
Dari pagi hingga siang, pasangan suami istri muda itu di sibukkan dengan membersihkan Villa yang mereka tempati. Dari dalam hingga luar sekarang sudah bersih mengkilat.
***
Sore harinya, Jennie tengah menikmati suasana pantai sendirian. Rayen sedang istirahat di dalam Villa karena kelelahan setelah setengah hari ini ia membersihkan seluruh ruangan Villa bersama istrinya.
Huhh, andai hidupku bisa berhenti di titik ini saja. Rasanya nyaman sekali. Suasana pantai yang indah, matahari yang hampir tenggelam, aku suka semua ini. Lebih suka jika tidak ada beban hidup yang aku tanggung. Itu akan terasa sangat menyenangkan. Sebenarnya aku belum siap menikah. Tapi insiden kejadian itu sungguh tidak bisa dihindari. Aku ingin menjadi Jennie yang dulu. Yang bebas kemana saja tanpa ada yang mengawasi.
Jennie berjalan menyusuri bibir pantai sendirian. Mondar-mandir bermain pasir dengan senangnya. Pulau itu sangat sepi, hanya ada beberapa penjaga yang mengawasi Jennie dari kejauhan. Detik itu juga Jennie ingin kabur dan menemui orang tuanya kembali. Tapi takut-takut bodyguard suruhan Papi Rayen itu tahu dan yang lebih parahnya pasti Jennie akan di Blacklist sekarang juga oleh keluarga Rayen. Demi menghindari haluan menyeramkan itu, ia tetap bertahan demi menjaga nama baiknya.
"Jennie sayangku cintaku" Suara horor yang lebih menyeramkan dari apapun terdengar nyata ditelinga Jennie. Gadis itu mengedarkan pandangannya bingung, mencari-cari sumber suara namun tidak ada orang.
Merinding sekali aku. Kenapa aku mendengar suara Boss ganteng itu disini. Hiiiii, ngeriii..
Jennie segera berlari menjauh.Berpindah dari tempat horor itu ke sisi lainnya. Satu langkah kakinya mulai melambat. Ada seseorang yang tiba-tiba memeluk tubuhnya dari belakang.
"Siapa kamu?" Jennie segera berbalik dan betapa terkejutnya ketika ia melihat pria yang ada di dalam haluannya tadi tiba-tiba memeluknya. Tidak terduga oleh Jennie sebelumnya bahwa boss ganteng ini bisa mengikutinya kemari. Padahal Mertuanya bilang ia hanya dengan Rayen saja ke sini, dan juga dengan beberapa bodyguard, tapi tidak termasuk Justin.
"Justin? Kenapa kamu disini?" Tanya Jennie penasaran.
"Aku di perintahkan Papi mertua kamu suruh menyusul kemari." Jawab Justin dengan santai.
"Tapi kenapa? Bukannya Papi hanya menyuruh aku berdua dengan Rayen saja?" Tanya Jennie yang masih dilanda bingung.
"Takut kalian berbuat macam-macam disini. Setidaknya jika ada aku, aku bisa mengawasimu. Karena aku sudah mulai mencintaimu dari awal kita bertemu. Aku akan membawamu bebas dari penjara jahanam ini." Jelas Justin dengan seringai liciknya.
__ADS_1
"Tapi aku sudah bahagia disini. Aku sudah mulai mencintai Rayen. Tolong jangan ganggu aku." Jennie mundur langkah demi langkah ke belakang.
"Aku akan membawamu pergi dan membahagiakanmu lebih dari Rayen. Aku akan mengajukan surat pengunduran diri pada Farhan setelah kau menerima ajakan ku." Jelas Justin lagi. Jennie semakin takut, sungguh ia tidak ada pemikiran sampai situ. Jennie tidak ingin pergi dari Rayen dan kabur bersama Pria ini. Keinginannya untuk kabur sebelumnya hanya untuk menemui orang tuanya, bukan pergi meninggalkan Rayen.
"Nggak. Aku nggak mau." Tolak Jennie. Ia sudah meneteskan air matanya. Membayangkan bagaimana sakitnya Rayen jika ia meninggalkannya. Walau seperti apapun Rayen, cowo itu tidak ada duanya di bumi ini. Jennie sudah menyayangi Rayen dan tidak ingin pergi meninggalkan Rayen.
"Kita akan bahagia Jennie. Aku janji tidak akan pernah menyakitimu." Justin terus memohon pada Jennie tanpa memperdulikan air mata Jennie yang keluar semakin deras.
Jennie masih menangis terisak sambil terduduk lemas di atas pasir. Ia masih membayangkan bagaimana jika suaminya mengetahui ini semua.
