
Jam menunjukan pukul 19:00 wib. Malam ini Jennie dan Rayen akan pergi ke rumah Jennie. Mereka telah bersiap dan menuju garasi.
***
Drrtt ... drrtt ... drrtt ...
Ponsel Jennie bergetar.
Telepon dari Lisa
📞'Jen, lo dimana sih? Katanya mau pulang? Gue udah nunggu dari tadi tapi lo nggak nyampe-nyampe'
📞'Sorry, Lis. Tadi gue ke rumah Rayen dulu, istirahat di sana. Sekarang gue mau ke rumah gue. Lo dimana? Masih di rumah gue?'
📞'Gue udah pulang, Jen. Capek gue nungguin Lo. Kita ketemuan kapan-kapan aja ya, gue sibuk.'
Tutt ... tutt ... tutt ...
Lisa mematikan panggilan nya.
"Tuh kan, Lisa marah. Gara-gara kamu Ray." Jennie memarahi Rayen yang sedang fokus dengan setir kemudi nya.
"Iya iya maaf, sayang. Lagian kan kamu bisa ketemuan sama Lisa lain kali." ucap Rayen namun pandangan nya tidak beralih pada Jennie, ia tetap fokus mengemudi.
"Tapi masalah nya Lisa marah loh, Ray!" Jennie emosi di buatnya. Ia mendengus kesal.
Rayen hanya diam tak merespon ucapan istri nya. Percuma juga jika ia merespon, pasti perdebatan menjadi semakin heboh dan tidak akan pernah berakhir.
***
Mobil sport mewah yang di kendarai dua remaja itu kini terparkir di halaman rumah Jennie.
Jennie sangat bahagia karena bisa melihat rumah nya lagi. Ia pikir, setelah ia menikah dengan Rayen ia tidak akan bisa melihat rumah nya.
Jennie tersenyum girang ketika melihat ibu nya yang sedang duduk di teras rumah.
__ADS_1
Namun pandangan Jennie seketika terkunci pada satu arah yaitu dinding rumah nya yang terlihat berbeda dari sebelumnya.
Gadis itu kembali mengingat warna dinding rumah nya sebelum ia meninggalkan rumahnya itu. Sepertinya yang membuat rumah nya sedikit berbeda adalah warna dinding nya.
"Jen." Rayen membuyarkan lamunan Jennie.
"Kamu kenapa?" Tanya Rayen lagi. Tadi sampai ngambek ngambek minta ke rumahnya, sekarang sudah sampai di depan rumahnya malah melamun. Dasar Jennie.
"Eh, iya. Ee-nggak papa kok." Jawab Jennie, gadis itu pun masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan suami nya.
***
"Maaaa" Jennie melompat ke pelukan sang Mama. Mama nya tiba-tiba terkejut mendapat serangan dadakan dari Jennie.
"Sayang. Ya ampun sayang kamu udah pulang ? Mama kangen banget." Mama Jennie menciumi Pipi putrinya sambil menitikkan air mata bahagia. Setelah sekian lama putrinya tidak mengunjungi nya, dan kini akhirnya ia bisa bertemu kembali dengan putri nya, sungguh kebahagiaan yang datang secara tiba-tiba. Tuhan punya cara tersendiri untuk mempertemukan mereka berdua.
"Iya Jennie udah pulang, Ma. Maaf ya selama ini Jennie nggak pernah ngabarin Mama. Dan selama di London juga Jennie nggak ngabarin Mama. Jennie minta maaf, Ma." Ucap Jennie sambil menundukkan kepalanya. Ia tahu pasti ibu nya itu sangat khawatir karena sejak Jennie tinggal di rumah mertua nya ia lost kontak dengan ibunya.
"Iya nggak papa sayang. Yang penting sekarang kamu di sini, di samping ibu. Kembali dengan selamat." Kata Mama Jennie sambil memeluk putri nya lagi. Akhirnya bisa melepas rindu juga.
Jennie melihat sekeliling ruangan yang terlihat sangat berbeda dari sebelum nya, sebelum ia meninggalkan rumah ini dan tinggal di rumah mertua nya. Mereka bertiga kini duduk di sofa lebar yang ada di ruang keluarga.
