Please, Don'T Go. Baby!

Please, Don'T Go. Baby!
CH 12 ~London


__ADS_3

Pagi ini Jennie dan Rayen bangun lebih awal dari biasanya. Mereka segera bersiap-siap ke London. Jennie mempersiapkan berbagai macam obat-obatan karena biasanya Jennie sering mabuk perjalanan, apalagi perjalanan yang akan di tempuh nanti sangat jauh. Di sisi lain, Rayen tengah memasukan pakaiannya ke dalam koper besar. Kali ini Jennie tidak merias dirinya, ia hanya menggunakan hoodie tebal karena takut akan masuk angin. Begitulah Jennie, selalu waspada terhadap penyakit. Berbeda dengan Rayen yang malah menggunakan kemeja hitam berdasi, seperti orang kantoran. Tapi bedanya, ia tidak mengenakan Jas.


Jika dilihat dari sisi astrologi, Rayen merupakan Pria berbintang Pisces sedangkan Jennie merupakan Gadis berbintang Capricorn. Perpaduan antara zodiak Pisces dengan Capricorn memang begitu cocok, jika dilihat dari sisi zodiak nya. Namun nyatanya tidak, menurut author sendiri nih, Jennie dan Rayen kurang cocok. Disini Author menggambarkan karakter mereka sedikit miring dari sisi zodiak, nanti akan ada saatnya Jennie menemukan jodohnya di pertengahan cerita. Di awal sudah Author gambarkan sosok tersebut, tetapi masih samar, nanti akan author perjelas di pertengahan cerita. Terus nantikan UP berikutnya yaa😊. Eh, btw maaf author jadi ikutan nimbrung nih😅. Yaudah, kita lanjut pada cerita ya 🙌.


***


Setelah menempuh perjalanan Jakarta-London selama tujuh belas jam, akhirnya pesawat pribadi yang membawa mereka sampai di London pukul enam petang, selisih enam jam lebih lambat dari Indonesia. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan ke pulau pribadi Rayen menggunakan helikopter selama lima belas menit.


"Huekk..huekk..huekk.." Jennie langsung muntah-muntah saat ia baru turun dari helikopter. Ini pertama kalinya Jennie menaiki kendaraan seperti itu. Rasanya sangat tidak nyaman, membuat kepala Jennie berputar-putar tidak jelas.


"Nona tidak papa?" Tanya seorang pelayan sambil memijat batang leher Jennie. Sementara Rayen masih sibuk membawa semua kopernya masuk ke dalam. Saat ini mereka sedang berada di Villa pribadi keluarga Rayen.


Jennie benar-benar pusing, gadis itu sama sekali tidak mau melihat keindahan alam di sekelilingnya. Ia langsung membanting tubuhnya di atas ranjang.


"Pusing banget, ya?" Tanya Rayen menghampiri Jennie dan duduk disamping gadis itu.


"Iya nih, gara-gara kamu sih ngajakin aku kesini." Jawab Jennie ketus, tapi sebenarnya ia senang bisa ke London.


"Oh, jadi kamu sebenarnya nggak mau aku ajak kesini? kalau gitu kenapa nggak ngomong dari awal sebelum kita kesini? Kan bisa aku batalin aja." Ucap Rayen yang tak kalah ketusnya. Tiba-tiba Rayen marah dengan Jennie. Lain kali Jennie harus berhati-hati ketika berbicara dengan pria hello kitty itu. Hatinya yang sangat sensitif benar-benar membuat Jennie harus lebih waspada.


Rayen pergi meninggalkan Jennie dan menghirup udara segar diluar. Jennie merasa bersalah karena sudah berbicara ketus pada suaminya. Sudah tahu kan, hati suaminya itu bagaikan kulit bayi yang gampang iritasi. Tapi Jennie tetap saja memancing emosi suaminya.


"Ray." Lirih Jennie dari dalam. Sedangkan Rayen masih berada diluar, ia diam saja meski mendengar rintihan Jennie.


"Rayen!" Teriak Jennie dengan sisa tenaganya. Rayen langsung berlari menghampiri Jennie, takut-takut Jennie bunuh diri karena menghadapi sifat sensitif suaminya.


"Ray. Kepalaku pusing banget, Ray." Rintih Jennie sambil membolak-balikkan kepalanya. Rayen melihat Jennie merintih semakin panik. Wajah Jennie sudah pucat pasi seperti mayat hidup.

__ADS_1


Rayen kebingungan, mondar-mandir dihadapan Jennie. Ia bingung harus melakukan apa. Akhirnya dengan segera ia berlari ke dapur untuk meminta pertolongan kepada Bi pelayan. Biasanya kalau seperti ini, Maminya lah yang mengurus mereka. Tetapi berhubung mereka ke London hanya berdua dengan Jennie dan hanya ditemani beberapa bodyguard dan pelayan, maka mereka benar-benar dituntut untuk mandiri.


