
Aku ingin menangis, tapi air mata telah lama kering. Hanya langit yang basah sepagi ini.
Telah kubuat segala kemungkinan untuk kita, memilin satu per satu. Namun, tak ada keberpihakan. Katanya, kebijaksanaan selalu lahir dari tempaan rasa sakit. Maka, semoga kita menjadi bijak saat kita paham kapan waktunya menyudahi penantian.
...----------------...
"Apa ada masalah, Ra?" tanya Sisil. Semenjak pagi Sisil melihat Ara yang sering melamun, dia yakin pasti ada masalah yang mungkin cukup pelik bagi Ara, karena Sisil paham kalau masalah-masalah receh tidak akan sampai membuat Ara bermuram durja seperti saat ini.
"Jika kamu ingin cerita, ceritakan saja masalahmu Ra. Kita bukan hanya sahabat tapi juga saudara. Mungkin aku tidak bisa membantumu keluar dari masalah itu tapi aku akan mendengarkan semua kegelisahan di hatimu agar sedikit lebih lega" ucap Sisil pada Ara yang sedang mengaduk minuman sejak tadi tapi tak kunjung diminum.
"Gue, gue takut Sil. Gue takut keputusan gue hari ini selain melukai hati gue sendiri, tapi akan membuat ayah dan bunda bersedih" jawab Ara yang masih menundukkan kepalanya ke arah segelas minuman miliknya.
Sisil hanya mendengarkan, tidak bermaksud bertanya, menyela atau mencecar Ara agar lekas bercerita. Sisil ingin memberi waktu Ara agar dia bisa menenangkan hatinya lebih dulu. Ara hanya menghela napas dalam, lalu ia perlahan ia menatap ke arah sahabat baiknya itu.
"Mantan kekasih Mas Arslan, dia akan kembali ke sini Sil, dan mas Arslan kemarin gak pulang ke apartemen kami." ujar Ara kemudian.
__ADS_1
Kini Sisil paham apa yang menjadi akar permasalahan sahabatnya ini. Bagi sebagian orang mungkin masalah ini terlihat biasa saja, karena yang datang hanya mantan dan sahabatnya adalah istri sah, tapi masalahnya akan menjadi pelik jika sang suami ragu pada perasaannya sendiri, kemelut batin adalah permasalahan yang membutuhkan kesabaran, kebijaksanaan, serta keteguhan hati untuk melewatinya.
"Apa lo udah memastikan ketidakpulangan Arslan berhubungan dengan mantannya, Ra? tanya Sisil.
"Sudah. Mas Arslan sudah bicara semalam Sil. Dia mengatakan kalau masih merindukan sang mantan kekasihnya, tapi dia juga bilang belum siap kehilangan gue. Gue mengambil keputusan untuk menjaga jarak dengannya, gue meminta dia memastikan perasaanya lebih dulu, siapa yang ingin dia perjuangkan sebagai masa depannya." jawab Ara sambil menatap sendu manik mata Sisil.
"Ra, kenapa yang lo pilih menjaga jarak? kenapa bukan semakin mendekatkan diri ke Arslan, bukankah dengan begitu semakin besar peluang lo buat mempertahan pernikahan?" tanya Sisil yang penasaran alasan dari keputusan sahabatnya.
"Gue sudah melakukan itu sejak awal pernikahan Sil. Mungkin gue akan sangat bahagia bisa mempertahankan pernikahan ini, tapi Mas Arslan dia akan sangat terluka seumur hidupnya akan tinggal bersama wanita yang tidak dia cintai, mungkin dugaan gue juga bisa jadi salah, gue tidak benar-benar bahagia bisa mempertahankan pernikahan yang tidak ada cinta dari suami gue, atau lebih parahnya saat Mas Arslan berpura-pura menerima, kebahagiaan yang gue rasakan hanya kepalsuan, bukankah pada akhirnya gue yang paling terluka dengan pernikahan ini?" jawab Ara yang sedang menahan rasa sesak di ulu hatinya.
