
"Langkah pertama yang sukses, semangat Ra" ucap Ara dalam hati
"Waawww laki-laki itu sangat keren saat menari di dance pad!" ujar Ara dengan kagum.
Arslan yang mengetahuinya pun mendadak kesal.
"Yang seperti itu sudah kau anggap keren, ciihh apanya yang keren, lihat akan aku tunjukan yang seperti apa keren itu!" sergah Arslan yang sudah bersiap ke Dance Pad dan langsung menari sesuai musik dan arahan dari layar.
Ara yang menyaksikannya pun hanya mengulum senyum. "Ahh ternyata kau cemburu mas"
"Bagaimana, menurutmu siapa yang lebih keren?" tanya Arslan setelah selesai menari dengan kepercayaan diri lebih dari seratus persen.
"tentu saja kau mas, suamiku yang paling keren! Laki-laki tadi tidak ada apa-apanya jika dibandingkan denganmu" ucap Ara dengan penuh kekaguman, sehingga membuat Arslan semakin bertingkah sombong dan sok keren.
Setelah mereka berdua lelah dengan permainan dan memilih melanjutkan dengan mengisi ulang tenaga di restoran mewah.
"Apa kamu sudah selesai, Mas? tanya Ara
"Sudah Ra, kenapa?" jawab Arslan
"Bagus, ayo kamu bayar dan kita keluar melanjutkan kencan kita hehe" jawab Ara asal
"Apa kamu tidak lelah Ra, kita sudah memainkan banyak permainan loh" jawab Arslan yang masih heran dengan semangat istrinya itu yang tak kunjung lelah, padahal dia sendiri juga sudah lelah walaupun dia menikmati kebersamaan mereka.
"Siapa juga yang mau main kayak tadi mas, aku mau ajak kamu nonton hehe" jawab Ara sambil memasang senyum manisnya.
__ADS_1
Akhirnya mereka pun melangkahkan kaki ke bioskop dengan tetap saling bergandengan tangan.
"Aku gak mau mas!, kita nonton film komedi aja mas" ucap Ara
"Enggak Ra gak seru, pokoknya film horor" jawab Arslan. Sebenarnya Arslan juga tidak suka film horor dia lebih menikmati film action atau komedi tapi saat melihat Ara yang keukeuh menolak nonton film horor, ide jahil pun muncul di kepalanya dan memaksa untuk menonton film horor saja.
Akhirnya Ara pun hanya mengangguk saja, mau bagiamana lagi, jika penguasa sudah bertitah, maka hamba hanya bisa berpasrah.
Sepanjang pemutaran film Ara hanya bisa mengelus dada, sesekali ia memekik ketakutan atau memeluk Arslan saat hantu tiba-tiba memenuhi layar proyektor, dan Arslan sangat menikmati ekspresi ketakutan yang ditunjukan oleh Ara, justru dia malah sering tiba-tiba memeluk Ara seolah-seolah menenangkan Ara dari ketakutannya padahal mah modus aja dia itu.
"Aku tidak mau lagi menonton film horor sumpah!" umpat Ara kesal sambil membuka pintu apartemen.
"Dasar payah! bocah bocah" ledek Arslan.
"Bodo amat, aku nggak peduli dikatain bocah juga cuma gara-gara gak berani nonton film horor" jawab Ara yang sudah bersiap masuk ke kamarnya.
"Arrggghh kau menyebalkan maass!!!" Teriak Ara sambil memukul dada Arslan.
"huh! aku tidak takut!" sergah Ara yang langsung masuk ke kamar dan menutup pintunya secara keras, dan membuat Arslan tertawa lepas dengan sikap Ara yang pura-pura tidak ketakutan.
"Hahaha gadis ini benar-benar membuatku gemas" ujar Arslan yang memilih rebahan di sofa ruang tamu.
"Apa aku belajar membuka hatiku saja untuk Ara, bagaimana pun kami juga sudah menikah, tapi jika Veve kembali aku tidak yakin tidak akan goyah" ucap Arslan sendu sambil menegak minuman kaleng di tangannya.
Sudah sejak subuh Ara bangun dan membersihkan apartemen lalu membuat sarapan, meskipun ini masih hari libur tapi gara-gara suaminya kemarin mengajaknya menonton film horor sepanjang malam Ara jadi sulit tidur, ia jadi sering membayangkan hantu yang muncul di layar proyektor kemarin.
__ADS_1
"Ah sial! aku tidak akan pernah mau menontonnya lagi meski harus dihukum sekali pun, huh lupakan Ra lupakan!" umpat Ara yang sedang asyik memotong sayuran dan daging.
Setelah masakannya selesai Ara pun bergegas mandi dan membangunkan suami malasnya itu, yaa setelah tinggal bersama dan mulai semakin dekat Arslan adalah sosok yang susah dibangunkan saat tidur.
"Mas ayo bangun mas, aku sudah buat sarapan, kalau kau tidak bangun aku akan menghabiskan makanannya sendiri" ujar Ara yang terus mengetuk pintu kamar Arslan.
Melihat tidak ada tanda-tanda suaminya bangun, Ara pun mencoba untuk membuka pintu kamar yang ternyata tidak dikunci. Saat Ara masuk ke dalam kamar suaminya, ia sedikit terkejut karena sepengetahuannya kamar ini penuh dengan foto mantan kekasih suaminya, tapi sekarang tidak ada satu pun.
"Kemana foto-foto itu? apa Mas Arslan sudah mulai bisa menerima pernikahan ini ya?" ucap Ara dalam hati. Ara merasa senang jika benar Arslan mulai menerima pernikahan ini, ia berharap kontrak pernikahan itu bisa dibatalkan suatu hari nanti.
Ara menatap lekat wajah suaminya itu. "Mas semoga kamu bisa pelan-pelan menerima aku, dan melupakan mantanmu itu" gumam Ara
"Mas, mas, bangun yuk mentang-mentang libur, ayuk bangun, aku sudah buatkan sarapan" ucap Ara sambil menggerakkan bahu suaminya.
"Hemmm, Ra. bentar lagi ya aku masih ngantuk nih" jawan Arslan dengan suara khas bangun tidur.
"Tapi ini sudah jam 9 mas, mau sampai jam berapa kamu tidur, bangun dulu mandi dan makan setelah itu terserah deh kamu mau tidur atau guling-guling di kamar" jawab Ara yang masih terus menggoyangkan bahu suaminya itu.
"Aish, Ra, kau benar-benar berisik dan menyebalkan!." gurutu Arslan yang akhirnya memilih bangun dari pada harus mendengarkan ocehan yang lebih panjang lagi.
Melihat suaminya bangun dan langsung melangkahkan kaki kemar mandi, Ara pun hanya menggelengkan kepala saja.
"Baiklah, mari kita bereskan kamar ini dulu, selagi mas Arslan masih mandi" gumam Ara
Ara pun merapihkan kamar, lalu menyiapkan baju santai yang akan dipakai suaminya itu.
__ADS_1
Cup... satu kecupan tiba-tiba mendarat di pipi Ara.
Jika usahaku telah melampaui batas kuasaku, biarlah takdir dan doa bertarung di langit sana. Katanya, nanti akan kau dekap untuk apa yang telah kau harap dari setiap perjuangan yang telah terlewat.