
بسم الله الرحمن الرحيم
1 minggu berlalu dari kejadian itu, kakaknya menikah dua hari setelah semuanya terbongkar dengan ayah sijanin, sedangkan dua sahabatnya Ardila dan Juno dalam proses ke jenjang yang lebih serius, tepat setelah sidang nanti mereka akan menikah dan resepsi akan dilaksanakan setelah wisuda walau tidak tau kapan mereka akan wisuda bahkan skripsi saja belum mereka laksanakan.
Mereka masih melaksanakan tugas akhir mereka baru skripsi. Suaminya kembali terbang keangkasa membawa penumpang sampai tujuan dan entah akhir-akhir ini Zahra merasa lemas, mual muntah kadang ia bawaannya ingin tidur.
Sudah 5 hari suaminya ini tak pulang-pulang serasa bang toyib aja, 3 hari ia menginap dirumah mertuanya karan mereka kwatir, dan kalini dengan bujukan mautnya dia diperbolehkan kembali keapartemen lagi.
Pagi ini Zahra terbangun dari tidurnya dan mengalami mual muntah hebat lebih dari kemarin kepalanya pening, jika membuka mata pasti disekelilingnya akan berputar jadilah ia duduk sejenak agar tak pusing dirasakan cukup baik ia merebahkan tubuhanya lagi kekasur walau langkahnya teresok-esok ia berhasil menaiki kasur dan berbaring disana, tak ada apapun yang masuk keperutnya melangkah saja ia pusing. Jadi ia kembali memejamkan mata.
Hingga suara adzan dzhuhur membuatnya terbangun ia merutuki dirinya sendiri karna lalai mengerjakan sholat duha, selesai membersihkan diri dan serasa lebih segar juga dan pening cukup membaik walau rasa mual itu masih ada, ia beribadah kepada allah menunaikan kewajibannya sebagai orang muslim dan kasadarannya yang menjadi manusia tahu diri. Beribadah dengan khidmat dan penuh penghayatan. Rasa mual dan pusingnya juga sedikit berkurang.
+++++++
__ADS_1
Malam harinya tepat pukul 8 malam Zahra terbaring lemah disofa kepalanya kembali pening ia sedikit menggigil jadi ia menyelimuti tubuhnya dengan selimut yang memang ia bawa dari kamarnya, seharian ini hanya mie instan yang mampu masuk kedalam perutnya tanpa dimuntahkan, dan seharian juga yang ia lakukan hanya berbaring di sofa karna lemas dan pusing, jika bangun dapat dipastikan ia akan muntah kembali.
" aku kenapa ya.. biasanya mual muntah gak sampek segitunya.." pikir Zahra
" apakah aku salah makan, gak mungkin juga sih... tapi bisa jadi..." Hingga Suara dering ponsel menggema diapartemennya yang sunyi, televise memang nyala namun dengan suara lirih. Menghentikan segala pemikiran yang berkecamuk tentang sakit yang ia rasa.
📞📞
“kamu baik-baik sajakan nak suara kamu beda” Zahra mati kutu, walau bagaimanapun menyembunyikannya jika orang tua pasti akan mengenal baik dirinya.
“eh.. gak kok mom.. cuman pusing dan lemes aja”
“okey tunggu mommy dan daddy bakalan kesana”
__ADS_1
“eh gak usah mom”
“gak ada bantahan sayang” Sanggah mommy Iriana cepat ia sama sekali tidak menerima penolakan. Mertua yang baik dan tidak membeda bedakan anak dan menantu.
“baiklah mommy sayang” akhirnya ia mengalah.
“waalaikumsalam warahmah” sambungan telfon terputus.
Zahra tak sanggup lagi untuk bangun jadi dia tetap berbaring dengan mengenggam telfonnya. Ia benar - benar merasa lemas, besok ia akan pergi kerumah saki bersama suaminya yang akan pulang dari angkasa besok., membayangkan suaminya dia jadi rindu dan senyum senyum sendiri. Namun dia tidak sadar jika ada seseorang yang menahan amarah, tangannya terkepal dan bom itu siap untuk mengahancurkan apapun.
------------------------------------------------------------------------
Terimakasih...😊
Jangan lupa dukungan kalian ya... Like.. komen, vote, and.. love.. he..he..
dibaca kalian udah alhamdulillah...
__ADS_1
With love....💖💖