
Siang tadi, kedua orang tua Rayen dan Jennie sepakat untuk menikahkan mereka berdua. Pernikahan yang di gelar sangat sederhana dan begitu singkat, hanya di hadiri beberapa sanak saudara dan keluarga tentunya. Kini dua bocah polos itu sudah sah menjadi sepasang suami istri. Insiden salah paham itu menimbulkan dampak yang sangat besar bagi dua kepala keluarga sekaligus. Segala solusi sudah di usulkan, namun menikahkan mereka berdua lah satu-satunya cara terbaik demi menjaga nama baik keluarga.
Menolak? Tentu saja Rayen dan Jennie bersikeras menolak keputusan gila yang di atur oleh orang tuanya. Mereka tidak merasa melakukan apapun. Berkali-kali mereka menjelaskan kepada orang tuanya, namun tidak berguna sama sekali. Bahkan orang tua mereka percaya bahwa Rayen dan Jennie telah melakukan adegan mesum di dalam mobil sport mewah itu. Apalagi mulut kampret Jennie yang malah berteriak. Andai ia tidak berteriak, mungkin tidak akan di nikah kan seperti ini. Walau bagaimanapun Rayen tidak ingin di salahkan, karena itu semua salah Jennie dan teman-teman berhati iblis yang telah mengejarnya. Sedangkan Jennie berteriak karena saking kaget nya melihat Rayen yang tiba-tiba menyusup masuk ke dalam mobilnya, dan pingsannya Jennie karena di dekap kuat oleh Rayen. Andai orang tuanya mau mendengarkan penjelasan kedua bocah itu, pasti mereka tidak akan di nikah kan seperti ini hanya untuk menutupi aib keluarga yang sudah tercemar buruk di internet.
***
Di dalam kamar, mereka bahkan sempat bertengkar hebat seperti anjing dan kucing. Jennie masih tidak terima, ia tidak mau menanggung beban pernikahan hanya karena kebodohan yang Rayen lakukan. Ini tidak adil baginya, Jennie tidak bersalah dalam kasus ini. Cowo culun itulah yang patut untuk di salahkan. Juga teman-teman jahatnya yang sudah menyebarluaskan foto mereka lalu membesar-besarkannya.
Saling cakar mencakar, beradu mulut, bahkan saling caci memaki. Itulah yang mereka lakukan sedari tadi. Sampai akhirnya mereka merasa lelah, dan memutuskan untuk menerima musibah ini dengan lapang dada dan beribu kesabaran. Rayen minta maaf atas kesalahannya pada Jennie waktu itu, sedangkan Jennie minta maaf karena telah membuat Rayen babak belur di malam pertamanya. Lelahnya perdebatan itu membuat mereka sadar, bertengkar tidak akan memecahkan sebuah masalah. Ada bahtera rumah tangga yang harus mereka jalani, meskipun itu sangatlah terpaksa. Namun semua itu adalah kenyataan hidup yang tidak bisa di ganggu gugat.
"Sekarang kita harus ngapain, Jen? Aku tidak tahu apa yang di lakukan pasangan yang baru saja menikah." Ucap Rayen polos. Mereka berdua duduk di sebuah ranjang besar dengan pembatas guling dan boneka di tengah tengah. Saat ini mereka sedang berada di apartemen Papi nya Rayen. Namun Papi nya Rayen tidak ada di sini karena ia sedang menginstruksi pekerjaannya di lain tempat.
Ya jelas malam pertamaan lah, ****! Batin Jennie.
"Langsung tidur aja" Perintah Jennie sambil memainkan ponselnya di samping Rayen.
Rayen mengerjapkan matanya berulang-ulang. Kata tidur terdengar sangat ambigu di telinganya. Mungkinkah itu semacam tidur yang di lakukan suami istri biasanya? Jantung Rayen mendadak dag-dig dug saat memikirkannya. Otaknya terus berputar mencerna ucapan Jennie.
"Emm..Jen.." Panggil Rayen sekali lagi. Jennie hanya berdehem tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
"A..aku tidak bisa melakukannya" Ucap Rayen polos. Jarinya saling bertaut, tubuhnya gemetar saat mengatakannya.
