
Ada banyak cara mengekspresikan setiap rasa yang terjalin indah dalam sanubari. Rindu misalnya. Rindu adalah ketidakmampuan. Kita tidak mampu mendekap erat selamanya, tidak mampu menjadikannya selalu di sisi, serta tidak mampu mengatakan tetap tinggal meski ingin.
Siang yang cerah telah berganti malam penuh dingin dan penantian. Ara yang sudah menyiapkan makan malam dan ingin menyambut suaminya pulang kerja seperti biasanya, masih setia di ruang tamu meski jarum jam terus berputar dan menunjukkan pukul 23.15 wib. Namun, suaminya tak kunjung pulang.
"Kenapa Mas Arslan belum pulang juga ya, biasanya ngabarin kalau pulang telat apa ada rapat mendadak, tapi ini sudah larut malam" gumam Ara yang berusaha menahan rasa kantuk dan lelahnya yang pada akhirnya Ara menyerah dan tertidur di ruang tamu.
Hingga pagi menjelang gadis kecil yang tertidur di ruang tamu pun bangun dan kecewa mendapati dirinya masih berada di tempat yang sama saat menanti kepulangan suaminya.
"Apa Mas Arslan gak pulang ya semalam? kok aku masih di sini" gumam Ara sambil bangun dan mencoba mencari suaminya, siapa tahu suaminya ada di kamar atau ruangan lainnya, dan hasil akhirnya tetap sama mengecewakan, Ara tidak bisa menemukan suaminya, bahkan ia menelepon berulang kali pun tetap tidak ada jawaban, akhirnya ia menyegerakan untuk bersiap dan mendatangi kantor suaminya, ia amat khawatir bila ada hal buruk pada suaminya tanpa sepengetahuannya.
"Selamat pagi Nona, anda ada keperluan apa ya?" tanya Resepsionis muda dengan begitu ramahnya.
"Saya mau ke ruangan Bapak Arslan Bwana, apakah beliau sudah tiba?" tanya Ara
"Maaf, Nona apa Nona sudah membuat janji? Beliau belum tiba Nona" jawab sang resepsionis.
"Apa Sekretaris Leon sudah ada di ruangan? tolong katakan pada beliau Ayyara Anggara menunggu di lobby" pinta Ara lagi
"Baik Nona, mohon tunggu sebentar ya" ucap resepsionis tersebut dan langsung men-dial nomor ruangan sang sekretaris bos.
"Nona, silakan duduk di sana, Pak Leon akan segera tiba, mohon ditunggu Nona" ucap resepsionis dengan begitu sopan.
"Baik, terima kasih ya" jawab Ara dengan tak kalah ramah.
__ADS_1
Tidak lama sepeninggalan resepsionis tadi, sosok yang ditunggu Ara akhirnya tiba juga.
"Selamat datang Nyonya Ara, ada yang bisa saya bantu?" tanya Leon pada Ara setelah membungkukkan badan tanda hormat.
Para pegawai yang ada di sana pun terkejut, mereka sedang berpikir siapakah nona cantik dan ramah itu, mengapa Sekretaris bos bisa menghormatinya, banyak spekulasi di kepala mereka sedangkan orang yang digosipin santai saja tidak peduli pada tatapan dan juga bisikan.
"Apa Mas Arslan ada pekerjaan di luar dan mengharuskan tidak bisa pulang?" tanya Ara to the point.
"Tidak Nyonya, bagaimana kalau Nyonya tunggu di ruangan Tuan Arslan, beliau mengabari saya kalau akan datang terlambat" jawab Leon, yang sebenarnya juga sedang menutupi keterkejutannya mendapati sang bos tidak pulang ke rumah.
"Ah baiklah, tolong antarkan saya ya" pinta Ara, yang langsung di arahkan oleh Leon ke ruang sang pemilik perusahaan.
Setelah berada di ruangan sang CEO dan Ara memutuskan untuk melihat-lihat isi ruangan setelah puas ia pun duduk di kursi kebesaran pemilik perusahaan, entah apa pasalnya, Ara membuka laci meja begitu saja, yang pada akhirnya menimbulkan luka di hatinya. Di laci itu ada foto yang tersimpan rapi dan foto itu adalah foto mantan kekasih suaminya, Ara hanya menatap lekat foto itu hingga kehadiran Sekretaris Leon yang membawakan minuman menyudahi tatapannya.
