
Hari ini adalah hari pernikahan Ara dan Arslan, hari yang akan menjadi titik balik dalam kehidupan mereka. Bagi Arslan tidak ada yang istimewa berbeda dengan Ara, saat ia memutuskan setuju menikah saat itu ia sudah pelan-pelan menerima Arslan, dan setelah sah menjadi istrinya maka ia akan mencintai Arslan dengan baik.
Di kamar Presidential Suite sosok gadis dengan kebaya putih menawan sedang duduk menyempurnakan penampilannya.
"Oh my god! gak nyangka yuuu bisa secantik ini! babang tampan Arslan pasti langsung klepek-klepek lihat yuu, tidak tidak mungkin, babang tampan pasti akan buru-buru makan yuu bulat bulat haha" ungkap MUA yang dipilihkan oleh nyonya Ratih.
"Haha, bisa aja. makasih ya" balas Ara dengan senyum tulusnya.
Setelah dipastikan penampilan mempelai wanita sempurna, tak lama bunda Ara datang untuk mengajak Ara ke Ballroom karena akad akan segera di mulai.
"Anak bunda sangat cantik hari ini, ayuk calon suami tampanmu sudah menunggu" goda nyonya Dira sambil menuntun Ara untuk berjalan.
Ketika Ara sudah memasuki ruangan, saat itu pula semua mata tertuju padanya, termasuk Arslan. Arslan begitu terpukau dengan penampilan anggun Ara, dengan kebaya putih yang membalut kulit putih mulusnya, make up nya yang sederhana tapi justru memperlihatkan kecantikan wajahnya, ahh bocah itu begitu terlihat begitu menawan hati, itu lah isi kepala Arslan.
"Bos sadar bos, jangan ditatap terus gak akan hilang kok" goda Leon yang menepuk pundak Arslan. Arslan pun tiba-tiba berdehem dan langsung menundukkan kepalanya, yang disambut tawa oleh orang di sekitarnya yang mengetahui.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Arslan Kalandra Bwana bin Andhitama Singgih Bwana dengan putri saya Ayyara Naasheeta Wisam binti Anggara Bratadikara Wisam dengan mas kawin seperangkat alat salat dan uang tunai sebesar delapan ratus juta rupiah dibayar tunai." ucap Ayah Anggara yang sedang menggenggam erat tangan calon imam putrinya kelak.
__ADS_1
"Saya terima nikah dan kawinnya Ayyara Naasheeta Wisam binti Anggara Bratadikara Wisam dengan mas kawin tersebut dibayar tunai" balas Arslan dengan satu tarikan napas dan suara yang lantang. Sah! ucap para saksi.
Ara pun terlihat bernapas lega, sejak tadi dia mengepalkan tangannya dan menahan napas saat ijab kabul akan dimulai. Setelah dinyatakan sah sebagai suami istri dan saling memakaikan cincin Ara pun mencium punggung tangan suaminya sebagai bentuk penghormatannya, sedangkan Arslan tiba-tiba ia mencium kening Ara cukup lama yang membuat Ara sedikit terkejut. (Arslan lagi terbawa suasana nih hehe) dan tentu saja mengundang gelak tawa dan godaan dari para tamu.
Setelah melakukan ramah tamah dengan para undangan atau lebih tepatnya kepada kerabat dekat, karena prosesi akad hanya mengundang kerabat atau teman terdekat masing-masing keluarga. Arslan dan Ara pun beranjak ke kamar untuk beristirahat sejenak, karena malam nanti masih ada acara resepsi yang lebih mewah yang sudah dipersiapkan orang tua Arslan.
Suasana di kamar yang begitu canggung menurut Ara, bagaimana pun ini pertama kalinya ia berada di kamar dengan laki-laki. Ara yang ingin bertanya pada Arslan tidak jadi saat melihat suaminya langsung masuk ke kamar mandi tanpa mengatakan apa pun.
"Hha, sudahlah, bagaimana pun keluargaku berhutang padanya" desah Ara yang melihat suaminya langsung ke kamar mandi tanpa menoleh padanya. Ara pun melanjutkan menghapus make up dan melepas kebayanya sambil bernyanyi kecil.
