Please, Don'T Go. Baby!

Please, Don'T Go. Baby!
CH 17 ~Bandara


__ADS_3

Helikopter yang membawa mahluk bertiga itu bersama pengawal nya mendarat di bandara Bloomsburry, London. Mereka berdua turun dari helikopter dan berjalan ke ruang tunggu. Beberapa pasang mata memperhatikan mereka dari kejauhan. Ada yang senang melihat pasangan muda itu terlihat romantis, ada juga yang heran karena baru pertama kali nya bandara Bloomsburry kedatangan penumpang yang usia nya masih di bawah umur.


Rayen terlihat sedang membeli minuman kaleng di salah satu warung dekat bandara. Sedangkan Jennie sedang duduk menunggu suami nya di ruang tunggu. Para Bodyguard yang rata-rata memakai seragam berwarna hitam sukses membuat para bule-bule di sana ketakutan. Mungkin mereka pikir itu adalah gerombolan penculik atau polisi.


"Jen, apa kamu yakin tetap ingin kembali ke indonesia bersama suami mu?" Tanya Justin. Pertanyaan Justin membuat Jennie mengangkat salah satu alis nya karena bingung.


"Memang kenapa?" Tanya Jennie.


"Kalau kamu tidak ingin pulang, aku akan membatalkan penerbangan nya sekarang juga. Aku akan membawa mu ke kota besar di Britania raya, tempat nya tidak jauh dari sini." Ucap Justin.


"Apa? Untuk apa kesana?" Tanya Jennie yang masih bingung.


"Aku akan mengajak mu kabur, dan menikahi mu. Kita akan hidup bahagia berdua di kota besar itu. Apartemen teman Ayah ku ada di sana, kita bisa tinggal di apartemen itu sementara, sampai rumah yang aku bangun jadi." Jelas Justin.


"Kamu membangun rumah?" Jennie hampir tidak percaya dengan ucapan Justin. Untuk apa dia membangun rumah di inggris? Bukan nya dia masih bekerja di kantor Papi nya Rayen?


"Iya, aku menyuruh tim proyek ku untuk membangun rumah di dekat apartemen teman Ayah ku. Kita akan tinggal di sana." Jelas Justin lagi.


"Hah? Kita?" Jennie benar-benar terkejut. Apa maksud nya? Dia tidak menyuruh ku bercerai dengan Rayen kan? Batin Jennie.


"Iya, Kita berdua akan tinggal disana. Aku akan mengajak mu kawin lari." Jawab Justin dengan santai nya.


Mata Jennie sudah membulat sempurna, ia sangat terkejut namun belum mengerti apa maksud dari ucapan Justin.

__ADS_1


Jennie diam, mengalihkan pandangan nya ke lain arah. Ia benar-benar tidak ingin membahas hal konyol seperti itu.


Beberapa menit kemudian Rayen datang membawa tiga minuman kaleng.


Rayen memberikan dua minuman itu pada Jennie dan Justin, dan yang satunya ia minum sendiri.


"Bagaimana? Jam berapa penerbangan kita?" Tanya Rayen kepada dua mahluk di sebelah nya itu.


"Setengah jam lagi." Jawab Justin tanpa memandang Rayen.


"Sayang, kamu lapar?" Tanya Rayen pada Jennie. Tentu saja ia mendengar suara cacing-cacing di perut Jennie yang sudah meronta berdemo meminta makan.


"Iya." Jennie menjawab dengan senyum malu.


"Makan disini aja." Jawab Jennie.


"Ya sudah, aku beli dulu ya makanan nya." Ucap Rayen sambil membelai rambut istri nya. Saat Rayen hendak bangkit dari tempat duduk, tiba-tiba Jennie menahan tangan Rayen dan menarik nya agar duduk kembali.


"Suruh Justin aja buat beli makanan nya." Ucap Jennie dengan ekspresi manja nya pada Rayen sambil melirik Justin yang duduk di sebelah nya.


"Kenapa?" Tanya Rayen bingung.


