PETUALANGAN CINTA

PETUALANGAN CINTA
Bab 19 Kebahagiaan Kecil


__ADS_3

Suasana di dalam mobil pun hening seketika, Ara bingung ingin bertanya apa dan Arslan juga bukan tipe orang yang membuka suara duluan.


Setelah apa yang diinginkan Ara terpenuhi mobil pun melesat lagi di jalan raya yang tak pernah sepi. Ara menatap bingung dengan jalan yang sedang dilalui karena ini bukan jalan menuju ke rumah bundanya.


"Kita akan ke mana mas?" tanya Ara sambil menatap suami tampannya.


"Kita mampir beli kado buat ayah dan bunda dulu" jawab Arslan sambil mengelus kepala Ara, dan Ara hanya tersenyum malu dengan sikap manis suaminya. Setelah mendapatkan kado yang diinginkan oleh Arslan untuk mertuanya mereka pun bergegas menuju tujuan.


"Assalamualaikum Ayah" Ucap Ara yang melihat Ayahnya sedang duduk santai.


"Waalaikum salam, anak-anak Ayah" jawab Tuan Anggara


"Bunda mana, Yah?" tanya Ra yang sudah melepaskan pelukan hangat Ayahnya.


"Di dapur Ra, ayo Arslan kita masuk, bagaimana pekerjaanmu Arslan?" tanya Ayah pada Arslan, karena melihat putrinya sudah masuk meninggalkan suaminya di teras rumah.


"Lumayan sibuk Yah, biasalah pekerjaankan gak ada habisnya Yah" jawab Arslan


"Ya, kamu benar. jaga kesehatanmu baik-baik, jangan terlalu sibuk, berikan ayahmu ini cucu secepatnya." balas Tuan Anggara yang hanya dibalas anggukan malu oleh Arslan.


Setelah berbincang-bincang hangat, akhirnya mereka pun sudah duduk manis di meja makan dengan banyaknya hidangan yang tersaji, bunga-bunga yang sudah menghiasai ruangan, karena Ara sudah mengirimkan bunga-bunga lumayan banyak untuk membuat suasana semakin lengkap.


"Bunda, sudah dua puluh delapan tahun kita berpetualangan di hutan pernikahan. Ayah tentu bukan laki-laki yang sempurna, canda tawa, marah, sedih, duka, kehilangan kita sudah mencicipinya, Ayah harap bunda masih terus bersama Ayah sampai akhir usia ayah, kita akan terus bersama dengan anak-anak dan juga cucu-cucu kita nanti" ujar Ayah sambil menggenggam tangan istri tercintanya dan memberikan senyum tulus penuh cinta.


Nyonya Dira yang mendapatkan perlakuan cinta di hadapan menantu dan anaknya pun hanya tertunduk malu, pelan-pelan ia tatap wajah suami yang amat ia cintai bahkan melebih nyawanya sendiri.


"Ayah, sejak pertemuan pertama hingga detik ini bunda selalu jatuh cinta pada ayah, bagi bunda ayah adalah laki-laki paling sempurna, suami paling hebat, dan tentu saja ayah luar biasa untuk Ara, ayah adalah super hiro kami" balas Nyonya Dira dengan senyum yang menatap teguh pada mata ayah yang dihiasi jejak kemunculan air mata.

__ADS_1


Ara yang melihat kemesraan orang tuanya hanya mengulas senyum dan mengusap air mata di ujung matanya. Bagi Ara ini adalah hal yang biasa, mereka hidup dengan kehangatan kasih sayang, apa lagi di setiap ulang tahun pernikahan ayah dan bundanya akan selalu mengutarakan cintanya entah di depan umum atau hanya saat mereka bertiga. Berbeda dengan Arslan, dia hidup dengan kesibukan orang tuanya dan dia bukanlah laki-laki yang hangat dan menunjukan cintanya, jadi ia hanya tertegun, tapi merasa hangat seperti itukah perasaan saling mencintai.


"Uhm ayah dan bunda selalu saja pamer kemesraan, untung Ra sudah enggak sendiri lagi sekarang." sergah Ara yang tiba-tiba juga bersandar di lengan suaminya, yang membuat Arslan sedikit kikuk, tapi langsung menguasai dirinya, dan mengusap kepala Ara dengan gemas dan membuat tiga orang lainnya tertawa.


