Please, Don'T Go. Baby!

Please, Don'T Go. Baby!
CH 9 ~Apartemen


__ADS_3

Rayen menggandeng tangan Jennie begitu sampai di apartemennya.


"Sayang, kamu tunggu disini. Aku akan menemui Papi terlabih dahulu di ruang kerja." Rayen mendudukkan Jennie di sebuah kursi di lobi apartemen.


Jennie mulai membuka dan memainkan ponselnya sembari menunggu kedatangan Rayen.


***


Di ruang kerja


"Pagi, Pi." Ucap Rayen pada Papi nya yang sedang duduk menatap layar laptop kebanggaannya.


"Eh, jagoan Papi tumben kesini. Pagi-pagi pulak. Dimana istrimu?" Tanya Papi Farhan.


"Dia menunggu di lobi, Pi." Jawab Rayen.


"Loh, kamu ini bagaimana, sih. Ini kan pertama kalinya istrimu ikut ke apartemen Papi, ajaklah dia masuk ke ruang Papi. Jangan di biarkan menunggu di lobi, dia kan bukan orang asing."


"Iya, maaf, Pi. Jennie masih malu, mungkin belum terbiasa kesini."


"Ya sudah. Jadi apa agenda mu kemari?" Tanya Farhan mengalihkan pembicaraan.


"Ayo kita ke ruang khusus saja. Masa kita hanya ngobrol berdua disini. Ajak istrimu ke ruang khusus, Papi tunggu disana." Papi Farhan menutup laptopnya dan berjalan menuju ruang khusus. Begitu juga dengan Rayen yang membuntuti Papi nya dari belakang.


Rayen menemui Jennie di lobi. "Sayang, ayo kita ke ruang khusus." Ajak Rayen begitu sampai di lobi.


Ruang khusus? Ruang apa lagi itu? Apa di sini begitu banyak ruangan? Tadi ruang Papi, sekarang ruang khusus. Terus ada ruang apa lagi selanjutnya? Batin Jennie.


Jennie hanya mengangguk dan mengikuti suami nya.


***


"Pi" Panggil Rayen yang masih berada di ambang pintu bersama Jennie.


"Hei, kebiasaan sekali kamu, Nak. Manggil dari jauh. Masuk lah dulu, ajak istrimu masuk dan duduk disini." Ucap Farhan pada anak bungsu kesayangannya. Memang Rayen bukan hanya konyol, tetapi juga ceroboh. Kebiasaan buruk memanggil orang dari kejauhan ternyata belum hilang juga.


Pipi Rayen merah merona menahan malu di hadapan istrinya. Ia mengajak Jennie duduk di sofa.


"Jadi, apa gang ingin kalian bicarakan? Tumben sekali kalian kesini." Tanya Farhan yang mulai penasaran penasaran dengan kedatangan mereka berdua.


"Dimana Justin, Pi?" Tanya Rayen.

__ADS_1


Deg..


Jennie tersentak mendengar suaminya mencari keberadaan Justin. Ya tuhan, tolong aku. Apa Rayen benar-benar tahu kalau aku mengenal rekan kerja Papi nya itu? Batin Jennie gemetar-gemetar takut.


"Justin ada di ruang kerja nya. Mungkin dia sedang mengerjakan pekerjaannya. Pergi dan temui lah dia, bicarakan saja apa yang ingin kalian bicarakan padanya. Papi masih sibuk banyak pekerjaan." Ucap Farhan.


Hufftt. Syukurlah kalau dia di ruangannya.


"Baik, Aku akan menemuinya." Ucap Rayen lalu bangkit dan ingin menemui Justin di ruangannya.


Jennie segera menarik tangan Rayen. "Ray, jangan. Emm, maksudku aku akan ikut denganmu." kata Jennie gugup.


Tanpa berkata apapun, Rayen segera menggandeng tangan Jennie. Mereka berjalan menuju ruangan Justin.


***


"Nah, pas sekali. Ada Kakak juga." Ucap Rayen begitu melihat Kakaknya juga ada di ruangan Justin.


Eh, ada apa ini? Kenapa ada Reyhan juga di sini? Firasat ku berubah tidak enak begini, ada masalah apa lagi sebenarnya?


"Hai, Bro. Akhirnya kita ketemu lagi." Sapa Justin sambil menyalami tangan Rayen. Namun Rayen maah menepis tangan Justin.


"Langsung saja pada intinya. Masalah kalian berdua belum selesai!" Ucap Rayen pada Justin dan Reyhan.


Loh, masalah apa memangnya? Bukankah selama ini aku tidak pernah membuat masalah dengan anak ini? Batin Justin.


Reyhan hanya diam mematung. Ia sudah tahu duduk perkaranya tidak lain pasti menyangkut soal Jennie. Siapa lagi jika bukan Jennie, Rayen akan marah jika ada orang yang mendekati istrinya. Pasti itu masalahnya.