Tiba-tiba Rayen datang dari belakang, ternyata Rayen melihat semua adegan Justin bersama istrinya. Saat Justin memeluk Jennie, hati Rayen mendadak panas. Ingin sekali ia meledakan segala amarahnya itu sekarang juga. Namun ia tahan, ia tidak ingin membuat keributan disini. Ia harus bersikap dewasa. Tujuan Papi dan Mami nya tidak ikut adalah agar si bungsunya itu lebih mandiri dan dewasa dari sebelumnya.
"Ra ... Rayen .." Jennie terkejut bukan main, melihat suaminya muncul secara tiba-tiba. Ia segera mengusap air matanya dan berdiri.
Rayen hanya diam, padahal ia tahu kalau istrinya itu menangis. Ia sengaja bersikap dingin karena ingin mencari tahu sendiri apa yang terjadi pada istrinya. Dan hubungan apa sebenarnya Jennie dengan Justin.
Kalau nggak ada apa-apa kenapa kalian peluk-pelukan? Main drama begitu. Ucap Rayen dalam hati. Ia tidak membalas pelukan Jennie. Sekarang Jennie benar-benar merasakan bahwa suaminya itu sedang menahan amarah.
Kenapa Rayen seperti ini? Apa jangan-jangan dia melihat semua adegan tadi? Astaga.
Jennie terus berbicara sendiri dalam hati, mencoba menerka-nerka suaminya. Sebenarnya Rayen melihat dan mendengar semua percakapan Jennie dengan Justin atau tidak? Begitulah kira-kira pertanyaan yang menari-nari di otak Jennie.
Dengan segenap jiwa dongkol yang dimiliki Rayen saat ini, ia mengajak istrinya dan musuh bebuyutannya itu masuk kedalam Villa. Bagi Rayen, Justin bukan lagi saudara angkatnya, melainkan musuh bebuyutannya karena sudah berani menyentuh Jennie tanpa izin.
"Jen, Tin, ayo masuk." Ucap Rayen dengan nada lembut yang penuh dengan kesabaran extra.
__ADS_1
Eh, aku pikir Rayen akan marah dan melenyapkan Justin sekarang juga. Tapi malah menyuruhku dan justin masuk. Ini bukan seperti Rayen yang aku kenal. Apa dia benar-benar sudah berubah?
Tanpa berpikir panjang, Jennie dan Justin masuk kedalam Villa. Mereka bertiga sedang duduk di ruang tengah sekarang.
Justin masih diam termangu, sama seperti Jennie, ia juga sedang menerka-nerka ada apa dibalik sikap lembut Rayen. Justin tahu pasti, bahwa Rayen itu sebenarnya sedang memendam amarah. Isi pikiran Justin sama persis dengan Jennie, benar-benar tidak ada bedanya.
"Ehm, aku kemari karena suruhan Papi Farhan." Justin membuka suaranya, mencoba berkata jujur pada Rayen. Karena memang benar Papi Farhan menyuruh Justin kesini untuk mengawasi pengantin muda itu. Walaupun mereka sudah menikah, tetap saja belum waktunya untuk berbuat hal diluar kendali kan?
"Hm." Rayen hanya berdehem dingin. Sementara Jennie masih bingung sebenarnya ada apa dengan suami anehnya ini.
"Ray, apa kau tidak marah?" Tanya Jennie yang mulai berani bertanya pada suaminya karena rasa penasaran yang sudah tidak bisa dibendung lagi.
"Nggak. Aku nggak marah." Jawab Rayen smbil tersenyum lembut. Sebenarnya hatinya hancur berkeping-keping, tapi ia masih menggunakan sisa-sisa kesabarannya untuk memendam semua amarah dan rasa sakitnya.
Tumben sekali. Pikir Jennie.
"Ray, Aku tahu kau marah. Aku tidak bermaksud apa-apa." Ucap Justin. Ia tahu bahwa Rayen sedang menyembunyikan kemarahannya.
"Nggak usah terlalu sungkan begitu. Pakai bahasa non-baku lebih enak kan?" Tanya Rayen lembut pada Justin.
"Ee.. iya.. sorry bro." Jawab Justin dengan bahasa non-baku seperti permintaan Rayen.
Mereka bertiga terus berbincang-bincang seperti tidak ada beban dan masalah.
Rayen masih mencoba bersikap lembut, ia yakin lama kelamaan rasa penasaran itu pasti terjawab.
__ADS_1
Jennie dan Justin bahkan sempat tertawa berdua di depan Rayen. Jennie sengaja melakukan itu untuk ngetes kadar emosi Rayen. Biasanya kalau sudah seperti ini Rayen langsung meledakkan amarahnya. Tapi ini tumben dia diam saja. Seperti sedang menonton drama gratis secara langsung.
*****