
Suasana menjadi begitu hening, semua sibuk dengan pikiran masing-masing, hingga Ara akhirnya memecahkan keheningan.
"Mas, apa arti aku di hidupmu mas?" tanya Ara
"Ra, Mungkin mas belum mencintai kamu, tapi Mas sudah merasa nyaman berada di dekat kamu, kamu sama pentingnya seperti keberadaan Veve Ra, Mas juga gak sanggup kalau harus kehilangan kamu" jawab Arslan dengan nada lirih.
Ara yang mendengar penuturan suaminya hanya tersenyum kecut. Mungkin dia harus bisa membuat suaminya tegas dengan pilihannya, Ara bertaruh kalaupun akhirnya dia tidak dipilih biarlah, bagaimana pun juga suaminya berhak bahagia.
"Kamu harus tegas dengan perasaanmu mas, apakah karena kamu amat mencintai dia atau hanya karena terbawa rasa yang belum usai di masa lalu. Kamu tidak bisa mendapatkan kami secara bersamaan. Kamu harus memilih aku atau mantan kekasihmu. Jika kamu tidak bisa tegas dengan perasaanmu, kita bertiga-lah yang akhirnya akan terluka. Kalau kamu ingin merajut kembali kenangan masa lalumu, segeralah ceraikan aku, aku yang akan menjelaskan kepada keluargaku dan keluargamu, lagi pula aku hanya wanita penebus utang untuk ayahku dan awal pernikahan kita kamu sendiri yang membuat kontrak pernikahan untuk satu tahun, tapi kalau pilihanmu akhirnya tetap bersamaku melanjutkan pernikahan kita, tinggalkanlah semua kenangan tentang mantan kekasihmu. Aku tidak ingin kamu berhubungan lagi dengan masa lalumu, kalau pun di masa depan ada keadaan yang mengharuskan kalian bertemu, maka jujurlah terlebih dahulu padaku, aku akan menemanimu bertemu dengannya." Ujar Ara dengan menahan rasa sakit di hatinya saat memutuskan memberikan pilihan pada suaminya.
Arslan tidak mampu berkata-kata, ada rasa sakit di hulu hatinya saat Ara mengucapkan kata cerai, ia hanya bisa menatap Ara meskipun ekspresi datar yang ditunjukan Ara, tapi Arslan dapat melihat kesedihan di bola mata istrinya.
"Pikirkanlah Mas, selama kamu belum memberi keputusan aku akan mengambil jarak denganmu agar kamu benar-benar yakin siapa yang ingin kamu perjuangkan, siapa wanita yang akan kamu pilih untuk menemanimu di masa depan, apa pun pilihanmu nanti aku akan tulus mendukungmu" Ucap Ara yang menepuk pundak Arslan lantas memintanya keluar dari kamarnya.
Arslan kini hanya memandang kosong ke arah luar dari jendela kamar apartemennya. Pikirannya berkelana mengenang kenangan bersama mantan kekasihnya dan juga kenangan bersama Ara.
"Keputusan apa yang akan aku ambil, hatiku tidak siap jika harus kehilangan Ara tapi Veve aku sangat merindukannya" gumam Arslan.
Jika Arslan sedang sibuk dengan segala kenangan yang berputar dalam ingatan, Ara juga sedang menguatkan hatinya.
"Pilihan apa pun yang akhirnya dipilih oleh Mas Arslan, aku harus siap. Aku sangat berharap Mas Arslan memilih mempertahankan pernikahan kami Tuhan, aku mengambil sikap ini demi kejelasan hubungan kami, aku tidak boleh lemah, aku akan mencoba memberi jarak pada hubungan kami meskipun itu amat menyakitkan untukku, tapi jika dengan memberi jarak Mas Arslan bisa menyadari keinginan hatinya dan arti keberadaanku, maka aku akan menahan semua rasa menyesakkan itu. Ayah Bunda, Ra sangat merindukan kalian. Jika akhirnya Ra tidak bisa mempertahankan pernikahan ini semoga Ra bisa mengobati kekecewaan di hati Ayah dan Bunda." ucap Ara saat akan memutuskan untuk mengistirahatkan tubuh, hati dan pikirannya.
