
Pesawat yang mereka naiki kini telah mendarat di Bandar Udara Soekarno Hatta, Jakarta tepat pada pukul 10:00 wib.
Kedua pasangan muda itu turun dari pesawat dan berjalan ke jalan raya untuk menghadang taksi. Sementara pada bodyguard nya membawa mobil pribadi. Sepasang pengantin muda itu memang sengaja tidak di bawakan mobil pribadi agar mereka terbiasa dengan kehidupan yang tidak serba mewah.
***
Sudah Tiga puluh menit Rayen, Jennie, dan Justin berdiri di tepi jalan untuk menunggu taksi yang belum juga datang. Rayen mulai kelelahan, cowok itu terus mengeluh. Ini kali pertama baginya berjemur di tepi jalan hanya untuk menunggu taksi yang entah kapan datangnya.
"Jen, mana sih taksi nya. Lama banget. Aku capek nih." Cowok itu lagi-lagi mengeluh. Jennie hanya bisa menghela napas panjang menghadapi cowok di sampingnya ini.
"Sabar, Ray. Bentar lagi juga lewat kok biasanya. Kita tunggu aja." Ucap Jennie berusaha menenangkan suaminya.
Saat ponsel Jennie bergetar, tiba-tiba ia teringat sesuatu.
"Oh ya, kenapa dari tadi kita nggak pesan taksi online aja sih." Ucap Jennie sambil menepuk dahinya.
"Nah kan.Coba dari tadi, kan nggak panas-panasan begini." Ucap Rayen sambil memanyunkan bibirnya.
Tanpa berpikir panjang, Jennie mengeluarkan ponselnya dan memesan taksi online di ponselnya. Tak menunggu lama, taksi pun datang.
"Huh, coba dari tadi kayak gini. Kan nggak gosong kulit ku." Ucap Rayen setelah memasuki taksi itu.
Cowok itu memang takut dengan Sengatan matahari. Teriknya sinar matahari bagaikan sengatan listrik bagi Rayen. Dari bayi Hingg sekarang, cowok itu memang tidak pernah berpanas-panasan. Pernah, hanya saja tidak pernah selama tadi. Abaikan. Cowok itu memang aneh.
Rayen terus menggerutu dan mengumpati Jennie. Jennie benar-benar harus memiliki dada selebar lapangan, umpatan itu begitu menyakitkan baginya.
"Kamu tuh bodoh banget ya Jen, kenapa coba nggak pesan taksi online ini dari tadi. Kamu mau ngerjain aku ya?" Lagi-lagi cowok itu ngomel tiada henti. Padahal sekarang ia sudah berada di dalam mobil bersama dengan Jennie dan juga Justin.
"udah dong, Ray. Jangan ngambek terus. Lagian sekarang kita udah di dalam taksi kan."
Rayen diam tak bergeming, namun wajah masamnya belum pudar juga. Bahkan masamnya melebihi jeruk nipis bagi Jennie.
Kini saatnya untuk mengeluarkan trik bucin ala Jennie, tanpa memperdulikan Justin dan juga si Driver taksi yang ada di dalam mobil itu.
Cup!
Jennie mendaratkan satu kecupan di pipi kanan Rayen. Cowok itu bringas seketika. Wajah masamnya kini sudah ceria kembali.
"Udah ya, jangan ngambek lagi. Kan udah aku cium." Rayu Jennie lembut. Namun Rayen pura-pura memasang wajah masamnya kembali.
"Ray!" Panggil Jennie.
__ADS_1
"Apa?" Jawab Rayen dingin.
"Yah, kok masih ngambek sih. Kan udah aku cium."
"Kamu curang." Jawab Rayen sambil menekuk tangannya di depan dada, itu gaya ngambek seorang Rayen.
"Loh, aku curang gimana?" Jennie bingung. Ia sama sekali tidak tahu apa maksud suami anehnya itu.
"Kamu nyium nya cuma di pipiku sebelah kanan. Pipiku yang ini iri tau." Ucap Rayen sambil menunjuk pipi kirinya.
Yaaaa ......! Dasar buaya. Bilang aja mau di cium lagi.
"Terus mau kamu apa?" Tanya Jennie pura-pura bingung.
"Ya cium lagi dong." Jawab Rayen dengan wajah jutek nya.
