Please, Don'T Go. Baby!

Please, Don'T Go. Baby!
CH 10 ~Cinta segi empat beracun


__ADS_3

Jennie benar-benar tidak betah tinggal di rumah suaminya, karena sekarang ada tiga mahluk aneh yang memiliki kepribadian berbeda-beda, salah satunya adalah suaminya. Menghadapi mahluk setengah jadi seperti Rayen sana Jennie sudah hampir mati berdiri, apalagi sekarang ada tambahan dua mahluk aneh yang tinggal di rumah ini. Ingin rasanya Jennie mati sekarang juga. Gila! Suami yang masih setengah jadi, Kakak ipar gila yang terus menggodanya, dab teman baru yang merupakan rekan kerja Mertuanya, yang juga tidak kalah gilanya karena sama-sama menyukai Jennie.


Ya tuhan, sial sekali hidupku. Awalnya aku sudah bahagia hidup dengan Rayen, tapi kenapa sekarang seperti ini. Rasanya kebahagiaan itu hilang seketika. Sebenarnya apa dosaku di masa lalu? Mengapa aku harus terjebak di cinta segi empat beracun seperti ini?


Reyhan tak henti-hentinya memandangi Jennie terus-menerus. Sementara gadis itu sudah mulai merasa risih dengan tingkah Reyhan yang terus memandanginya. Jantungnya bertalu-talu bersamaan dengan kegugupannya. Saat ini kedua mahluk aneh itu sedang berada di dalam kamar bersama Jennie.


"Sayang, aku mau ke garasi sebentar. Ponselku tertinggal di dalam mobil. Tetaplah disini bersama Kakak." Ucap Rayen pada Jennie.


"Kak, jaga istriku baik-baik. Jangan sentuh dia!" Peringatan! Rayen tidak lupa memberi peringatan kepada kakaknya sebelum ia beranjak pergi meninggalkan Jennie. Meskipun hanya ke garasi, Rayen tidak berhenti memperingati kakaknya agar tidak menyentuh Jennie sedikit pun.


Please, Jangan pergi! Aku tidak mau di tinggal di kamar ini bersama Reyhan. Hey manusia aneh, tolong jangan pergi tinggalkan ku sendiri bersama monster jahanam ini. Sorot mata Jennie seolah mengatakan itu saat Rayen pergi.


"Hei!" Jennie memanggil. Namun Rayen sudah terlanjur pergi dari kamarnya. Sementara du hadapannya kini ada lelaki gila yang sedang menyeringai jahat ke arahnya.


"Beautiful girl, adikku benar-benar sangat baik,ya. Sepertinya kita harus berterimakasih padanya. Sekarang kita punya banyak kesempatan untuk memadu kasih, mari kita bangun cinta bahagia hanya milik kita berdua saja, tanpa anak itu." Mulut Reyhan semakin nyerocos tidak jelas. Bedebah!


"Jangan macam-macam kamu!" Reyhan semakin mendekat, merangkak naik ke atas ranjang. Ia mencengkeram kedua tangan Jennie dan menindih gadis itu.


"Rey, Stop! Jangan macam-macam." Reyhan tidak peduli, malahan ia semakin mendekatkan wajahnya untuk mencium Jennie. "Reyhan, tolong jagan seperti ini." Jennie memohon dan mulai terisak, air mata bercucuran membasahi pipinya.


Reyhan langsung bangkit dan merebahkan dirinya di samping Jennie. "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud, tapi aku sangat mencintaimu." Lirih Reyhan di telinga Jennie. Hembusan napasnya membuat Jennie merinding.


"Aku tahu adikku bukan tipemu. Kalian menikah hanya atas dasar keterpaksaan. Jika rumor itu tidak tersebar luas, mana mungkin kan kau mau menikah dengan adikku." Ucap Rayhan lagi.


"Tapi aku sudah mencintai Rayen. Jadi tolong jangan ganggu kami." Lirih Jennie tanpa menatap wajah Reyhan.

__ADS_1


***


Tokk..tokk..tokk..


Suara ketukan pintu


"Masuk" Ucap Reyhan sambil berjalan keluar dari kamar adiknya dan di ikuti oleh Jennie dari belakang.


Seketika Jennie terperanjat melihat sosok yang tadi mengetuk pintu, ternyata itu adalah Justin.


"Hai, Bro. Dari mana aja lo?" Tanya Reyhan.


"Sorry, Bro. Tadi gua habis meeting sama klien di apartemen. Oh ya, dimana adikmu yabg konyol itu?" Tanya Justin sambil celingak-celinguk mencari keberadaan bocah konyol yang mengajaknya ribut di apartemen kemarin.


Rayen muncul dari ambang pintu. Jennie bahagia seketika. Akhirnya suami konyol itu datang juga, setidaknya ia bisa bernapas dengan bebas sekarang.


"Hei hei kalian! Kenapa dekat-dekat istriku." Teriakan itu menggema nyaring di dalam rumah. Kebiasaan Rayen memang tidak bisa hilang juga.


