi pulang telat" jawab Ara dengan nada lembut dan menunduk.
"Ciiiih"! umpat Arslan, yang hanya dibalas helaan napas kasar Ara.
"Kamu sudah makan malam belum mas?" tanya Ara. "Sudah!" jawab Arslan ketus.
Mendengar jawaban ketus dari suaminya Ara hanya menggelengkan kepala, ia tetap membuat makanan dan mengajak Arslan tetap makan, Ara tahu kalau suaminya itu punya gengsi yang tinggi.
__ADS_1
"Mas ini kopinya, ada yang bisa Ara bantu lagi gak?" ucap Ara sambil meletakan kopi suaminya.
"Pergilah!" jawab Arslan tanpa memedulikan Ara dan masih sibuk dengan handphone di tangannya.
"Sabar Ra sabar, kutub es memang begitu" gerutu Ara yang sudah berada di kamar dan melanjutkan tugas kampus yang menguras energi.
****
"Ahhh ternyata gadis itu memiliki suara yang indah ketika bernyanyi, senyuman dan suaranya terus meronta di kepala, bisa gila gue kalau kayak gini, baru bertemu tapi sudah merindu lagi" gumam Erwin yang sedang asyik menatap layar ponselnya dengan wajah Ara memenuhi layar di kamar apartemen milikinya.
Jika Erwin sedang melambungkan rasanya jatuh cinta pada mahasiswinya, berbeda dengan Arslan. Dia masih amat kesal saat melihat Ara begitu dekat dengan pemilik Nats Cafe apa lagi Nathan sering mengusap kepala Ara dan tersenyum manis walaupun dia tahu Nathan sudah memiliki kekasih karena ia menonton sampai akhir, tapi tetap saja hatinya jengkel. Dia pun masih bingung dengan hatinya, menyangkal bahwa tidak mungkin seorang Arslan bisa tertarik dengan bocah.
****
Hari ini Ara tidak ada jam kuliah dia sudah berniat ingin merapihkan apartemen saja. Saat semua bagian telah rapih dia ingat kamar suaminya belum di rapikan.
"Ahh tidak apa kali ya aku hanya ingin membersihkan kamarnya saja tidak akan menghilangkan benda-bendanya juga" gumam Ara
Degh! rasanya jantungnya seperti diremas oleh tangan yang tak kasat mata saat pertama kali Ara masuk ke dalam ruangan Arslan dan melihat Foto dengan ukuran besar bergantung di atas dinding.
"Jadi dia perempuan yang terus kau cintai itu mas" lirih Ara melihat foto sepasang kekasih yang sedang tertawa bahagia.
Dengan hati yang terasa perih Ara tetap melanjutkan membersihkan kamar Arslan, dan sesegera mungkin keluar dari kamar itu.
di ruang tv Ara hanya membuang napas secara kasar, "kangen ayah sama bunda, di sini sepi sekali. Apa gue ajak Sisil ke sini aja ya, tapi gue takut mas Arslan marah" gerutu Ara yang mulai bosan sendirian di apartemen.
tiba-tiba dering hape Ara mengagetkannya.
"Halo Mama sayang" sapa Ara.
"Halo sayang, kamu lagi ngapain nih?" tanya nyonya Ratih
"Ra lagi santai aja mah di apartemen soalnya Ra gak ada jadwal ke kampus terus Ra juga gak harus ke toko bunga juga tiap hari hehe. Ada apa mah?"
"ahh bagus sekali kalau gitu, kamu ke rumah mamah dong Ra mama bosan banget nih di rumah" ujar nyonya Ratih penuh harap.
"Okeh Mah, Ra izin ke mas Arslan dulu ya, nanti Ra langsung jalan ke rumah mama" jawab Ara
"Oke sayang ati-ati ya nanti di jalan" jawab nyonya Ratih senang.
Ara.
"Mas tadi mama nelpon Ara, katanya mama bosan dan minta Ra main ke rumah, bolehkan?" tanya Ara.
Arslan.
__ADS_1
"Ya"
"Cih dasar es balok, gak bisa apa jawab yang lebih singkat lagi" umpat Ara kesal setelah menerima balasan dari sang suami.