Justin dan si sopir sepakat untuk memakai headset dengan volume tertinggi, dari pada harus mendengar kebucinan dua remaja itu.
Cup! ..... Cup! ..... Cup! ..... Cup!
Jennie menghujani kecupan bertubi tubi di wajah Rayen. Cowok itu senangnya bukan main. Memang ini yang dia inginkan.
"Puas?" Tanya Jennie dengan nada tinggi. jujur, ia sebenarnya malas melayani suami kampret nya itu. Minta cium tanpa memikirkan situasi. Jennie tau persis Kedua pria sok polos itu pasti melihatnya mencium Rayen tadi. Sudahlah, lupakan. Anggap saja mereka berdua mahluk tak kasat mata.
"Non, ini mau di anter kemana?" Tanya si sopir setelah melihat kedua remaja gila itu sudah tidak melakukan adegan kiss lagi.
"Ke jakarta pak" Jawab Jennie singkat, namun pipinya memerah menahan malu. Jika bukan permintaan cowok sialan ini, mana mungkin Jennie mau Kiss-kiss an di depan dua mahluk itu.
Sementara Justin diam tak bergeming sedari tadi. Ia terus berpura-pura memainkan ponselnya. Sebenarnya ia sedikit cemburu melihat Jennie mencium Rayen. Tapi ya bagaimana lagi. Mustahil kan jika dia melarang kedua remaja yang sudah menikah itu.
"Jen." Panggil Rayen. Jennie hanya menoleh tanpa menjawab.
"Nanti kalau udah sampai rumah kita lanjutin ya."
Jennie, Justin, dan si Sopir terperanjat bersamaan mendengar ucapan nyeleneh dari bibir konyol Rayen.
"Ma-maksudnya?" Tanya Jennie gugup. Bodoh, kenapa Jennie malah bertanya seperti itu. Kepolosannya benar-benar menginjak harga dirinya sendiri.
"Kita lanjutin itu ituan nya." Yah, mulut itu sungguh keterlaluan.
"Ekheem." Pak sopir berdehem. Pura-pura batuk. Sedangkan Justin pura-pura tuli.
__ADS_1
Jennie gelagapan, berbeda dengan Rayen yang malah santai seperti tidak punya dosa.
Ucapan nyeleneh Rayen tadi sukses membuat Pak sopir berpikir keras. Mencoba menerka-nerka apa maksud dari ucapan Rayen.
"Udah lah pak, jangan di pikirkan. Tadi saya cuma bercanda." Ucap Rayen yang seakan tahu sopir tersebut sedang memikirkan ucapannya.
Si sopir itu tersenyum malu, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
***
Drrtt ... drrtt ... drrtt ...
Ponsel Jennie bergetar
Jennie mengambil ponselnya dan melihat pesan dari Lisa di beranda. Setelah tiga hari ia menonaktifkan ponselnya ternyata sahabatnya itu mengirim banyak sekali pesan.
Jennie membaca pesan tersebut satu per satu.
'Jen, sekarang gue lagi di rumah lo. Gue nungguin kepulangan lo. Gue tau lo pulang hari ini, makanya gue standby di rumah lo. Gue kangen sama lo, Jen.'
Begitulah isi pesan terakhir Lisa.
Jennie kemudian membalas pesan itu.
"Siapa jen?" Tanya Rayen penasaran melihat istrinya seperti sedang mengetik pesan di ponsel.
"Lisa" Jawab Jennie singkat tanpa menoleh ke arah Rayen. Ia tetap fokus mengetik pesan yang akan di kirimkan untuk sahabatnya.
'Iya lis, sebentar lagi gue sampai. Lo tunggu aja.' Begitulah balasan Jennie.
Jennie kembali menutup ponselnya.
Tak lama kemudian Taksi yang mereka naiki berhenti di sebuah pagar tinggi menjulang.
"Loh, pak, kenapa berhenti di sini?" Tanya Jennie bingung.
"Sesuai perintah Rayen" Jawab sopir itu.
"Perintah Rayen? Memang kapan Rayen menyuruh bapak untuk menghentikan taksi nya di sini? Ini bukan rumah ku pak. Ini rumah Rayen." Protes Jennie.
Pandangan Jennie berganti menatap Rayen dengan tatapan membunuh.
__ADS_1
Siap-siap saja amarah Jennie meledak di rumah Rayen nanti.
******