__ADS_1
Arslan bangun kesiangan, entah pukul berapa akhirnya ia bisa terlelap, ia langsung membersihkan diri dan memakai pakaiannya, meskipun sedikit kerepotan, karena selama ini Ara lah yang menyiapkan semua kebutuhannya, kecuali kebutuhan nafkah batin.
"Kenapa Ra gak bangunin ya, apa dia juga kesiangan" gerutu Arslan yang sedang memakai jasnya, dan langsung bergegas keluar kamar untuk membangunkan Ara.
Saat Arslan keluar ruangan sudah begitu sunyi, dan sarapan sudah tertata rapi di meja.
"Oh Ra, udah bangun, apa lagi mandi kali ya" gumam Arslan yang langsung ke arah meja makan.
"Aku akan pulang terlambat" pesan yang tertera di secarik kertas yang di letakan di atas kotak makan milik Arslan.
Arslan hanya membuang napas kasar, kini dia percaya apa yang diucapkan istri kecilnya akan terjadi, Ara mulai bersikap dingin padannya. Arslan pun membawa bekal makannya dan langsung menuju ke kantor dengan perasaan yang sulit dijelaskan, dia seperti melewatkan atau kehilangan sesuatu.
"Woi Raaaa! bengong aja lo pagi-pagi" teriak Sisil di telinga Ara yang sedang melamun.
"Ya, lagi lu sih pagi-pagi tuh jangan menekuk wajah gak baik, nanti cepet penuaan dini haha" ejek Sisil.
"Bodo amat!" balas Ara dengan malasnya.
"Hahaha, coba lu cerita sini sama gue ada apa? gak biasanya pagi-pagi gini lu ngelamun, gak dapet jatah pagi?" goda Sisil
"Suee lu!" jawab Ara sambil menjitak kepala sahabatnya.
__ADS_1
"Sudah jangan melamun lagi, setelah jam pertemuan kuliah kita berakhir lu ceritain ke gue ada masalah apa, walaupun gue gak bisa bantu seenggaknya gue bisa jadi teman mendengarkan dan hati lu yang sesak itu akan sedikit lega setelah bercerita" ucap Sisil sambil menepuk bahu Ara
"Thanks Sil" ucap Ara tulus, yang dibalas pelukan oleh Sisil.
Saat Sisil dan Ara akan keluar dari kelas, tiba-tiba suara Dosen Killer mereka memanggil nama Ara yang membuat langkahnya terhenti.
"Iya Pak Erwin, ada apa ya?" tanya Ara
"Saya ingin mengajak kamu makan siang, Ra" jawab Erwin sambil memasang senyum manisnya.
Sisil yang melihat hal itu pun penasaran dengan reaksi dari sahabatnya itu.
"Terima kasih untuk ajakan Bapak, tapi maaf sekali saya tidak bisa, bukan karena sibuk tapi saya sudah menikah Pak, saya tidak ingin ada masalah ke depannya" ucap Ara.
Dosen Erwin yang baru mengetahui hal ini pun terkejut, dia tidak menyangka gadis kecil di hadapannya sudah memiliki pemilik.
"Ahh, maaf kalau begitu, tapi mungkin kita masih bisa sesekali makan bersamakan? tidak berdua mungkin bisa bersama Sisil" bujuk Erwin lagi, Ara hanya menatap bingung dengan reaksi dosen di hadapannya ini.
"Jangan salah paham Ra, saya memang punya ketertarikan padamu, tapi saat saya tahu kamu sudah menikah saya juga tidak ada niatan untuk merebut kamu kok, kecuali ada kondisi lain yang bisa menjadi alasan saya bersikap seperti itu, tapi saat ini saya hanya berharap kamu bisa menganggap saya sebagai teman di luar kampus, tidak ada niatan lainnya." jelas Erwin yang takut Ara berpikir hal buruk tentangnya.
Ara yang bisa merasakan kebenaran dari kata-kata dosen itu pun akhirnya hanya tersenyum dengan tulus dan mengangguk.
__ADS_1
Mencintaimu serupa menggenggam batang mawar berduri, meski tujuannya indah, tapi jalan untuk menggapaimu begitu menyakitkan.