
"Ahh begitu, saya akan sering berkunjung kalau gitu" balas erwin dengan senyum hangat, sedangkan Ara hanya diam membantu.
"Nih Dosen apa salah makan ya sebelum ke sini, bisa-bisanya dia senyum manis begitu" ucap Ara dalam hati, dan hanya membalas ucapan dosen tampan itu dengan senyum canggung. Setelah pesanannya selesai Erwin pun pamit, Ara hanya menggelengkan kepala dan semakin yakin kalau dosennya salah malah makan obat.
"Nit, aku titip toko yaa, seperti biasa kalau ada apa-apa kirim pesan aja" ucap Ara pada Nita.
"Siap boskuh" jawab Nita cepat. Setelah seharian menikmati harinya dengan bunga-bunga, Ara pun beranjak pergi meninggalkan toko dengan membawa satu buket bunga yang sudah ia rangkai sendiri. Yaa, buket itu ingin ia berikan pada calon mertuanya, karena hari ini ada acara makan keluarga di rumah Ara secara mendadak, karena dia baru dikabari setengah yang jam lalu.
"Bundaaa, Ayaah, Raaa pulaaang!" teriak Ara ceria saat baru masuk ke rumah seperti biasa, tanpa dia tahu calon suami dan mertuanya ada di ruang keluarga sedang asyik mengobrol.
"Hehhe ternyata sudah ada om dan tante yaaa" ucap Ara kikuk karena malu dan hanya dibalas dengan tawaan.
"Dasar bocah" gerutu Arslan. yang hanya dibalas tatapan sinis Ara. Ara pun menghampiri Nyonya Ratih dan memberikan buket bunga padanya lalu memeluknya yang dibalas dengan pelukan hangat dan ucapan terima kasih.
"Lihat tuh pah, Ra sekarang sudah melupakanku karena sudah berhasil mengambil hati calon mertuanya" celetuk Nyonya Dira pada suaminya sambil pura-pura menampilkan wajah sedihnya.
__ADS_1
"Baiklah Nyonya Dira, sudah cukup sandiwaranya" ucap Ara mencium pipi ayah dan bundanya, yang dibalas tawan semua orang kecuali si kutub es.
"Tante dan Om Ra tinggal sebentar ya mau bersih-bersih dulu" pamit Ara yang dibalas anggukan nyonya ratih.
Jamuan makan malam pun berjalan amat lancar, semua begitu menikmati makanan dan suasana yang hangat di meja makan, Ara juga asyik bercanda dengan Nyonya Ratih dan Tuan Andhi yang menimbulkan rasa gemas di hati Nyonya Ratih melihat sikap Ara yang ceria dan sopan, sedangkan si kutub es hanya bicara kalau ditanya saja, tapi kali ini dia menikmatinya, ada kehangatan yang mengalir di hatinya. Di kediaman Bwana memang selalu ada makan malam atau sarapan bersama tapi suasananya tak sehangat ini, dan Arslan diam-diam suka mencuri pandang ke arah Ara karena menurutnya Ara sangat manis dengan dres pink dan kunciran rambut yang terlihat asal-asalan tapi juga rapih.
"Ra, kamu harus banyak istirahat ya ingat sebentar lagi acara pernikahanmu" nasihat Nyonya Ratih.
"Tenang aja mah, Ra juga sudah ambil izin kok selama seminggu gak ke kampus" jawab Ara santai yang dibalas senyum senang Nyonya Dira karena mendengar panggilan dari Ara tadi.
"hoho, akhirnya saya punya anak perempuan juga jeng mulai hari ini." jawab nyonya Ratih sambil memeluk Ara.
Setelah waktu menunjukkan pukul sebelas malam akhirnya keluarga Bwana pun meninggalkan kediaman Anggara. Ruang keluarga yang penuh kehangatan dan canda tawa tadi akhirnya hanya menyisakan dingin. Ara dan yang lain sudah masuk ke dalam kamar masing-masing.
"Sebentar lagi, sebentar lagi aku akan meninggalkan kehangatan orang-orang di rumah ini. Ayah dan Bunda terima kasih sudah memberikan kehidupan yang gak pernah Ara bayangin sebelumnya." ucap Ara di depan foto mereka bertiga saat Ara masih kecil.