Jennie dan Reyhan saling beradu pandang, saling menatap dengan tatapan bingung.


"Jadi, kenapa kemarin kamu mendekati istriku? Sudah ku bilang kan sebelumnya, aku tidak akan rela siapapun mendekati istriku!" Ucap Rayen dengan tegas kepada kedua orang di hadapannya.


Sudah ku duga, pasti itu masalahnya. Huh, Rayen egois banget sih. Gumam Jennie dalam hati.


"Maaf, Bro. Kemarin itu hanya kebetulan saja aku bertemu sahabat lama ku, dan dia juga sedang bersama Jennie. Dia mengenalkan Jennie padaku dan aku menyambutnya dengan baik. Hanya itu, aku dan Jennie tidak melakukan apa-apa setelah itu." Ucap Justin mencoba menjelaskan dengan ekspresi santai nya, padahal ia sedang sangat gugup.


"Jangan bohong! Jelas-jelas aku melihatmu menyentuh tangan istriku."


Hah? Dia melihat? Apa kemarin dia juga ada di sana? Pikir Jennie.


Cih, hanya menyentuh tangan saha kau sudah cemburu buta begini. Jijik sekali kau, Dek. Batin Reyhan sambil berlagak jijik.

__ADS_1


"Aku menyentuhnya karena bersalaman. Hanya itu, sudahlah sebaiknya jangan berlebihan. Keluarlah jika sudah tidak ada urusan lagi. Aku masih banyak pekerjaan yang jauh lebih penting." Ucap Justin dengan maksud mengusir si pengacau Rayen dari ruangannya.


"Jangan sombong kau! Kau itu bekerja di perusahaan Papi ku. Sebaiknya jangan sombong! Atau aku adukan ke Papi sekarang juga." Ancam Rayen emosi.


Ya ampun, dimana letak sombongnya coba? Anak ini memang benar-benar aneh. Gimam Justin dalam hati.


Loh, kenapa masalahnya malah jadi merambat ke pekerjaan sih? Ah Rayen memang pembuat onar. Batin Jennie.


Begitulah jika berdebat dengan Rayen, tidak akan pernah ada habisnya. Pemikiran Rayen belum dewasa sama sekali, padahal usianya sudah menginjak remaja. Masalah satu belum selesai, pasti selalu ada masalah kedua yang di buat Rayen. Namun ia tidak pernah mengakui kesalahannya di depan Papi nya. Ia selalu menyalahkan orang lain, dan menganggap dirinya yang paling benar.


Reyhan merasa muak dengan segala omelan adiknya, padahal ia sendiri tidak tahu dimana letak kesalahannya. Adiknya benar-benar punya mata dimana-mana. Semua jenis masalah bisa di ketahuinya.


"Jen, ayo kita pergi dari sini." Ajak Rayen pada Jennie. Jennie hanya mengangguk lalu mengikuti suaminya dari belakang.


Sementara di dalam ruangan, Justin mendesah frustasi. Entah apa kesalahannya sampai ia mendapat berbagai umpatan dari mulut jahanam Rayen.


"Sudahlah, Bro. Jangan di pikirkan. Adik gua emang gitu, nggak tahu malu. Hobi nya nyari masalah mulu." Ucap Rayen pada Justin.


Justin tak menjawab, ia pura-pura sibuk dengan laptopnya.


***


"Ray, apa yang kamu lakukan tadi sama saja kamu menjerumuskan dirimu sendiri ke lobang buaya." Ucap Jennie pada rayen. Namun Rayen tak menghiraukannya, ka hanya fokus pada kemudi.


"Ray!" Sergah Jennie. Ia mulai kehabisan kesabaran menghadapi suami anehnya itu.


"Apa? Memangnya aku melakukan apa?" Tanya Rayen dengan santainya, seperti manusia tak berdosa.


Jennie semkain marah dibuatnya. Bahkan Rayen pura-pura tidak menyadari apa kesalahannya. Jennie benar-benar sudah kehabisan cara menghadapi suami unik itu.


"Sudahlah, lupakan. Nggak ada gunanya berdebat sama cowok aneh sepertimu." Jennie mengalihkan pandangannya ke kaca mobil, melihat pepohonan dari samping mobilnya.


Rayen tak kunjung menjawab. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sampai akhirnya mereka tiba di rumah besar bak istana milik keluarga Rayen.


***


Visual Justin



ia adalah seseorang yang sangat di percaya Farhan untuk memegang saham di perusahaannya. Karena farhan merasa ragu memberikan sahamnya kepada Reyhan maupun Rayen. Kedua anaknya itu kurang bisa di percaya. Justin, Pria usia 27 tahun ini merupakan Pria hebat dan berkharisma.

__ADS_1


__ADS_2