
Setelah memakan hampir satu Jam Jennie di kamar mandi, akhirnya ia keluar juga dengan memakai lingerie transparan itu.
Lagi-lagi Rayen di buat menelan Saliva nya sendiri dengan susah payah.
"Wow" Rayen terpukau melihat istri nya hanya menggunakan lingerie tipis transparan yang memperlihatkan hampir seluruh bagian tubuh nya termasuk dua gunung kembar milik istri nya.
Jennie sangat tidak percaya diri menggunakan lingerie itu, bahkan di kamar mandi ia sempat berceloteh mencaci mengumpati desainer lingerie gila itu, yang bahkan ia sendiri tidak tahu siapa yang mendesain baju aneh itu.
Jennie duduk di ranjang sambil memanyunkan bibirnya. "Ini kan yang kamu mau?" Tanya Jennie jutek.
"So seksi, Baby." Rayen menatap setiap inci tubuh Jennie dari atas sampai bawah tanpa mengedipkan kedua mata nya.
"Terus sekarang mau kamu apa lagi?" Cepat katakan! atau aku ganti piama tidur sekarang juga. Imbuh Jennie dalam hati.
"Apa boleh aku melakukan nya sekarang, Baby?" Tanya Rayen bersemangat. Ia membaringkan tubuh Jennie perlahan, dan tanpa di beri aba-aba di langsung menyosor bibir ranum Jennie.
Eh, mau apa dia? Apa dia benar-benar akan melakukan nya sekarang? Hei, aku belum siap!
"Ray ...." Jennie mulai mendesah. Suara jahanam itu terus keluar dari mulut nya. Rayen membungkam mulut Jennie dengan bibir nya. Jennie hanya menggeliat menikmati sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Untung nya tidak ada Reyhan. Bagaimana jika Reyhan melihat adegan ini?
Rayen terus melakukan aksi nya di bibir Jennie, ciuman di bibir itu kini beralih pada leher, semakin bawah, dan semakin ke bawah.
"Emmpphh .... Ray ...." Jennie mendesah kuat, percayalah desahan itu kini terdengar sampai ke taman belakang rumah. Namun suara itu malah membuat Rayen semakin bersemangat, dan semakin melanjutkan aksi nya tanpa ampun. Mereka berdua hampir saja menuju puncak kenikmatan. Rayen terus beraksi melanjutkan adegan itu dengan sangat bersemangat dan penuh gairah.
"Ray, tolong jangan lakukan itu sekarang. Aku belum siap." Jennie menghentikan aksi Rayen dan sedikit demi sedikit mencoba bangkit dari posisi tidur nya. Terlihat dari mata Jennie bahwa ia memang belum siap.
__ADS_1
Wajah Rayen seketika berubah kecewa, hasrat yang selama ini ia mimpikan dan sekarang itu semua harus kembali ia pendam. Semua nya gagal. Rayen menjauhkan diri nya dari Jennie dan berjalan ke kamar mandi untuk menyelesaikan sisa pelepasan nya sendiri di sana.
Maaf, Rey. Bukan nya aku tidak ingin melayani mu, hanya saja aku belum siap. Aku takut hamil di usia muda. Semoga kau mengerti, Ray. Batin Jennie.
Di dalam kamar mandi, Rayen tidak berhenti mengumpati diri nya sendiri. Kenapa aku begitu ceroboh. Benar-benar hasrat ini sudah tidak bisa di tahan lagi. Dengan siapa aku harus melampiaskan hasrat ini. Bahkan dengan istri sendiri saja tidak bisa. Arrgghh!! Rayen berteriak frustasi. Jennie mendengar jelas teriakan Rayen. Ia tahu pasti Rayen sangat kecewa. Ia ingin membujuk Rayen, namun takut Rayen akan tambah marah dan memukul nya.
Aku harus bagaimana? Tidak mungkin kan jika menuruti keinginan Rayen itu sekarang. Aku belum siap. sungguh belum siap. Tuhan, tolong aku. Batin Jennie sambil menunduk terisak dengan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.
Setelah beberapa jam Jennie menunggu Rayen yang tak kunjung keluar dari kamar mandi, Jennie memutuskan untuk menelepon sahabat nya, Lisa, sahabat akrab Jennie sejak kecil. Ia sudah tidak pernah menghubungi Lisa lagi sejak menikah dengan Rayen. Lisa juga tidak datang di acara pernikahan Jennie beberapa bulan. lalu dengan alasan ia sedang berada di London. Jennie memahami itu, dan sekarang ia memutuskan untuk menelepon sahabat nya kembali. Jujur, Jennie sangat merindukan Lisa.