"Bi ... bi ..." Teriak Rayen dengan panik.


"I ... iya, Den?" Jawab bibi yang juga ikut panik.


"Bi, tolong istriku bi. Dia sekarat." Wah, mulut jahanam Rayen benar-benar sialan sekali.


"Hah? Sekarat? Yang benar den? Perasaan tadi dia tidak papa." Sepertinya Bibi tidak percaya. Ya, ketidakpercayaan Bibi memang benar. Jennie tidak sekarat. Mulut Rayen saja yang asal bicara.


"Aduh, udah deh cepetan sekarang bibi temuin istriku, keburu dia mati bi!" Lagi-lagi kata-kata jahanam level dua keluar dari mulut kampret Rayen.


Bibi segera berlari menghampiri Nona mudanya, yaitu Jennie.


"Non, Nona tidak papa?" Tanya bibi panik.


"Nggak papa bi, cuma kepalaku pusing banget. Tolong bikinin teh hangat ya Bi." Jawab Jennie.


Jennie langsung membulatkan bola matanya, terkejut dengan ucapan Bibi. Apa benar mulut Rayen se-kampret itu?


"Rayen, sini kamu!" Bentak Jennie. Bola matanya masih melotot, seperti akan keluar dari tempatnya. Amarah Jennie sudah menggebu-gebu, seakan sudah siap di ledakan kapan saja.


Rayen mendekat dengan perasaan takut-takut. Ia tahu ia sudah salah bicara. Tapi memang benar kan tadi Jennie sudah seperti orang sekarat? Abaikan. Itu hanya pemikiran konyol Rayen.


"I ... iya Jennie." Rayen mulai gugup+takut.


"Tega-teganya ya kamu bilang istrimu sekarat. Kamu mau istrimu benar-benar mati?" Tanya Jennie emosi.

__ADS_1


"Eh, iya iya maaf. Ya nggak lah Jennie sayang. Aku nggak mau istri kesayangan aku mati. Ngeliat kamu kayak tadi aja aku udah paniknya setengah mati, apalagi kalau kamu beneran sekarat terus mati. Aku nggak mau jadi duda, Jen." Jawab Rayen lembut. Suaranya dibuat se-menggoda mungkin.


"Terus kenapa bilang kayak gitu sama Bibi?" Tanya Jennie yang masih emosi.


"Ya maaf. Itu karena saking paniknya ngeliat kamu kayak gitu, sampai aku salah bicara. Maaf ya sayang." Jawab Rayen dengan mata binar. Dilihat dari matanya, ucapan itu benar-benar tulus. Tapi jika di pandang dari otaknya, anak itu benar-benar konyol tiada duanya.


"Nggak aku kasih jatah malam pertama, mau?" Tanya Jennie dengan ancaman ringan. Namun jelas membuat Rayen gelagapan.


Rayen sontak terkejut, dan ikut membulatkan matanya besar-besar mendengar ucapan Jennie. Seperti enteng sekali Jennie mengatakannya.


"Yah, kok gitu sih." Sekarang giliran Rayen yang ngambek. Ia sudah melipat kedua tangannya di depan dada dan memasang raut wajah menyeramkan. Tapi se-seram seramnya Rayen, ia tetap terlihat imut dimata Jennie.


"Sudah sudah, aku hanya bercanda. Dasar suami sensitif." Jennie tertawa lepas setelah mengatakan itu.


Beberapa menit kemudian, bibi datang membawa secangkir teh hangat.


"Ini non, tehnya." Bibi memberikan cangkir berisi teh itu kepada nona mudanya.


"Makasih, Bi." Ucap Jennie.


Jennie segera meminum teh hangat itu. Kepalanya sudah terasa lebih baik sekarang.


"Gimana, udah mendingan?" Tanya Rayen.


"Udah lumayan" Jawab Jennie.


Jennie sudah tidak terlalu pucat. Ray lega melihat istrinya yang sudah siuman. Eh, maksudnya sudah sembuh dari insiden sakit kepalanya.

__ADS_1


Berhubung ini sudah malam, Jennie dan Rayen pun tidur di ranjang Villa yang mereka tempati tersebut. Saat ini Mereka berdua sudah tertidur nyenyak dengan posisi Rayen yang memeluk Jennie dari belakang. Bibi tidak sengaja melewati kamar yang masih terbuka lebar itu. Dilihatnya sepasang suami istri muda itu sedang tidur nyenyak sambil berpelukan. Uhh, romantisnyaa. Jiwa Single Bibi terus meronta-ronta.


******


__ADS_2