Arslan yang sudah selesai pun keluar kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk di pinggangnya yang membuat Ara langsung memalingkan muka menahan malu.
"Huh, jantungku tiba-tiba berdetak tak karuan saat melihat mas Arslan tanpa mengenakan baju" ucap Ara saat sudah di dalam kamar mandi, sedangkan Arslan hanya tersenyum melihat tingkah Ara.
"Kayaknya ada mainan baru, menggoda bocah itu cukup seru rupanya" ujar Arslan dengan senyum penuh maksud.
Ara yang telah selesai pun akhirnya memberanikan diri untuk ikut naik ke kasur di sebelah Arslan yang masih asyik menatap layar hape di tangannya.
__ADS_1
"Mas, apa ada yang bisa Ara bantu atau Ara lakuin?" tanya Ara. Arslan hanya menatap malas ke arah Ara dan tidak berniat untuk menjawab sama sekali, ia sedang sibuk menerima laporan dari bawahannya soal Veve dan tentu saja itu jauh lebih menarik baginya.
Ara yang paham bahwa suaminya sedang enggan diganggu. "Emmm.. baiklah. Ara izin istirahat duluan ya Mas" Ucap Ara yang langsung merebahkan badannya dan menarik selimut. Tidur adalah pilihan terbaik menurutnya, selain tubuhnya yang lelah dan mengantuk dia juga belum terbiasa dengan keberadaan suaminya dinginnya itu.
Waktu pun berjalan cepat. Kini Ara dan Arslan akan memasuki Ballroom untuk melaksanakan resepsi pernikahan mereka. Ballroom yang sangat indah ratusan ribu bunga segar menghiasi setiap sisi ruangan, lampu-lampu mewah bak permata yang digantung begitu menyilaukan mata, senyum kebahagiaan yang menghiasi wajah semua orang, tapi keindahan itu kalah dengan sosok mempelai wanita yang sedang menuju ke pelaminannya, gadis itu dengan menggunakan gaun putih indah yang menjuntai panjang. Siapa pun yang melihatnya pasti akan terpesona dengan dengan sosoknya, kepribadian menguarkan aura keindahan yang seolah seluruh tubuhnya dilapisi oleh cahaya, begitu memesona mata yang melihatnya.
Melihat Arslan dan Ara yang berjalan bergandengan dengan senyum di wajah benar-benar membuat iri banyak orang, mereka seperti jodoh yang ditakdirkan Tuhan. Pria tampan dan gadis cantik tentu saja perpaduan yang apik.
"Selamat yaa Ra, semoga lo selalu bahagia" ucap sisil sambil memeluk Ara penuh haru.
"Hei cepatlah, gue juga mau salaman sama kakak ipar" ucap Leon pada Sisil yang dari tadi sibuk memeluk Ara sambil berurai air mata sedangkan banyak tamu juga yang mau salam dengan raja dan ratu semalam.
"Lo siapa sih bawel banget, tunggu sebentar kek" jawab Sisil ketus. "Cantik-cantik kok galak!" sindir leon sambil menyenggol Sisil agar bergeser dan membuat Sisil memilih untuk menyingkir "Kakak ipar selamat ya, jangan lupa taklukin si singa jantan itu" ucap Leon sambil mengedipkan mata tapi masih memegang tangan Ara. yang hanya dibalas gelengan dan senyuman oleh Ara.
"Tangan lo ya kondisiin, dan siapa juga yang mau jadi kakak ipar lo" ucap Arslan sinis sambil melepaskan tangan Leon dari tangan istrinya.
"Yaelah pak bos masih kaku aja kayak kanebo kering" goda Leon.
__ADS_1
"Pergi sana atau gak ada gaji bulan ini" balas Arslan yang langsung membuat Leon berubah 360 derajat.
"Hehe becanda pak bos. btw selamat ya bro jangan disia-siain istri lo pasti banyak yang ngantri kalau jadi janda" ucap Leon yang berbisik saat memeluk Arslan, yang balas dengan pukulan di bahu Leon.