"Udah pokok nya suruh Justin aja." Jawab Jennie dengan raut wajah memaksa.

__ADS_1


"Oke oke. Tin, tolong belikan makanan di warung itu. Ini uang nya. Beli pop mie aja, yang rasa baso sama kari. Terus sisa nya terserah lo mau beli apa." Ucap Rayen sambil memberikan uang senilai lima puluh ribu pada Justin. Justin menerima perintah Rayen tanpa membantah. Justru ia senang karena Jennie menyuruh diri nya untuk membeli makanan, padahal tujuan Jennie menyuruh nya karena ia tidak ingin mendengar ucapan konyol Justin lagi.


"Eh, uang nya kebanyakan. Nih pakai uang dua puluh ribu aja. Beli Pop mie dua aja ya, yang rasa baso sama kari." Jennie memberikan uang senilai dua puluh ribu pada Justin sambil menyunggingkan senyum licik ke arah Justin. Tidak lupa juga jennie merebut uang lima puluh ribu yang di berikan suami nya pada Justin tadi. Raut wajah Justin seketika berubah kecewa. Disisi lain, Rayen juga kebingungan dengan temperamen sikap Jennie yang berubah-ubah.


"Loh, sayang. Kok uang nya di tukar sih? Nanti kalau Justin juga kelaparan bagaimana?" Tanya Rayen yang merasa ada keanehan di balik sikap istri nya.


"Biarin." Jawab Jennie singkat. Tanpa mengatakan apapun, Justin langsung pergi ke warung itu untuk membeli makanan sesuai pesanan tuan putri Jennie. Ia rela meskipun ia tidak diberi jatah makan.


"Sayang, kamu lagi kenapa sih? Kok begitu sama Justin?" Tanya Rayen lembut.


"Begitu apanya? Lagian kamu nya terlalu baik sama dia. Masa cuma suruh beli pop mie aja di kasih uang sebanyak itu. Itu tuh masih banyak banget tau nggak sisa uang nya." Jawab Jennie cemberut.


Rayen hanya tersenyum. Lebih baik mengalah. Lagi pula ia senang istri nya tidak terlalu baik pada Justin.


***


"Nih" Justin memberikan dua pop mie pada Jennie dan Rayen.


Jennie segera memakan pop mie itu dengan lahap. Rayen melihat tingkah istri nya langsung tersenyum geli. Lain hal nya dengan Justin yang sedang cemberut karena perubahan sikap Jennie yang tiba-tiba sentimental. Justin hanya menelan ludah melihat kedua orang disampingnya makan dengan lahap. Terasa nikmat sekali. Sebenarnya Justin juga lapar, karena pagi tadi belum siap sarapan. Tetapi Jennie tidak memberinya uang untuk membeli makanan.


Kedua pasangan itu kini sudah selesai makan. Mereka sedang bersenda gurau sambil menunggu jam penerbangan yang terasa begitu lama. Saat sedang asik asiknya bergurau, tiba-tiba perut Justin berbunyi, pertanda lapar. Rayen memberikan uang pada Justin karena tidak tega melihat nya kelaparan. Ia tahu sedari tadi Justin menahan lapar. Dengan berat hati Jennie mencoba mengikhlaskan uang yang diberikan Suaminya pada Justin. Sebenarnya ia ingin memberi pelajaran untuk Justin karena telah berani mengajaknya kawin lari, meskipun itu baru ajakan tapi Jennie tetap tidak terima. Jennie tidak ingin meninggalkan suami nya. Bagaimana jika Rayen tahu semua itu? Sudah Jelas ia akan menerkam Justin sekarang juga.


Justin pergi membeli makanan di warung tadi. Tetapi ia tidak membawa makanan nya ke ruang tunggu karena merasa tidak nyaman dengan Jennie dan Rayen. Ia langsung melahap makanan itu di warung tersebut, hingga makanan nya habis tak tersisa barulah ia kembali ke ruang tunggu untuk menemui Jennie dan Rayen.

__ADS_1


******


__ADS_2