
Sebelum....
***
Hmpppp!!!
"Hmpp aku tidak bisa bernafas, ughh kenapa aku lama-lama jadi pusing?"
"Hoho, akhirnya aku bisa juga menikmati mu gadis!" Bicara salah satu suruhan Lex Viii dengan senyum nakalnya sambil memperlihatkan gigi.
"Ughh apakah aku akan mengeluarkan kekuatan ku sekarang? Eh tidak! Aku terawangan saja dulu"
Dalam pikiran Erces...
"Arggghhhh... Gadis busuk kenapa dia malah mengambil Pangeran ku!?" Kesal Thanaiya di hadapan cermin kamar mandi, ia melemparkan semua barang-barang yang ada di dalam dan mengacak-acak rambut nya yang telah ia tata dengan baik.
"Ohh... Apakah kau kesal dengan seseorang?" Tanya seorang laki-laki yang tiba-tiba muncul di hadapan Thanaiya.
"Siapa kau, Dan mau apa?"
"Tenang, hanya saja kau dan aku itu sama, sama-sama menginginkan wanita yang menjadi pusat perhatian tadi hancur. Yah aku hanya ingin menikmati nya sebentar" Jawab Pria itu dengan senyum jahat nya.
"Hmm, katakan dulu identitas mu!"
"Mudah saja, aku hanyalah orang yang ingin menyiksa kakak-beradik itu"
Ya! Pria tersebut adalah seseorang yang telah menyakiti Netrola. Dia hanya ingin membalas dendam atas apa sakit yang ia rasakan. Dia adalah Lex Viii anak konglomerat ke-dua dari keluarga Viii dan juga seorang pewaris utama keluarga tersebut. Dia di kenal dengan ke-arogan nya karena kekayaan dan kekuasaan yang dimiliki ayahnya dan ia sangat benci di permalukan.
"Apa!?" Kejut Thanaiya.
"Aku tidak menyangka seorang anak konglomerat ke-dua menemuiku secara langsung... apalagi dia sangat tampan..."
"Jadi apa kau setuju bekerja sama dengan ku?" Tanya Lex Viii sambil menyelenderkan punggungnya dengan melipat kedua tangan di dada.
"Ekhem... Baiklah aku setuju... jadi apa rencana nya?" Jawab Thanaiya setuju.
"Mudah saja...."
Selesai menerawang...
"Aih si Thanaiya itu apa tidak bosan menggangguku terus?, Baiklah aku akan memainkan peran dengan baik. Hihihi"
Buak!!!
"Ounch, kenapa tubuhku sakit semua"
Saat Erces membuka mata sudah ada sekumpulan laki-laki genit di depan matanya. Setiap pria tersebut melirik salah satu tubuh Erces, dan itu yang membuatnya gelisah.
Erces menggerakkan-gerakan tubuhnya agar pria suruhan itu mau membuka tali dan plaster bibirnya.
"Sudah diam!" Salah satu dari suruhan Lex Viii membuka plaster dan tali di tubuh Erces.
Buak!!!
"Apa yang ingin kau sentuh hah?" Aku berhasil meninju salah satu pipi pria baj*ng*n ini.
"Kau wanita! Berani memukul wajah tampan ku?!"
"Heh! Tampan?, Jika membandingkan wajah kalian dengan para Pangeran itu masih sangat jauh, apa kalian mengerti?!. Ejek Erces dan itu membuat suasana semakin panas.
"Kauuuu.....!"
__ADS_1
"Bukankah aku ingin di pukul? Kenapa tidak terasa?"
'Eh..!'
Saat Erces membuka matanya sudah ada seseorang didepannya dan menghadang tamparan tersebut.
"Siapa dia, dan dari mana?"
Sret!!!
Buak!!!3×
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya pria tersebut yang tiba-tiba ada di depan Erces dan menghadang tamparan tersebut.