"Gue bertanya keputusan lo bukan karena gue menyalahkan keputusan yang lo ambil, gue tahu lo kuat dan bijak mengambil keputusan. Apa pun yang akan lo hadapi di masa depan, ingat di sini masih ada gue. Gue mau sahabat gue satu-satunya kembali, yaa.. kembali menjadi Ara yang gue kenal, yang selalu menganggap setiap kejadian adalah kejutan-kejutan untuk melengkapi kebahagian di akhir nanti, gue pengen lihat Ara yang mengatakan akan membuat suaminya bucin padanya, Ara yang tidak takut pada apa pun. Lo ingat waktu kita SMA dan gue kecelakaan, saat itu gue butuh pendonor darah saat itu juga, sedangkan stok di rumah sakit kosong, nyokap bokap gue gak bisa mendonorkan darah saat itu, kak Nathan sedang di luar negri dan hal mengejutkan adalah Ara sahabat kecil gue yang sangat takut dengan jarum suntik, bahkan hingga lo dewasa tiba-tiba mengajukan diri menjadi pendonor darah, lo emang gak ngomong sama gue kalau lo yg menyelamatkan gue, tapi nyokap gue cerita sambil menahan haru saat ngelihat lo melawan semua ketakutan lo saat itu, yaa meskipun setelah donor selesai lo pingsan dan bikin nyokap gue nangis histeris takut lo kenapa-kenapa, tapi seperti itu Ayyara Wisam yang gue kenal, jangan takut untuk sesuatu yang belum tentu akan lo hadapi kalau pun akhirnya akan lo hadapi juga, kuatlah dan hadapi saja, karena akan selalu ada yang mendukung lo." jawab Sisil yang mencoba menguatkan sahabatnya.
Ara yang mendengar penuturan panjang dari Sisil pun akhirnya sadar, ia sadar sudah melupakan caranya hidup selama ini, ketakutan atas kenyataan yang belum tentu terjadi sudah membuatnya sulit berpikir. Setelah mendapatkan ceramah itu, binar di mata Ara yang sempat meredup kini bersinar, dia yakin untuk melanjutkan rencananya, jika memang berjodoh sehebat apa pun badai menerjang mereka akan selamat dan melewatinya. Ara lantas memeluk erat sang sahabat dan menggumamkan ucapan terima kasih dengan lirih, tapi penuh ketulusan yang di dengar oleh Sisil, Sisil pun lega sahabatnya telah siap berjuang kembali.
"Ingat Ra, apa pun yang terjadi jangan takut, apa lagi soal ayah atau bunda, mereka mungkin bersedih atau kecewa saat tahu pernikahan putri kesayangannya hancur, tapi mereka akan jauh lebih bersedih ketika tahu putri yang mereka besarkan penuh cinta seumur hidup mereka ternyata tidak bahagia." ujar Sisil penuh senyum ketulusan.
__ADS_1
"Yaa, lo benar Sil. Makasih ya, gue sempat ragu dengan diri gue sendiri" ucap Ara
"Tidak perlu ada terima kasih di antara kita, ayo kita makan, kepala gue rasanya mau pecah karena harus berpikir keras agar terlihat bijak dan berimbas ke perut gue yang kosong, karena cacing gue ikut mikir keras." jawab Sisil santai yang mulai memasukan banyak makanan ke mulutnya, yang mengundang gelak tawa Ara.
"Oiya Sil, jadi selama ini lo tahu gue yang nyumbangin darah buat lo?" tanya Ara
"Tentu, nyokap sama bokap gue itu sayang banget sama lo, apa lagi nyokap gue, kadang gue tuh curiga apa sebenarnya lo itu anak kandung mereka, kita tertukar gitu" jawab Sisil santai
Hal itu membuat Ara tertawa dan menjitak kepala sahabatnya, bisa-bisanya dia kepikiran begitu.
pletak!
"Sakit ogeb! lo bikin otak gue bercecer ke mana-mana entar!" ujar Sisil kesal
Tidak lama berselang tawa mereka berdua pun akhirnya pecah, melengkapi keindahan di antara mereka.
__ADS_1
Ara sadar, hidup yang selama ini dia perjuangkan harus mampu ia pertahankan, karena hidup yang tidak diperjuangkan, tidak akan pernah bisa dia menangkan.