
Malam ini adalah malam terakhir Rayen dan Jennie berada di London. Besok pagi mereka akan kembali pulang ke indonesia. Mahluk bertiga itu saat ini sedang berada di meja makan kecil untuk menikmati makam malam. Rayen dan Justin terlihat sangat akur, Jennie begitu senang melihat nya. Rayen tidak lagi marah ketika melihat Justin berdekatan dengan Jennie. Tapi kalau cemburu jangan ditanya, jelas ia masih cemburu. Namun mencoba tetap tenang agar tidak hilang kendali seperti tadi siang. Rayen yang sekarang sudah jauh berbeda, kini ia sudah sedikit lebih dewasa. Bukan dewasa umur nya, melainkan dewasa sikap nya. Ia sudah tidak lagi egois seperti tadi. Tetapi otak konyol dan sifat sensitif nya sama sekali belum hilang. Mungkin sudah melekat sejak lahir. Entahlah, hanya Mami Luna dan Tuhan yang tahu.
"Jen, udah kenyang makan nya?" Tanya Justin lembut. Ia sungguh senang akhirnya Rayen memberikan peluang untuk nya agar bisa merebut Jennie dari tangan Rayen. Sebentar lagi kau akan menjadi milik ku, gadis manis. Kita akan pergi dari sini dan hidup bahagia. Batin Justin dengan seringai licik nya.
"Udah" Jawab Jennie sambil tersenyum.
Rayen diam tak bergeming, ia terus menyuapi makanan ke dalam mulutnya sambil sesekali melirik mereka berdua. Ia berusaha berlapang dada melihat adegan drama gratis di hadapan nya. Kira-kira dada Rayen sekarang sudah selebar lapangan bola. Justin mengelap sudut bibir Jennie karena ada sisa makanan yang masih menempel.
Uhukk ... Uhukk ...
Rayen tersedak melihat Justin berani menyentuh istri nya lagi. Berani nya kau!! Rayen mendengus kesal dalam hati nya, ia berusaha mengendalikan diri agar tidak hilang kendali lagi.
Jennie segera memberikan segelas air pada Rayen, ia juga memberi kode pada Justin agar berhenti melakukan itu. Ia tahu suami nya pasti cemburu, menahan cemburu sampai tersedak begitu.
Setelah minum, Rayen menyudahi makan nya dan langsung berjalan ke kamar tanpa mengajak istri nya. Ia meninggalkan Jennie begitu saja. Jennie sudah tahu bahwa Rayen pasti marah pada nya. Hati sensitif itu pasti sedang iritasi, dan butuh pengobatan medis. Jennie menghampiri suami nya di dalam kamar, sementara Justin tetap duduk di ruang makan. Ia memberi waktu pada gadis itu untuk menghibur bayi gede yang sedang merajuk di dalam kamar.
***
"Ray .." Jennie memanggil Rayen dengan nada extra lembut.
__ADS_1
"Hm." Rayen hanya berdehem tanpa melihat Jennie. Ia menutupi wajah nya dengan bantal.
"Ray, aku tahu kamu marah." Ucap Jennie lagi. Ia mendekati Rayen dan membelai rambut nya. Rayen pura-pura memejamkan mata nya. Ia tidak ingin menatap Jennie.
"Ray .." Jennie menepuk-nepuk pipi Rayen agar mau membuka mata.
Rayen membuka mata nya perlahan. Pura-pura menggeliat tidak jelas.
"Emmpp .. Aku mau tidur, Jen." Ucap Rayen singkat. Ia menarik selimut nya menyelimuti seluruh tubuh nya hingga kepala. Lebih tepat nya ia sedang bersembunyi di balik selimut.
Jennie paham, bahwa Rayen sedang tidak ingin di ganggu. Saat ini Rayen benar-benar sedang tidak bisa di ajak bercanda. Lebih baik ia membiarkan Suami nya tidur, dari pada melihat pria itu menelan Justin mentah-mentah. Mungkin Rayen lupa dengan janji konyol yang pernah di ucapkan nya dulu, bahwa ia akan membunuh Jennie dan Justin sekaligus jika melihat mereka bermesraan di hadapan nya. Untung lah jika dia Lupa dengan janji nya sendiri.