***
Tutt...tutt...tutt...
"Halo, Lis. Lo dimana sekarang? Gimana kabar lo? Gue kangen banget sama lo."
"Hai, Jen. Udah lama banget lo nggak ngabarin Gue. Gue baik, Jen. Gimana dengan lo sendiri di sana? Gue juga kangen sama lo, Jen. Oh ya, sekarang gue di Jakarta, gue ngikut Ayah di sini karena dia punya bisnis pribadi di perusahaan nya."
"Gue baik, Lis. Wah, kalau gitu besok kita ketemuan, ya. Gue juga di Jakarta, nih."
"Wah, kebetulan sekali. Memang nama nya jodoh nggak kemana, ya. Hahaha." Lisa tergelak kencang di seberang telepon.
Mereka berdua melanjutkan perbincangan sambil sesekali tertawa. Rasa rindu Jennie akhirnya terobati juga.
Di sisi lain, Rayen mendengar semua percakapan Jennie dengan teman nya yang entah siapa. Rayen segera menghampiri Jennie dan merebut ponsel nya.
__ADS_1
"Eh, Ray." Cegat Jennie. Rayen merebut paksa ponsel Jennie dan mendengarkan gadis di seberang sana yang masih berceloteh.
"Siapa ini?" Tanya Rayen pada Jennie sambil menunjukan ponsel yang ia pegang.
"Itu Lisa, sahabat aku. Sini Ray hp nya. Aku belum selesai bicara dengan Lisa." Jennie mencoba meraih ponsel nya dari tangan rayen.
"Tidak bisa. Biarkan dia berceloteh sendiri. Seperti tidak ada pekerjaan saja. Kau menggagalkan keinginanku, dan sekarang malah berteleponan dengan gadis bawel ini." Rayen mulai marah, dan mematikan panggilan di ponsel Jennie.
"Ray, dia temanku Ray. Kami janjian akan bertemu besok. Aku sangat merindukannya" Ucap Jennie sambil terus berusaha meraih ponselnya dari tangan Rayen. Akhirnya ia mendapatkan kembali ponselnya.
Yah, udah di matiin. Dasar kecebong aneh! Jennie mengumpati Rayen dalam hati sambil melihat panggilan Lisa yang sudah di matikan oleh Rayen di ponselnya.
Jennie pergi beranjak mengambil piama tidurnya di atas keranjang pakaian, lalu memakainya. Setelah selesai memakai piama, ia pergi ke taman belakang rumah untuk menghirup udara segar. Membiarkan Rayen sendiri di kamar. Siapa yang peduli, dia bahkan sudah memutuskan panggilan telepon Lisa. Menjengkelkan sekali! Batin Jennie sambil mendengus kesal.
Ia menghirup udara segar di malam hari yang terasa begitu sejuk. Pikirannya sudah sedikit lebih tenang. Berdebat dengan Rayen memang tidak pernah ada habisnya. Pikirannya belum dewasa sama sekali, bahkan menghadapi masalah saja masih menggunakan kekerasan, bukan akal sehat.
Sementara Rayen masih menunggui istrinya yang belum kembali ke kamar. Ia khawatir, ada sedikit rasa penyesalan di hati Rayen karena ia sudah menyakiti perasaan istrinya.
Jennie masih terus asik merebahkan dirinya di atas rerumputan dan memandang bintang-bintang, tanpa memikirkannya Rayen yang sedang mencemaskannya. Satu hal yang Jennie butuhkan saat jni hanyalah kedamaian.
Tanpa sadar matanya mulai terpejam sedikit demi sedikit. Hingga akhirnya ia pun terlelap di atas rerumputan itu, dengan posisi tangan yang di silangkan di bawah kepalanya sebagai bantal.
Dibalik sana, Rayen semakin mencemaskan Jennie. Waktu sudah menunjukan pukul 00:00 tapi Jennie belum kembali juga. Ia memutuskan untuk mencari Jennie di taman belakang, satu hal yang Rayen ketahui tentang istrinya, istrinya begitu menyukai bunga-bunga, menggunakan taman bunga sebagai sumber kedamaian. Tentu saja ia tahu dimana tempat persembunyian Jennie saat ini, ia mendapati Jennie yang sudah tertidur nyenyak di atas rerumputan, lalu menggendongnya perlahan dan membawanya ke kamar. Ia membaringkan tubuh Jennie ke atas ranjang dan menyelimutinya.
*****
__ADS_1