Rayen merebut Jennie dan menyembunyikannya di belakang punggungnya, seperti tidak rela barang kesayangannya di sentuh orang lain. Sedangkan Jennie hanya diam mendapat perlakuan seperti itu dari suaminya. Ya setidaknya ia bisa lepas dari jeratan dua mahluk aneh bin unik itu.


***


Mami Luna datang menghampiri mereka berempat yang sedang berada di ruang depan.


"Eh, ada Nak Justin juga rupanya. Kelihatannya kalian sedang tidak akur, ya? Dari tadi Mami lihat diam-diaman nggak ada yang bersuara." Ucap Mami Luna pada mereka berempat.

__ADS_1


Mereka hanya diam dan saling melontarkan pandangannya satu sama lain.


"Ya sudah, biar lebih tenang, mending kita makan siang bersama-sama yuk. Mami udah siapin masakan enak-enak di atas meja. Hari ini kebetulan bibi lagi di Bandung, jadi Mami deh yang masak. Pokoknya dijamin enak. Ayo anak-anak." Ayak Mami Luna.


Mami Luna berjalan menuju meja makan, dan di ikuti keempat manusia itu dari belakang.


Mereka duduk di kursi, Rayen menggandeng tangan Jennie dan mendudukkan Jennie di kursi, lalu ia pun duduk di sebelahnya. Rayen menatap Justin dan Reyhan dengan tatapan membunuh, Mami Luna hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah lucu putra bungsunya.


Selama makan, Reyhan dan Justin tal henti-hentinya menatap Jennie. Hingga membuat Jennie kehilangan nafsu makannya. Rayen sudah memendam emosi sedari tadi melihat dua mahluk di depannya itu yang terus menatap istrinya. Saat ini Jennie benar-benar terjebak di dalam zona cinta segi empat beracun.


Mami Luna yang sedari tadi memandangi ke empat anak muda di sampingnya sudah paham dengan duduk perkaranya. Pasti Rayen cemburu melihat kakak dan saudara angkatnya memandangi istrinya tanpa hentim Ya, Justin sudah di angkat Mami Luna dan Papi Farhan sebagai anak mereka, yang artinya Justin merupakan saudara angkat Reyhan dan Rayen. Dulunya Rayen sangat dekat dengan Justin, tapi kini kedekatan itu terasa jauh lebih renggang. Sejak kedatangan Jennie sebagai istri Rayen, Dayen tidak lagi akrab dengan Justin maupun Kakaknya, karena mereka berdua sedang menyukai istrinya. Rayen tidak merelakan istrinya menjadi bahan rebutan kedua pria itu. Walau bagaimanapun juga, pilihan ada pada Jennie.


Acara makan itu berubah menjadi perkelahian, tentu saja Rayen yang membuat onar. Saking tidak relanya melihat kedua saudaranya itu selalu menatap istrinya, ia pun bangkin dari duduknya dan menyiramkan dua gelas air pada wajah Reyhan dan Justin. Reyhan sangat emosi, berbeda dengan Justin yang hanya terdiam. Mami Luna tertawa geli melihat tingkah laku anaknya yang sudah kelewat batas itu. Sementara Jennie sendiri hampir mati geli melihat kekonyolan suaminya.


Reyhan memberontak dan ingin menyerang balik adiknya, namun dengan cepat Jennie menyergah tangan Reyhan, hingga air di genggaman Reyhan yang sudah ia persiapkan untuk menyiram Rayen malah jadi menyiram Jennie. Pakaian Jennie basah kuyup karena Reyhan. Rayen semakin tersulut emosi melihat tingkah kakaknya kepada Jennie, padahal awalnya kakaknya ingin menyiram Rayen, bukan Jennie.


Meja makan itu kini sudah tidak berbentuk, berantakan seperti kapal pecah yang perlu di dekor ulang.


Mami Luna benar-benar hampir pingsan karena kelakuan anak-anaknya. Ia memilih untuk mengasingkan diri di kamarnya, biar kekacauan itu mereka yang menanggung sendiri.


Rayen membawa Jennie ke kamar dan menemani Jennie mengganti pakaiannya. Sedangkan Reyhan malah pergi membawa mobil entah kemana, bukannya membereskan kekacauan yang sudah dibuat, malah pergi begitu saja meninggalkan meja makan yang masih berantakan. Tinggal tersisa Justin disana. Akhirnya mau tidak mau Justin mulai membereskan semua perabot makan yang berserakan di meja makan dengan penuh kesabaran ekstra. Bukan ia yang membuat kekacauan tapi malah ia yang kena batunya. Jika tidak dibereskan sekarang juga, Mami Luna bisa mati berdiri jika melihat meja makan yang masih berantakan. Bagaimanapun juga ia tidak rela kan melihat Mami angkatnya mati berdiri karena ulah kedua anak kandungnya. Begitulah kira-kira isi pikiran Justin.


*****


Like&komen guys😊

__ADS_1


__ADS_2