POTRET

POTRET
PART 30 PENYELESAIAN


__ADS_3

بسم الله الرحمن الرحيم


Zahra terusik dari tidurnya saat ia mendengar suara kegaduhan, ia bangun keluar kamar dan terkajut melihat kakak iparnya yang brutal memukuli Kenza yang sudah lemah tak berdaya, ia turun dari tangga tergesa\-gesa dia lupa jika dia bawa bayi dperutnya.


“kakak berhenti kak” pekik Zahra, Kenzo hanya menoleh lalu tetap melayangkan pukulan pada adiknya, Zahra berlari lalu berdiri didepan Kenza yang terduduk dilantai.


“kak jangan pukul lagi”


“minggir Zahra.. biar dia tau diri”


“kakak pliss jangan pukulin suami Zahra lagi.. jangan kak”


“Zahra minggir kakak bilang”


“jangan lakukan ini, demi Zahra dan keponakan kakak, kalo wajah abinya jadi jelek kasian little star aku” candanya, Susana mencengkam sedikit bersahabat, Kenzo terkekeh ia mengacak hijab Zahra.


“ada-ada aja kamu nih, kalo jelek cari abi baru buat anak kamu”


“ih naudzubillah.. kakak jangan pengaruhi anak aku” sungutnya tak terima, seraya mengusap perutnya.


“ia..ia.. dasar bumil.. sensitive banget kayak bumil ini” ucao Kenzo seraya merangkul istrinya yang masih sedikit emosi.


“ayo dek kita istirahat”


“kakak duluan aja ya.. Zahra masih..”


“mau ngobatin luka dia.. gak usah buang waktu kamu luka kamu aja dia gak sembuhin udah ayo”


“kakak.. boleh ya” pintanya memelas, Aqila akhirnya menghembuskan nafas kasar lalu mengangguk.


“kalo dia sakitin kamu lagi, buat kamu nangis lagi teriak aja ya.. biar satu komplek denger dan gebukin dia” ancamnya. Mereka meninggalkan keduanya. Zahra berjongkok didepan Kenza yang menunduk sesekali dia mendengar ringisan suaminya.


“ayo bangun duduk disofa” ucapnya lembut ia memegang kedua tangan Kenza membantunya berdiri, saat Zahra akan pergi tangannya dicekal.


“jangan pergi..” pintanya memelas


“aku cuman ngambil obat Ji”

__ADS_1


“gak perlu, kamu aja sudah jadi obat buat aku”


“kalo masih protes aku beneran pergi”


“jangan” akhirnya Kenza melepaskan cekalannya. Zahra datang dengan kotak obat dan duduk disamping Kenza tak lupa membawa baskom berisi air dan handuk untuk membersihkan luka.


“ssst” ringis Kenza saat Zahra membersihkan darah disudur bibir suaminya dengan handuk lembut yang sudah ia basahi.


“astagfirullah maaf..” sesalnya, Zahra meletakkan handuk berganti tangannya mengusap lembut pipi suaminya.


“maafin aku.. buat kamu terluka kayak gini”


“no.. aku yang minta maaf bukan kamu.. Uji pantas dapetin ini” tangan Zahra berhenti mengusap saat akan menjauh Kenza meletakkan tangannya dipunggung tangan istrinya lalu menempelkannya lagi pada pipinya.


“kenapa Uja nangis.. aku jahat banget ya” ucapnya, dengan wajah sendu sarat akan penyesalan yang menadalam.


“aku… gak bisa lihat kamu terluka kayak gini.. aaku..” Kenza membawa Zahra dalam pelukannya ia mengucapkan maaf berkali-kali, Zahra terus menangis.


“aku.. gak sadar waktu itu, bukan karna mabuk demi allah Uji gak pernah nyentuh barang haram itu, Uji gak tau kenapa mood uji berantakan saat itu bawaannya pengen marah, dan saat itu..”


“saat itu Uji langsung marahin aku hiks..”


“seharusnya Uji bisakan Tanya Haru kenapa, dan ada apa. Haru bukannya gak mau bersihin rumah hanya saja saat itu Haru lemes.. mual dan makanan gak ada yang masuk sama sekali walau dicoba ujung-ujungnya mual, lagi sibuk juga ngerjain tugas akhir kuliah” ceritanya, Kenza tersenyum ia senang istrinya mulai mau bicara panjang lebar lagi dengannya. Lalu ia teringat akan perkataan kakak dan kaka iparnya saat Wira masih didalam kandungan.


“sayang… kamu pernah denger gak kalo pada masa kehamilan bukan hanya ibunya yang ngidam atau mengalami perubahan mood, suami juga bisa”


“heum.. lalu”


“mungkin saat itu bawaan baby yank, aku seumur hidup gak pernah jetlag hampir setiap pagi aku rasain, perubahan mood yang ingin marah-marah bahkan aku sempat marahin bawahan aku, dan lagi puncaknya saat pulang.. dan maaf”


“bisa jadi.”


“maafin Uji uja”


“ia.. Uja maafin”


“Alhamdulillah yaallah terimakasih sayang… dan.. little star kita baik-baik ajakan, dan sudah berapa minggu?” tanyanya tangannya terulur untuk mengelus baby yang bersemayam nyaman diperut sang ibu.

__ADS_1


“waktu periksa keadaannya memang lemah karna asupan makanan yang kurang, dan sudah jalan 9 minggu” jelas Zahra.


“astagfirullah.. maafin abi ya nak.. besok kita periksa lagi ya”


“kenapa, baru kemarin aku periksa”


“pokoknya periksa lagi, Abi ingin memastikannya sendiri,” tiba-tiba tubuhnya melayang, membuat Zahra terpekik tertahan.


“apa-apan Uji”


“kita istirahat sayang… kasian baby udah mengalami banyak emosi dan kejadian, maafin aku udah nambah beban dan bikin kamu stress”


“udah ya,.. jangan ungkit masalah yang sudah berlalu, kalo kamu ungkit lagi aku gak mau maafin kamu”


“oke..oke.. gak lagi.. aku janji” ucap Kenza seraya berjalan menuju kamar Kenza.


“jangan berjanji”


“baik aku akan berusaha gak akan mengatakan kata-kata kasar lagi, maafin aku”


“heum… aku ngeropotin ya”


“gak sayang sama sekali gak. Kamu memang gak pernah ngeropotin aku.. waktu itu anggap saja itu bukan aku ya..” candanya, keduanya tertawa dan saling berpelukan dibawah sleimut yang sama, pelukan yang mereka rindukan, apalagi Kenza.


“terimakasih sudah mau bersabar dan bertahan sama aku” lirihnya,, sedangkan Zahra sudah terlelap. Mommy dan daddy yang melihat dan mengatahui kedua anaknya sudah baikan sangat lega beribu syukur ia ucapkan.


“untung putri kita sabar ya by”


“ya seperti kamu.. dan seperti dia”


“ya Hubby benar dia sama persis seperti dia..”


------------------------------------------------------------------------


Terimakasih...😊


Jangan lupa dukungan kalian ya... Like.. komen, vote, and.. love.. he..he..

__ADS_1


dibaca kalian udah alhamdulillah...


With love....💖💖


__ADS_2