Aku tidak dapat menjawab... Laki-laki berambut hitam dengan mata kuning bagaikan serigala hitam yang sedang mengembara. Bajunya dan jubahnya yang senada dengan mata nya tersebut membuat auranya semakin terlihat, tapi sayang... Baju yang laki-laki tersebut kenakan terasa agak kusut di kulit ku.
Tidak tahu kenapa saat ia berada di depanku dan menghadang tamparan itu aku merasa tenang dan aman padahal aku bisa saja menangkis perlakuan tersebut, aku diam seakan mayat hidup yang sedang menyaksikan pertarungan pertumpahan darah. Semua orang-orang yang telah membawaku MATI, tidak tahu kenapa tubuhku bergetar padahal ini bukan pertama kalinya aku menonton pertunjukan pembunuhan di tv, aslinya jauh berbeda.
Saat semuanya sudah ia bunuh, dia mendekat tepatnya pada telingaku dan membisikkan...
"Maaf, aku terlambat..."
Aku terkejut, tidak bisa membalas pernyataan yang ia keluarkan, dan hanya bisa terdiam menatap mata kuning yang indah bagaikan matahari itu.
Grab!!!
Aku memeluk nya dengan erat entah kenapa tapi hal ini memang perbuatan yang harus aku lakukan, aku memeluknya dengan erat namun penuh rasa kasih sayang lakyak nya diriku sedang menenangkan serigala yang terbangun dari tidur panjangnya.
"Terimakasih!"
Itu kata terakhir ku, lalu ia pergi menghilang tepat di hadapanku. Tangan ku masih melingkar saat sedang memeluknya, tapi aku sadar ia sudah tidak ada di hadapanku. Suara terdengar di sekeliling ruangan ini...
"Kita akan bertemu lagi!"
Suara itu hanya terngiang di dalam telinga ku, hingga aku tersadar bahwa aku berada diantara para mayat yang telah mati.
Tak...Tak...Tak!!! Hingga aku menyadari bahwa akan ada orang-orang yang menuju keruangan ini, tubuh ku lemas kekurangan energi yang selama ini aku kumpulkan, aku berfikir mungkin ini penyebabnyakan diriku bergetar seperti orang yang ketakutan, ternyata tidak...
"Cepatlah kalian semua! Yang mulia Kaisar aku yakin aku mendengar suara yang aneh dari sini!"
"Iya saya sangat yakin Yang mulia, saya tidak berani berbohong!"
"Hihi, hari ini kecantikan mu akan hancur sepenuhnya dan tergantikan oleh diriku!, Hehe"
Aku terhuyung-huyung saat ingin membuka pintu tidak sengaja aku tersandung salah satu kotak dan berteriak 'Ahhhhh, sakit!'
Otomatis semua orang yang berada tepat di balik pintu tersebut percaya bahwa benar memang ada suara yang aneh, tapi tidak sampai lima detik aku pingsan tepat saat pintunya terbuka karena di dobrak oleh salah satu prajurit.
Semua pasang mata terkejut dan menganga membuka mulut mereka karena terkejut, mereka tidak percaya bahwa semua itu benar. Telah di lakukan...
"Apa-apaan semua ini? Apa kalian akan membuat para tamu melihat semua ini? Semuanya bubar dan bereskan masalah ini!" Suruh kaisar sambil berteriak tak percaya bahwa putri nya telah melakukan untuk pertama kalinya.
Para Pangeran terutama pangeran pertama langsung menggendong ku dan di bawa ke kamar tamu kekaisaran. Dan tamu lainnya di terpaksakan untuk meninggalkan ruang acara hari ini. Aku meraung kesakitan karena seluruh kekuatan energi ku terkuras habis tanpa penyebab yang pasti.
Semua para tamu telah di pulangkan, Kaisar meminta maaf atas segala nya yang terjadi dan memberikan setiap tamu kereta kuda.
Lirik...! Pangeran Rulian melirik pada Thanaiya dengan tajam..
"Aku harap ini bukan perbuatan mu! Jika iya, aku rasa kau akan tinggal di alam baka!" Tegas Rulian dengan ancaman pertama sambil mengeluarkan aura membunuhnya dan membuat Thanaiya ketakutan hingga jatuh ke lantai.