__ADS_1
Ara mengingat kembali kenangan masa lalu, saat ia masih berusia enam tahun. Selama enam tahun Ara tinggal di panti itu, dia sudah terbiasa tidur di kasur keras dengan selimut tipis, makanan paling banyak sehari dua kali, sering berebut kasih sayang bunda panti, berebut mainan saat ada donatur dan banyak hal lain yang mengiris hati.
Hari itu ada donatur yang datang ke panti untuk merayakan hari pernikahan mereka dengan memberikan bantuan uang tunai dan mainan. Saat anak-anak lain sedang asyik dengan mainan yang baru mereka dapatkan, Ara hanya duduk di pojokan menatap anak-anak yang lain bermain. Dia tidak ikut bermain karena boneka yang ia dapatkan ia berikan pada seorang anak berusia empat tahun yang tidak mendapatkan hadiah, karena tidak tega melihatnya dia pun memberikannya lalu meninggalkan gadis kecil itu dan duduk di pojok dekat tangga. Donatur itu adalah Tuan dan Nyonya Anggara. Nyonya Dira yang tadi memperhatikan Ara pun tiba-tiba meminta pada Tuan Anggara untuk mengadopsi Ara, yaa Nyonya Dira jatuh hati pada Ara melihat Ara kecil yang cantik dan mau berbagi. Saat pertama kali Ara mengetahui dia akan diadopsi dia begitu senang, dalam hatinya akhirnya ia akan punya ayah dan bunda dan tidak perlu berebut kasih sayang bunda panti dengan anak-anak lain, Ara berjanji akan menjadi anak yang patuh. Malam itu di atas kasur kerasnya dengan selimut tipis Ara kecil yang sedang memeluk gulingnya hanya tersenyum dan sesekali menyeks air matanya yang diam-diam tumpah, ia begitu ingin cepat bertemu ayah dan bunda angkatnya.
Pagi yang ditunggu Ara kecil pun datang, dengan gugup ia menunggu kedatangan orang tua angkatnya. Nyonya Dira yang melihat Ara kecil pun tersenyum dan menghampiri Ara lalu berjongkok.
" Halo sayang, namamu Ara ya, aku akan menjadi bundamu mulai sekarang, apakah Ara bersedia?" ucap nyonya Dira sambil memeluk Ara. Ara kecil membalas pelukan itu dan mengucapkan satu kata sambil menangis "Bunda. Bunda. Ara punya bunda sekrang" ucap Ara kecil dengan lirih. Tuan Anggara yang menyaksikan itu pun ikut mendekat "Bukan hanya bunda, Ara juga akan punya ayah, jadi apa Ara mau ikut ayah dan bunda?" tanya Tuan Anggara sambil mengelus kepala Ara kecil.
"Iya, aku mau ikut ayah dan bunda" ucap Ara kecil sambil memeluk erat Nyonya Dira. Semenjak hari itu kehidupan Ara kecil berubah ia memiliki ayah dan bunda, tempat tinggal mewah makanan enak, tapi satu yang tidak berubah sifat baiknya. Ara tumbuh besar dengan menakjubkan semakin cantik, dewasa, periang, dan selalu membanggakan ayah dan bundanya. Orang yang tidak mengetahui masa lalu Ara pasti berpikir kalau gadis itu adalah putri kandung keluarga Anggara, karena Nyonya Dira dan Tuan Anggara begitu mencintai Ara.
Ara yang sejenak mengenang hari pertama bertemu ayah dan bunda angkatnya pun mengukir senyum di bibirnya. "Bunda, Ayah kalian harus terus bahagia, Ara juga akan bahagia" ucap Ara sebelum akhirnya ia tertidur.
*******
Setiap orang punya cerita di masa lalunya sendiri, apa pun masa lalu itu jika kamu ada di masa depannya, maka bantulah dia dengan kamu menerima masa lalunya. Jangan mengungkit masa lalu orang lain, karena bisa jadi orang itu dengan susah payah baru berhasil keluar dari masa lalu itu.
__ADS_1