Ara pun berjalan ke arah sofa sambil menampilkan senyum tulusnya.
"Jika hanya berdua atau sedang bersama mas Arslan, dan tidak sedang waktu bekerja, Kak Leon bisa memanggil saya dengan nama saja, lagi pula kak Leon juga kan sahabatnya Mas Arslan kan" pinta Ara yang memang mengetahui kedekatan antara suaminya dan sekretarisnya itu.
"Maaf Nyonya, tapi saya merasa tidak sopan" jawab Sekretaris Leon walaupun dia senang istri sahabatnya tidaklah gila penghormatan.
"Santai saja Kak, tapi aku akan tetap panggil dengan sebutan kak Leon ya, gimana pun umurku jauh lebih muda, kita jarang sekali bertemu jadi aku suka lupa untuk mengubah panggilan kak Leon" jawab Ara sambil tertawa pelan.
"Baiklah, sesuai kemauan nyonya saja" jawab Leon sambil tersenyum.
__ADS_1
"Kak Leon aku mau tanya, sebenarnya Mas Arslan pergi ke mana? tanya Ara
"Aku kurang tahu juga Ra, Arslan nggak ngabarin, kemarin dia juga gak mau diantar pulang Ra" jawab Leon yang sedikit kikuk diperhatikan Ara yang sedang menelisik apakah jawabannya jujur atau bohong.
"Aku bingung kak, aku hubungi gak diangkat, aku hanya khawatir saja terjadi sesuatu pada Mas Arslan" jawab Ara dengan nada sedih.
"Maaf Ra, apa kamu sudah mencintai Arslan? tanya Leon penasaran yang masih berdiri cukup jauh dari Ara.
"Waktu awal menikah aku hanya sekadar menerimanya kak, berusaha jadi istri terbaik buat Mas Arslan, aku gak mau bikin orang tuaku kecewa dengan kegagalanku menjadi istri, dibandingkan perasaanku, perasaan kedua orang tuaku segalanya kak. Aku bertekad agar Mas Arslan menerima pernikahan kami dan membatalkan surat kontrak itu, seiring berjalan waktu malah aku dulu yang jatuh cinta kak. Aku sempat berpikir kalau Mas Arslan sudah membuka hati untukku melihat kedekatan kami akhir-akhir ini, tapi melihat foto wanita itu ada di laci kerjanya, mungkin aku yang terlalu percaya diri" ujar Ara sambil tertawa kecil menahan luka dan sesak hatinya.
Leon yang mendengar ucapan Ara pun sadar, gadis kecil itu sedang menyembunyikan luka hatinya.
"Aku gak tahu Ra saran apa yang bisa Aku kasih buat kamu, soalnya aku masih jadi jomlo abadi hahaha" balas Leon yang mencoba mencairkan suasana, dan Ara pun tertawa mendengar pengakuan Leon.
"Ra, perjuangkan cinta kamu dan juga pernikahan kamu, Arslan pasti akan luluh nanti, sekarang dia hanya labil saja dengan perasaannya, aku yakin sebenarnya dia udah mulai ada rasa cuma ya gitu agak bodoh aja" ujar Leon yang pada akhirnya membuat Ara tertawa.
Tidak lama setelah sepeninggalan Leon dari ruang CEO, akhirnya sang pemilik ruangan tiba juga. Arslan yang tidak tahu kalau istrinya datang pun sedikit kaget, dan menutupi keterkejutannya dengan bersikap sedikit dingin.
"Ra, kenapa pagi-pagi sudah ada di ruanganku?" tanya Arslan menatap istri kecilnya yang semenjak kedatangannya hanya menatap lekat ke arahnya.
"Mas, aku khawatir kamu gak pulang semalam, aku hubungi kamu juga gak angkat, ada apa? bukannya sebelum kamu berangkat kerja kita baik-baik saja? apa aku ada buat salah sama kamu? tanya Ara sambil mendekatkan dirinya ke arah sang suami.
Sungguh, rindu ini menemui hari buruk.
__ADS_1
Saat semakin ingin tangan ini memelukmu, bintang-bintang yang pernah kau bicarakan itu semakin jauh, Tuan.