
Perasaan bukanlah sesuatu yang di sangkut pautkan dengan seberapa kekuatan dalam atau sihir yang kita punya. Namun, perasaan adalah seberapa kita dapat menerima seseorang yang kita cintai, tidak peduli seberapa bodoh nya seseorang tersebut, jika dua buah hati telah di satukan maka akan tetapi menjadi satu. Menjadi satu hingga maut memisahkan.
***
Hari telah menjelang malam, sinar bulan yang menggantikan matahari menyinari tubuh Erces yang sedang suram. Angin semakin kencang, udara semakin dingin dan Erces hanya menggunakan baju tipis yang dapat membuatnya menggigil.
Sret...!
Arqulan Anlor tiba-tiba telah ada di belakang Erces dan memakaikannya jas hangat, tak lupa Pangeran Arqulan memeluk tubuh kedinginan Erces. Tentu saja Erces yang tidak terbiasa dengan perlakuan tersebut langsung menepis dengan kuat, apa lagi Pangeran tersebut belum diketahui maksud dan tujuannya.
''Apa yang sedang anda pikiran Tuan Putri, hingga melupakan bagaimana dingin nya di luar sini?" Tanya Arqulan sambil tersenyum saat kaget pelukan hangatnya pertama kali ditolak oleh seorang wanita.
"Bukan urusan mu!" Jawab Erces cuek.
"Hufh, apa kau marah padaku?" Tanya Arqulan.
"Kenapa kau menggunakan bahasa yang tidak formal, aku adalah seorang putri!?" Tanya Erces dengan nadanya yang sedikit bercanda.
"Pufft, kau saja menggunakan bahasa sehari-hari dengan ku yang seorang Pangeran, lalu apa masalahnya?"
"Sudah, itu tidak penting!, Apa tujuanmu kemari!?"
"Hanya ingin melihatmu sebelum tidur, my lady" Sembari mengucapkan kalimat tersebut Arqulan langsung mengecup lembut punggung tangan Erces yang mulus dan harum.
Deg...!
Jantung Erces berdetak, ia merasakan kehangatan dalam sekujur tubuhnya saat Arqulan mencium punggung tangan nya dengan lembut. Detak jantung yang tak karuan bergema dengan rasa penasaran dan terselubung secercah kesenangan...
"Lepaskan!" Bentak Erces.
"Baiklah, tapi mumpung kau belum tidur, maukah kau menemaniku sebentar untuk jalan-jalan?, aku berjanji tidak akan macam-macam" Arqulan berbicara sambil mengangkat kedua tangannya dan jarinya membentu sebuah huruf V ditambah dengan senyuman nya di malam hari semakin membuat Erces tidak dapat menolak Arqulan.
"Baiklah hanya kali ini saja!" Setuju Erces.
***
Malam hari, Taman Efisun...
Mereka berdua berjalan berdampingan layaknya pasutri baru. Angin berhembusan membuat suasana antara mereka berdua semakin terasa, Erces yang masih dalam diamnya sedangkan Arqulan masih bingung untuk memulainya dari mana...
"Apakah aku boleh mencintaimu?" Tanya Arqulan dengan nada kecilnya yang nyaris terdengar samar di telinga Erces.
__ADS_1
"Apa!?" Tanya Erces terkejut, apakah dia salah mendengar.
"Hm... tidak.... hehehe"
"Hufh, jadi kau tidak ingin membicarakan apapun? Tanya Erces.
"Aku ingin mengeluarkan uneg-uneg ku, tapi apa kau mau mendengar nya?"
"Baiklah, mungkin aku bisa menjadi tempat saat kau ingin mengeluarkan isi hatimu" Jawab Erces dengan ekspresinya yang biasa saja. Karena ia akan segera menjadi Kaisar tentu saja ia akan banyak mendengar keluh-kesah dari para rakyatnya... mungkin ia dapat memulai hal tersebut dari satu orang terlebih dahulu, yaitu Arqulan.
"Aku bukanlah anak kandung Kaisar" Pernyataan yang di ungkapkan oleh Arqulan membuat Erces terkejut.
"Apa!, Bagaimana mungkin!?" Tanya Erces terkejut.
"Apa kau siap mendengarnya? mungkin ini akan menjadi cerita yang sangat panjang"
"Ya, ceritakanlah!" Jawab Erces cepat.
"Baik, jika itu yang kau inginkan. Aku akan memulainya pada saat aku kecil..."
Arqulan Anlor yang sekarang dikenal sebagai Pangeran Mahkota Kekaisaran Anlor, anak laki-laki tunggal kaisar dan memiliki seorang adik perempuan Arumi Anlor yang juga seorang Putri Mahkota.
Saat Arqulan berumur 10 tahun ia sama sekali tidak memiliki ibu ataupun kerabat dekat, hidup seorang diri dengan pakaian usang seadanya, hasil makanan yang meminta-minta, dan tinggal di sebuah gubuk bekas tempat pemandian kuda.
