
Sudah tiga hari Arslan harus merasakan dinginnya sikap istri kecilnya yang sedang menjaga jarak dengannya, meskipun istrinya itu tetap menyiapkan segala kebutuhannya seperti menyiapkan makanan, pakaian, atau saat istrinya meminta izin untuk pergi dengan sahabatnya. Namun, sikap dingin yang ditunjukan Ara telah mampu memukul telak kenyamanan dari pikiran dan hati Arslan. Selama tiga hari itu, Arslan tidak fokus dengan kerjaannya, emosinya mudah tersulut hanya karena karyawannya salah mengganti nomor halaman berkas atau sebagainya, yang tentu saja berimbas juga ke sekretaris di sampingnya yang menjadi sasaran empuk kemarahannya. Leon yang sudah tidak sanggup menghadapi mood sang big bos pun hanya bisa menghela napas dalam dan memberanikan segenap kekuatan untuk menanyakan penyebab tiga hari ini sudah menjelma big bos kejam, dingin, dan pemarah. Walaupun Leon tahu, tentu saja penyebabnya adalah rindu ingin diperhatikan dan dimanja oleh Ara.
"Lo mau ke mana bro?" tanya Leon yang bingung melihat Arslan yang tiba-tiba ingin pulang, karena selama tiga hari ini Arslan membuat semua bawahannya lembur, dan berpusing ria menghadapi mood sang big bos.
"Mau ke Nats Cafe, istri gue kirim pesan lagi di sana dan pulang telat, jadi mau gue jemput aja" terang Arslan. Arslan sangat merindukan senyum istri cantiknya itu, saat di apartemen ekspresi yang ditunjukan Ara selalu datar, Arslan berpikir jika sedang bersama sahabatnya, istrinya pasti akan lebih banyak tersenyum. Saat memikirkan hal itu, hati Arslan terasa diremas tangan tak kasat mata, terasa sesak, sakit, dan ada rasa sesal selama ini tidak menganggap serius pernikahan mereka.
"Heh! bilang aja lo kangen sama bini lo, pakai alibi menjemput, ngapain lo jemput lah bini lo aja bawa mobil sendiri ogeb!" balas Leon
"Kalau gak tahan dicuekin, kangen dimanjain, kangen lihat bini lo ketawa, ya lo harus kasih apa yg dimau bini lo, jangan sampai lo nyesel tiba-tiba bini lo digaet sama temen kampusnya mungkin, terus lo jadi duda deh, belom juga buka segel haha" ledek Leon yang berhasil menambah tanduk di kepala Arslan.
"Berisik lo, mau ikut apa gak?" tanya Arslan yang sudah malas mendengarkan ocehan sahabatnya.
"Hayuk lah, gue juga pengen cuci mata siapa tahu nemu jodohkan di sana haha" jawab Leon yang sudah duluan menuju parkiran mobil sang big bos.
Arslan dan Leon yang baru masuk di Nats Cafe langsung bisa menemukan keberadaan Ara, yang sedang asyik mengobrol bahkan sesekali terdengar tawa renyah Ara, melihat Ara yang ceria membuat hati Arslan senang. Namun, kesenangan itu hanya sepersekian detik, Arslan baru menyadari bahwa istri kecilnya tertawa dengan seorang Pria yang familiar dalam ingatan Arslan, seolah dejavu, Arslan merasa pernah merasakan perih di hatinya saat Ara tertawa dengan seorang pria di toko bunganya. Arslan hanya mengepalkan tangannya, dengan kilat kecemburuan terpampang jelas di raut wajahnya, dia ingat laki-laki itu juga yang ia lihat di toko bunga Ara saat itu.
Leon yang melihat reaksi tak biasa sahabatnya hanya menghela napas, kini Leon yakin kalau sahabatnya ini sudah jatuh cinta pada istrinya sendiri.
"Jangan dilihatin terus, samperin aja kali bro!" ceplos Leon.
"Suruh anak buah lo cari tau tentang laki-laki itu!" perintah Arslan yang hanya di balas helaan napas kasar oleh Leon.
"Cieee makan cuka! gimana bro asem banget ya? hahaha, makanya kalau cinta bilang cinta, kalau enggak kasih kejelasan. Istri lo itu pasti baru sehari jadi janda udah banyak yang deketin, gue aja kalau gak inget itu istri lo udah gue perjuangin tuh" ucap Leon santai sambil meminum minumannya, tanpa peduli raut wajah sahabatnya yang sedang menahan amarah agar tidak membunuh orang.