"Ti...." Sebelum Thanaiya bicara Rulian sudah pergi terlebih dahulu untuk melihat kondisi adik perempuan nya. Thanaiya masih bergetar ketakutan tersungkur di lantai dingin tersebut sambil menangis.
__ADS_1
"Ke...Kenapa Rulian yang sangat aku inginkan sangat membela wanita rendahan itu!? Kenapa, padahal aku lebih oke dari pada wanita itu? Kenapa harus dia yang di bela!, Hiks...!"
"Apa yang harus aku lakukan lagi untuk menjatuhkan nya!?, Sial aku sudah kehabisan ide!"
.
.
.
.
.
.
Suara itu hanya terngiang di dalam telinga ku, hingga aku tersadar bahwa aku berada diantara para mayat yang telah mati.
Tak...Tak...Tak!!! Hingga aku menyadari bahwa akan ada orang-orang yang menuju keruangan ini, tubuh ku lemas kekurangan energi yang selama ini aku kumpulkan, aku berfikir mungkin ini penyebabnyakan diriku bergetar seperti orang yang ketakutan, ternyata tidak...
"Cepatlah kalian semua! Yang mulia Kaisar aku yakin aku mendengar suara yang aneh dari sini!"
"Iya saya sangat yakin Yang mulia, saya tidak berani berbohong!"
"Hihi, hari ini kecantikan mu akan hancur sepenuhnya dan tergantikan oleh diriku!, Hehe"
Aku terhuyung-huyung saat ingin membuka pintu tidak sengaja aku tersandung salah satu kotak dan berteriak 'Ahhhhh, sakit!'
Otomatis semua orang yang berada tepat di balik pintu tersebut percaya bahwa benar memang ada suara yang aneh, tapi tidak sampai lima detik aku pingsan tepat saat pintunya terbuka karena di dobrak oleh salah satu prajurit.
Semua pasang mata terkejut dan menganga membuka mulut mereka karena terkejut, mereka tidak percaya bahwa semua itu benar. Telah di lakukan...
"Apa-apaan semua ini? Apa kalian akan membuat para tamu melihat semua ini? Semuanya bubar dan bereskan masalah ini!" Suruh kaisar sambil berteriak tak percaya bahwa putri nya telah melakukan untuk pertama kalinya.
Para Pangeran terutama pangeran pertama langsung menggendong ku dan di bawa ke kamar tamu kekaisaran. Dan tamu lainnya di terpaksakan untuk meninggalkan ruang acara hari ini. Aku meraung kesakitan karena seluruh kekuatan energi ku terkuras habis tanpa penyebab yang pasti.
Semua para tamu telah di pulangkan, Kaisar meminta maaf atas segala nya yang terjadi dan memberikan setiap tamu kereta kuda.
Lirik...! Pangeran Rulian melirik pada Thanaiya dengan tajam..
"Aku harap ini bukan perbuatan mu! Jika iya, aku rasa kau akan tinggal di alam baka!" Tegas Rulian dengan ancaman pertama sambil mengeluarkan aura membunuhnya dan membuat Thanaiya ketakutan hingga jatuh ke lantai.
"Ti...." Sebelum Thanaiya bicara Rulian sudah pergi terlebih dahulu untuk melihat kondisi adik perempuan nya. Thanaiya masih bergetar ketakutan tersungkur di lantai dingin tersebut sambil menangis.
"Ke...Kenapa Rulian yang sangat aku inginkan sangat membela wanita rendahan itu!? Kenapa, padahal aku lebih oke dari pada wanita itu? Kenapa harus dia yang di bela!, Hiks...!"
"Apa yang harus aku lakukan lagi untuk menjatuhkan nya!?, Sial aku sudah kehabisan ide!"
.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG.
__ADS_1
NEXT->
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN ADD TO VAFORITE AGAR AUTHOR LEBIH SEMANGAT LAGI!, THANKS!