
"Arslan, kita tumbuh besar bersama, gue udah anggap lo saudara gue sendiri, gue amat berharap kehidupan asmara lo sebaik lo menjalankan bisnis. Gini aja, sebelum masalah ini meluas ke mana-mana, mending lo jujur aja sama Ara. Lo jujur tentang apa yang lo rasain sekarang, lo lihat sendiri nanti gimana tanggapan istri yang udah lo sia-sia kemarin. Gue tahu lo berantem kan sama Ara tadi. Jangan sampai lo salah ambil keputusan Arslan Lo juga harus mastiin Ara di hidup loh seberapa berartinya, kalau akhirnya lo emang mau balik sama Veve yaa silakan toh itu yang bikin lo bahagia, tapi tolong kasih kepastian ke Ara, dia juga berhak dicintai Arslan. Kalau gue di posisi lo, gue akan tegas untuk mempertahankan apa yang udah gue miliki hari ini, bukan mengejar apa yang seharusnya gak gue miliki." ucap Leon yang mencoba untuk memberi saran pada sahabatnya. Bagaimana pun juga, bundanya Arslan meminta bantuan untuk memantau Arslan dan Veve kalau pada akhirnya perempuan itu balik ke negara ini.
Arslan yang mendengar nasihat panjang dari sahabatnya pun, hanya menghela napas berat. Arslan tidak bisa memungkiri apa yang dikatakan Leon itu memang benar, dia pun sadar sikapnya yang tidak tegas pasti akan membawa masalah, tapi di sebagian hatinya dia masih merindukan mantannya, dan sebagian lagi dia tidak ingin kehilangan istri kecilnya.
Leon pun meninggalkan ruangan sang CEO yang masih termenung dengan kisah asmara yang menurut Leon sebenarnya juga gak pelik-pelik amat lah, sahabatnya aja yang bikin keadaan asmaranya menjadi rumit.
Sepeninggalan Leon, Arslan menyandarkan tubuhnya di kursi sambil memijat kepalanya yang terasa pusing. Tak lama ia membuka ponselnya bermaksud untuk menanyakan keberadaan istri kecilnya. Namun ia urungkan, ia berpikir nanti saja ia akan bicara jujur pada istrinya itu ketika sudah di rumah, tanpa sadar Arslan kini sedang melihat-lihat foto kebersamaan mereka berdua, tanpa disadari sudut bibirnya melengkung indah saat melihat foto sayang istri yang belepotan dengan adonan kue lalu ia mengenang kejadian hari itu.
Setelah Ara meninggalkan kantor suaminya, dengan hati yang memendam kekecewaan, Ara mengemudikan mobilnya ke Panti Asuhan tempat di masa kecilnya. Sebenarnya ia sangat ingin pulang ke rumah orang tuanya, tapi Ara tak ingin orang tuanya tahu kalau ia sedang bersedih hati.
"Halo sayang-sayangnya kakak" ujar Ara di halaman bermain anak-anak panti.
"Yeay Ka Araaaa, dataang!" teriak anak-anak panti dengan begitu antusiasnya langsung menghampiri Ara.
"Ka Ara kami rindu, sudah lama kakak tidak datang" ucap Shima anak berusia 7 tahun dengan badan gempalnya yang langsung disambut anggukan temannya yang lain, dan langsung memeluk Ara berkeliling.
"Hahaha, yaa sayang Ka Ara juga rindu sekali dengan kalian, maaf ya baru datang" ujar Ara yang berjongkok dan membalas pelukan anak-anak.
"Emm kakak tidak membawa hadiah untuk kalian, bagaimana ini?" tanya Ara dengan menatap mata satu per satu anak-anak.
"Tidak apa Kak, kakak datang saja kami sudah sangat bahagia, lagi pula mainan yang pernah kakak kasih masih kami simpan" Ujar Nania yang berusia 12 tahun
__ADS_1
"Ya benar kata Kak Nia, kami lebih senang jika bisa melihat kakak" timpal Rio sambil mengusap pipi Ara dan menatap matanya, Rio merasakan ada kesedihan yang menggantung di sana. Rio adalah anak panti yang paling dekat dengan Ara.
Bagi Rio Ara seperti malaikat yang Tuhan kirimkan untuknya. Saat Rio masih berusia 7 tahun dia mengalami kebutaan, dia berteman dalam gelap, menjadi sosok pendiam, dan sulit didekati. Hingga satu tahun berlalu akhirnya Ara berhasil mencarikan donor mata dengan bantuan ayahnya dan setelah operasi dilakukan, hal pertama yang dicari oleh Rio adalah Ara, sebelum dia membuka matanya ia meminta pada dokter agar orang yang pertama kali bisa dia lihat adalah Ara. Semenjak itu apa pun yang Ara bilang padanya maka akan dipatuhi oleh Rio sepenuh hati, bahkan pernah saat Ara tidak datang ke Panti selama 3 bulan, Rio diam-diam datang ke Ayys Flowers dengan naik angkutan bahkan pernah berjalan kaki hanya demi melihat Ara meskipun hanya dari kejauhan, karena Rio tidak berani menghampiri Ara, dan hal itu di ketahui oleh ibu panti saat Rio sering terlambat pulang sekolah.
