Please, Don'T Go. Baby!

Please, Don'T Go. Baby!
CH 11 ~Gagal ke Cafe


__ADS_3

Malam ini, Jennie sudah bersiap-siap akan pergi ke cafe bersama Lisa. Ia memakai dress hitam mini tanpa lengan dan kalung hitam berenda yang melingkar di lehernya. Ia memandangi dirinya dk cermin.


"Perfect" Ucapnya sambil terus memandangi dirinya sendiri dari atas sampai bawah.


"Mau kemana?" Tanya Raten yang mendadak muncul. Jennie terperanjat melihat suaminya tiba-tiba muncul di pantulan cermin, ia berpikir itu hantu. Namun dengan gugup ia memberanikan diri membalikkan badannya, dan, Kyaa! Jennie kaget bukan main, memang benar itu adalah Rayen, suaminya.


"Eh, Rayen." Jennie gugup begitu melihat Rayen. Ia sengaja bersiap-siap lebih awal dari jam perjanjiannya dengan Lisa, karena tujuannya untuk sembunyi dari Rayen. Sebisa mungkin Rayen jangan sampai tahu, eh ternyata Rayen memang punya mata dimana-mana.


"Mau kemana?" Rayen kembali mengulangi pertanyaannya.


"Eee..itu aku mau pergi sama Lisa" Jawab Jennie gugup.


"Lisa?" Rayen mengangkat satu alisnya seakan seperti tidak percaya.


"Iya, Lisa." Jennie semakin gugup.


"Berikan ponselmu." Pinta Rayen tiba-tiba.


Eh, mau apa dia?


Dengan perasaan takut-takut Jennie memberikan ponselnya pada Rayen.


Rayen menekan nomor Lisa di ponsel Jennie, lalu menelponnya.


Tutt..tutt..tutt..


"Halo?"


"Halo. apa benar ini Lisa?"


"Iya, aku Lisa. Ada apa ya? Dan ini siapa?"


"Aku Rayen, suami Jennie. Apa benar malam ini istriku mau pergi denganmu?"

__ADS_1


"Eh, iya. Aku mengajaknya ke Cafe malam ini. Jam 20:00 aku akan menjemputnya."


"Apa, Cafe? Tidak ku izinkan dia pergi ke Cafe."


Rayen langsung memutuskan sambungan teleponnya dan memberikan ponsel itu pada Jennie. Jennie masih diam mematung. Ternyata susah ya nikah sama Rayen, banyak peraturan. Kapan aku bisa bebas seperti dulu? Batin Jennie.


"Lepaslah pakaianmu dan pergi tidur. Sudah malam." Perintah Rayen.


"Eh, kenapa begitu? Lisa bahkan belum menjemput ku."


"Tidak ada acara ke cafe malam ini. Sudah, tidurlah." Ucap Rayen datar.


"Tapi, Ray. Aku ingin ke sana. Sudah lama kan aku tidak ke cafe semenjak nikah sama kamu."


"Tidak ada alasan. Sekarang tidur lah. Sebagai gantinya, aku akan mengajakmu ke London besok." Ucap Rayen sambil tersenyum simpul.


Eh, aneh sekali. Tadi datar sekarang lembut. Dasar manusia jadi-jadian, aneh tapi nyata. Wait.. Apa yabg tadi dia katakan? ke London? Apa itu benar?


"Iya, benar. Sekarang tidurlah." Rayen mengusap lembut rambut Jennie. Seketika kesedihan Jennie berubah menjadi kebahagiaan. Bagaimana pun juga London itu adalah negeri impian nya. Ia tidak akan menolak jika di ajak ke sana. Apa lagi suami nya itu ber-uang. Asiikk.


Jennie mengganti pakaiannya dengan piala tidur, lalu mencuci mukanya dan menghapus semua riasan di wajahnya.


"Sekarang tidur lah, Baby. Apa mau aku bacain dongeng?" Tanya Rayen lembut sambil mengelus rambut Jennie.


"Hei, aku ini bukan lagi anak kecil." Jawab Jennie sambil memanyunkan bibir nya.


"Hahahaha" Rayen tergelak kencang, begitu juga dengan Jennie. Kedua pasangan muda itu tak kalah romantis nya dengan pasangan lain pada umum nya.


Sebelum memejamkan mata nya, Jennie mengirimkan sebuah pesan via chat pada Lisa. Pesan yang berisi bahwa ia tidak bisa pergi ke cafe karena besok harus ke London.


