
بسم الله الرحمن الر حيم
“ eh maaf ya.. kalo kamarnya sempit” ucap Zahra akhirnya, sedari tadi keheningan yang mengerubungi mereka kini di usir Zahra.
Sehingga Kenza yang memperhatikan kamar Zahra terksiap dan menatap istrinya yang berdiri didepannya dengan wajah tertunduk, ia tersenyum berjalan mendekat lalu mengelus pucuk kepala Zahra membuat Zahra mendongak menatap wajah suaminya dengan mata yang saling menatap dalam, ada pancaran ketulusan disana.
“kecil maupun besar asalkan nyaman dan bisa buat kita istirahat kenapa harus dipermasalahkan” terangnya.
“terimakasih..” ungkap Zahra seraya tersenyum tulus membuat Kenza juga ikut tersenyum ia mendekatkan wajahnya membuat mata Zahra terbelalak lalu terpejam erat, dan Kenza yang melihatnya terkikik geli, ia mencium dahi Zahra tak lama namun bermakna.
“kok masih merem.. pengen lebih ya” godanya, sontak Zahra tertunduk pipinya sudah dipastikan memerah karna malu.
“Uji mau mandi dulu atau gimana?” Tanya Zahra setelah menetralkan rasa malu dan detak jantungnya.
“eh.. kamu manggil aku apa?” kali ini panggilan berubah menjadi aku kamu.
“uji.. “
“alasannya?”
“kan om suami aku.. dan om bilang gak mau dipanggil om jadi Zahra panggil uji dari kata Zauji”, senyum Kenza mengembang dan ini baru pertama kali Zahra melihatnya ia terkagum.
“oke.. Zaujati.. Uji mau mandi aja” jawabnya, Zahra mengangguk ia mengambil handuk dilemari lalu menyerahkan pada suaminya beserta piayama hadia dari Zahra.
“eh .. uji mandinya dikamar mandi sebelah kamar Zahra ya.. soalnya kamar Zahra gak ada kamar mandinya”
“gak papa Uja.. yaudah Uji mandi dulu” Zahra mengangguk.
Setelah akad yang selesai pas dzuhur jadi semuanya berjamaah dulu baru pulang, keluarga Kenza juga akan pulang baru besok keduanya akan pergi ke rumah sang mertua mempersiapkan resepsi.
Kenza sudah selesai lebih dulu ia masuk kekamar Zahra dan dia tidak menemukan istrinya, ia mengamati kamar Zahra yang terkensan girlly namun tidak terlalu, sederhana tapi nyaman.
pandangannya beralih pada sebuah bingkai foto yang menarik perhatian Kenza, ia mengambil dan duduk dikasur Zahra ia mengamati dengan seksama ternyata foto masa kecil istrinya. Ia tersenyum dan gemas sendiri.
__ADS_1
“cantik.. imut juga”, nilainya. Suara salam membuat Kenza meletakkan kembali bingkai itu ditempatnya ia menyambut istrinya yang masuk dengan…
“piyamanya kembar?” ucapnya tak percaya
“he..he.. maaf ya Uji.. biasa kelakuan Ardila ini” jawabnya dengan cengiran konyolnya yang selalu mampu membuat Kenza gemas. Kenza mendekat.
“gak papa Uji senang malahan.. besok sebelum pulang kita beli beberapa piayama couple ya oke” Zahra hanya mengangguk, ia mengambil gantungan dan mengaitkan handuknya disana lalu mengaitkannya kembali pada gantungan pintu, handuk yang dipakai Kenzapun begitu.
. “eum.. bolehkah jika Uji melihat rambut Uja sekedar memastikan?” tanyanya gugup, sedangkan Zahra tak kalah gugup.
Namun kemudian ia mengangguk mantap toh didepannya ini suaminya bukan orang lain. Dengan pasti Kenza membuka hijab instan istrinya setelah sempurna dibuka terlihat sudah rambut coklat legam istrinya ternyata memang berwarna coklat legam, ia membuka kunciran rambut dan terlihat disana rambut tebal dan lurus serta lembut.
Kenza melangkahkan kakinya menuju meja rias, ia meletakkan hijab dan kuncir rambut di sana lalu menarik istrinya agar rebahan dikasur mengajaknya istirahat.
“Haru” Panggil Kenza dimana sang istri berada dalam dekapannya.
“pengen tau” Zahra mengangguk mantap matanya sangat mengisyaratkan keingin tahuannya.
