POTRET

POTRET
PART 5 TAK TERASA


__ADS_3

بسم الله الرحمن الرحيم


Perkuliahan berjalan dengan baik walau mahasiswa terbagi menjadi beberapa macam seperti ada yang menyimak dengan benar, ada yang tidur, bicara sendiri ataupun sok sibuk sendiri namun itulah warna dunia perkampusan seperti warna perlangi yang menghias indah dilangit begitupun dengan warna sifat manusia yang menjadi warna dunia.


“kok kamu lemes gini sih Una?” Tanya seorang lelaki yang duduk didepannya kini sudah berbalik menghadapnya.


“pasti kamu belum sarapankan.. kok bisa sih mereka jah…”


“ssst… udah dil..” potongnya pelan, ia mengantuk semalam ia mengerjakan tugas kuliah ditambah menuci yang ternyata sudah menumpuk jangan lupa ia harus bangun pagi-pagi untuk membuat sarapan walau ada bibi dirumah kedua orang tuanya tidak ingin bibi membantunya dan semua pekerjaan dia yang lakukan.


“tapi aku kesel Ra.. kamu diginiin sama mereka.”


“udah deh dil.. kekantin aja yuk laper nih,.. tadi bangunnya kesiangan jadi lupa sarapan.”, jelasnya.


“yaudah ayo Un.. aku yang bakalan teraktir kalian”


“wah benarkah.. uh.. Uno memang yang terbaik” puji keduanya. Membuat Uno mencebik.


“giliran teraktir aja Uno yang terbaik”


“gak ikhlas No?”Tanya Zahra sarkasme


“eh..he.. gak kok Una sayang yuk cus” ajaknya langsung.


Saat ketiganya berjalan beriringan menuju kantin, ada yang berbeda terlihat semua mahasiswa maupun mahasiswi tidak mengerubungi kantin seperti biasa namun ketiganya cuek aja dan pergi dari sana menempati bangku yang masih lumayan kosong. Uno pergi memesan sedangkan kedua gadis itu duduk bersisian dan bercengkrama ria. Hingga sebuah panggilan membuat keduanya menoleh pada pusat suara.


“gadis berkamera”, tegur seseorang dengan wajah datarnya.


Dan hal itu tak luput dari perhatian semua warga kampus yang ada disana bahkan lelaki tampan dengan pakaian santai namun sopan itu menjadi artis dadakan walau diluaran ia juga menjadi cassanova apalagi dipekerjaannya keturun bule belasteran arab amerika itu.


“ loh.. om” kata Zahra tak percaya sedangkan Ardila mengernyit bingung apalagi Uno yang datang dengan tangan membawa nampan berisi makanan bertanya dengan isyarat pada Ardila yang dijawab gelengan kepala.


“hai..” sapanya


“oh.. hai om.. ngapain?”


“tak mempersilahkan saya duduk dulu?” tukasnya.

__ADS_1


“ouh.. ya.. silahkan.. duduk saja” saat pria itu hendak duduk punggngnya disenggol hingga ia menyingkir ternyata Uno yang melakukannya dan menyerobot tempat duduk.


“Uno geser” , suruh Zahra dan mau tak mau Uno bergeser sehingga memberikan ruang untuk pemuda itu duduk.


“ini pesanan para princess” ucap Uno dan memberikan pesanan semangkok bakso campur dan semangkuk kecil nasi merah yang ketiganya juga memesan makanan yang sama.


“om mau pesan juga?”, tawar Zahra


“boleh”


“eum mau saya pesanin atau pesan sendiri?”, tanyanya lagi.


“saya…


“udah Ra kamu makan aja.. kamu belum sarapankan.. wajah kamu pucet Ra.. biar makanan om kamu aku yang pesenin” potong Uno cepat, wajah Zahra memang terlihat pucat, Zahra mengangguk saja.


“om mau pesen kayak gini juga?” pemuda itu hanya mengangguk. Ada perasaan jengkel dan tak terima kala Uno memanggilnya om, apalagi tadi Uno bilang Omnya.. ‘ hei aku tak setua itu’ pekiknya tak terima dalam hati.


Namun ia mengenyahkan semuanya sekarang tatapannya menelisik wajah Zahra yang memang sayu dan pucat wajah cerianya terganti ‘ dia kenapa?”pikirnya.


Uno datang meletakkan pesanannya membuat pikirannya buyar seketika.