"Melakukan apa?" Tanya Jennie bingung. Pandangannya sudah beralih menatap kedua mata Rayen sekarang.
__ADS_1
"I...ii...itu..bercinta. Aku tidak bisa melakukannya, maaf. Aku masih bingung caranya, takut salah, dan takut tidak sesuai dengan ekspetasi Jennie."
Sontak Jennie kaget dan nyaris lompat dari duduknya. Wajah Jennie sudah bersemu merah karena malu. Bisa-bisanya Rayen mengatakan hal semacam itu.
"Siapa juga yang mau melakukan itu sama kamu!" Bentak Jennie kesal.
"Aku takut kamu minta. Makanya aku kasih tahu dulu sebelum kamu menagih. Bukankah suami istri wajib melakukan itu?"
Hah? Makanan apa yang di konsumsi cowo gila ini selama ini? Kenapa otaknya begitu konyol?
Jennie terperangah kaget. Menatap Rayen dengan tatapan membunuh.
"Wajib itu kalau kita sudah dewasa. Apakah kamu tidak lihat, kita ini masih remaja!" Tutur Jennie sambil menatap Rayen penuh emosi.
"Syukurlah kalau begitu. Aku juga belum siap untuk melayanimu" Ucap Rayen singkat padat dan jelas.
Ada seuntai senyuman yang tersirat di bibir Jennie. Merespon ucapan pria konyol itu dengan senyuman, mungkin itu cara terbaik. Pikir Jennie.
"Kamu mau tidur gelap atau terang seperti ini?" Tanya Jennie mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Terserah kamu aja" Jawab Rayen singkat.
Jennie bangun dari atas ranjang dan berjalan menuju saklar lampu untuk mematikannya.
__ADS_1
"Jennie! Gelap tahu. Aku tidak suka gelap seperti ini." Protes Rayen.
Jennie kemudian menyalakan lampunya kembali dengan emosi yang menggebu-gebu.
"Tadi katanya terserah, gimana sih?"
"Kamu nih kenapa nggak peka banget, sih? Aku tuh nggak bisa tidur kalau terlalu gelap seperti tadi. Takut ada mahluk astral yang datang dan mengganggu kita nanti. Kan dia suka gelap." Jelas Rayen dengan ucapan konyol level dua nya.
Jennie memilih untuk diam. Mengalah adalah cara terbaik untuk menangani mahluk jadi-jadian seperti Rayen.
Jennie mencoba memejamkan matanya. Jujur saja, sebenarnya ia sangat lelah karena menghadapi mahluk aneh seperti Rayen.
Saat Jennie memiringkan tubuhnya menghadap Rayen, di tatapnya Rayen yang sudah tertidur dengan pulas.
Cepat sekali tidurnya? Perasaan tadi baru saja ngomel.
Di lihat-lihat, cowo ini tampan juga ya. Batin Jennie.
Jennie terus menatap wajah mulus Rayen hingga tanpa sadar ia mengelus sedikit pipi Rayen dengan jari telunjuknya.
Rayen menggeliat dan hampir terbangun. Akhirnya Jennie menjauhkan jari nya dari pipi Rayen, takut saja kalau ia terbangun dan mengira Jennie mau berbuat macam-macam dengan nya. Karena Jennie sudah hampir kehabisan cara untuk menangani setiap ucapan konyol Rayen.
Jennie membalikkan tubuhnya kembali. Ia masih tidak bisa tidur. Mungkin memandangi wajah tampan Rayen bisa membuat nya sedikit terpejam. Namun ketakutan nya terhadap mahluk setengah jadi itu membuat Jennie mengurungkan niatnya untuk menatap wajah Rayen.
__ADS_1
Setengah mati Jennie mencoba memejamkan mata nya, menutupi wajah nya dengan bantal. Berharap ia bisa tidur sekarang juga. Untung saja cara itu berhasil. Kini Jennie sudah tertidur pulas, dan sudah menuju ke alam bawah sadarnya. Entah apa yang Jennie mimpi kan dalam tidur nya. Mungkin saja dia memimpikan Rayen kali, ya. Hehehe..
****