“nama Ujakan Haruna Zahra Nadhira” Zahra mengangguk.
“dalam jepang Haruna adalah musim semi, yang dimana kita dipertemukan oleh allah saat musim semi, tepat saat itu bunga sakura yang bermekaran indah seperti pipi Uja yang berwarna sakura. Kenapa Uji manggil Uja Haru karna Uji selalu ingat dan mengenang pertemuan takdir pertama kita” jelasnya mampu membuat detak jantung Zahra berdetak kencang apalagi pipinya merona layaknya sakura yang paling pink, Kenza kali ini tidak mampu berdiam diri, ia mencium kedua pipi yang sangat ingin ia gigit itu, persis Wira namun ini lebih putih bersih yang tidak terlalu tembam, kulit istrinya yang seputih susu.
“kalo dilihat-lihat istriku ini.. cantik sekali ya.. kamu seperti bukan penduduk asli pribumi” ungkapnya.
“heum.. yah sedikit ada keturunan jepang kok Uja” jawab Zahra.
“oh ya makanya namamu ada jepang-jepangnya.. dan lagi jika diperhatikan kamu gak ada miripnya dengan kedua orang tuamu”
“eum.. banyak juga yang berkata begitu, Uja juga gak ngerti”jawabnya, keduanya diam, Zahra juga diam ia mengamati dada bidang suaminya yang terbalut piayama tidurnya pandangannya kosong seakan ada sesuatu yang membuatnya gelisah.
“uja..”
__ADS_1
“eh.. ya..”
“ uja ada yang dipikirin?”
“gak kok Uji..” elaknya. Ia menatap segala arah menghindari tatap suaminya.
“ Uji tau.. kita tidak terlalu mengenal baik tapi, kita yang dulunya orang lain menjadi orang yang memiliki arti penting, dipertemukan takdir dan dpersatukan oleh allah, jika kita tidak saling terbuka lalu aku akan merasa gagal menjadi imam Uja.. maukah berbagi keresahan yang Uja rasakan?”, Zahra menatap nerta coklat pudar yang menunjukkan ketulusan dan kelmbutan disana, Zahra mengangguk.
“sebenernya… Uja lagi bingung, sahabat Uja gak datang dihari terpenting Uja” ceritanya dengan wajah sendu.
“siapa sayang.. bukannya Ardila datang” jawabnya lembut seraya mengelus surai istrinya, suaminya ini selalu tak terduga gak tau apa Kenza mampu membuat jantungnya berdetak berkali lipat.
“Uji tau lelaki yang duduk dengan Uji waktu makan siang dikantin kampus Uja?” Kenza mengingat-ingat lalu mengangguk.
“yap dia gak datang Uji.. aku sudah kasih tau kok.. tapi mungkin dia sibuk ya”
“ya mungkin.. berfikir positive aja ya.. mungkin nanti dia akan datang diresepsi kita” Zahra mengangguk.
“apakah Uja keberatan jika Uji meminta hak uji sebagai suami dan kewajiban Uja sebagai seorang istri?”
Deg….. ‘ bismillah dengan ridho dan menggapai cintamu rabbi, hamba ikhlas seikhlas-ikhlasnya ridhoi pernikahan kami berkahi serta titipkan calon mujahidmu kepada kami sebagai penyempurna ikatan kami.’ Doanya dalam hati Zahra menatap mata Kenza lalu mengangguk yakin.
Kenza berdoa dan proses cinta yang menciptakan percikan api cinta didalam diri mereka serta pahala yang mereka tuai dalam ibadah kali ini.
Kenza menatap penuh cinta istrinya ia mengecup kening istrinya dan berkata “ I love you most my honey..” kemudian Kenza mencium perut istrinya berdoa disana meminta yang terbaik dari allah sebagai penyempurna rumah tangga mereka bukti cinta mereka.
“Alhamdulillah.. terimakasih sayang.. I love you” lirihnya dimana ia sudah berbaring disamping sang istri yang terlihat lelah ia berdoa lalu ikut tertidur bersama istri yang ia rengkuh segenap hati, yang ia cintai segenap hati dan ia pinta pada allah dengan berjanji untuk menjaga titipannya. Yang selalu ia pinta dan sebut disetiap doanya.
------------------------------------------------------------------------
Terimakasih...😊
Jangan lupa dukungan kalian ya... Like.. komen, vote, and.. love.. he..he..
dibaca kalian udah alhamdulillah...
__ADS_1
With love....💖💖