'Sorry, Lis, Gue nggak bisa ke cafe malam ini. Gue harus tidur sekarang karena besok mau jalan-jalan ke London. Lo cari teman lain aja buat nemenin Lo ke cafe. Atau pun Lo ajak aja tuh si Boss ganteng. Hehe' Begitulah isi pesan yang di kirimkan Jennie pada Lisa. Boss ganteng yang di maksud Jennie adalah Justin. Jennie memang biasa menjuluki Justin sebagai Boss ganteng.


Setelah mengirim pesan, Jennie menyimpan ponselnya di atas nakas. Ia kemudian merangkak ke atas ranjang dan menarik selimut menutupi sebagian tubuhnya. Namun belum sempat Jennie menarik selimut, Rayen tiba-tiba menindihnya dengan serangan dadakan.

__ADS_1


"Ray, mau apa?" Tanya Jennie panik karena tiba-tiba Rayen menindih tubuh nya.


"Boleh kita lakukan sekarang? Sungguh aku sudah tidak bisa menahan hasratku." Rayen langsung menerkam tanpa izin dari Jennie. Jennie hanya bisa pasrah, mungkin ini saatnya ia melayani suaminya, sebagai seorang istri yang baik.


Rayen ******* bibir imut Jennie perlahan tapi pasti. Gerakan perlahan lembut itu berubah menjadi cepat dan penuh nafsu. Kini ciuman itu turun ke bawah, kedua tangan Rayen mulai nakal. Memegangi dan meremas kedua gunung kembar milik Jennie, Jennie hanya bisa mendesah.


"Emmpphh,,Ray. Jangan" Lirih Jennie sambil menahan tangan Rayen yang sudah mulai turun ke ************ nya.


Rayen membuka perlahan pakaian Jennie dan menikmati setiap inci tubuh Jennie. Lagi-lagi Jennie hanya mendesah merasakan kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sebelum nya.


Rayen mulai tidak ter kondisikan. Ciuman nya semakin turun ke perut Jennie. Dan..


"Ray, Stop!" Jennie memberontak, mencegah aksi Rayen.


"Kenapa, Baby? Sebentar lagi kita akan menuju puncak kenikmatan bersama-sama."


"Tidak, Ray. Aku belum siap." Jennie terus memohon pada suami nya agar tidak melakukan itu sekarang.


Lagi dan lagi Rayen harus menahan hasrat nya.


Arrgghh!! Lagi-lagi aku harus menahan semua ini. Padahal si Boy sudah memberontak ingin keluar dari sarang nya. Ah, Sabar ya Boy. Gumam Rayen dalam hati sambil mengelus pucuk kepala adik nya yang masih ada di dalam sarang.


Jennie kembali memakai pakaiannya, dan menarik selimut untuk menutupi tubuh nya. Kali ini seluruh tubuh nya tertutup selimut, ia tidak mau mendapat gangguan lagi dari Suami nya.


Sementara Rayen sedang berada di dalam kamar mandi, menyelesaikan puncak nya di sana. Sebenarnya Rayen kecewa karena istri nya belum bisa menuruti keinginan nya. Tapi ya bagaimana lagi, jika Jennie belum siap itu tanda nya memang belum siap. Permintaan Jennie tidak bisa di ganggu gugat. Rayen mencoba memahami jalan pikiran istri nya yang masih sangat muda itu. Ia tahu alasan istri nya tidak mau di ajak berhubungan, alasan nya adalah takut hamil muda. Ia juga sama-sama belum siap menjadi Ayah. Tapi entah kenapa, setiap ia melihat tubuh mulus Jennie, selalu ada hasrat yang muncul. Dan ujung-ujung nya ia akan menerkam Jennie secara buas tanpa ampun.


Kini kedua insan itu telah tertidur dengan nyenyak. Jennie tidur dengan memeluk boneka, sedangkan Rayen membelakangi Jennie memeluk guling. Rayen sengaja membelakangi Jennie agar hasrat nya tidak muncul kembali.


*****


***Mohon maaf jika ada kesalahan kata yang kurang tepat atau kurang nyambungm Mohon di pahami. Dan ini tidak sepenuhnya menjelaskan kegiatan 21+, jadi jangan khawatir.


Please, like & comment for me***. :)

__ADS_1


__ADS_2