
Akhirnya taksi dan mobil sport hitam yang di naiki rombongan Rayen dan Jennie tersebut telah sampai di depan gerbang hitam tinggi menjulang yang merupakan rumah Rayen.
Jennie dan Rayen segera turun setelah membayar ongkos kepada driver taksi itu.
Si driver taksi pun kini bisa bernapas lega setelah beberapa jam menahan napasnya karena tingkah konyol kedua remaja di dalam taksi itu.
***
Jennie bersikap dingin pada Rayen. Ia marah karena seharusnya ia tidak ke sini. Seharusnya ia pulang ke rumahnya dan bertemu Lisa di sana. Namun Rayen malah menyuruh si driver taksi itu untuk mengantarkan mereka ke sini.
"Jen" panggil Rayen. Namun tidak dijawab oleh Jennie.
Saat Rayen hendak masuk, tiba-tiba Jennie menarik tangan Cowok itu.
"Aku mau pulang ke rumahku. Lisa nungguin aku disana. Kalau kamu nggak mau ngantarin aku pulang, aku pulang sama Justin aja." Ucap Jennie tiba-tiba sambil melirik Justin yang sedari tadi berada di sebelah nya. Justin hanya diam tak bergeming.
"Bukan begitu loh, maksud aku kita masuk dulu ke rumah ku, nemuin Mami sama Papi dulu. Habis itu nanti kita ke rumah kamu." Jelas Rayen. Sebenarnya hati nya sedikit cemburu mendengar bahwa istri nya ingin pulang di antar Justin. Tapi ia mencoba tenang karena ia tidak ingin berdebat dengan istrinya. Ini bukan saatnya untuk memulai perdebatan.
"Ayo kita masuk dulu, aku capek nih gendong tas ini mulu. Pundak ku pegel." Rayen mengajak Jennie masuk. Gadis itu hanya mengangguk. Mengekori suami nya dari belakang. Terpaksa ia mengikuti suaminya, karena sebenarnya ia juga merasa sangat lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dari London ke Jakarta.
"Bro, gua mau langsung ke apartemen aja. Ini tas lo Jen." kata Justin sambil memberi tas milik Jennie yang sedari tadi di pegang nya.
"Loh kenapa? Tin, kita masuk dulu." Jennie mencegah Justin agar tidak pergi darinya. Entah setan apa yang merasuki Jennie. Gadis itu benar-benar tidak ingin jauh dari Justin.
Jennie menarik tangan Justin agar mengikutinya ke dalam rumah besar Rayen.
***
"Hai Mam." Sapa Rayen sambil berlari memeluk Mami nya. Ia melemparkan tas nya ke sembarang arah, dan tidak sengaja mengenai kepala Jennie.
__ADS_1
Aww!! Sialan sekali kau, Ray!
Rayen tidak sadar bahwa tas yang ia lempar mengenai kepala istrinya yang ada di belakang nya. Cowok itu memeluk dan menciumi Mami nya. Jennie sempat bergidik ngeri melihat tingkah konyol Rayen yang bahkan lebih konyol dari apapun.
"Eh kalian udah pulang. Mami kangen sama kalian." Mami membalas ciuman putra bungsunya itu. Jennie hanya diam dengan tatapan kosong.
"Jen" Panggil Rayen sambil memberi kode lewat mata nya pada Jennie. 'Kamu belum salaman sama mami loh, salaman dulu.' Kira-kira seperti itulah yang kode mata nya katakan.
Jennie langsung menangkap kode tersebut dan langsung menyalami ibu mertua nya itu.
"Jennie juga kangen, Mam." Ucap Jennie sambil memeluk ibu mertua nya.
Sementara Justin masih setia berdiri di belakang Jennie. Ia hanya tersenyum singkat ketika Mami Rayen tersenyum padanya.
"Ya sudah, sekarang kalian istirahat dulu di kamar. Kan baru pulang, pasti capek dong." Mami Rayen menyuruh ketiga remaja itu untuk beristirahat. Jennie hanya mengangguk dan membalikkan badan nya berjalan menuju kamar tanpa aba-aba. Jujur saja, sebenarnya ia sudah jangan penat sekali.
