PETUALANGAN CINTA

PETUALANGAN CINTA
Episode 14


__ADS_3

Setelah melihat kepergian Arslan, nyonya Ratih pun langsung menyerbu Ara dengan banyak pertanyaan.


"Apa Arslan selalu kayak gitu Ra selama ini?" tanyanya


"Iya mah, memangnya ada yang aneh mah?" tanya Ara balik.


"Ohh enggak sih, papaaa kita akan punya cucu sebentar lagi" teriak mama Ratih sambil memeluk suaminya yang justru membuat Ara malu.


"Hahha, bagus bagus papa suddah gak sabar nunggu kabar itu Ra" Sela Papa Andhi yang membuat Ara menggelengkan kepala dan meninggalkan mereka untuk membuatkan kopi suaminya itu.


"Gimana mau ngasih cucu orang pabriknya juga belum dibobol" gumam Ara sambil menggelengkan kepala.


"Mas, Ra tidur di mana ya soalnya gak ada sofa kan, kalau di lantai dingin banget mas" tanya Ara.


"Ini tempat tidur luas Ra, tenang aja aku nggak akan tertarik sama tubuh bocahmu itu" Jawab Arslan tanpa peduli.


"Bagian yang mana sih mas yang terlihat bocah, coba sini kamu lihat bener-bener, orang udah sangat proposional dan sexy begini kok" balas Ara sambil mendekatkan tubuh nya di hadapan Arslan, yang membuat Arslan tertegun mengingat tubuh polos Ara waktu itu.


"Lagian biar bocah juga bisa nampung bocah kali mas" gerutu Ara pelan yang sudah merebahkan diri di sebelah Arslan dan menarik selimut.


Arslan yang mendengarnya pun sedikit kaget dan tersenyum tipis.


"Aku tahu kamu sudah berharapkan buat cepet-cepet nampung bocah, tapi aku nggak tertarik tuh nyumbangin bocahnya." ejek Arslan pada Ara dengan berbisik di telinga Ara.


"Ciiih, kalau kamu gak mau juga gak rugi aku mas, lagi pula aku punya banyak teman kampus yang masih muda yang naksir aku loh mas, mending sama salah satu di antara mereka aja nanti setelah kita pisah, atau dengan dosen muda di kampus Ara keren-keren loh Mas." bantah Ara dengan nada malas.

__ADS_1


Seperti ada yang meremas jantungnya saat mendengar penuturan Ara tadi, terasa sesak di hatinya, tapi Arslan belum menyadarinya.


"Jangan bikin malu, jaga sikapmu selama di luar!" jawab Arslan dengan nada kesal


Ara yang sudah malas berdebat pun mendiamkan saja seolah-olah sudah bermimpi melalang buana.


Keesokan harinya Ara sudah bersiap mengantarkan kedua mertunya ke bandara.


"Ra mama sama papa berangkat ya, kalau ada apa-apa inget kamu harus telpon mama atau papa. Baik-baik ya sama Arslan" ucap nyonya Dira sambil memeluk menantu kesayangannya itu.


"Iya Ra, yang akur ya sama Arslan kalau bisa cepet kasih papa cucu" sela Tuan Andhi sambil tertawa


"Papa sama mama tenang aja, ingat papa sama juga harus sehat-sehat ya di sana kalau sudah bosan cepet pulang ke Indo oke" jawab Ara yang di balas anggukan dan pelukan nyonya Dira


Siang ini hanya Ara yang mengantarkan ayah dan bunda mertuanya ke bandara karena Arslan harus datang untuk rapat. Setelah memastikan ayah dan mama mertuanya memasuki pintu keberangkatan Ara pun meninggalkan Bandara dan melajukan mobilnya ke Ayys Flowers setelah ia meminta izin pada suaminya. Dia ingin membawa beberapa bunga untuk dihias di apartemen agar terlihat lebih enak di pandang mata.


"Eh Pak Erwin, halo juga" jawab Ara yang kaget karena bertemu dengan Dosennya Dingin itu lagi.


"Apa kamu sedang sibuk Ra? aku ingin mengajakmu makan sebentar di cafe depan itu" ujar Erwin


"Ahh maaf pak, cuma saya punya beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan lagi pula saya sudah makan" jawab Ara sopan dengan senyum indahnya


"Baiklah! lain kali saja ya, tapi kamu tidak boleh menolak lagi ya" balas Erwin dengan senyum manis yang membuat Ara tertegun.


Mereka berdua masih asyik terus mengobrol dengan saling memamerkan senyum cerah masing-masing, sehingga membuat orang berpikir mereka adalah sepasang kekasih dan tanpa Ara tahu ada sorot mata tajam yang terus menatap ke arahnya, sorot mata penuh kekesalan.

__ADS_1


"Apa kamu sedang sibuk Ra? aku ingin mengajakmu makan sebentar di cafe depan itu" ujar Erwin


"ah maaf pak, cuma saya punya beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan lagi pula saya sudah makan" jawab Ara sopan dengan senyum indahnya


"Baiklah! lain kali saja ya, tapi kamu tidak boleh menolak lagi ya" balas Erwin dengan senyum manis yang membuat Ara tertegun.


Mereka berdua masih asyik terus mengobrol dengan saling memamerkan senyum cerah masing-masing sehingga membuat orang berpikir mereka adalah sepasang kekasih dan tanpa Ara tahu ada sorot mata tajam yang terus menatap ke arahnya, sorot mata penuh kekesalan.


Ara yang baru pulang dan hendak ke kamar langsung mematung mendengar suara berat dari laki-laki yang sudah berhasil mengusik hatinya.


"Apa harimu menyenangkan? Apa sungguh asyik berpacaran di toko bungamu itu?" ujar Arslan dengan nada ketus


"Mas, siapa yang berpacaran mas?" jawab Ara sambil melangkahkan kakinya mendekati suami dinginnya.


"Bukannya di toko bunga kamu bermesraan dengan laki-laki, ingat ya Ra kamu sudah menikah, jaga sikapmu, jangan mempermalukanku!" sergah Arslan dengan nada tinggi


Ara berpikir laki-laki siapa yang dimaksud oleh suaminya, setelah mengingat-ingat mungkin dosen yang tadi asyik ngobrol dengan Ara di toko bunganya.


"Mas, kamu salah sangka. Dia itu Pak Erwin beliau dosen di kampusku, dia ke toko buat mesen bunga kok kebetulan aja aku ada di sana" jawab Ara.


"Ciihh! Alasan!" umpat Arslan dengan jengkel lalu pergi ke kamarnya dan meninggalkan Ara begitu saja.


"Mas, mas, aku seriusan mas, aku gak ada hubungan apa-apa sama dia atau sama laki-laki mana pun selain denganmu!" ujar Ara di depan pintu kamar suaminya, berharap suaminya mau membuka kan pintu.


Arslan hanya diam menahan kesal, dia sendiri masih bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya, dia masih menyangkal bahwa dia sudah tertarik dengan istrinya itu.

__ADS_1


Kita sering sekali tertipu mengenai perasaan, merasa yang paling berhak memiliki padahal untuk berkata jujur dengan isi hati saja masih enggan untuk diucapkan, merasa kalau penghalang menjelma begitu hebat dalam hubungan kita, sedangkan penghalang itu hanya dinding ilusi yang diciptakan di kepala sendiri.


__ADS_2