
Keesokan harinya, Jennie sudah bersiap-siap akan pergi menemui Lisa di alun-alun kota. Ia memakai dress merah tanpa lengan yang terlihat begitu elegant. Ia juga tidak lupa memoles sedikit wajahnya dengan make up, dan memakai lip balm di bibirnya. sungguh perpaduan yang klasik namun terlalu mencolok.
"Mau kemana?" Tanya Rayen yang melihat istrinya sudah cantik ala aktris korea.
"Mau kemana lagi kalau bukan ketemu Lisa." Jawab Jennie cuek. Sebenarnya ia masih sedikit marah dengan ulah suaminya semalam.
"Ketemuan dimana? Biar aku antar." Rayen mencoba bersikap selembut mungkin mungkin, ia benar-benar menyesal karena sudah kasar dengan istrinya sendiri.
"Nggak perlu. Aku bisa ke sana sendiri." Jawab Jennie datar.
Rayen hanya bisa menghela napasnya pelan, mencoba mengumpulkan segenap jiwa dongkol yang ia sembunyikan rapat-rapat.
"Ya sudah, kalau begitu aku akan menyuruh sopir untuk mengantarmu dan mengawasimu." Ucap Rayen lagi.
"Tidak perlu. Aku bisa berangkat sendiri, dan aku juga sudah dewasa, tidak lagi membutuhkan pengawasan seperti anak kecil." Tolak Jennie masih memasang ekspresi datar nya.
Tanpa berkata apapun, Jennie pergi meninggalkan Rayen. Ia berjalan ke seberang jalan dan memesan taksi online lewat ponselnya. Beberapa menit kemudian taksi online pun datang, ia segera masuk dan menyuruh driver taksi tersebut untuk mengantarkannya ke alun-alun kota.
Pasti Lisa udah nunggu. Batin Jennie sambil terus melirik ke layar ponselnya, ia berjaga-jaga siapa tahu Lisa menghubunginya via chat.
***
Beberapa menit kemudian, sampailah ia di depan alun-alun kota. Jennie turun dari taksi dan tidak lupa membayar Ongkos perjalanannya kepada si driver.
Ia kemudian berjalan sambil melihat kesana-kemari mencari keberadaan Lisa.
"Jen!" Lisa mengagetkan Jennie dari belakang.
"Eh, ya ampun Lis, Ngagetin aja." Jennie terkejut bukan main. Trik Lisa berhasil membuat sahabatnya terkejut.
"Lo makin cantik aja ya." Puji Lisa sambil memandangi Jennie dari atas sampai bawah. Memang ada sedikit perubahan dari sahabatnya itu.
"Lo makin gemuk aja." Tambahnya lagi.
"Eh, sembarangan. Ini gue masih kurus tahu." Sahut Jennie sambil menabok lengan Lisa.
Lisa tersenyum geli melihat ekspresi lucu sahabatnya.
"Ya udah yuk kita nyantai dulu disana." Ajak Lisa sambil menunjuk rerumputan luas di ujung alun-alun. Ia masih ingat jelas bahwa sahabatnya itu sangat menyukai rerumputan.
Jennie dan Lisa bergandengan tangan, berjalan menuju rerumputan tersebut.
__ADS_1
Saat mereka sedang duduk dan asik berbincang-bincang, tiba-tiba datang seorang Pria yang tidak di kenal oleh Jennie, namun Lisa mengenalnya.
"Hai, Justin. Lo apa kabar?" Tanya Lisa sambil memeluk Pria itu. Jennie menyerngitkan satu alisnya heran, siapa sebenarnya Pria itu?
"Gue baik, Lis. Oh ya ini siapa?" Tanya Pria itu sambil melirik Jennie yang terlihat bingung.
"Oh, ini sahabat gue yang kemarin menikah." Jawab Lisa. Lisa memperkenalkan Jennie kepada Justin. Terlihat raut wajah bahagia Justin saat berkenalan dengan wanita cantik itu.
Cantik. Gumam Justin dalam hati.
"Oh ya, kita ke cafe aja yuk. Gak enak masa nongkrong disini, kayak anak kecil aja kalian." Ucap Justin pada kedua gadis itu, namun matanya selalu tertuju pada Jennie.
"Ah, gak Tin. Kita mau disini aja, ya kan Jen." Lisa melirik Jennie,meminta persetujuan Jennie atas ucapannya tadi.
"Hm. Iya." Jawab Jennie singkat.
"Oh ya, mungkin Lo belum tahu ya Jen kalau sebenarnya Justin ini rekan kerja Ayahnya suami Lo." Tutur Lisa.
"Hah?" Jennie terperanjat.