***
Di sisi lain, Justin masih diam termenung menunggu kedatangan Jennie di meja makan. Karena lelah nya menunggu, hingga tanpa sadar ia telah tertidur pulas di meja makan. Bibi tidak sengaja lewat, ia spontan terkejut melihat pria yang tidur di meja makan. Ia mendekati pria itu dan memperhatikan nya lebih dekat. Ternyata Pria itu adalah boss muda nya, yaitu Justin.
Den, den. Kasihan sekali kamu. Apa kedua pengantin muda itu tidak menganggap mu hingga kau tertidur di sini? Batin Bibi sambil tersenyum geli melihat tuan muda nya tidur di meja makan. Sungguh penampakan fantastis yang tidak pernah bibi lihat sebelumnya. Seorang boss bawahan CEO di perusahaan PC yang sangat terkenal tidur di meja makan. Ingin sekali Bibi memotret Justin dan menyebarkan nya ke seluruh akun sosial nya, dengan Caption 'Baru pertama kali melihat seorang Boss tampan tidur di meja makan. Sungguh malang sekali nasib mu, Boss.'. Namun ia tidak berani. Karena Tuan muda nya itu sangat pintar. Ia bahkan memiliki akses jaringan di mana-mana. Bahaya kan jika Bibi sampai di pecat hanya karena itu. Bukan hanya di pecat saja, mungkin nasib Bibi juga akan lebih mengenaskan jika ia sampai berani membuat masalah dengan Tuan muda nya. Bisa jadi Bibi akan di kubur hidup-hidup jika sampai berani melakukan itu. Oh, sungguh sulit di bayangkan. Bibi berharap itu tidak akan pernah terjadi.
Bibi segera membereskan semua alat makan yang ada di atas meja. Ketika Bibi tidak sengaja membenturkan sendok ke piring hingga menimbulkan bunyi yang cukup nyaring, Justin terbangun. Justin terkejut melihat bibi yang tiba-tiba ada di samping nya. Begitu juga Bibi yang tak kalah terkejut nya melihat tuan muda nya itu tiba-tiba terbangun. Justin menatap tajam mata bibi, tatapan itu sukses membuat bibi gemetar ketakutan. Untung saja tidak jantungan.
__ADS_1
"Bibi ngapain di sini?" Tanya Justin bingung.
Seharus nya Bibi yang tanya, kenapa tuan muda tidur di meja makan begini ? Batin bibi.
"Bi .." Justin membuyarkan lamunan Bibi. Bibi lagi-lagi terkejut.
"Eh iya den."
"Kenapa bibi tiba-tiba ada di sini?" Justin kembali mengulangi pertanyaan nya.
"Ini bibi mau membereskan semua piring-piring dan gelas bekas makan Den Justin, Den Rayen, dan juga Non Jennie." Jawab bibi dengan sangat mendetail.
"Oh ya, dimana Jennie?" Tanya Justin. Ia tidak melihat Jennie keluar dari kamar. Padahal sedari tadi ia menunggu nya.
"Non Jennie sudah tidur bersama Den Rayen, Den." Jawab Bibi dengan gugup. Tangan nya masih gemetar. Takut-takut Justin akan melenyapkan wanita paruh baya di hadapan nya itu karena sudah berani membangunkan macan yang sedang tidur.
"Benarkah?" Tanya justin yang masih tidak percaya. Bagaimana mau percaya, ucapan Bibi terdengar kurang meyakinkan.
Untuk membuktikan ucapan bibi, Justin berjalan ke kamar. Ia mengintip dua insan yang sudah tertidur dengan sangat nyenyak di balik pintu. Karena pintu nya tidak di tutup. Jennie maupun Rayen memiliki kebiasaan yang sama, selalu lupa menutup pintu ketika akan tidur. Maklum saja lah, mereka kan masih remaja.
__ADS_1
*******