
بسم الله الرحمن الرحيم
Pepatah pernah berkata jika dua pasangan yang dilanda jatuh cinta tak peduli sekeliling dan serasa dunia hanya milik mereka berdua. Keduanya tidak sadar jika sedari tadi ada bi Sari dibalik pintu kamarnya tersenyum bahagia bahkan ia menitikkan air mata melihat betapa Kenza memperlakukan Zahra dengan begitu sayang dan terlihat Kenza sangat mencintai nona mudanya itu.
Dan ada seorang gadis dibalik dinding pintu menuju dapu Resi sedari tadi disana tepatnya setelah telfon Uno selesai, ia mengepalkan tangannya kesal.
“seharusnya aku yang disana.. seharusnya aku yang diperlakukan begitu”, gumamnya tak terima.
Fajar mendatangi dapur dan melihat gelagat putrinya yang menahan amarah melihat apa yang membuat putrinya marah. Dan pemandangan yang juga membuatnya kesal.
“ekhem..” berdeham keras ia menarik kursi ujung yang memang tempatnya, kedua pasangan pengantin baru yang masih berumur sehari itu melepaskan pelukan walau Kenza enggan namun demi kesopanan ia melakukannya.
“sudah Uja bilang.. sih..” peringat Zahra ia malu, lihat wajahnya sudah memerah membuat Kenza gemas jika dikamar habislah istrinya ini.
“eh selamat pagi pak” sapa Kenza ramah lalu duduk dikursi bagian kiri ayah mertuanya.
“oh ya pagi.. panggil papa saja”
“yang.. kamu manggil bapak apa.. papa apa ayah?”Tanya Kenza tiba-tiba pada Zahra yang tengah meletakkan lauk dimeja.
“bapak.. kenapa Ji?”tanyanya heran
“bapak aja pak”jawab Kenza kemudian, dan Zahra mengerti Resy langsung menyerobot dan duduk tepat disamping Kenza, spontan Kenza langsung bangun dan duduk di kursi kedua disisi kanan. Membuat Resi mendengus.
“oh ya pak.. hari ini saya akan mengajak Haru pindah” ujar Kenza, Zahra sudah duduk disampingnya dimana Kenza menarikkan kursi untuk sang istri.
“ya bawa aja” jawabnya tanpa beban. Fajar mengambil keperluannya sendiri.
“Uji mau makan sama apa?”
“apa aja deh.. Uja gak usah ambil juga ya..”
__ADS_1
“maksudnya”
“sunnah rasulullah yank.. sepiring berdua”
“modus ya” selidiknya, dan Kenza terkekeh
“modus sama istri sendiri gak papalah yank"
lagian beneran sunnah kok”
“yadeh nurut aja” akhirnya.
Keduanya berdoa dan mulai memakan sarapan mereka, awalnya Kenza ingin menyuapkan istrinya namun urung, tidak baikkan beromantisan didepan orang lain meskipun keluarga. Tetap saja keluarga ini tidak menganggap istrinya.
Fajar menatap takjub dua pasangan itu, entah kenapa bawaannya adem melihat keduanya. Selama menikah tak sekalipun istrinya berbuat begitu padanya meskipun diawal menikah, setiap diajak begitu istrinya selalu menolak dan bilang dirinya terlalu lebay hanya pas awal menikah istrinya melayaninya walau tak pernah sekalipun ia merasakan masakan sang istri, pakaianpun ia mengambil sendiri, sepulang kerja tak ada sambutan hangat atau senyum manis malahan sebuah protes dia hanya mengalah.
Diawal pertama menikah istrinya hanya menyambutnya dengan senyum tipis dan menyuruhnya bersih-bersih setelahnya ia ditinggal tidur dengan pesan tertulis jika makan malam sudah disiapkan bibi yaitu ART rumahnya.
“gak papa.. hanya mengingat masa lalu” jawabnya lalu melanjut makan.
“jam berapa kalian pergi?”Tanya Fajar.
“setelah sarapan pak”jawab Zahra dimana keduanya sudah selesai sarapan.
“kamu siapian semuanya aja yang biar aku yang cuci piringnya”
“tapi Uji.. gak sopan ah.. masah suami yang cuci piring”
“udah nurut aja.. ingat.. istri itu harus”
“okey captain..” jawab Zahra cepat dan berlalu dari sana setelah pamit kepada kedua orang tua dan kakaknya.
__ADS_1
Lagi Fajar termenung ia takjub akan keduanya, tak pernah sekalipun ia dan istri berdebat manis begitu, yang ada debat beneran berujung pertengkaran. Istrinya tidak pernah berkata begitu malahan ia senang sekali jika dirinya yang mencuci piring. Beberapa menit kemudian Zahra datang membawa sepatu ayahnya.
“pak.. ini sepatunya sudah Zahra semir, baju yang mau bapak pakai juga sudah Zahra setrika” ucapnya pada Fajar yang sedang membaca Koran diruang makan. Ia menghampiri suaminya yang berada dikamar mandi bawah.
“Uji ini handuknya” ucapnya dari luar pintu kamar mandi. Semua itu tak lepas dari perhatian Fajar walau tak terang-terangan.
“gak sekalian masuk aja Hon”
“dasar mesum..”
“loh menurut”
“udah sana mandi entar mommy cemas gara-gara kita telat datang” sungutnya
“oke.. jangan cemberut gitu dong.. senyumin suami itu ibadah loh.. walau ibadah mandi barengnya gak terlaksana setidaknya dapat senyuman manis itu sudah berkah buat Uji Hon”, Zahra ternganga yaampun suaminya ini benar-benar tak terduga sisi tembok esnya itu udah hilang ternyata.
“nah udah senyum kan..”
ya.. cantik banget sih.. istri siapa” godanya lagi tak tau apa Zahra jantungnya memompa diluar dugaan.
“istri om Althaf mesum” ucapnya lalu pergi dari sana. Meninggalkan Kenza yang terkikik geli didalam kamar mandi. Dan tanpa sepengetahuan siapapun Fajar juga ikut terkekeh lalu cepat-cepat ia menetralkan keadaan dan kembali focus pada Koran yang ia baca.
------------------------------------------------------------------------
Terimakasih...😊
Jangan lupa dukungan kalian ya... Like.. komen, vote, and.. love.. he..he..
dibaca kalian udah alhamdulillah...
With love....💖💖
__ADS_1