Sementara Rayen dan Mami nya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Jennie.
"Tadi dia minta nya pulang ke rumah nya, Mam. Tapi Aku membawa dia ke sini dulu.Ya kan dia pasti letih karena menempuh Perjalanan yang jauh banget. Makanya aku bawa ke sini dulu supaya istirahat. Tapi dia nya malah gitu, kayaknya ngambek deh Mam." Jelas Rayen sambil menghela napas panjang.
"Ya udah lebih baik sekarang kamu temani istrimu istirahat dulu. Nanti kalau istrimu udah nggak ngambek lagi, baru kamu ajak dia ke rumah nya. Mungkin dia juga kangen sama orang tua nya." Saran Mami. Rayen hanya mengangguk tanda mengerti, kemudian ia berjalan menuju kamar nya.
***
"Jen" Panggil Rayen sambil berjalan mendekati Jennie yang sedang berbaring di ranjang besar nya.
Jennie hanya berdehem.
"Udah dong Jen, jangan marah." Rayu Rayen sambil merangkak di ranjang untuk Menghampiri Jennie.
__ADS_1
Lagi-lagi Jennie hanya berdehem.
Sekarang posisi Rayen sudah ada tepat di samping Jennie. Cowok itu mengelus rambut istri nya dengan lembut.
"Maksud aku bawa kamu ke sini itu supaya kamu bisa istirahat dulu, melepas penat. Nanti kalau udah nggak capek lagi baru kita ke rumah kamu." Ucap Rayen sambil terus membelai rambut Jennie.
"Tapi Lisa udah nunggu dari tadi. Aku dah bilang aku akan secepatnya pulang." Akhirnya Jennie membuka suara nya. Gadis itu melipat kedua tangan nya di depan dada, menirukan gaya ngambek ala suami nya. Dan memanyun-manyunkan bibir nya.
"Iya sayang, aku tau. Nanti aku jelaskan sama Lisa kalau kita udah sampai di rumahmu ya. Sekarang kamu istirahat dulu. Pasti capek kan?" Tanya Rayen sambil meniup-niupi pucuk rambut kecil Jennie yang teruntai di atas dahi nya.
Tanpa berkata apapun, Jennie langsung membalikkan badan nya dan memejamkan mata nya. Rayen yang melihat tingkah istri nya itu tahu bahwa istri nya ternyata masih marah padanya. Dengan penuh kesabaran ekstra Rayen menyelimuti tubuh istri nya dari belakang sambil meniupi rambut belakang istri nya.
"Tidur yang nyenyak ya sayang. Nanti baru kita ke rumah mu" Kata Rayen sambil membelai lembut rambut istri nya.
Beberapa menit kemudian Jennie pun tertidur, dan kemudian di susul oleh Rayen yang juga ikut tertidur dengan posisi ia memeluk Jennie dari belakang. Andai Bi ART melihat adegan peluk pelukan ini lagi, pasti jiwa single nya kembali meronta.
Sementara di sisi lain, Justin sudah tertidur pulas di ranjang besar milik Reyhan. Ia memang biasa tidur bersama Reyhan di kamar milik Reyhan. Tetapi sedari tadi ia tidak melihat Reyhan. Entah dimana keberadaan cowok itu.
***
Di Tengah tidur nya, Jennie mengigau. Rayen mendengar Jennie menyebut nama orang lain sedangkan matanya masih terpejam.
Justin ... Justin ...
Shitt!! Kenapa dia menyebut nama Justin ?
Apa yang sudah di lakukan pria itu pada istriku ?
Dan sejak kapan istriku jadi dekat dengan cowok itu?
__ADS_1
Pertanyaan-pertanyaan aneh terus menari-nari di pikiran Rayen. Memang benar, baru kali ini ia mendengar istrinya terus menyebuti nama Justin. Bahkan ketika tidur.
*******