Karena Arqulan merasa tidak memiliki teman dan tidak memiliki perlindungan dari siapapun, ia mencoba untuk menjadi kuat, hingga suatu saat ia pergi ke hutan dan hampir mati di kejar Raja hutan sang Singa. Ia sudah lelah berlari, tidak ada tempat pelarian yang bisa Arqulan gunakan lagi, saat ia sudah ada di hadapan sang Singa tiba-tiba perempuan berambut pirang warna kuning dan mata biru menyala menebas kepala Singa tersebut dengan mudah nya.
Saat itu Arqulan langsung merasa tenang dan aman bagaikan sedang ada di dalam pelukan seorang ibu. Lalu wanita itu bertanya "Apakah kau baik-baik saja, jika iya aku pergi dulu" wanita itu langsung pergi Arqulan hanya melihatnya samar yang ia ingat hanyalah rambut pirang kuning yang Indah dan mata biru menyala.
Arqulan terus membayang-bayangkan wanita impiannya itu, setiap hari setiap malam setiap jam setiap detik dan setiap berjalannya waktu ia hanya menginginkan wanita tersebut. Hingga pada saat nya Arqulan menjadi kuat dan mengikuti sebuah kompetisi yang mempertemukannya dengan keluarga Kaisar, disanalah perubahan hidup Arqulan di mulai, dan obsesinya pada wanita misterius itu tidak akan pernah padam.
"Dan apakah kau tahu siapa wanita yang aku bicarakan itu?" Tanya Arqulan pada Erces.
"Tidak"
"Ya, itu adalah dirimu. Saat kita bertemu pertama kali waktu itu, aku merasakan hal yang sama rasa tenang dan aman" Jawab Arqulan dengan nada halus dan sedikit sedih.
Deg...!
"Mungkin kau hanya salah orang, kita tidak pernah bertemu sebelumnya. Aku juga tidak mengenalmu sama sekali waktu itu" Jawab Erces.
Arqulan memegangi helaian rambut Erces dan memciumnya dengan penuh kasih sayang. Jantung Erces tentu saja berdegup jika ia diperlakukan seperti itu.
__ADS_1
"Apa kau tidak merasa sedih dengan cerita hidupku?" Tanya Arqulan penasaran.
"Iya! Aku sedih. Aku paling benci di saat kau di buang oleh ibu mu, apa ibumu itu sama sekali tidak memiliki perasaan?, aku benci seorang ibu yang menelantarkan anaknya sendiri... Hiks"
Erces bersedih dengan kisah hidup Arqulan yang di buang oleh ibunya. Bagaimana tidak.... Di kehidupan sebelumnya Erces sama sekali tidak memiliki keluarga ia merasa nasib nya dan Arqulan itu sama, sama-sama tak pernah mendapatkan kasih sayang, tetapi hidup nya sama sekali tidak berubah saat kecil pun tidak ada yang kau mengadopsi Erces, berbeda dengan Arqulan yang akhirnya bertemu dengan keluarganya sang Kaisar.
"Ka...Kau kenapa menangis!?" Kejut Arqulan sambil memegangi wajah Erces yang menangis dengan kedua tangannya.
"Tidak, jangan melihatku!" Erces langsung memalingkan wajahnya ia merasa seperti perempuan yang lemah, dari dulu hingga sekarang ia mencoba untuk tidak menangis di hadapan seorang Pria... Namun berbeda dengan kali ini ia malah menangis tersedu-sedu.
"Erces! Tataplah mataku, ini perintah Pangeran" Suruh Arqulan yang juga sedih melihat Erces menangis.
"Tidak....Hiks..." Erces tetap memalingkan wajahnya dari Arqulan.
Karena Arqulan sudah gemas dengan tingkah laku Erces yang. tidak mau menatapnya, Arqulan langsung memberikan Erces pelukan hangat dan mencoba untuk menenangkannya.
Srugh...!
"Ya! menangis lah jika itu yang kau butuhkan... aku akan selalu ada bersama mu, biarkan suasana ini terus berjalan dan kehangatan ku selalu untuk mu"
Spontan Erces yang mendengar perkataan Arqulan menangis lebih keras. Karena ini pertama kalinya ia merasakan kehangatan yang tulus dari seseorang. Erces tetap diam dan masih ingin ada di dalam kehangatan tersebut, hingga tengah malam telah tiba Erces tertidur dan Arqulan langsung masuk ke dalam Istana Putri lalu membawa nya ke dalam kamar Erces.
Malam berlalu, hari sudah menjelang pagi Erces bingung kenapa ia bisa ada di dalam kamar dengan tiba-tiba. Ia menebak bahwa Arqulan lah yang membawanya ke kamarnya.
"Terimakasih Arqulan, ini pertama kalinya aku merasakan sebuah kehangatan yang tulus" Guaman Erces dalam hati sambil tersenyum manis.
.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN,VOTE, AND ADD TO FAVORITE STORIES KALIAN AGAR AUTHOR LEBIH SEMANGAT LAGI, THANKYOU:)
__ADS_1