Bangku itu menjadi pusat perhatian banyak mahasiswa namun lebih dominan mahasiswi, dan Zahra tidak sadar jika disudut bibirnya ada sebutir nasi membuat kedua pria didepannya mengambil tisu dan mengulurkan tangannya bersamaan didepan wajah Zahra sehingga tangan itu saling bertubrukan membuat Zahra dan Ardila mendongak dan mengernyit heran.


“kalian mau ngapain?” Tanya Ardila, kedua lelaki itu berdecak kesal kedua tangan mereka saling menyenggol tak mau kalah, Ardila menatap Zahra dan Zahrapun menatap Ardila, sontak Ardila tertawa.


“eh.. dila kenapa?”tanyanya karna hanya dia yang bingung sendiri sedangkan yang lain menurutnya bertingkah aneh.


“masyaallah ternyata baby aku makannya belepotan”


“eh.. eomma” rengeknnya manja pada Ardila membuat keduanya tercengang apalagi pemuda itu jantungnya kembali marathon karna gemas. Ardila terkekeh ia mengelap butir nasi itu dengan tangannya lalu mengusapnya pada tisu.


“lain kali makannya pelan-pelan oke”


“emang udah kok mam.. he.. he..” jawbanya dan terkekeh polos ‘ yap Mentari itu kembali bersinar diwajahnya’ batin pemuda itu.


“om siapanya Zahra.. sepupu, tapi kayaknya Zahra gak punya sepupu deh, jadi siapa om?”Tanya Ardila yang sudah selesai makan.

__ADS_1


“em bukan siapa-siapa” jawabnya singkat


“oh.. tapi kok kenal”


“karna memang kebetulan kenal”jawab Pemuda itu membuat Ardila berdecak.


“kamu kenapa gak sarapan?”, Tanya pemuda itu pada Zahra.


“eum.. kesiangan om.. biasa he..he..” jawab Zahra yang juga sudah selesai makan.


“jadi ini kamu sarapan sekaligus makan siang” ujarnya kali ini nadanya tegas walau masih tetap datar.


“eh ia om..”


“lain kali sarapanlah walau hanya roti atau susu, setidaknya lambungmu tak kelaparan karna kekurangan jatah” katanya, Ardila tercengang ‘ bicara sama Zahra aja kalimatnya panjang lah bicara sama aku..’ batinnya protes.


“ia om insyaallah” pemuda itu mengangguk.


“kalo gitu saya pemrisi dulu, nice to meet you” pamitnya


“yes nice to meet yoo to” jawab Zahra, tak lupa pemuda itu melangkah pada kasir dan membayar semua makanan mereka, kemudian ia berlalu dari sana namun naas badan tegap dan kekarnya itu ditubruk seseorang.


Menimbulkan kegaduhan karna sebuah jus mendarat bebas dilantai menimbul dentingan kaca yang nyaring, untung saja pemuda itu menarik lengan perempuan itu sehingga gelas jus tidak mendarat dikepalanya. Zahra, ardila dan Uno menatap kejadian itu mata Zahra membulat kala yang ia lihat adalah om.omnya yang bertubrukan dan membantu seorang gadis yang tak lain adalah kakaknya. Keduanya saling bertatapan membuat Zahra merasa entahlah.


“are you okey?”tanyanya pada gadis yang memegangi kaos pemuda itu.


“hey” sergahnya karna gadis itu hanya menatapnya membuat dia jengah, pemuda itu melepaskan pegangan tangannya pada lengan gadis itu membuat wanita itu limbung.


“lain kali hati-hati.. dan gunakan mata kamu agar bisa berjalan dengan benar” tukasnya tajam dan berlalu dari sana.


Matanya sempat bersirobok dengan netra coklat legam Zahra lalu pergi dari sana. Sedangkan Resy terpekik senang


“wah.. ganteng…” ucapnya lalu memeluk salah satu sahabatnya.


“rencana gue berhasil..” ucapnya, dan ternyata dia memang sengaja melakukan itu untuk menarik perhatian pemuda tadi.. walau kata-katanya tajam dia bahagia.


Gimana gak bahagia kalo yang nolongin ganteng bule begitu, batinnya ia dan gengnyapun kembali duduk dibangku dan menyuruh seseorang membersihkan pecahan kaca dan lantai basah akibat jusnya tertumpah, siapa lagi yang disuruh jika bukan adik tingkat.

__ADS_1


Terimakasih...😊😊


__ADS_2