"Ma, dimana Papa ?" Tanya Jennie penasaran. Gadis itu tidak melihat Papa nya sedari tadi.
"Papa lagi di kantor Papa mertua kamu sayang." Jawab Maya. Jennie heran, tumben sekali Papa nya ada di kantor Papi Rayen.
"Tumben ma Papa ke sana, memang nya ada urusan apa?" Tanya Jennie karena saking penasaran nya.
Rayen sedari tadi hanya diam memainkan ponsel nya. Cowok itu memang seperti tidak punya akal, bertemu dengan ibu mertua bukan nya salaman atau oeluk-pelukan, eh malah cuek-cuek bebek. Jauh berbeda dari Jennie jika bertemu Mami mertua nya.
"Mami nggak tau sayang. Mungkin urusan pekerjaan." Jawab Maya ala kadarnya. Memang ia tidak tahu kenapa Farhan mengundang suami nya ke kantor.
Jennie berusaha memberi kode pada Rayen, seperti yang Rayen lakukan saat di rumah besar Mami nya.
Namun kali ini cowok itu tidak bisa menangkap kode yang di berikan Jennie dengan baik. Jennie sangat kesal. Setengah mati dia memberi kode lewat mata nya, namun Rayen tidak mengerti juga.
__ADS_1
"Oh ya, Ma. Kayaknya dari Tadi Rayen belum salaman deh sama Mama." Ucap Jennie sengaja. Untuk membuat cowok itu sadar bahwa dimana dan dengan siapa ia berhadapan sekarang.
Rayen langsung tersadar, ia sontak terkejut dengan sindiran Istri nya. Ia langsung meletakkan ponsel nya dan bersalaman dengan ibu mertua nya.
"Maaf ya, Mam. Rayen lupa. Hehe" Kekeh Rayen sambil mencium tangan mertua nya.
"Iya nggak papa kok nak. Oh ya, kalian nanti mau nginap di sini atau pulang ?" Tanya Maya.
"Ngi ..." Belum Sempat Jennie menjawab, cowok alien itu sudah memotong ucapan nya. "Nanti pulang Mam."
Jennie memutar bola matanya malas, ia mendengus kesal. Tidak bisa kah Rayen membiarkan istrinya menginap di rumahnya sendiri? Jennie kan masih rindu Mama nya. Huh, dasar Rayen. Niat nya mau manja-manjaan sama Mama nya malam ini malah gagal.
"Oh ya udah, tapi pulang nya nanti kan? Mama masih kangen sama Jennie."
"Jennie juga masih mau manja-manjaan sama Mama." Ucap Jennie sambil tersenyum malu. Rayen hampir mati geli melihat tingkah istrinya itu. Ternyata Jennie bisa manja-manjaan juga ya.
"Iya, Mam. Kita pulang nya nanti." Jawab Rayen tersenyum.
Mereka bertiga masih asik berbincang-bincang di ruang keluarga. Jennie menunggu Papa nya yang tak kunjung pulang, padahal ia sudah sangat merindukan Papa nya.
"Bi" Panggil Maya pada Bi Lastri yang merupakan ART di rumah tersebut.
"Iya Nyonya ?" Bi Lastri datang mendekat ke sumber suara.
"Tolong buatkan dua gelas jus mangga dan satu jus alpukat. Pilihlah dari buah yang masih segar." Perintah Maya pada Bi Lastri.
"Baik Nyonya." Bi lastri kembali ke dapur untuk membuatkan pesanan tuan besar nya.
***
Beberapa menit kemudian Bi lastri datang dengan membawa nampan yang berisi tiga gelas Jus segar.
"Ini nyonya, Ini Non, Den." Bi Lastri memberikan jus itu pada tiga orang di hadapan nya yang merupakan Nyonya besar, Nona muda, dan Tuan muda nya.
Mereka bertiga menikmati Jus itu. Tersirat kebahagiaan di wajah Jennie dan Maya karena bisa saling bertemu kembali. Sementara Rayen, entahlah. Ekspresi wajah cowo itu aneh, tidak bisa di tebak. Entah dia bahagia atau tidak bertemu dengan Mertua nya. Ia hanya menikmati juss mangga nya yang terasa sangat lezat dan segar.
__ADS_1
*******