"Jaga otak lo ya, Ara itu istri gue dan selamanya hanya akan menjadi istri Arslan Bwana" jawab Arslan tegas, dan penuh penekanan.
"Buktikan saja, omongan mah gak bisa dipegang bro haha" jawab Leon lagi, dan Arslan hanya menatap penuh permusuhan, seolah-olah sahabatnya itu akan mencuri istri kecilnya.
"Bro, cewe yang di sebelah istri lo kok kayak gue familiar ya, siapa dia?" tanya Leon yang sedang menatap intens ke arah Sisil.
__ADS_1
"Sisil, dia sahabat baiknya istri gue" jawab Arslan singkat.
"Cantik" gumam Leon.
Saat Leon sedang asyik menatap Sisil diam-diam, Arslan justru sedang menahan amarahnya saat istrinya tersenyum manis pada laki-laki itu, lalu beranjak ke arah panggung.
Untuk hati yang sedang patah, kuat dan teruslah tumbuh. Jika dia milikmu tanpa peta kalian akan saling menemukan, karena baik kamu atau dia adalah rumah untuk memulangkan segala cerita. Untuk hati yang kini sedang tersesat semoga lekas menemukan arah pulang, sebelum tempatmu untuk pulang mengubah pemiliknya. Dan Ara pun menyanyikan lagu dengan segenap kerinduan pada suaminya.
...Kita bertemu di persimpangan...
...Tanpa pernah kita rencanakan...
...Lalu jalan beriringan...
...Berjanji tak akan meninggalkan...
...Kini mengapa...
...Dan seketika...
...Ku tak tahu arah pulang...
...Kuingin mesin waktu...
...Mengantarkanku ke arahmu yang dulu...
...Tak ingin pergi dulu...
...Sekali saja jangan kau jauh...
__ADS_1
...Kurindu masa lalu...
...Melihat pesan di setiap waktu...
...Tak jua datang menyapaku...
...Kurindu saat bersamamu...
...Song. Mesin Waktu...
Ara sedikit kaget saat tak sengaja arah pandangnya tepat memaku sosok yang beberapa hari ini ia rindukan, mendapati ternyata suaminya sedang berada di satu tempat dengannya dan melihatnya menyanyi, Ara menjadi sedikit gugup dan langsung menuju ke meja sahabatnya.
"Kok mas Arslan di sini, apa dia ada meeting ya?" tanpa Ara dalam hati.
"Ra, kenapa? jangan bilang lo baper setelah nyanyi atau kerasukan iblis galau ya?" celetuk Sisil yang mendapati sahabatnya tak seceria tadi sebelum nyanyi, walaupun Sisil tau lagu tadi adalah curahan hati tersembunyi milik Ara.
"Apa sih lo, garing banget mau ngelawak!" jawab Ara
"Kamu baik-baik saja Ra?" tanya Erwin, ia pun penasaran kenapa gadis di hadapannya tiba terlihat menyendu.
Sebelum Ara sempat menjawab, tiba-tiba Arslan sudah berdiri di samping Ara dan tanpa malu langsung memeluk Ara dan mencium pipinya.
"Sayang, maaf ya aku telat" ujar Arslan yang kini duduk di samping Ara. Ara yang masih kaget hanya diam menatap bingung.
"Perkenalkan saya Arslan SUAMI Ara" ujar Arslan yang menekankan kata suami, sambil mengulurkan tangannya ke arah Erwin.
"Saya Erwin, saya Dosen Ara di kampus" jawab Erwin dengan santai dan sopan, Erwin bisa melihat aura kecemburuan yang pekat dari tatapan Arslan.
Sebelum kamu beranjak tidur, sudahkah kamu memaafkan orang-orang yang telah membuat hatimu mendung, membuat usahamu gagal; maafkanlah, sebab tidur dengan hati gelisah, hati penuh amarah hanya membuat harimu semakin buruk.
__ADS_1
Jangan lupa setelah kamu memaafkan segalanya, berterima kasihlah untuk hari ini. Untuk setiap kekuatan dan pemahaman baik terhadap segala bentuk sulit yang membuat kamu ingin menyerah. Berterima kasihlah, sebab ia sempat singgah untuk mendewasakanmu.