Acara makan malam pun berjalan dengan hangat, selain membahas pekerjaan, kuliah Ara tentu saja menggoda pengantin baru agar cepat cetak hasil dan memberikan boneka hidup untuk keluarga Bwana dan Anggara.


Kini semua telah berada di kamar masing-masing. Ara dan Arslan akhirnya menginap di kediaman Anggara karena desakan dari mertuanya dan tentu saja kali ini mereka tidur sekamar dan seranjang, ah tidak mungkinkan harus tidur di lantai hehe


Setelah Ara melihat suaminya telah selesai bersih-bersih dan tentu saja Ara juga sudah menyiapkan tempat tidur yang dibagi dua dengan pembatas guling.


"Kenapa diberi tumpukan bantal dan guling di tengah?" tanya Arslan yang sudah duduk di pinggir ranjang.


"Maksudmu mas? kamu mau cari kesempatan dalam ketidaksadaran aku gitu? ohh nooo!" jawab Ara cepat dan segera masuk ke dalam selimut.


"Besar kepala, lagi pula bagian yang mana yang enak di emesh emesh. " jawab Arslan yang sudah ikut merebahkan diri.


"Mana mungkin! coba sini aku lihat!" balas Arslan sambil mengulum senyum penuh maksud.


"Moduusss!!" sergah Ara yang sudah malas melayani suami reseknya


"Ya, gak papa Ra, sama istri sendiri modus mah. Ra apa setiap hari kalian hidup dengan kehangatan seperti tadi?" tanya Arslan


"Raaa" ujar Arslan lagi. Namun, masih tak ada jawaban, karena penasaran Arslan pun melihat wajah istrinya yang ternyata sudah pulas dalam mimpi.


"Hebat sekali dia, merem dan langsung tertidur" gumam Arslan sambil geleng-geleng.


Karena Arslan sudah merasa istrinya tertidur pulas, dengan senyum sejuta dollar ia pinggirkan tumpukan bantal dan guling, lantas mulai merapatkan diri ke tubuh istri kecilnya.

__ADS_1


"Sangat harum, dan menenangkan" ujar Arslan yang memeluk Ara dari belakang sambil mencium lembut tengkuk belakang istri menggemaskannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Matahari telah terbit menggantikan bulan, dingin malam telah berganti dengan sambutan hangat sang mentari. Dingin malam hanya bagi sebagian orang yang hatinya tengah sakit, tubuhnya tengah remuk atau cintanya telah kandas. Bagi kamar yang dihuni oleh Arslan tentu saja malam tadi penuh dengan kehangatan. Ia dapat tertidur begitu nyenyak hanya dengan memeluk istri kecilnya.


"hem, kenapa tubuhku begitu berat?" Ujar Ara yang mulai terbangun dari lelapnya.


"Ahh. Mas kau benar-benar mencuri kesempatan!" gerutu Ara yang ingin menyingkirkan tangan suaminya yang memeluknya posesif, bahkan kaki Arslan juga ikut memeluk Ara layaknya guling.


"Maaas!" ujar Ara sambil menjewer kuping suaminya, yang masih pura-pura tidur.


"aih, Ra sakit kuping mas" gerutu Arslan sambil mengusap-usap telinganya yang memerah.


"Lagian mas curi kesempatan aja." sergah Ara yang bangun meninggalkan suaminya.


"Kan halal Ra, pantesan semalem hangat terus empuk gitu Ra, haha" ucap Arslan tanpa malu yang dibalas tatapan horor dari istrinya.


"Dasar mesum! emangnya makanan haram!" gerutu Ara yang sudah masuk ke dalam kamar mandi.


Arslan hanya tertawa, entah mengapa hatinya berdesir hangat dengan ulah istrinya yang menjewer kupingnya dan menemaninya berdebat kecil.


Setegar apa pun kamu mampu bertahan,


setabah apa pun kamu mampu memeluk,


sekuat apa pun kamu mampu menggenggam, jika akhirnya Tuhan mengatakan cukup; semua selesai.

__ADS_1


Katanya, tumbuhnya perasaan saling mencintai yang penuh kasih sayang beriringan dengan intensitas pertemuan, tapi sebanyak apa pun pertemuan, jika hati tak ingin saling memiliki juga tidak akan pernah terjadi. Namun, sedikit saja cukup sedikit saja celah itu ada, kekosongan yang ada di hati lambat laun akan mulai terisi entah disadari atau tidak.


__ADS_2