"Iya, aku rekan kerja om Farhan. Aku lah orang yang sudah di percaya om Farhan untuk memegang saham di perusahaan nya. Aku juga mengenal Reyhan dan Rayen. Kedua bocah itu yang selalu membuatku tertawa dengan segala sikap konyol nya." Jelas Justin pada Jennie.
Jennie hanya mengangguk tanda mengerti. Jujur saja, ia merasa geli dengan penjelasan Justin tentang sikap kedua kakak beradik itu, orang penting seperti Justin saja sampai tahu dengan segala tingkah konyol Reyhan dan Rayen. Berarti memang benar, kedua kakak beradik itu memang sangat konyol.
***
Sudah mulai petang, Jennie harus segera pulang. Sebelum suaminya menyusulnya ke alun-alun kota.
Jennie pulang bersama dengan Lisa menggunakan mobil pribadi Lisa. Sedangkan Justin kembali ke apartemen ayah Rayen untuk meneruskan pekerjaannya.
"Jen, gue saranin mending pas begitu lo sampai rumah nanti lo langsung tidur aja, jangan berikan kesempatan suami lo buat nanya-nanya tentang kegiatan lo hari ini." Ucap Lisa pada Jennie dengan pandangan yang terfokus pada kemudi.
"Emang kenapa?" Tanya Jennie bingung.
"Ya gue takut aja suami lo cemburu. Secara kan lo habis ketemuan sama rekan kerja ayahnya." Jelas Lisa.
"Iya juga sih. Tapi buat apa dia marah?" Tanya Jennie lagi.
"Aduh, Jen. Coba deh lu pikir lagi, kalau seandainya suami lo tau lo ketemu sama rekan kerja ayahnya, pasti dia salah paham. Pasti nantinya dia ngira lo punya hubungan sama Justin. Secara dia kan rekan kerja Ayahnya, gak mungkin dong kalau lo bisa kenal sama rekan kerja ayahnya tanpa ada hubungan apa-apa. Ya kan?" Jelas Lisa panjang kali lebar.
"Iya juga ya. Terus gimana?"
__ADS_1
"Ya itu lah, saran gue setelah ini lo langsung tidur. Kalau dia nanya apapun ke lo, lo bilang aja kalau lo udah ngantuk banget, terus lo tinggal tidur aja." Ucap Lisa.
"Ya udah deh, iya." Sahut Jennie setuju.
Akhirnya mereka pun sampai di depan gerbang hitam yang menjulang tinggi, lebih tepatnya di rumah Rayen. Jennie segera turun dari mobilnya dan masuk ke rumah mertuanya.
"Lis, Gue masuk dulu ya." Pamit Jennie lalu turun dari mobil Lisa.
"Iya. Kabari gue kalau lo mau keluar lagi, oke. Oh ya, jangan lupa yang gue saranin tadi." Ucap Lisa mengingatkan Jennie.
Jennie hanya mengangguk.
***
"Udah pulang?" Tanya Rayen dingin.
"Udah" Jawab Jennie yang tak kalah dinginnya.
Jennie langsung membersihkan dirinya dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"Tadi dari mana aja? Habis ketemuan sama siapa?" Tanya Rayen curiga.
Jennie yang mendengarkan pertanyaan terakhir Rayen langsung bangkit dari posisi tidur nya. Jantungnya mendadak dag-dig dug seerr. Apa jangan-jangan dia tahu ya kalau aku tadi ketemu sama rekan kerja ayahnya? Batin Jennie. Pikirannya tidak karuan. Mencoba menerka-nerka isi pikiran Rayen.
"Hei, jawab. Kenapa malah melamun?" Rayen membuyarkan lamunan Jennie.
Jennie sontak terperanjat.
"Ketemuan sama Lisa." Jawab Jennie datar namun perasaannya semakin tidak enak.
"Jawab jujur." Tegas Rayen.
Jennie semakin panik. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku jujur aja ya kalau tadi habis ketemu sama Justin juga.
Rayen yang melihat Jennie kembali melamun pun hanya menghela napas nya kasar. Ia tahu persis seperti apa karakter istrinya itu. Jika sudah diam tak menjawab, pasti ada sesuatu yang di sembunyikan. Pikir Rayen.
"Ya sudah, sekarang tidurlah. Besok kita harus ke apartemen Ayah."
Lagi dan lagi Jennie terkejut bukan main. Apartemen? Kenapa tiba-tiba dia mengajakku ke apartemen? Apa ini ada hubungannya dengan Justin? Ya tuhan, musibah apa ini. Jennie terus berpikiran negatif tentang ucapan Rayen. Ia berharap semoga ajakan Rayen ke apartemen ayahnya tidak ada hubungannya dengan Justin.
Tanpa memperdulikan ucapan Rayen, Jennie segera membaringkan tubuhnya kembali dan beberapa menit kemudian ia tertidur dengan nyenyak.
__ADS_1
*****
Like nya guys🙌😊