"Oh ya ampun! adik-adik kakak manis-manis sekali sih, baiklah kakak akan pesan makanan untuk menemani kita setelah bermain, oke?" ujar Ara, yang disambut teriakan hore oleh anak-anak itu.
Setelah sepanjang hari bermain dengan anak-anak panti untuk mengalihkan kekecewaan pada suaminya, kini Ara sudah berada di Apartemen, sudah menyiapkan semua kebutuhan suaminya. Meskipun masih kecewa tapi Ara berusaha untuk tetap menjalan perannya sebagai istri.
Saat Ara sedang asyik mengerjakan tugas kuliahnya, Ara mendengar pintu Apartemen dibuka, yang menandakan kalau suaminya akhirnya pulang.
Ara langsung ke dapur dan menyiapkan makan malam.
"Makanlah, aku akan ke kamar" ucap Ara setelah menyiapkan makan untuk suaminya.
"Aku sudah makan" balas Ara yang sudah melangkah ke kamarnya.
Arslan hanya diam saat melihat Ara sudah memasuki kamarnya, Arslan pun menghabiskan makanannya ia tidak ingin Ara bertambah kesal mengetahui ia tak menghabiskan makanannya, walaupun ia sedang tidak bernafsu untuk makan.
"Raaa, bisa aku masuk sebentar, mas pengen bicara Ra" Ucap Arslan dari balik pintu kamar Ara.
"Mau bicara apa mas?" tanya Ara yang sudah membukakan pintu, Arslan pun langsung menerobos masuk ke kamar Ara tanpa izin yang membuat Ara hanya menghela napas malas.
__ADS_1
"Raa, mas minta maaf ya sudah bentak kamu tadi di kantor mas enggak sengaja Ra, sungguh!" ucap Arslan yang sudah menggenggam tangan Ara dan mengajaknya duduk berhadapan, Ara hanya menatap datar ke arah suaminya tanpa ada keinginan untuk menjawab.
"Sepanjang aku hidup bersama Ayah dan Bunda mereka sekalipun tidak pernah meninggikan suaranya kepadaku, meskipun aku hanya seorang anak adopsi tapi aku tidak pernah mereka bentak, bahkan saat aku tinggal di panti asuhan, ibu panti dan para pengurus tidak pernah membentakku mas. Bisakah jika kau punya masalah denganku jangan pernah meninggikan suaramu, rasanya sangat menyakitkan, Mas" ucap Ara dengan nada sendu.
"Maaf Ra, sungguh Mas minta maaf, maaf kalau Mas gak bisa jaga emosi Mas, saat itu mas pikiran mas sedang kalut, mas bingung dengan perasaan Mas saat ini." ujar Arslan lagi saat mendapati Ara hanya menatap datar.
"Apa yang membuatmu merasa bingung, Mas? balas Ara tanpa menanggapi permintaan maaf suaminya.
Setelah diam sejenak akhirnya Arslan pun memberanikan diri untuk jujur.
"Veve, mantan kekasihku akan pulang ke Indonesia" ucap Arslan sambil menarik napas sambil melihat reaksi Ara
"Lantas?" jawab Ara datar.
"Mas gak tau Ra, Mas gak ingin kehilangan kamu, mas tahu kamu sudah berusaha jadi istri terbaik buat Mas, meskipun di awal Mas sendiri yang memberikan kontrak pernikahan tapi setelah tinggal bersama Mas ngerasa nyaman, dan butuh kamu Ra. Hanya saja saat, emm. Mas mendengar kabar itu hati Mas gelisah, Mas.. eeemm... Mas"
"Mas masih merindukan Veve?' ucap Ara yang langsung memotong ucapan suaminya.
"Apa itu alasan yang membuat mas gak pulang tanpa kabar? Apa mas tau bagaimana khawatirnya aku saat aku terbangun di ruang tamu dan langsung mencari keberadaanmu di setiap sudut apartemen ini, tapi aku tidak bisa menemukanmu? Aku begitu cemas, takut jika terjadi hal buruk padamu dan aku terlambat mengetahuinya, dan alasan dari sikapmu yang seenaknya itu karena mantan kekasihmu akan pulang dari luar negeri?" cecar Ara .
Arslan pun menganggukkan kepala tanpa berani menatap mata istri kecilnya dan mengatakan "Maaf Ra, Maaf" ucap Arslan dengan nada bersalah. Ara pun hanya menatap sendu laki-laki di hadapannya. Hatinya porak poranda mengetahui suaminya merindukan mantan kekasihnya. Usahanya selama tiga bulan ini nyatanya tidak berhasil menyingkirkan nama masa lalu itu.
__ADS_1
Pulang adalah kata paling nyaman dari lelahnya memaksa bertahan dari segala keadaan.